The Versatile

The Versatile
Chapter 42



“Semua berubah, ya kan?” tanya Hazel. Matanya masih tetap tertuju pada langit.


“Karena mereka, semuanya jadi berubah.”


“Tidak, ini karena kita. Kita berada disini dan telah memubuat banyak perubahan untuk masa depan.” Hazel memandang wajah Spencer.


Mereka saling bertatapan. “Kau benar, ini karena kita. Dan alasan kita berada disini adalah menolong orang-orang diatas sini.” Spencer mengalihkan pandangannya.


Mereka tidak bicara untuk beberapa menit. Mereka manatap langit malam yang diterangi bulan dan bintang. Hazel memikirkan orang-orang dibawah sana yang tidak bisa menikmati keindahan melihat langit malam dengan bulan dan bintang. Langit dibawah sana tentu saja polos, kosong tanpa bulan dan bintang yang menghiasi langit.


“Jadi, Olivia itu kakak mu?” tanya Hazel kemudian.


“Ya, tentu saja dia kakak ku,” jawab Spencer.


“Kenapa dia bisa menjadi jahat seperti itu? kenapa dia ingin menghancurkan pemerintah?”


Spencer kembali mengingat masa kanak-kanaknya yang direnggut lima belas tahun yang lalu. “Saat itu umur ku delapan tahun dan Olivia berumur enam belas tahun. Ibu kami adalah mata-mata, karena itu dia jarang dirumah dan kami tidak pernah merasakan kasih sayang darinya.”


Hazel kini menatap Spencer dengan penuh rasa simpati.


“Kemudian tidak lama setelah itu ibu pulang dan mengatakan kami harus pindah. Ibu mengatakan dia tidak akan pernah meninggalkan kami lagi jika kami pindah. Saat itu juga kami berkemas, aku melihat ibu mengambil senjata dari laci dan membawanya. Tiba-tiba seseorang datang dan meminta ibu untuk bekerja kembali, tapi ibu tidak mau. Orang itu pergi begitu saja dan aku tahu alasannya sekarang.” Raut wajah Spencer terlihat sedih.


“Kenapa?” tanya Hazel berrusaha untuk tidak diam.


“Dia ingin kami hidup. Tapi dihari itu juga, ibu menginggalkan kami untuk selamanya. Ibu menyuruh kami pergi bersama ayah. Saat itu aku tidak berhenti menangis agar ibu ikut dengan kami, tapi dia meninggalkan kami. Saat mobil ayah mulai menjauh dari rumah, aku melihat ibu keluar dari rumah dan menembak orang yang datang tadi, tapi ibu juga terkena tembakan. Berkali-kali.”


Cerita Spencer mengingatkannya tentang ayahnya. Cerita Spencer lebih mengenaskan dibanding Hazel.


“Aku dan Olivia melihat ibu tertembak. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa selain membawa kita ketempat yang jauh. Saat itu Olivia yakin bahwa yang membunuh ibu adalah organisasi yang berada dibawah naungan pemerintah. Olivia hanya berasumsi, tapi dia tidak menyelidiki. Aku kira setelah dia bekerja bersama versatile yang tidak berada dinaungan pemerintah dia akan sadar.”


Hazel mendekati Spencer dan memegang tangan pria itu. tangannya yang besar dan kuat membuat tangan Hazel tampak terlihat sangat kecil. “Aku tahu apa yang kau rasakan. Bahkan dulu ayah ku tida menginginkan ku. tapi hal itu membuat ku kuat dan menjadikan diri ku yang sekarang ini.” Hazel tersenyum bangga.


“Selalu ada pelajaran dari apa yang telah kita lalui dan kita harus bisa menjadi yang lebih baik lagi.” Spencer ikut tersenyum.


“Teman-teman!” panggil Josh tiba-tiba danmembuat Hazel melepas genggamannya dari tangan Spencer. “Aku rasa ini sudah cukup malam untuk kita menyelinap. Haikal dan Hamish sudah memantau keadaan dan menurut mereka sekarang sudah aman.”


Spencer menatap Hazel. “Jadi, apa yang kau rencanakan?” tanyanya.


“Kita akan menghancurkan panel surya mereka. itu adalah sumber cahaya mereka, jika kita berhasil melumpuhkannya, maka mereka tidak akan punya cadangan tenaga untuk menerangi seluruh dunia dibawah.” Hazel tersenyum licik.


“Kau benar, lalu apa yang akan kau lakukan setelahnya?” tanya Josh penasaran.


“Kita akan menghancurkan bendungannya.”


Josh dan Spencer menatap Hazel tidak percaya. Begitu juga dengan Haikal dan Hamish yagn baru saja turun dari atap.


“Itu akan membuat airnya membajiri dunia bawah,” ujar Spencer.


“Kita tidak boleh menghancurkan apapun disini, masa lalu juga bisa berubah. Kita akan sama saja dengan Olivia. Kita harus melakukan sesuatu tanpa harus membuat kekacauan.”


“Tapi apa?” tanya Hazel.


“Aku tahu,” kata Hamish tiba-tiba. “Kami menampung air dan salju dari atas. Kita bisa membuat salju dari air ini dengan mengkristalkannya,” tambahnya.


“Ya, kita bisa membuat salju yang telah ratusan tahun tidak pernah ada dibawah,” ujar Haikal gembira.


Hazel menatap kedua orang yang bersemangat itu. “Itu bagus, walaupun Indonesia sebenarnya tidak pernah mengalami musim salju,” Hazel menatap Spencer. Karena hanya Spencer yang berasal dari zaman yang sama dengan Hazel.


“Benarkah? Mungkin ini bisa menjadi hal terhebat dalam sejarah.” Hamish mengangkat bahunya.


“Baiklah, ayo kita mulai,” kata Josh bersemangat.


Kelima orang itu pergi meninggalkan tempat persembunyian mereka. mereka akan melakukan hal yang benar, setidaknya itu yang mereka tahu. Mereka tanpa senjata, hanya Josh yang memiliki kaca mata supernya dan Hazel meninggalkan anti-flazz-nya.


Saat sampai diperbatasan, tempat itu terlihat seperti pangkalan militer. Dengan tenda dimana-mana dan semuanya memegang Flazz. Mereka memasuki perbatasan lewat belakang. Tempat dimana panel surya berjejer. Karena jika lewat depan pasti mereka akan ditangkap.


Mereka bersembunyi dibalik panel surya agar tidak terlihat. Tubuh Hazel yang kecil membuatnya benar-benar tidak terlihat. Mereka harus menyelinap satu-persatu untuk masuk. Pintu terdekat mereka berada disebelah kanan mereka.. jaraknya kurang lebih dua meter dari tempat mereka.


Banyak petugas yang berjalan kesana-kemari. Hazel berdiri saat para petugas lengah dan masuk kepintu yang langsung menuju kebawah. Hazel menumggu yang lain hingga turun kebawah. Josh yang berikutnya turun, disusul Haikal, Hamish, dan yang terakhir Spencer.


Sebenarnya Hazel sedikit khawatir dengan idenya. Hazel takut dia gagal, dia takut semua orang akan membencinya, semua yang ada diatas ataupun yang dibawah. Dia takut dia tidak bisa seperti ayahnya. Dia memang tidak suka bekerja pada pemerintahan, tapi dulu ayahnya selalu menginginkan Hazel untuk bekerja dipemerintahan seperti ayahnya. Berbeda sekali dengan mimpi yang ia dapatkan saat tinggal dibawah, dia bermimpi ayahnya mengatakan hal yang sebaliknya.


Hazel menggigit bawah bibirnya, mencoba untuk berkonsentrasi. Spencer memimpin jalan, dia lebih tahu tempat ini dibanding yang lain. Tempat ini cukup luas untuk dijelajahi, tapi mereka harus mencari ruangan pusatnya secepat mungkin.


“Teman-teman!” panggil Spencer. “Aku menemukannya!”


Spencer masuk terlebih dahulu, kemudian disusul mereka semua. Ada satu layar besar yang mengatur semuanya secara otomatis. Layar itu menunkukkan seluruh Indonesia, tempat ini seperti satelit.


“Josh! Aku rasa ini bagian mu,” kata Hazel pada Josh.


Josh berjalan mendekati layar itu. mengusahakan terbaik yang dia bisa. Josh masuk ke sistem airnya, mencoba mengubah air yang turun untuk dikristalkan menjadi salju. Wajah Josh sangat tegang, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


“Kita tidak bisa menhancurkan sumber panel surya dari sini, tapi kita bisa menghambatnya agar sumbernya tidak mengalir,” jelas Josh.


“Tidak apa,” ujar Hazel.


“Saljunya sedang turun sekarang, aku mengaturnya hingga airnya habis. Butuh waktu sepuluh jam agar airnya habis.”


“Aku rasa kita tidak memiliki pekerjaan sepuluh jam kedepan.” Hamish tersenyum sambil mengangkat bahunya.