The Versatile

The Versatile
Chapter 19



“Kita sudah sampai. Sekarang apa yang harus kita lakuakan?” tanya Josh pada Hazel. Mereka memandangi bangunan itu dengan seksama.


“Kita harus ke puncaknya!”


“Puncak? T-tidak! Kita tidak akan ke puncak!” bantah Josh.


Hazel memandangi Josh dengan tatapan sinisnya. “Jika kau tidak ingin mati, sebaiknya kita ke puncak. Ingat mengenai tulisan yang ayah ku tulis?” tanya Hazel pada Josh.


“Lidah api emas?”


“Ya, itu artinya puncaknya! Kau lihat benda yang diatas sana? Itu terlihat seperti obor api yang menyala dan itu berwarna emas. Kita harus ke puncak!”


“Tunggu!” Josh menghalangi jalan Hazel.


“Kenapa? Kau takut ketinggian? Berusahalah untuk tidak melihat kebawah, atau kau bisa menghilangkan ketakutan mu itu dari atas sana. Ayolah, jika ada Spencer kau juga pasti akan dipaksa olehnya. Jangan cengeng!”


“Aku tidak cengeng! Aku punya kenangan buruk dengan ketinggian.”


Hazel sudah berjalan menuju monumen itu, Josh akhirnya mengikutinya dengan berjalan perlahan-lahan namun tetap berusaha tidak kehilangan Hazel. Seseorang dengan tergesa-gesa berlari dari arah yang berlawanan dengan Hazel.


Orang itu membawa beberapa buku gambarnya. Tiba-tiba seseorang menambraknya dan mengakibatkan buku-bukunya berjatuhan. Orang yang menabraknya sama sekali tidak perduli dia melanjutkan jalannya tanpa meminta maaf atau membantu gadis itu. Untungnya orang-orang tidak sedang memperhatikannya. Dengan cepat Hazel mendekati gadis itu.


“Boleh aku bantu?” tanya Hazel sambil memungut kertas-kertas yang mulai berterbangan.


Gadis itu memandangnya cukup lama dan membuat Hazel bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Ada apa? Apa ada yang salah?”


“Tidak, hanya saja aneh,” jawab gadis itu.


Hazel membantu merapikan gambar-gambarnya dan saat dia selesai membantu gadis itu semua orang melihat kearahnya. Itu membuatnya semakin penasaran apakah ada sesuatu diwajahnya.


“Ada apa sih? Kenapa kalian memandangi ku? Bukannya membantu malah liat-liat dengan tatapan aneh. Kalian ini kenapa sih?” Amarahnya membuat semua orang tidak memperhatikannya lagi. Gadis itu pun pergi dan tanpa mengatakan terima kasih.


“Kenapa sih orang-orang? Memperhatikan orang dengan aneh dan gadis itu, tidak pernahkah dia diajarkan untuk mengucapkan terima kasih?” tanya Hazel pada Josh. Sekarang perhatiannya tertuju pada Josh, dia kaku setengah mati. “Kau juga! Ada apa?” desak Hazel.


“Kau tahu apa yang telah kau lakukan?” tanya Josh.


“Itulah yang ingin aku tahu sejak tadi! Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya pada mu Josh!”


“Kau sudah membantu gadis itu.”


“Memangnya salah membantu orang lain? Itu perbuatan terpuji.” Hazel mendesah.


“Ya, tapi tidak ada yang melakukan hal seperti itu sejak…” kata-katanya terputus sebelum Josh menyelesaikannya.


“Sejak kesetaraan yang kalian buat di muka bumi ini? sejak semua orang telah mencapai tingkat tertinggi dalam semua bidang? Itukah yang kalian pelajari selama ini?” Hazel menggelengkan kepalanya. Kemudian melanjutkan jalannya, Josh mengikuti di belakang.


“Tapi untuk apa membantu orang jika mereka tidak membutuhkan kita? Bahkan mereka tidak memintanya.” Josh mengangkat kedua bahunya, seolah-olah bertanya.


“Teknologi boleh canggih, tapi apa salahnya membantu orang lain. Pada dasarnya semua mahkluk hidup bertergantungan kepada orang lain. Bahkan itu telah ada pada diri kita sebelum kita lahir ke dunia. Saat didalam kandungan ibu kita, kita membutuhkan makanan dari ibu kita. Hanya saja bagaimana kita memanfaatkan dan menempatkan ketergantungan itu di tempat yang benar.” Saat Hazel berbicara seperti itu mereka telah mencapai bagian atas tangga utara.


Hazel berhenti seketika ketika melihat ke sekeilingnya. “Tunggu! Kita belum sampai atas!” Hazel hendak berbalik dan melihat lift ditengah sana.


“Kau sudah sampai diatas kawan,” ujar seseorang dengan nada yang mereka kenal.


Hazel mencari sumber suaranya. “Haikal? Untung sekali kau disini.” Hazel mendekati Haikal dan memeluk erat pria itu. Tapi cepat-cepat dia melepaskannya.


“Aku tahu pasti kalian ada disini.”


“Ayo kita ke atas. Aku rasa ada sesuatu diatas sana.” Hazel menunggu lift terbuka dan kemudian masuk kedalamnya.


“Kita sudah diatas, kita tidak bisa naik lagi. Tempat paling atas sudah ditutup, tidak ada orang yang boleh naik lagi keatas sana.” Haikal menggosok tengkuknya.


Hazel tampak bingung. Kemana lagi dia harus pergi. Hazel yakin yang ayahnya maksud adalah pelataran puncak monumen tersebut.


“Baikalah, aku tahu kalian lelah, sebaiknya kalian ikut dengan ku.”


Josh memandangi Hazel yang masih kebingungan. Hazel bagaikan gadis hebat yang sedang memutar otaknya untuk tahu bagaimana caranya membunuh tanpa jejak. Dengan hati-hati Hazel memindai setiap sudut ruangan ini. Orang-orang berkeliaran dimana-mana. Mungkin satu-satunya cara untuk bisa sampai di atas adalah terbang.


***


Hamish bersandar pada kursi empuknya. Beberapa bulan yang lalu dia pergi kesebuah tempat untuk melakukan penyamaran. Saat itu dia berada tiga blok dari permukinan sekitar. Tapi rumah itu menyendiri.


Bahkan dalam rumah tersebut banyak barang-barang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, seperti senjata api. Sejak kehadiran Hazel dan teman-temannya dia semakin yakin rumah itu ada hubugannya dengan mereka. Tapi Hamish belum bisa memberitahu mereka, karena belum ada orang yang bisa dipercaya saat ini.


“Sebaiknya aku berbicara pada Haikal,” ujar Hamish pada dirinya.


Dia menekan ID nya dan menghubungi Hamish. Dia memasang sistem video call. Untuk beberapa saat layar itu hanya menunjukkan wajah dirinya. Kemudian muncullah Hamish di layar tersebut.


“Kenapa lama sekali mengangkatnya kawan?” tanya Hamish pada Haikal.


“Maaf, kami sedang berpikir keras disini.”


“Siapa yang bersama mu?” tanya Hamish penasaran.


“Aku dan Josh juga.” Hazel melayangkan simpul senyumnya. Dan menampakkan wajahnya pada layar.


“Bukannya kau pergi ke Amerika? Kenapa kau disini dan mana kembaran ku?”


Hazel melipat tangannya. “Ceritanya panjang, jika kita bertemu akan ku ceritakan.” Hazel terus menatap Hamish, tapi yang dia lihat bukanlah wajahnya melaikan lukisan yang berada di belakang Hamish. “Sedang dimana kau sekarang?”


“Oh, a,aku sedang berada di, di, di rumah teman ku,” jawab Hamish dengan gugup.


“Kalau begitu kita harus kesana! Dimana letaknya?”


Hamish menelan ludah, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. “Tunggu! Kalian tidak bisa kesini, teman ku tidak suka orang banyak.”


“Kalau begitu aku saja yang ke sana!” Gertak Hazel. Hazel tahu ada yang disembunyikan oleh Hamish. Karena lukisan yang berada di belakang Hamish persis seperti lukisan yang berada pada dinding rumah ayahnya yang di Amerika. Jika rumah itu memiliki lukisan yang sama, kemungkinan besar rumah itu juga milik ayahnya.


“Tidak! Kalian tidak boleh kesini.” Sambungan pun terputus.


Dengan tergesa-gesa Hazel mendekati lift, tapi Haikal menarik tangannya. Cepat-cepat Hazel menariknya, tapi cengkraman Haikal lebih kuat dari dugaannya. Bunyi lift terbuka membuat Hazel terus memaksa dirinya lepas dari Haikal. Tapi sekali lagi Hazel harus menyerah dari cengkramannya yang sekuat ikatan mati simpul pramuka.


“Kita harus mencari Hamish!” gertak Hazel pada Haikal.


Josh terus memandang ke sekeliling. Tempat ini ramai dengan orang dimana-mana. Tapi ada satu orang yang tidak mungkin dia lupakan wajahnya. Gadis dengan senjata api ditangannya sedang membidik Hazel. Gadis yang sama saat menyerang mereka di area parkir.


“Hazel merunduk!” teriakan Josh menggema ke seluruh sisi ruangan diikuti suara tembakan diudara.


Hazel bersembunyi dibalik tiang penyangga. Josh berada disisi lain, sedangkan Haikal tidak tahu pergi kemana.


“Sial, kenapa dia bisa tahu kita disini?” tanya Hazel pada dirinya.


Orang-orang berhamburan dimana-mana. Mereka berlarian menuju tangga darurat. Hazel tahu jika dia ikut berlari menuju tangga darurat maka jalannya akan terhalang oleh orang-orang yang begitu banyak. Jadi dengan cepat dia berlari menuju lift dan menekan tombol agar lift terbuka.


Lagi-lagi gadis itu menembakan pelurunya ke Hazel. Hazel masih terlalu gesit untuknya, dia berlari dengan kecepatan penuh dan kembali ketempatnya semula.


Josh yang berada disisi lain menunggu pintu lift terbuka, hanya satu kesempatan yang mereka punya. Jika pintu tertutup lagi, maka habislah mereka. Hazel terus berhitung dalam hati, sepuluh detik terasa satu jam. Lima belas detik dan saat detik kedua puluh pintu terbuka.


“Josh!” Hazel berteriak pada Hazel. Mereka menunggu lima detik utnuk berlari. Sedangkan gadis itu terus menghujani mereka dengan pelurunya. Josh berlari terlebih dahulu, kemudian menekan tombol agar pintu lift tertutup.


“Hazel! Cepat!” teriak Josh dari dalam lift.


Pintu hampir tertutup, sepuluh detik dan Hazel berlari secepat yang dia bisa. Pintu lift tertutup sekarang dan mereka telah berada didalam lift. Tapi pelarian mereka tidak berhenti sampai disini, mereka harus menjauh dari monument tersebut.


Orang-orang berteriakan dimana-mana. Ini dikarenakan suara tembakan yang belum pernah mereka dengar dan lihat.


“Kerja bagus Josh,” puji Hazel. Punggunya terasa nyeri sekarang. Saat dia melihat kepunggung kanannya, darah muncul dari balik pakaiannya.


“Kau tertembak Hazel.” Josh mendekati Hazel dan memeriksa seberapa parah lukanya.


“Tidak apa-apa ini hanya luka gores. Kita harus mencari Hamish. Aku tidak melihat Haikal sejak gadis itu muncul tadi. Saat dia menarik tangan ku aku rasa ada hal mengganjal  pada dirinya.” Mereka berlari menjauh dari monumen tersebut.


Josh memegangi tangan Hazel. “Aku bisa berjalan sendiri Josh.” Suara Hazel lembut, dia tidak ingin terdengar seperti penolakan.


Josh pun melepaskan tangannya. Mereka sudah keluar dari area tersebut. Jalan raya cukup ramai. Mereka menaiki bis dan menghilang dari kejauhan.