The Versatile

The Versatile
Chapter 15



Hazel terbangun tepat pukul enam pagi. Sekarang perutnya memprotes lapar. Tempat pertama yang dia datangi adalah dapur. Josh dan Spencer belum bangun, jadi Hazel bisa leluasa makan, tanpa harus melihat mereka berdua.


Hazel membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa makanan. Setelah dia mengisi perutnya, dia menuju ruang televisi. Mungkin ada berita bagus, yang bisa membantunya memecahkan kodenya.


Hazel duduk disofa dan menyalakan televisinya. Udara diruangan ini cukup hangat dan membuat Hazel nyaman, karena terasa seperti dirumah. Hazel terus mengganti-ganti saluran televisinya, hingga dia berhenti di saluran televisi lokal.


“Upacara pengibaran bendera merah putih oleh Indonesia akan diselenggarakan pada pukul sepuluh pagi waktu setempat. Upacara yang biasa diadakan pada tanggal tujuh belas agustus ini adalah untuk memperingati hari kemerdekaan Negara tersebut.” Suara televisi masih berbunyi. Hazel tertegun mendengar berita tersebut. Hazel pun langsung melesat menuju kamar Josh dan Spencer.


Kamar Josh dan Spencer berdampingan. Kemudian Hazel mengetuk kamar mereka secara bersamaan. Tidak ada jawaban. Saat Hazel mengetuk untuk yang kedua kalinya, kedua pintu tersebut terbuka. Spencer dengan celana pendeknya, membuka pintunya, begitu juga dengan Josh. Dan mereka bertelanjang dada. Hazel terdiam beberapa saat.


“Kita harus ke Indonesia!” ujar Hazel kemudian.


“Kenapa?” tanya Josh yang sekarang sedang menggosok-gosok matanya.


“Ini tentang ayahku, aku rasa dia menyembunyikan sesuatu disana.”


“Baiklah, kita berangkat pukul sepuluh.”


“Oke, dan …” sebelum Hazel menyelesaikan kalimatnya mereka menutup pintunya, dan lagi-lagi secara bersamaan. “Kenapa mereka meyebalkan sih?”


“Aku mendengar mu Hazel!” ujar mereka secara bersamaan.


Hazel pun langsung pergi dari sana, tidak ingin terlibat perkelahian dengan mereka. Kembali ke sofa empuknya sambil menonton beberapa tayangan kartun. Semakin lama matanya semakin berat. Hazelpun menyandarkan tubuhnya, dan tertidur disofa.


***


Josh dan Spencer sudah bersiap untuk pergi. Mereka berdua telah berpakaian dan mengemas. Hazel masih tertidur disofa, Josh berusaha membangunkannya. Tapi Hazel tidak juga bangun. Saat Spencer membangunkannya, Hazel langsung membuka matanya.


Josh dan Spencer berdiri tepat didepan Hazel. “Apa kalian sedang menontoni aku saat tertidur?”


“Tidak, sekarang pukul sepuluh. Kita harus berangkat!” ujar Spencer. Spencer menenakan jaket kulit berwarna hitam dan kaos hitan, serta celana bahan berwarna coklat muda, sangat muda.


“Tidak ada yang melihat ku mengigau kan?” tanya Hazel sambil bangun dan duduk disofa itu. berusaha mengumpulkan ke seimbangannya.


“Tidak. Tapi kami melihat mu saat memangil nama ku.” Josh tersenyum.


“Apa? Aku memanggil nama mu?” Hazel terdiam, terlihat sedang berpikir. “Dengar! Aku tadi tidak memimpikan mu, sungguh.”


“Tidak apa-apa, banyak gadis yang suka denganku disekolah, tapi aku tidak pernah tertarik pada gadis penggoda seperti mereka.”


Sekarang Hazel bertambah bingung, apakah maksud Josh bahwa Hazel termasuk gadis tipenya. Hazel mengusap rambutnya yang mulai berantakan, kemudian dia kamar mandi dan berpakaian. Lima belas menit kemudian Hazel sudah siap lengkap dengan pakaiannya.


Ini merupakan perjalanan kedua bagi Hazel dan Spencer untuk ke Indonesia. Tapi suasananya berbeda seperti sebelumnya. Saat itu dia hanya berdua Spencer dan Hazel juga menyukai Spencer.


Saat itu rasanya dia ingin menyandarkan kepalanya dibahu Spencer. Tapi setelah tahu Spencer telah menikah, dia membuang jauh-jauh pikiran itu, dia tidak menginginkannya lagi. Sekarang dia diapit oleh dua pria dengan sifat yang berbeda. Seakan-akan Hazel adalah anak kecil yang perlu dijaga.


Seperti biasa Hazel hanya diam, dia masih memikirkan apakah benar dia menyebut nama Josh didalam tidurnya. Apakah Spencer juga mendegarnya mengatakan itu. Dia tidak terlalu cemas, hanya saja dia tidak pernah sedekat ini dengan pria yang dia sukai.


Hazel lebih suka menyendiri dibanding harus berteman dengan gadis-gadis pemandu sorak. Dia lebih suka olahraga daripada harus berteriak-teriak dan berloncat-loncatan seperti pemandu sorak lakukan.


Hari semakin sore, hari-hari mereka hari ini dihabiskan hanya dengan tidur, pergi ke kamar mandi, dan mengamati pemandangan awan. Hazel juga tidak bicara, hanya kadang Spencer menanyakan keadaannya.


Hingga malam hari, semua orang dalam pesawat ini telah tertidur. Tapi tidak dengan Hazel yang masih terjaga. Dia memandangi Josh yang sedang tertidur, Josh terlihat tampan dan menawan. Kemudian dia melihat Spencer, dia terlihat gagah dan kuat, serta tampan. Spencer benar-benar datang disaat yang tidak tepat, disaat Hazel sedang berusaha melupakannya.


Hazelpun mengalihkan pandangannya, jendela tempat yang cocok untuk meyegarkan mata. Hazel berjalan kebelakang, tadi dia melihat ada beberapa kursi kosong dibelakang. Mungkin dia bisa memakai kursi itu.


Rasanya lebih baik duduk sendiri daripada harus bersama kedua orang itu. Hazel duduk dikursi dekat jendela, kemudian dia menekuk kakinya dan memeluknya. Pemandangan malam memang sangat indah, tapi ada yang aneh dari sana.


Ada seseorang terbang dilangit, tapi anehnya orang itu terlihat seperti sedang berjalan ditanah. Kemudian dia berlari menuju suatu termpat yang tidak terlihat dan menghilang.


Suara kapten pilot yang terdengar dari microphone membangunkan Hazel. Pesawat sebentar lagi akan mendarat. Spencer dan Josh sudah terbangun sejak tadi, tapi tidak satupun dari mereka yang membangunkan Hazel. Mereka juga tidak melihat satu sama lain, apa mereka sedang marah pada ku? ucap hazel dalam hati.


Setelah pesawat benar-benar berhenti barulah semua orang turun. Setelah mengambil barang-barang mereka dan mengurus semuanya mereka mencari hotel untuk menginap. Indonesia yang dulu saat Hazel kesana benar-benar berubah. Hazel memandang sekelilingnya, bandara yang sama namun berubah secara fisik. Sangat nyata dan jelas. Hazel mengingat kembali kejadian kemarin, seseorang, terbang, tanpa sayap, berjalan, semua hal itu terus berputar dikepalanya seperti rekaman yang diputar secara berulang-ulang.


“Negara ini seribu tahun yang lalu benar-benar berbeda. Apa yang membuat semua perubahan ini?” Tanya Hazel takjub.


“Semua orang berubah Hazel, begitu juga dengan Negara ini,” ujar Spencer. Dari nadanya Hazel bisa mendengar ke sinisan.


Apa yang salah dengna diriku? Batin Hazel pada dirinya sendiri. Kenapa mereka bersikap aneh?


Hotel tempat mereka menginap benar-benar bagus. Jakarta Sheraton Hotel merupakan tempat untuk orang-orang kaya yang ingin menginap. Untungnya Josh telah membawa banyak uang sebelum dia pergi. Mereka memesan tiga kamar hotel, Joshlah yang mengurus semuanya. Karena Hazel dan Spencer tidak mengerti prosedur zaman ini.


Josh dan Spencer masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa. Hazel masih diam didepan pintu kamarnya, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan kedua orang itu.


“Laki-laki memang aneh.” Hazel memutar matanya, kemudian masuk kedalam kamarnya.


Mungkin hari ini dia harus beristirahat setelah jet-lag yang ia alami. Kemudian, besok dia akan mencari teka-teki yang ayahnya tinggalkan. Sekarang dia sudah terlalu lelah utnuk membereskan semuanya. Tanpa pikir panjang dia berbaring dan terlelap.