The Versatile

The Versatile
Chapter 38



Hazel mengendap-endap masuk kehalaman itu, mengambilnya, dan mulai mengayuhnya. Yang membuat perjalannya semakin jauh adalah para petugas yang selalu berpatroli disekitar jalan. Dan itu harus membuat Hazel terus memutari jalan.


“Sial! Kenapa mereka terus melewati jalan yang aku lewati?” keluh Hazel.


Sudah tiga puluh menit Hazel terus memutari jalan untuk sampai disana. Hingga akhirnya dia sampai di sebuah gang kecil. Hazel menuntun sepedanya, dia tidak memilih untuk meninggalkan sepedanya disini, dia masih membutuhkan sepedanya utnuk berjalan pulang.


Tepat pada sebuah pintu yang Hazel ingat, dia mengetuknya perlahan. Hazel melepaskan kaca matanya, hanya untuk bersopan santun. Seseorang membuka pintunya, seperti dugaannya Haikallah yang muncul.


“Masuklah cepat!” Haikal mempersilahkan Hazel masuk. Pria itu memakai celana jeans dan t-shirt berwarna putih polos. Jelas itu membuat bentuk tubuh Haikal terlihat, otot-ototnya lengannya menonjol keluar dan menjadikan pakainya ketat ditubunya.


Hazel jadi bertanya-tanya, kenapa kebanyakan pria berotot selalu memakai baju seperti itu? baju yang ketat dan menonjolkan otot-otot mereka. Seolah baju itu adalah kulit kedua mereka. Banyak wanita yang suka dengan pria berotot dan salah satunya Hazel.


Hazel tidak tahan untuk tidak menatap Haikal dan tubuh berototnya. Tapi Hazel berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Haikal.


“Dimana teman-teman mu?” tanya Haikal kemudian.


Hazel mencoba menatapnya agar tidak terlihat bahwa dia sedang mengalihkan pandangannya. “Kenapa? Karena kau ingin menangkap kami semua?” tanya Hazel balik dengan nada mengejek.


“Kau kira ini jebakan?” Haikal duduk dikursi dan menyilangkan tangannya didada. “Tentu saja tidak! Aku memang pernah berada dijalan yang salah, tapi semua itu telah berlalu saat―” kata-katanya terputus.


“Saat kau melihat Negara mu telah berantakan?” lagi-lagi Hazel mencoba untuk menatap Haikal. “Aku tau, kecintaan mu dengna Negara ini begitu kuat. Ayah ku juga sama, dia mencintai negaranya.”


“Maaf tentang segalanya. Olivia menawarkan hal yang tidak bisa aku tolak. Tapi aku mengerti sekarang, kenapa dia menawarkan hal itu pada ku.”


Hazel tersenyum mengejek pada Haikal. “Setelah semuanya kau baru menyadarinya?” Hazel memutar matanya.


“Ayah mu bekerja untuk pemerintah dunia dan Olivia mengetahui itu. Saat ayah mu menemukan tempat diatas sana―” Haikal belum menyelesaikan kalimatnya.


Hazel menyela perkataan Haikal. “Jadi kau tahu tentang dunia diatas?”


“Ya, tapi ayah mu tidak pernah memberi tahu letak untuk bisa naik keatas.” jawabnya. Kemudian dia melanjutkan. “Olivia memiliki ambisi untuk meruntuhkan pemerintah diseluruh dunia dan ingin menjadikannya sebuah pariwisata untuk masa lalu dan masa depan.”


“Ya aku tahu. Dia mengatakannya pada ku,” kata Hazel. “ Tapi pariwisata? Dia gila? Dia kira masa depan dan masa lalu adalah tempat yang bisa dia kunjungi?”


“Aku tahu itu kedengarannya gila. Dan memang itu kenyataanya.” Haikal merapikan rambutnya. “Saat ayah mu akan diberikan obat pelupa, ternyata dia kabur dan bekerja sama dengan Olivia.”


“Ayah ku bekerja sama dengan Olivia? Aku kira dia suka bekerja sendiri?”


“Dia tidak punya pilihan. Terjebak dimasa depan dan kau tidak akan pernah lahir atau dia kembali kemasa lalu dan membantu Olivia.”


Hazel mengambil kursi didekatnya untuk duduk. Dia lebih memilih untuk tidak duduk didekat Haikal sementara ini. “Aku mengerti. Jika kita ke masa depan dan mengubahnya maka yang ada dimasa depan tidak ada dimasa lalu dan sebaliknya.”


“Ya , seperti itu,” ujar Haikal sambil menganguk pelan.


“Bagaimana dengan obat pelupanya? Jadi semua orang diberikan obat pelupa agar mereka tidak mengingat dunia atas?”


“Aku tidak begitu tahu tentang hal itu. Menurut yang pernah aku dengar, obat pelupa itu adalah obat yang diberikan bersamaan dengan tes kesehatan yang kita lakukan satu bulan sekali, tapi aku juga tidak tahu apakah itu benar atau tidak.”


Suasana berubah hening seketika. Hazel melakukan kontak mata dengan Haikal. Seolah pria itu merasakan apa yagn Hazel rasakan. Dengan cepat Hazel memakai kaca mata hitamnya dan mendeteksi keberadaan seseorang dengan flazz, jelas itu adalah petugas kepolisian. Ada sekitar lima lusin perugas mendekati rumah ini.


“Kau menjebak ku? aku sudah menduganya.” Hazel melemparkan senyuman kemenangannya.


“Apa? Aku tidak menjebak mu!” Haikal berdiri dari kursinya. “Memangnya apa yang kau lihat?” tanya Haikal penasaran.


“Lima lusin petugas lengkap dengan flazz mereka,” jawab Hazel sedikit bingung.


“Aku bersumpah tidak memanggil mereka!” ujar Haikal sedikit panik. “Ayo! Aku tahu jalan keluar dari sini, kita tidak akan melawan mereka.”


“Kenapa? Karena kita kalah jumlah? Lagi pula kenapa aku harus percaya pada orang yang telah membuat ku hampir mati dua kali dan menyiksa ku?” tanya Hazel sinis.


“Percayalah aku berada dipihak mu sekarang. Saat aku menyiksa mu itu hanya perintah dari atasan ku. Lagi pula jika aku menjebak mu aku tidak mungkin menceritakan semua itu!”


Hazel berpikir sebentar, dia bisa saja pergi keluar dan melawan lima lusin petugas dengna tangan kosong. Tapi yang menjadi masalah adalah Haikal mengetahui semua hal. Dia juga lebih tahu mengenai pemerintahan, tidak ada pilihan lain selain membawanya bersamanya.


“Oke, aku ikut dengna mu. Tapi jika kali ini kau menjebak ku atau kau bekerja sama dengan pemerintah, aku tidak akan segan-segan membunuh mu!” ancam Hazel pada Haikal.


“Itu bukan kesepakatan yang baik, tapi aku setuju,” kata Haikal. “Lagi pula kita impas sekarang, kau sudah meninju wajah ku hingga hidung ku berdarah,” tambah Haikal.


“Ha, itu sakit kan?” Hazel tersenyum licik.


Haikal naik ke atap. Hazel melihat ke sekeliling, tidak ada tangga untuk turun atau semacamnya. “Tidak ada tangga, bagaimana kita turun?” tanya Hazel.


“Kita tidak turun lewat tangga disini. Kita harus melompat ke atap yang lain, jika kita turun disini mereka pasti akan menangkap kita dibawah,” kata Haikal. Dia mulai melompat dari atap ke atap lain.


Hazel tercengang seketika. Dia harus melompat dari atap ke atap lain seperti ninja. Rasanya ini lebih seperti rencana bunuh diri daripada rencana pelarian. Namun apa yang dikatakan Haikal memang benar, tidak ada pilihan. Jika mereka turun disana, mereka pasti melihat mereka turun dan akan lebih mudah menangkap mereka.


Hazel mulai melangkahkan kakinya perlahan. Haikal telah lebih dulu memimpin, sedangkan Hazel untuk melangkahkan satu kakinya butuh waktu lima menit. Bukan karena dia takut ketinggian, melainkan karena dia takut tergelincir.


Suara langkah kai semakin dekat dibelakangnya. Tanpa berpikir panjang, Hazel memperbesar dan melangkah lebih cepat. Haikal telah berada diujung atap rumah orang ke lima. Hazel mencoba untuk menyusulnya lebih cepat.


“Hazel!” panggil Haikal dari ujung sana. “Aku memarkir mobil ku disini. Cepat!”


Akhirnya Hazel sampai pada atap rumah terakhir. Dia turun melewati tangga disebelah rumah tersebut dan berusaha tidak bersuara. Saat Hazel turun Haikal sudah berada didalam mobil dan menyalakan mesin. Bunyi deru mesinnya sangat mencolok. Cepat-cepat Hazel berlari masuk kedalam mobil


Para petugas berlari menuju mereka. Haikal menancapkan gasnya dalam-dalam. Mereka berjalan dengan sangat cepat, apalagi ini malam hari. Jalanan seakan milik mereka sendiri.


“Ke arah sini!” ujar Hazel seketika.


Haikal membanting setirnya ke kiri. “Ada apa? Kita akan ke mana?” tanya Haikal.


“Kita harus membawa teman-teman ku juga,” jawab Hazel.


Haikal melirik kekaca spion tengah, para petugas mengikuti mereka. Mereka harus membuat pengalihan sebelum menjemput teman-teman yang lain. Hazel menganalisa keadaan dengan kaca matanya.


“Hazel!” teriak Haikal pada Hazel. “Dimana teman-teman mu?”


“Berputar disana! kemudian belok ke kiri, masuk gang sempit disebelah sana!”


Haikal mengikuti intruksi dari Hazel. Dari belakang para petugas masih mengikuti mereka. Mobil para petugas lebih besar dari mobil mereka, jadi mereka tidak akan bisa masuk. Tapi mereka harus cepat.


“Hamish! Josh! Cepat naik!” teriak Hazel dari dalam mobil. Dia hampir lupa bahwa Spencer dan Nissa juga ada disana.


Tanpa pikir panjang mereka lari menuju Hazel. Hamish sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat. “Tunggu! Kau percaya dengan orang ini?” tanya Hamish ragu.


“Ceritanya panjang. Cepat masuk!” jawab Hazel.


Semua orang masuk kedalam mobil, tapi tidak dengan Spencer. Hazel menatap pria itu seolah dia sedang main-main. “Kau juga Spen–Sir!” perintah Hazel dengan nada sok inggrisnya.


Spencer tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar atau cemburu, tapi dia merasa seperti tidak ada disini atau itu hanya perasaannya saja yang terlalu berlebihan. Spencer masuk kedalam mobil dengan raut wajah tanpa ekspresi.


“Aku rasa kalian sedang diburu,” canda Josh dari dalam mobil.


“Aku rasa kalian tidak memiliki tempat aman lagi disini,” kata Nissa.


Hazel membalikan badannya dan menatap Nissa. “Ya, tapi kita masih punya temapt di atas sana kan?” tanya Hazel.


Nissa menatap Hazel, mata mereka benar-benar kontras. Hazel dengan mata hijaunya dan Nissa dengan mata coklatnya, seperti rumput yang terbalut coklat. Semua mata akhirnya menatap ke Hazel termasuk Haikal yang sedang mengemudi.


“Kita akan ke atas?” tanya Josh.


“Jika dibawah sini kita tidak diterima, maka kita akan diterima diatas. Musuh dari musuh kita adalah teman kita,” ujar Hazel berfilosofi.


“Kalau begitu dimana tempatnya?” tanya Haikal pada Hazel. Padahal gadis itu tidak tahu dimana letaknya.


“Kau tahu bendungan besar yang berada didekat hutan?” Spencer bertanya tiba-tiba.


Haikal menatapnya lewat kaca tengah. Dia baru menyadari bahwa sahabatnya sangat mirip dengan Spencer, bahkan terlihat seperti anak kembar. Mungkin karena dia baru melihat Spencer satu kali saat itu dan kemudian Spencer tidak pernah dia melihatnya lagi.


“Aku rasa tidak ada bendungan didekat situ.” Haikal mengerutkan dahinya.


“Awalnya aku juga pasti akan mengira seperti itu.” Spencer menyilangkan tangannya didada. “ Percaya pada ku, aku tahu jalannya,” tambahnya.


Haikal mengikuti perintah Spencer. Mobil para petugas jauh dibelakang, bahkan hampir tidak terlihat. Haikal memang ahli dalam hal mengendarai mobil, dia seperti dewa.