
Pagi itu tepat pukul delapan pagi, orang-orang mulai melakukan aktivitas mereka seperti biasanya. Bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat. Tapi, ada yang tidak biasa hari itu. udaranya sangat dingin di luar, bahkan orang yang biasanya memakai pakaian yang tertutup dati atas hingga bawah tetap merasakan dinginya udara pagi itu.
Saat semua orang mulai keluar dari rumah mereka, langit mereka sangat gelap. Bahkan mereka melirik jam di ID mereka untuk memastikan apakah sudahbenar-benar pagi. Mereka tidak salah, ini memang sudah pagi. Tidak ada yang salah pada jam mereka.
Mereka keluar dari rumah dengan membawa alat bantu penerangan. Saat mereka menginjakkan kaki mereka ditanah, mereka tidak merasakan tanahnya. Mereka merasakan benda yang halus dan lembut seperti kapas. Lampu mereka dinyalakan, salju telah menutupi seluruh jalanan. Lagi-lagi mereka tercengang dengan apa yang mereka lihat.
Tidak pernah ada salju lagi sejak ratusan tahun lalu. Tidak pernah bahkan di Eropa sekalipun. Orang-orang mulai heran dengan kejadian pagi itu. mereka bertanya-tanya pada tetangga mereka yang tidak sama sekali tahu jawabannya.
Tidak lama setelah itu bunyi gemuruh terdengar. Mereka mengira itu gempa bumi. Gempa bumi hal yang biasa bagi mereka, mereka hanya akan merasakan getarannya tanpa efek apapun. Karena mereka sebenarnya seperti berada didalam bungker yang sangat besar sekali. Hanya saja mereka tidak tahu.
Bunyi gemuruh terdengar kembali untuk yang kedua kalinya dan lebih keras dari yang pertama. Kali ii suara gemuruh diikuti suara retakan yang berasal dari atas. Orang-orang mulai keluar dari rumah mereka dan menyaksikan langit mereka runtuh.
Secercah cahaya muncul dari langit mereka yagn gelap. Seperti akan turun malaikat dari surga. Lama-kelamaan cahayanya semakin menjalan dan semakin lebar. Langit yang ebrada tepat diatas bendungan runtuh. Orang-orang mulai ketakutan sekaligus penasaran.
Reruntuhan langit mulai berjatuhan ketanah, untungnya rambatannya berhenti tepat sebelum menghancurkan pemukiman. Hutan yang selama ini menutupi bendungan tersebut rusak dan menampakkan bendungan yang hancur.
Namun ada sisi lain yang mereka lihat dari sana. Ada langit yang lebih tinggi dari langit mereka. semua orang mulai berlari mendekati bendungan saat runtuhannya mulai berhenti. Mereka berdiri diatas reruntuhan bendungan. Menatap keatas langit mereka yang telah runtuh. Langit yang terang, bahkan lebih terang dari langit mereka biasanya.
***
“Kau berhasil Josh, menghabiskan airnya dan menghancurkan bendungan.” Teriak Hazel kegirangan.
“Kita berhasil,” tambah Josh.
Mereka semua telah berada diatas. Padang panel surya itu runtuh bersama dengan bendungan. Mengakibatkan sebuah bundaran besar seperti black hole. Dibawah terlihat sangant gelap, hanya alat lampu penerangan para cryptorlah yang terlihat dari atas.
Para cryptor mulai mendekati lubang tersebut dan mereka mulai naik ke atas, cara yang sama dengan para petugas ini untuk bisa sampai diatas. Mereka berdiri di sekitar tanah kosong dan seketika mereka telah berada diatas. Dunia yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Matahari menjadi sorotan pertama mata para cryptor. Seolah itu adalah benda bagus dengan harga yang tidak bisa dikisarkan. Semua orang mulai memenuhi bagian atas. Suara-suara mulai terdengar tentang sisi lain dari dunia mereka. Mereka tidak pernah mengira selama ini mereka tinggal dibawah tanah.
Jelas saja, pemerintah mereka tidak ingin semua orang tahu bahwa dunia mereka telah dimanipulasi. Pesawat mereka yang sebenarnya tidak terbang di langit dan alasan untuk tes kesehatan setiap enam bulan yang mereka lakukan adalah untuk memberikan obat pelupa dari setiap memori mengenai dunia atas.
Karena itu pemerintah membuat obat pelup tersebut memanipulasinya dengan memberikan efek bengkak. Semua hal ini hanyalah tentang uang. Pemerintah tidak ingin kehilangan sumber uang mereka, yang jika tahu ada dunia diatas, maka mereka pasti akan memilih untuk membangun rumah diatas tanpa harus mengeluarkan uang setiap tahunnya.
Hazel dan teman-temannya memandang dari kejauhan. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang. Tugasnya hanyalah menyadarkan para cryptor bahwa ada orang-orang diaatas sini yang butuh kepedulian dari mereka. Kata kesetaraan belum tercapai sejak berabad-abad. Namun kepedulian terhadap sesama adalah satu-satunya hal terpenting yang bisa meringankan beban mereka.
***
“Aku rasa tugas kita telah selesai Spencer.” Hazel memandang orang-orang yang sedang berkenalan satu sama lain.
“Ya dan berita tentang ini, aku yakin akan terseber luas ke seluruh dunia. Aku rasa mereka juga akan menemukan dunia atas yang lainnya diseluruh bagian.” Spencer menatap Hazel penuh dengan kebahagiaan.
“Dan,” Hazel menatap ketiga temannya yang berasal dari zaman ini. “Ini tugas kalian untuk meneruskannya.”
Hamish, Josh, dan Haikal saling bertatapan. Mereka bertiga tidak yakin apakah mereka bisa meneruskannya. Tapi, mau tidak mau mereka harus, karena ini adalah dunia mereka. Merekalah yang menentukan bagaimana mereka menjalani kehidupan disini. Kita semua memiliki pilihan untuk memilih yang benar dan baik.
“Kami akan melakukannya,” kata Hamish kemudian.
Hazel seakan abru tersadar akan sesuatu, bagaimana caranya mereka pulang ke zaman mereka jika tempat utnuk mereka kembali telah hancur.
“Spencer, bagaimana cara kita untuk pulang?”tanya Hazel.
Spencer menatap Hazel, wajahnya terlihat lelah. “Aku juga tidak tahu,” kata Spencer.
Hazel kembali untuk mengingat kejadian yang telah terjadi. Mulai dari pertama kali dia berada disini hingag disaat sekarang ini. Semua yang dia lakukan seolah telah diperhitungkan oleh ayahnya. Apa yang dia butuhkan selalu berasal dari ayahnya. Dia yakin jalan untuk bisa kembali pulang pasti telah ayahnya rencanakan.
Hazel menggosok tengkuknya, tangannya merasakan sesuatu. Kalung yang Hazel ambil dari genggaman ayahnya, dengan bandul HS.
“Tunggu! Mungkin maksud dari HS bukanlah Hazel Skylar, melainkan Hamish, Spencer.” Hazel melepas Kalungnya dan menatap kea rah Hamish dan Spencer.
“Maksu mu apa?” Josh mengedipkan matanya berkali-kali. Entah karena terkena debu yang terlalu banyak disini atau apa.
“Ya, semua ini telah direncanakan oleh ayah ku. Kalian berdua kembar, sama seperti aku dan kembaran ku. aku bisa masuk ke sini karena kembaran ku dan kita bisa kembali pulang dengan kembaran juga.”
“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Hamish.
“Entahlah, coba saja kalian pegang bersamaan sambil berpegangan tangan,” jelas Hazel.
Spencer mengambil kalung dari tangan Hazel dan menggenggamnya. Dia menggenggam tangan Hamish kemudian.
“Aku rasa ini aneh. Dua orang pria bergandengan tangan. Kita terlihat seperti pasangan kekasih.” Hamish mengomel.
“Hanya ini cara agar aku bisa kembali. Jadi ayo kita lakukan saja!” perintah Josh pada Hamish.
Awalnya Hazel mengira tidak akan terjadi apa-apa. Karena mereka terlihat seperti biasa-biasanya dan tidak ada reaksi. “Aku rasa ini tidak akan berhasil.” Hazel menggeleng.
“Silahkan sebutkan tahun yang ingin anda kunjungi,” ujar wanita itu.
Josh dan Hamish membeku seketika. Hazel bahkan tidak menyangka ini akan berhasil.
“Bisakah kau lepaskan pegangannya sekarang?” tanya Hamish pada Spencer. Dengan wajah yang sedikit aneh.
Dengan cepat Spencer melepaskan tangan Hamish. Mereka tidak ingin terlihat lebih aneh lagi. “Maaf,” kata Spencer.
“Hebat! ini berhasil. Kalian mengaktifkan sistemnya dan aku yakin inilah yang dicari oleh Olivia.” Wajah Hazel terlihat lebih meyakinkan sekarang.
Spencer memberikan kalung itu kembali pada Hazel. Dia yakin gadis itu lebih pantas untuk memegangnya. Hazel mengambilnya dan tangan mereka bersentuhan. Hazel menatap Spencer, sentuhan yang begitu lembut hingga membuatnya hampir hilang kesadaran.
“Bicara tentang Olivia ― wanita gila itu, kalian akan apakan dengan dia?” Josh menatap Spencer. Cepat-cepat Spencer beralih kepada Josh.
Spencer diam untuk sesaat. “Aku akan mengurusnya, dia harus kami bawa untuk dihukum sesuai aturan dizaman kami.”
“Bagaimana caranya untuk memancing Olivia keluar?” tanya Hazel.
Spencer menatap Hazel. Dia memang tidak memiliki ide untuk memancing Olivia. Semua tampak kelelahan, tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan Olivia.
“Aku rasa aku tahu,” Haikal berbicara. “Olivia menginginkan alat itu, aku yakin dia pasti akan mencari mu. Kita bisa membuat siaran agar Olivia datang untuk menjemput alatnya itu,” usul Haikal.
“Bagaimana jika dia tidak datang?” tanya Hazel.
“Aku yakin dia datang. Dia tipe orang yang jika menginginkan sesuatu harus mendapatkannya. Aku yakin dia akan merespon kita,” jawab Spencer.
“Sekarang kita hanya butuh kamera dan computer.” Josh bergumam disamping Hazel.
“Kita harus kembali ke bawah. Dirumah ku ada alat-alat yang kalian butuh kan. Aku harap mereka tidak merusaknnya,” ujar Haikal.
Saat orang-orang sedang sibuk untuk melihat peradaban baru mereka yang berada diatas, Hazel dan teman-temannya justru kembali kebawah sana untuk menangkap Olivia. Hazel dan Spencer harus pulang, tapi mereka juga harus membawa Olivia bersama mereka.
Olivia bisa saja menghancurkan kembali peradaban dan mengubah masa depan, itu tidak akan bisa dibiarkan. Mengubah masa depan, sama saja menghilangkan masa lalu. Mengubah masa lalu sama saja menghilangkan masa depan.
Perjalan mereka menuju rumah Haikal terasa singkat. Hazel ingin ini cepat selesai dan dia ingin kembali ke zamannya dan bertemu ibunya. Dia sangat rindu dengan ibunya. Dia berjanji pada ayahnya untuk menjaga ibunya. Karena hanya ibunya satu-satunya keluarga untuknya.
Haikal membantu Josh untuk meretas jaringan. Tapi disini Joshlah ahlinya, sepertinya setelah ini Josh akan masuk menjadi mata-mata. Pekerjaan itu cocok untuknya sekarang. Dia belajar banyak dari Hazel.
“Hai dik.” Suara yang sekarang ini sangatlah familiar.
Semua orang menoleh ke sumber suara tersebut. Hazellah orang pertama yang menduga dia akan datang lebih dulu. Hazel yakin Olivia tahu tempat Haikal dan dia yakin mereka akan muncul disini.
“Sepertinya aku selalu datang disaat yang tidak tepat,” nada bicaranya terdengar santai namun Hazel yakin itu lebih seperti mengancam.
Olivia menodongkan senjata yang tidak asing lagi dimata Hazel dan Spencer. Senjata yang dipakai di zaman mereka.
“Aku tidak akan menembak kalian, jika aku tidak terpaksa. Jadi, sebaiknya kalian turuti perintah ku!” Olivia menggertak.
“Aku tahu apa yang kau inginkan,” kata Hazel.
Wajah Olivia seakan berkata ′apa?′ dan Hazel dapat melihatnya secara tersirat.
“Aku telah menemukan apa yang kau ma,” Hazel berusaha seyakin mungkin.
“Ya, dan aku menginginkannya sekarang! Beri tahu aku dimana benda itu!”
Semua orang hanya diam, termasuk Spencer. Ini seperti perang antar wanita. Para pria seakan dibuat bisu sesaat. Hazel melakukan kontak mata yang singkat dengan Spencer. Seolah Spencer tahu maksud dari Hazel melakukan itu.
“Ini.” Hazel menunjukkan kalung itu. “Ini alat yang membuat kita bisa pergi ke tahun berapa saja.”
“Berikan pada ku!” Perintah Olivia. “Cepat!” bentaknya.
Lagi-lagi Hazel melakukan kontak mata singkat dengan Spencer. Gadis itu siap melemparkan kalung itu ke Oliva. Di arah yang berbeda Spencer seakan telah siap menerjang sesuatu.
Hazel melemparkan kalung tersebut, Spencer dengan cepat berteriak. “Tahun dua ribu tujuh belas!” dan langsung memegang lengan Olivia.
Hazel memegang tangan Spencer dengan sangat cepat. Seakan kejadian itu diperlambat agar Josh, Hamish, dan Haikal dapat mendengar perkataan Hazel.
“Aku akan selalu mengingat kalian.”