
Spencer telah siap untuk melakukan hal tergilanya lagi. Namun, kali ini terasa berbeda, dia bersama dengan seorang gadis yang sebelumnya belum pernah dia kenal. Sama saat dia bersama Hazel, bedanya Hazel benar-benar menunjukkan keberaniannya tanpa pernah menunjukkan kelemahannya pada siapa pun termasuk Spencer. Sedangkan Nissa kadang dia terlihat lemah namun telihat kuat. Itulah yang membedakan mereka.
“Kau sudah siap? Kita akan keluar dari perbatasan, hanya itu jalan kita,” Spencer menjelaskan.
Nissa mengangguk. Hari sudah gelap sejak tadi, namun Nissa harus menunggu adiknya untuk tidur, karena dia tidak ingin adiknya terlibat. Lebih baik dia disini dan selamat, akan ada banyak orang yang akan menjaganya.
Spencer sudah didepan pintu dengan membawa perlengkapan secukupnya. Nissa juga sudah siap. Sekarang perjalanan mereka terasa sangat sepi, tidak satu orang pun yang berbica. Nissa sangat ingin sekali berbincang, tapi sepertinya Spencer terlalu serius.
Tentu saja, yang Spencer pikirkan saat ini adalah Hazel. Dia sangat ingin memeluk Hazel, menatap mata hijaunya yang sehijau namanya. Bahkan dia ingin mengecup keningnya. Spencer berjalan meningalkan jejak kakinya dipasir, namun angin tidak kalah berhembus dan menghapus jejaknya.
Kini pikirannya kembali, dia baru ingat bahwa dia juga bersama seseorang disini. Spencer berbalik, melihat Nissa yang terlihat bosan sejak tadi. Dia sedang berjalan tertunduk mengikuti jejak Spencer.
“Maafkan aku, aku lupa kau bersama ku,” uajr Spencer kemudian.
“Tidak apa-apa. Orang seperti ku memang sering dilupakan, karena tidak penting untuk diingat.” Nada bicaranya sedikit menyindir.
Spencer menyipitkan matanya. “Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, tadi aku sedang memikirkan hal lain.”
“Tidak apa-apa.” Nissa hanya tersenyum kecil, kemudian tertunduk kembali.
Sekarang mereka sudah sampai di perbatasan. Tempat dimana Spencer menemukan sumber air bagi orang-orang dibawah sana. Mereka masuk ke salah satu pintu yang terdekat dan menuruni anak tangga, lampu menyala seketika. Bunyi air mengalir terdengar sangat jelas.
“Jadi ini tempat penyimpanan air mereka?” tanya Nissa.
“Ya, semua kebutuhan air mereka berasal dari sini.”
Spencer berjalan kembali seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Kali ini melewati pintu yang berbeda, namun menuju tempat yang sama. Sebuah pintu lagi dan mereka turun kebawah. Sekarang mereka telah berada di dalam bendungan. Spencer menyempatkan untuk naik ke atas bendungan agar Nissa bisa melihat kota ini. Saat mereka sampai diatas Nissa membeku.
“Jadi ini kota bawah tanah? Tidak lebih indah dari diatas. Lalu kenapa mereka tidak sadar kalau bendungan ini menyatu dengan langit-langit mereka?” tanya Nissa pada Spencer.
Spencer juga tidak tahu jawabannya. Dia bahkan tidak berpikir kalau bendungan ini menyatu dengan langitnya. Tentu saja menyatu, dari mana mereka lewat jika langit-langitnya dan bendungan ini tidak menyatu? Apakah ada sebuah jalan tembus pandang? Jawabannya tidak.
Saat Spencer ketempat ini dia melihat ada beberapa pekerja dibawah. Tapi tidak ada yang keatas. Sekarang dia mulai khawatir, apakah dia bisa keluar dari bendungan ini. Ada beberapa lorong yang mereka harus lewati untuk sampai kebawah. Spencer belum pernah melewati ini sebelumnya, karena dia hanya melihat di atasnya saja.
Jalan semakin menurun ke depan. Spencer mengingatkan Nissa untuk berhati-hati, mereka berada sangat jauh dari tanah dan jika jatuh tamatlah sudah. Nissa meraba-raba jalanan yang semakin curam itu, sedangkan Spencer mencoba untuk fokus dan tidak memikirkan Hazel untuk saat ini, dia yakin Hazel akan baik-baik saja.
Seolah tidak mau mengalah, pikirannya masuk ke dalam dan seolah dia merasa hilang dari dunia ini menuju dunia khayalan yang berisikan Hazel. Dalam hati Spencer terus membatin. "Hazel akan baik-baik saja!" kata-kata itu terus dia ulang dalam pikirannya hingga dia kembali ke keadaan sekarang.
Tangga-tangga yang menyatu pada dinding ini membuat Nissa bergidik. Bukan karena dia takut ketinggian, tapi tempat ini terlihat seram, walaupun tidak seseram gedung-gedung tidak berpenghuni di atas sana yang umurnya sudah ratusan tahun.
Jauhnya puncak bendungan ini hingga ke tanah pastilah sangat jauh. Tetap fokus dan bersabar adalah kunci untuk bisa sampai dibawah dengan selamat. Salah langkah maka mereka akan jatuh.
Butuh waktu lima belas menit untuk mereka sampai dibawah. Karena sudah malam sepertinya tidak ada pekerja lagi yang datang. Atap bendungan ini terbuat dari besi, hampir sama seperti yang digunakan untuk membuat rumah-rumah mereka.
Saat sampai dibawah mereka tetap berhati-hati kalau-kalau masih ada pekerja ditempat ini. Ruangan ini gelap, tidak seperti di tempat penyimpanan air diatas yang lampunya menggunakan sensor gerak. Hanya sebagian sinar yang berasal dari luar yang menerangi mereka. Sisanya mereka hanya mengandalkan perabaan dan langkah kaki yang hati-hati.
“Nissa, pegang ujung baju ku!” perintah Spencer. “Aku tidak ingin kita tersesat disini hingga pagi. Itu konyol,” tanmbahnya.
Nissa mencari-cari baju Spencer, saat sekarang ini jarak Nissa dan Spencer sangatlah dekat. Saat Nissa hanya memegang seujung baju Spencer, Spencer justru menarik tangannya dan menggenggamnya erat. Pada saat ini wajah Nissa bisa dipastikan memerah, untungnya gelap, bahkan dia tidak bisa melihat tangannya sendiri.
Tangan Spencer hangat, tangan Nissalah yang dingin. “Tangan mu dingin sekali. Kau kedinginan?” tanya Spencer kemudian.
Nissa tidak menjawab karena dia takut saat dia menjawab justru suaranya akan terdengar gugup. Itu akan menjadi hal yang memalukan untuknya. Tapi Spencer bersikeras untuk mengunggu jawabannya. “Nissa? Kenapa kau diam? Kau kedinginan?” tanya Spencer lagi.
Saat Nissa akan menjawab dengan ragu-ragu. Spencer melihat secercah sinar di ujung sana yang kemungkinan itu adalah jalan keluar mereka. “Hey, aku rasa itu pintu keluarnya.” Spencer menarik Nissa dan berlari menuju cahaya itu.
Dan benar saja, itu pintu namun tidak bisa dibuka. Bagaimana mereka bisa keluar dari sini. Spencer melepaskan genggamannya dari Nissa. Tangannya sedikit berkeringat. Dia lupa cara membuka pintu di bawah sini, pintu akan terbuka jika dia mengenali ID-nya. Namun, karena ini tempat yang dijaga pemerintahan maka dia harus memasukkan ID- nya.
Ada tombol angka dan huruf disebelah kanan, Spencer mencoba memasukkan angka-angka dan huruf yang berhasil dia pikirkan. Muncul tulisan dan membuat Spencer ingat akan semua hal yang mengenai tempat ini.
Tulisan itu bertuliskan (ID tidak dikenali. Silahkan masukan ID anda!)
Setelah dia memasukkan ID nya ― yang sebenarnya ID ayahnya Hazel ― tapi hanya ID itu yang dia punya dan itu telah dia gunakan selama ini disini. Setelah memasukkan ID nya, tulisan itu muncul lagi. (ID diterima silahkan masuk tuan Skylar.)
Pintu pun terbuka, Spencer berjaga-jaga jika ada orang didepan. Spencer lebih dulu keluar dan diikuti Nissa yang sudah tidak sabar untuk melihat rumah-rumah indah yang dia idamkan sejak dulu. Bahkan kasur empuk dan makanan enak yang belum dia pernah makan sebelumnya.
Lampu-lampu menerangi jalanan menggantikan bulan, pintu gerbang bendungan ini terlihat cukup jauh dari sini, namun Spencer dan Nissa masih bisa melihatnya.
Nissa memperhatikan pakaiannya yang dijanjikan oleh Spencer untuk diganti. "Spencer," panggil Nissa pelan. Suaranya terdengar sangat lembut seakan-akan Spencer adalah hal yang paling rapuh didunia ini. "Apa kita akan membeli baju. Karena baju ku sekarang ini sangat kotor."
Spencer berhenti kemudian menatap Nissa yang sedang membersihkan kerudungnya dari debu-debu. Sepertinya debu itu sudah menempel sebelum mereka pergi ke sini dan semakin banyak dan kotor.
"Kita akan cari nanti." Spencer berjalan kembali mendekati pintu gerbang. Bukan berarti dia tidak perduli hanya saja pikirannya sedang dikuasai oleh Hazel.
Nissa mengikuti Spencer dengan malas. "Lebih baik aku tidak ikut jika tahu dia akan bersikap seperti ini," batinnya pada diri sendiri. Tapi banyak sisi baik yang sudah, bahkan mungkin akan terjadi, Nissa tahu itu.
Suara hening diikuti suara-suara malam yang sepi. Nissa memandang kelangit. Lagitnya gelap dan tidak ada bulan yang menerangi, bahkan bintang. Betapa Nissa menginginkan rumah yang bagus, namun dibandingkan dengan apa yang tidak mereka lihat dibawah sini itu tidak sepadan.
Spencer berhenti tiba-tiba dan membuat Nissa menubruknya hingga ia hampir kehilangan keseimbangan. Namun pijakannya yang kuat pada tanah membantunya untuk tetap berdiri.
"Spencer, kenapa kau berhenti?" Nissa menyerjitkan dahinya, kemudian memegang keningnya.
"Maafkan aku, tadi aku seperti melihat seseorang. Aku takut kita ketahuan menyelinap kesini," ujar Spencer dengan nada yang pelan.
Nissa melihat sekeliling, mencari-cari orang yang mungkin dimaksudkan oleh Spencer. Namun setelah berapa kali dia melihat sambil memutarkan badannya, tidak ada siapa-siapa. Rasa berhati-hati mereka kadang lebih besar daripada ketakutannya. Setelah tahu bahwa tidak ada siapa-siapa selain mereka, lagi-lagi Spencer membuka pintu gerbangnya dengan ID yang dia punya.
Sekarang mereka berada diluar gerbang yang untungnya mereka bisa lewati, padahal itu milik pemerintahan. Spencer masih ingat tempat yang menjadi titik temu antara Spencer dan Hazel sebelum Spencer menghilang secara tiba-tiba.
"Nissa, kau tahu cara pergi ke Monas?" tanya Spencer.
Nissa diam sesaat, dia tidak yakin jika jalan disini dan diatas sama. "Hmm, aku tidak yakin Spencer. Memangnya jalan disini dan ditempat ku sama?" tanya Nissa dengan ragu.
"Selama pengamatan ku di atas sana, jalan menuju Monas sama saja. Hanya mungkin ada beberapa bangunan yang tidak ada. Aku ingat mall yang kau tunjukkan waktu itu, aku pernah melihatnya disini."
"Baiklah, mungkin jika sudah berada dijalan raya aku akan ingat."
Mereka berdua berjalan mengikuti jalan setapak. Jalanan dibendungan ini ditutupi oleh pohon-pohon, mereka seperti berada dihutan. Setelah berjalan lumayan jauh dari hutan buatan itu, mereka sampai di jalanan besar. Jalanan itu sepi, sedikit gelap karena penerangannya yang redup-redup.
"Kita sudah dijalanan, apa kau ingat jalannya sekarang?" tanya Spencer.
"Hmm, aku rasa aku tidak ingat ada hutan dan jalanan ini." Nissa membenarkan kerudungnya.
Spencer menaikkan satu alisnya. "Mungkin kita harus berjalan lagi kedepan." Ada nada kecewa secara tidak langsung.
Nissa jelas-jelas tidak suka pada sikap Spencer yang seperti itu, sedikit berbeda pada saat dia diatas sana. Nissa mempercepat jalannya agar bisa mendahului Spencer. Dan sekarang Nissalah yang memimpin jalan. Dia hanya ingin Spencer tahu bahwa dia tidak suka sikapnya yang tiba-tiba berubah.
Jalanan besar ini masih di liputi oleh pohon-pohon, sepanjang jalan Spencer dan Nissa berjalan terpisah. Nissa berjalan didepan dan selalu mempercepat jalannya jika Spencer sudah dekat.
Memang bendungan ini cukup jauh dari kota, pemerintah tidak ingin ada warga sipil yang masuk ke daerah ini.
Dari kejauhan suara mesin mobil terdengar. Sebuah tanjakan menghalangi pandangan Nissa. "Aku rasa aku mendengar suara mobil." Nissa berlari menaiki tanjakan tersebut. Dibelakangnya Spencer menatapnya hingga Nissa tidak terlihat lagi menuruni tanjakan.
Dengan cepat Spencer menyusul Nissa, dia takut ada sesuatu yang buruk dibalik sana. Saat berada diatas tanjakan tersebut Nissa sudah tidak ada. Spencer berlari menyebrangi jalan. Nissa tampak sedang berdiri, Spencer tidak tahu apa yang dilakukannya. Berdiam diri dan memasang wajah datar.
Spencer mendekatinya, beberapa mobil lewat dan menatap kearah mereka. Untungnya jalanan sedikit gelap, jadi hanya lampu sorot mobil mereka yang membantu mereka melihat.
"Kita butuh tumpangan," ujar Spencer yang tiba-tiba sudah berada disamping Nissa.