
Satu jam kemudian Hazel baru terbangun. Ia mendapati dirinya sedang tidur diatas tempat tidur rumah sakit, dengan selang-selang ditempelkan ketubuhnya. Obat yang disuntikkan kepadanya membuatnya merasa baikan. Namun, tubuhnya masih lemah untuk berdiri. Hazel mencoba untuk membangunkan badannya yang masih lemas itu. Dia tertunduk dan duduk dipinggir tempat tidur. Pintu terbuka tidak lama setelah dia berusaha melepaskan selang-selang itu dari tubuhnya.
“Hey, kau sudah bangun? Apa yang kau lakukan? Kau harus tetap seperti itu untuk beberapa jam kedepan, agar tubuh mu membaik!” ujar seorang wanita dengan membawa sesuatu ditangannya.
“Ya, aku tahu. Sekarang yang ingin aku tanyakan adalah, ini dimana?” wajah Hazel terlihat santai.
“Kau berada disebuah gedung, yang disebut The Versatile. Ya, gedung ini punya banyak kegunaan. Kami punya ruang operasi, ruang rapat, ruang laboratorium, ruang latihan fisik, dan tidak akan selesai jika aku sebutkan semuanya.”
“Wow, itu benar-benar hebat. Dalam satu gedung ada rumah sakit, tempat research, dan bahkan kau bisa berlatih fisik disini.” Hazel tampak bersemangat sekarang. Dia belum pernah melihat gedung sebesar dan seserbaguna seperti itu.
“Oke, segera bersiap-siap. Kau akan bertemu dengan Aaron, pemimpin disini tiga puluh menit lagi. Diruang dua puluh tujuh ya!”
Mata Hazel membuntuti wanita itu hingga dia menutup pintunya. Dadanya masih merasakan sedikit sesak akibat kejadian tadi. Tapi yang dia ingat justru wajah Spencer yang terlihat cemas saat Hazel hampir sekarat.
Hazel bangkit dari ranjangnya. Mungkin berjalan-jalan disekitar gedung ini membuatnya merasa lebih baik. Lagipula, mungkin ini kesempatan satu-satunya untuk bisa berada ditempat ini. Bahkan dia belum pernah mendengar tentang tempat ini. Hazel mengambil jaketnya yang tergantung, kemudian memakainya. Dia merasa suhunya semakin dingin disini.
Langkah kakinya terasa berat, tapi dia terus memaksakan untuk tetap berjalan. Orang-orang berkeliaran kesana-kemari. Sibuk dengan pekerjaan mereka. Hazel mendengar suara tembakan. Tidak begitu jelas, tapi dia yakin itu suara tembakan. Suara itu berasal dari ruangan sebelah tepat dia berdiri. Hazel membuka pintunya sedikit, kemudian dia mengintip dari balik sana. Itu tempat berlatih menembak. Ada sekelompok orang yang sedang berlatih. Dan ada satu orang yang menjadi instrukturnya. Dan itu adalah Spencer.
Mata Spencer yang berwarna biru menatap kearah Hazel dan dia baru tersadar bahwa Spencer telah melihatnya setelah Hazel menatap matanya Spencer. Dia sedikit kaget dan ingin segera pergi, tapi Spencer lebih dulu memanggilnya.
“Hazel, kau ingin bergabung dengan kami?” mata Spencer masih menatap Hazel.
“Hmm, sebenarnya,” Hazel terdiam sesaat kemudian melanjutkan. “Tentu, lagipula aku tidak punya kerjaan tiga puluh menit kedepan,” ujar Hazel semangat.
Hazel membuka pintunya lebih lebar, kemudian dia masuk dan menutup pintunya. Ruangan ini kedap suara, karena hanya dipakai untuk berlatih menembak. Hazel duduk mengikuti yang lain. Spencer melanjutkan peragaannya. Awalnya Hazel memperhatikan Spencer, tapi sekarang pikirannya sedang berjalan-jalan. Entah apa yang dia pikirkan dan tatapannya terlihat kosong.
“Hazel! Bisakah kau menunjukkan pada teman-teman mu bagaimana caranya menggunakan senjata api yang benar dan menembakkan tepat pada sasaran?” suaran Spencer mengagetkan Hazel dari lamunannya.
Awalnya dia ragu, tapi mungkin itu tidak sesulit yang dia pikirkan. Hanya senjata api kecil, bukan bom nuklir. Lagipula kapan lagi dia bisa merasakan sensasi menembak seperti ini?
Hazel berjalan mendekati Spencer, kemudian mengambil sejatanya dari tangan Spencer. Hazel berdiri tepat ditengah-tengah sasaran. Matanya mulai fokus, kemudian dia memposisikan tubuhnya pada keadaan siap menembak. Dan dalam hitungan detik Hazel melepaskan tembakannya. Pelurunya melesat dengan cepat, tapi tidak seperti dugaannya. Tubuhnya terpental kebelakang akibat sentakan peluru yang dia tembakkan. Tembakannya pun melesat jauh dari sasaran.
“Aku rasa bukan itu yang aku maksud!” sambil mengambil senjatanya dari Hazel.
Tapi Hazel tidak mengizinkan Spencer mengambilnya. “Berikan aku kesempatan satu kali lagi. Jika aku gagal, berarti aku memang payah.”
Spencer mengangguk setuju. Tubuh Hazel memang masih lemas dan tanganya juga bergetar. Bahkan dia bisa merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Tidak untuk kali ini didepan banyak orang dia harus gagal.
Kakinya menopang sangat kuat. Untungnya obat yang diberikan kepadanya membautnya merasa lebih baik. Tiga, dua, satu. Hazel melesatkan tembakannya untuk yang kedua kalinya. Lagi-lagi dia terpental kebelakang, tubuhnya masih bergetar. Dan tembakannya tidak mengenai sasaran.
“Aku rasa aku memang belum sehat. Lain kali aku pasti bisa mengenai sasaran itu!” ujarnya dengan bangga, walaupun tidak satupun tembakkannya yang tepat sasaran.
Tiga puluh menit berlalu, Hazel ingat dengan janjinya untuk bertemu pemimpin disini. Diruang dua puluh tujuh. Dengan cepat Hazel melesat keruang dua puluh tujuh. Pelajaran yang tadi dia dapatkan, benar-benar menambah pengetahuannya. Bukan hanya itu, Hazel juga tahu cara memegang senjata. Walaupun itu tidak akan berguna saat disekolah, setidaknya dia bisa memegangnya dengan benar..
“Dua puluh enam, dua puluh tujuh. Yap! Disini!” ujar Hazel yang sekarang berdiri tepat didepan ruang dua puluh tujuh.
Pintu terbuka, sebelum dia sempat memegang kenop pintunya.
“Oh, kau sudah sampai? Ayo masuk!” wanita yang tadi berada dikamarnya. Wanita itu memiliki postur yang biasa-biasa saja, tapi dia sangat pintar untuk menata dirinya. Siapa pun bisa tergoda olehnya. Mungkin umurnya sama dengan ibunya, sekitar empat puluh. Tapi, dia tidak terlihat seperti itu.
Wanita itu mempersilahkan Hazel masuk terlebih dahulu. Ruangan itu cukup luas dan yang pertama ada dalam pikiran Hazel adalah, orang itu adalah orang tertua disini. Pasti umurnya sekitar lima puluhan. Tapi semua bayangan itu benar-benar jauh dari dugaannya. Orang itu terlihat sekitar tiga puluhan, memiliki mata hijau seperti dirinya. Dan dia terlihat berwibawa dengan jasnya.
“Selamat datang di The Versatile. Namaku Aaron Marshall. Apakah kau sudah berkeliling?” Tanya pria berambut pirang itu.
“Sebenarnya aku sedikit menikmati tiga puluh menit ku tadi. Tapi jujur, aku tidak tahu tempat apa ini?” Tanya Hazel dengan santai. Dia memang menikmati tiga puluh menitnya tadi dengan Spencer.
“Oke. Begini, sekitar tujuh belas tahun yang lalu, seseorang bernama Riley Calder membuat sebuah tempat yang tidak pernah orang ketahui. Karena tempat ini berada dibawah tanah. Tempat ini dijadikan sebagai perlindungan, bahkan tempat tinggal bagi orang-orang yang bekerja disini.”
Hazel hanya mengangguk sambil mendengarkan dengan khidmat. Sebenarnya dia belum pernah mendengar tentang itu, tapi itu akan menjadi hal yang dia percayai sekarang. Ayahnya telah meniggal dan itu secara tiba-tiba. Tentu ia meyakini ada suatu hal yang ganjal dari kematian ayahnya itu. Hazel hanya perlu menunggu waktu untuk mengetahuinya.
“Kami dulu bekerja secara rahasia. Bahkan pemerintah tidak mengetahuinya dan kami menempatkan agen-agen terbaik kami bekerja untuk pemerintah. Mengawasi orang-orang yang korupsi atau semacamnya. Namun, sekarang pemerintah mengawasi kami,” Aaron menjelaskan.
“Jadi, masalah apa yang harus aku selesaikan?” wajahnya terlihat serius sekarang.
“Kau pernah mendengar cerita bahwa setiap orang pasti memiliki kembaran didunia ini setidaknya tujuh. Ada yang dilahirkan secara langsung dengan kembarannya, bahkan hingga bertujuh atau lebih. “
“Ya, aku tahu. Tapi apa benar ada hal semacam itu didunia ini?”
“Tentu saja, aku pernah bertemu dengan kembaran ku sendiri dua bulan yang lalu. Tapi aku tidak berniat menemukan yang lainnya,” wanita itu menambahkan perkataan Aaron.
“Baiklah. Aku percaya itu, lalu hubungannya dengan ku apa?”
“Ayah mu adalah agen terbaik kami, karena itu dia menempatkan dirinya di pmerintahan. Ayah mu telah meninggal secara tidak wajar, dan kami mengamsumsikan bahwa dia telah menyimpan sebuah rahasia yang tidak satu orang pun tahu kecuali dia. Dan itu disembunyikan disebuah tempat. Kami sudah berhasil menemukan itu, tapi kami hampir tidak bisa membukanya. Karena menggunakan sandi-sandi yang tidak kami kenali, peretas kami berhasil mencobanya. Dan yang keluar adalah namamu. Hazel, dengan angka tujuh dibelakangnya. Kami tahu ayahmu pernah bercerita bahwa dia ingin sekali anak kembar dan berjenis kelamin laki-laki. Tapi saat ibumu hamil dia tidak mendapatkan anak kembar.”
“Tunggu, jadi ayahku seperti membuat hubungan antara kembaran ku yang lain?” Hazel masih belum mencerna semua ucapan tuan Marshall.
“Aku rasa begitu. Kami juga belum tahu tepatnya. Sepertinya hal itu berada didalam otak kalian,” lanjutnya lagi.
“Tapi, bagaimana aku bisa mencari kembaranku? Apakah mereka memiliki umur yang sama dengan ku?”
“Itulah yang sedang kami pikirkan, kembaran mu tentu saja memiliki umur yang berbeda. Bahkan mungkin ada yang masih balita. Secara fisik kalian hampir sama, tapi secara sifat dan pemikiran kalian pasti memiliki perbedaan.”
“Besok! Kau harus segera menemukan keenam yang lainnya. Karena kalian juga perlu latihan untuk menjaga diri kalian sendiri. Karena mungkin saja hal yang tidak diinginkan terjadi. Dan satu hal lagi. Kau akan mencari yang lain bersama Mr. Ford , dia akan menemui mu sebentar lagi.”
Kemudian wanita itu menuntunya keluar. Hazel terus berpikir bagaimana caranya dia bisa menemukan keenam kembaran yang lainya di dunia ini. Bahkan bisa saja mereka masih balita. Dia berjalan menyusuri koridor. Bukan untuk mencari Spencer, tapi memang dia tidak tahu harus kemana. Dia juga tidak ingat kamarnya yang tadi. Tempat ini begitu luas untuk disusuri. Sekarang yang dia perlukan hanya menunggu Spencer menemukannya.
Ada sebuah kursi kosong didekatnya, Hazel mendekatinya dan duduk disana. Dia merasa sangat rindu dengan rumahnya, rindu dengan ibu dan ayahnya. Bahkan teman-temannya. Tapi dia tidak bisa kembali untuk saat ini. Hal yang gawat akan terjadi jika ia pergi dan tidak melakukan apa-apa.
Suara langkah kaki dari belokan disebelah kanannya, membuatnya bersiaga. Mungkin itu Spencer yang sedang mencarinya. Itu benar, dia berhenti sebentar. Mencoba mengatur napasnya agar kembali normal.
“Kau! Cepat ikuti aku, temanku melihat dirimu berlari dari segerombolan orang. Aku rasa itu kembaranmu dan dia dalam masalah.”
“Secepat itukah aku menemukan kembaranku? Rasanya kurang menantang,” jawab Hazel santai.
Spencer masih terengah-engah, tapi dia berusaha berbicara secepat yang dia bisa. “Ayolah, mungkin saja ini tantangannya. Dia sedang dikejar-kejar segerombolan orang, itu bisa menjadi tantanganmu!”
Sambil memutar matanya Hazel bangkit dari kursinya dan mengikuti Spencer, yang terus berlari menelusuri koridor.
“Mereka melihat mu berlari menuju selatan. Temanku sekarang sedang mengikuti mu, mereka membawa GPS. Dia yang titik merah!”
“Ya, aku tahu Mr. Spen-Sir,” ujar Hazel dengan aksen sok inggrisnya. Walaupun dia sebenarnya bukan orang inggris.
Mereka menaiki mobil dan meluncur secepat kilat. Tetapi saat berada di tengah kota, mobil-mobil tidak bisa berjalan. New York adalah kota sibuk, mereka harus mengganti kendaraan atau mereka berlari untuk bisa mengejar kembaran Hazel ini.
Hazel tidak ambil pusing, dia segera merebut GPS yang dibawa Spencer, dan langsung keluar mobil. Spencer mengikutinya, tapi Hazel telah lebih dulu berlari dan sekarang dia terringgal jauh dibelakang.
Hazel berlari menuju titik merah yang tertera di GPSnya. Dia berlari dan tidak memperdulikan keadaan. Bahkan dia merasa adrenalinnya memacu untuk melakukan ini. dia merasa seperti sedang mempertaruhkan nyawanya, atau mungkin nyawa keluarganya.
Dia berbelok ditikungan, mengambil jalan alternatif. Menuju sebuah gang kecil yang gelap dan lembab. Sekumpulan anak laki-laki sedang berdiri disana, ada yang sedang merokok, dan ada yang membawa botol. Hazel yakin itu alkohol, bahkan dari jauh dia bisa mencium baunya.
Seorang anak laki-laki mendekati Hazel dan memberhentikan langkahnya. Awalnya dia ingin berbalik dan tidak ingin membuat masalah. Tapi jalan itu dapat membuatnya lebih dekat dengan titik merah itu, atau bisa dibilang kembarannya.
“Hai gadis cantik! Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya seorang anak. Anak laki-laki itu memakai kaus yang kendur dan jeans yang sudah lusuh dan robek. Dalam batinnya Hazel terus menyumpah.
“Minggir! Aku harus lewat!” ujar Hazel sedikit gugup. Dia memang gugup, tapi tidak mempengaruhinya untuk berbalik atau memohon.
“Apa? Kau ingin lewat?” ujar seorang anak laki-laki yang lain. “Kemarilah, bermainlah bersama kami dan jadi mainan kami,” lanjutnya.
“Kau ingin bermain hah?” ujar Hazel dengan nada mengejek.
Kemudian dua diantara lima orang anak laki-laki tersebut mendekatinya, sekarang semakin dekat hingga Hazel bisa melihat mereka lebih jelas. Wajah mereka terlihat berantakan, salah satu diantaranya terlihat seperti sehabis terbakar.
Hazel terdiam ditempatnya, tapi dia sudah siap untuk bertarung. Salah satu diantara mereka semakin mendekati Hazel, dia menyentuh rambutnya. Tapi Hazel menangkis tangannya.
“Ini milik ku! dan tidak ada orang yang bisa menyentuhku!” gertak hazel.
Anak laki-laki itu menatapnya dengan kejam, justru itu membuat Hazel semakin marah. Kali ini tangan yang satunya yang berusaha memegang rambutnya. Lagi-lagi Hazel menangkisnya dan langsung menikam anak itu.
Pertarunganpun dimulai, Hazel mulai menghajar satu persatu anak laki-laki itu. Pukulan diwajah untuk anak berambut hitam. Diperut untuk anak laki-laki yang tadi ingin menyentuh rambutnya.
Dan yang lainnya mendapatkan serangan bertubi-tubi, hingga Hazel ingat bahwa bukan ini yang dia sedang lakukan. Dia harus mengejar kembarannya yang sekarang mungkin saja sedang dalam masalah.
Hazel berlari meninggalkan anak-anak itu. sambil mengacungkan ibu jarinya yang terbalik kearah mereka. Cuacanya tidak begitu mendukung untuk berolahraga. Sebenarnya Hazel memang tidak sedang berolahraga, tapi dia berlari dan itu terlihat seperti sedang berolahraga. Bukannya sedang mengejar seseoarng untuk diselamatkan.
Kini matanya tertuju pada GPS-nya. Tanda merahnya berhenti tepat disebelahnya. Dia melirik ke toko disebrang jalan. Sebuah minimarket, dia melihat orang-orang dengan wajah marah sedang berkeliling disekitar sana. Dua orang berjaga didepan dan yang lainnya mencari didalam.
Pasti kembarannya berada disana, jika begitu dia bisa mengecoh orang-orang itu. itu kembarannya, pasti wajah Hazel mirip dengannya. Dari tempatnya berdiri dia mencoba mengecoh orang-orang itu.
“Hey, apa yang kalian cari? Aku ada disini!” ujar Hazel dengan keras. Sampai-sampai orang-orang disekitarnya melirik kearahnya. Jalanannya memang cukup padat.
Kedua orang yang berada didepan berteriak kepada teman-teman mereka. Hazel lebih dulu berlari secepat mungkin. Untungnya orang-orang telah memadati jalannya. Setidaknya itu bisa memperlambat lari mereka.
Hazel berbelok ditikungan, sambil menunduk sedikit agar orang-orang itu tidak melihatnya berbelok. Badannya yang hanya seratus lima puluh lima senti membuatnya lebih mudah untuk bersembunyi diantara orang-orang ini.
Hazel berlari menuju minimarket tadi, GPS-nya juga masih menunjukkan kembarannya yang masih berada didalam. Mungkin dia di toilet. Cepat-cepat Hazel membuka pintu toilet, dan disana dia mendapati seorang gadis yang sedang ketakutan.
“Hey, aku kembaran mu. Ada hal penting yang harus kita lakukan. Ikutlah dengan ku! kau akan aman,” perintah Hazel lembut.
“Apa? Kembaran? Aku tidak pernah memiliki kembaran,” tanya gadis itu binggung.
“Oke, aku juga tadinya tidak percaya. Tapi lihat! Wajahmu mirip denganku! Walaupun tidak terlalu mirip menurutku. Berapa usia mu?”
“Dua puluh, kau?”
“Wow, aku rasa aku lebih muda darimu. Tujuh belas.” Hazel mengulurkan tangannya kepada kembaraannya. “Sekarang kita ke versatile.”