
Jam terus berbunyi dan itu mengganggu konsentrasi Josh yang terus memikirkan tentang Hazel. Dia khawatir akan keadaannya. Ibu dan ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dan dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi hanya diam, bersantai, duduk menonton televisi seolah-olah tidak terjadi sesuatu, itu sungguh menyebalkan.
“Aku harus menolong Hazel. Aku memang baru mengenalnya sehari yang lalu, tapi aku seolah telah mengenalnya dekat. Lagipula ada hal yang dia janji akan dia beritahukan kepadaku.”
Josh terus berputar-putar mengelilingi kamarnya. Ayahnya bekerja dikeamanan Negara dan dia juga tahu beberapa trik untuk mengecoh beberapa pertahanan yang telah diajarkan oleh teman ayahnya. Sebenarnya itu hanya boleh dilakukan jika ada dalam keadaan darurat, tapi menurutnya sekarang adalah keadaan darurat.
Hingga pukul enam malam Josh telah merencanakan caranya agar Hazel dapat keluar dari penjara. Dia juga sudah menyiapkan beberapa barang yang dia ambil dari ruang kerja ayahnya. Dia juga membawa pisau dapur milik ibunya untuk berjaga-jaga.
Tentunya orang tuanya tidak tahu. ID-nya sudah menunjukkan pukul delapan saat dia sedang berpakaian, mungkin cuaca malam ini akan terasa dingin, jadi Josh mengambil jaketnya dan mengambil satu lagi untuk Hazel nanti.
Tepat pukul sepuluh malam, seluruh toko sudah tutup, bahkan restoran. Karena sudah lama sekali jam malam telah diberlakukan bahkan untuk semua umur. Kecuali orang-orang yang berkepentingan khusus.
Terakhir kali dia keluar jam malam karena perkelahian yang membuat tubuhnya terasa terbakar sepanjang hari, ibunya sangat khawatir saat itu. Tapi itu sudah tiga tahun yang lalu dan setelah itu dia tidak pernah ke luar lagi setelah jam malam tiba.
Tapi untuk kali ini dia harus melanggarnya. Josh sudah mengunci kamarnya agar orang tuanya mengira dia telah tertidur. Semua pintu masuk telah dikunci oleh ayahnya. Tapi ada satu tempat yang semuanya tidak dapat dikendalikan, kamar mandi. Ada sebuah jendela yang bisa dia buka secara manual.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, Josh segera membuka jendela. Udara dingin menusuk wajahnya, saat dia menapakkan kakinya ke rerumputan rasanya seperti telah melakukan kejahatan terbesar dalam hidupnya.
Secepat mungkin Josh berlari menjauh dari rumahnya, kemudian di berbelok. Penjara sangat jauh dari sini jika ia berjalan kaki. Tapi apa lagi yang harus dia lakukan, menaiki mobil dan ketahuan kalau ia ingin mengeluarkan tahanan dari penjara. Tentu saja tidak.
Angin terus berhembus kencang dan membuat Josh sedikit menggigil. Dia harus meminta bantuan siapa, bahkan teman satu-satunya sekarang hanya Hazel. Dia tidak pernah memiliki teman, anak perempuan sering mendekatinya tapi dia tidak tertarik dengan gadis yang mencari perhatian.
“Sial, aku harus berjalan tujuh puluh kilo meter untuk mencapai Hazel?” keluh Josh pada dirinya sendiri. Saat itu juga suara mobil dari arah kanan membuatnya kaget. Cepat-cepat dia masuk kehalaman rumah seseorang dan bersembunyi.
Tentu saja itu mobil patroli, ya, mobil patroli akan berhenti di penjara. Tanpa pikir panjang Josh mengendap-endap dan naik ke belakang mobil itu. Bau pengap membuat nafas Josh tersedak dan membuat suara.
Kedua polisi itu berhenti seketika dan ada salah satunya yang keluar dari mobil, mungkin untuk memeriksa. Jadi Josh bersiap, dia membawa flazz, tapi rasanya itu tidak cukup membuat para petugas ini terjatuh dan pingsan. Bela diri memang tidak diperbolehkan digunakan, tapi itu cara satu-satunya untuk membuat petugas itu pingsan.
Saat pintu itu terbuka, dengan cepat Josh menendangkan kakinya tepat didada sang petugas. Petugas itu terjatuh dan tidak sadarkan diri. Dari luar Josh mendengar petugas lain yang akan meminta bantuan.
Josh pun turun dan menerjang petugas itu, dia mengerang, tapi Josh berusaha memukul petugas itu lebih keras. Hingga dibagian kepala, petugas itu terkapar.
Itu hal tergila yang pernah Josh lakukan, dia pernah berkelahi tapi tidak untuk menentang pemerintahan dan tanpa tangan kosong. Para petugas itu dia biarkan terkapar di jalanan. Josh juga mengambil pakaian salah satu pertugas, agar dia terlihat seperti petugas.
Waktu terus berjalan, sebelum dia mendekati pintu gerbang penjara Josh telah menginggalkan mobilnya di gang sempit yang gelap. Dia punya rencana yang menurutnya akan berhasil.
Josh mengambil pisau yang dia bawa dari dapur. Kemudian melukai sebagian tubuhnya agar terlihat nyata. Dia juga meggores tangannnya dengan pisau, darah mengucur keluar, kemudian dia tempelkan ke pipi dan tangannya yang satu lagi. Lengkap sudah penyamarannya.
Josh berlari tergesa-gesa menuju pintu gerbang penjara. Ada kamera di depan gerbang. Josh berbicara melalui kamera itu. “Hey, cepat buka pintunya! Seseorang menyerangku dan mengambil mobil ku. Teman ku terluka disana, dia menggunakan teknik bela diri. Siaga lima!” Teriak Josh dengan jelas.
Siaga lima tidak pernah digunakan jika itu tidak mengancam pemerintahan. Tapi saat Josh berkata begitu alarm menyala, pintu gerbang terbuka. Para petugas berhamburan keluar lengkap dengan flazz dan anti-flazz.
Josh berlari masuk dengan wajah penuh darah. Semua orang terlihat sibuk mengambil senjata. Tapi diantara orang-orang itu tidak ada yang mencurigai Josh. Dengan cepat Josh berlari menuju ruang kendali, agar dia bisa mengetahui keberadaan Hazel.
Dari balik ruangan besinya Hazel bisa mendengar suara alarm berbunyi dengan keras, ada orang yang berbicara melalui mikrofon dengan tidak jelas. Dahinya mengerut, dia tidak tahu apa yang terjadi sekarang, dia juga tidak bisa melihat apa-apa dibalik ruangan ini.
Penjara ini tidak seperti penjara dizamannya. Dengan satu tempat tidur dan kamar mandi kecil serta lubang otomatis yang dapat mengeluarkan makanan. Terlihat modern, namun tetap saja ini penjara, tidak enak dan tidak nyaman.
Hazel duduk di pinggiran tempat tidurnya, suara alarm yang terus menyala membuat telinganya tidak tahan mendengarnya. Jika itu alarm kebakaran, pasti seluruh tahanan akan dikeluarkan. Saat itu juga pintu ruangan itu terbuka, seseorang berdiri disana, tapi tidak terlihat seperti petugas lain. Yang ini lebih muda.
“Josh! Bagaimana kau bisa disini? tunggu! Kau yang membuat semua kekacauan ini?” tanya Hazel yang seketika berdiri dari tempat tidurnya.
“Mungkin, tapi aku kesini untuk membebaskan mu. Kau punya janji padaku untuk memberi tahu sesuatu.”
“Jadi hanya karena itu?” tanya Hazel, kemudian dia mengerutkan dahinya.
“Tidak juga, cepatlah! Sebelum orang-orang disini sadar akulah pembuat masalahnya.”