
“Saat kau menaiki sepeda pertama mu apa yang kau lakukan?” ujar suara wanita yang muncul tiba-tiba itu. mereka tidak bisa melihat siapa-siapa disini dan pertanyaan itu membuat mereka semua kebingungan.
“Aku rasa aku akan mengucapkan terima kasih,” jawab Josh.
“Jawaban salah. Dua kali lagi kesempatan kalian, atau laser akan muncul dan kalian akan terpotong.”
“Josh! Jangan menjawab sembarangan,” perintah Spencer pada Josh.
“Jawaban salah. Satu kesempatan lagi.”
Hazel menggeleng, mereka semua menjadi bisu. Satu kesempatan lagi, dan tidak ada yang boleh bicara kecuali mereka menemukan jawabannya.
Hazel memutar otaknya, tempat ini ayahnyalah yang membuatkannya. Mungkin ini ada hubungannya dengan dirinya. Dia terus berpikir dan dia ingat saat pertama kali ayahnya membelikannya dan dia jatuh keselokan. Hazel yakin itu adalah jawabannya. Tapi disini mempertaruhkan nyawa, nyawa semuanya, bukan hanya nyawa Hazel.
“Menaikinya dan jatuh keselokan,” akhirnya Hazel menjawab dan berharap jawabannya benar. Hazel melirik ke Josh dan Spencer, mereka juga terpaku. Entah karena jawaban Hazel atau karena takut laser itu muncul.
“Jawaban benar. Selamat datang Miss Skylar.”
Setelah itu tawa terdengar dari Josh dan Spencer. “Apa? Setidaknya itu berhasilkan?” kini Hazel memimpin jalan.
“Jadi, aku rasa itu kenangan berharga mu saat kecil ya?” tanya Josh sambil masih terkekeh sedikit.
“Ya, memang itu lucu ya? Setiap anak pasti senang jika punya sepeda saat mereka berumur tujuh tahun kan?” Hazel memutar matanya.
“Josh, jangan permalukan Hazel. Dia jadi malu,” bela Spencer. Tapi itu lebih kepada mengejeknya.
“Jadi sekarang kalian berteman? Sudahlah kalian tidak ingin tinju ku melayang kan?”
“Oke, oke ratu sedang marah sekarang,” ejek Josh. Mereka berdua tertawa lagi.
“Mungkin itu sebabnya banyak anak laki-laki yang tidak ingin menjadi pacar mu Hazel,” tambah Spencer. Kemudian mereka tertawa bersama lagi.
Sabar Hazel, itu yang dia katakan Hazel dalam hati. Dia sangat ingin marah, tapi tidak ada gunanya untuk kedua orang menyebalkan ini.
“Ya, karena itu anak laki-laki tidak pernah mendekati ku. Mereka takut aku tinju sebelum mereka mendekati ku. Jadi menjauhlah kalian sekarang!” wajah Hazel memerah.
Sekarang Josh dan Spencer sudah tidak tetawa lagi. Hazel bukan orang yang cepat marah, tapi mereka membuat Hazel terlihat seprti gadis pemalu yang suka saat anak laki-laki menggodanya. Hazel tidak suka itu. Dia ingin semua orang memandangnya kuat.
Hazel membuka sebuah pintu, terlihat seperti rumah lagi. Bahkan terlihat seperti rumahnya. Tidak ada lagi pintu tanpa kenopnya. Makanan tanpa dikunyah dan minuman tanpa diteguk. Tapi tidak mungkin dia berada dirumah. Mungkin ayahnya hanya ingin membuat tempat ini nyaman olehnya. Hazel pergi menuju kamarnya, saat ia membukanya terlihat sama persis seperti kamarnya. Bahkan detail-detailnya persis sama.
Dengan cepat Hazel menutup pintunya. Dia tidak ingin melihat wajah Spencer dan Josh. Kedua pria itu membuatnya kesal dan lebih baik Hazel tidak melihat mereka sekarang daripada dia harus meninju wajah mereka.
Dia baru ingat bahwa dia melupakan kertas yang dia simpan disakunya. Hazel merogoh sakunya dalam-dalam, kertas itu terlipat rapi. Dan lipatan itu saat dibuka terlihat sudah lama sekali, sehingga meninggalkan bekas garis-garis lipatannya. Hazel membukanya perlahan, ada tulisan tangan yang tertulis disana.
Hazel membisu beberapa saat, tidak mengeti apa maksud dari tulisan itu. tulisan itu berbunyi, LIDAH API EMAS. Apa artinya itu, Hazel tidak tahu. Mungkin ini sebuah pertunjuk. Dia juga ingat mengenai nomor-nomor di kotak itu. Mungkin itu sebuah kode untuk membuka sesuatu. Hazel mengambil secarik kertas dari mejanya, kemudian mengambil pensil dan meningat-ingat nomor yang tertera di kotak itu.
Ada angka tujuh, kemudian dia menuliskan lagi angka delapan. Andai dia bisa kembali keatas, dia akan mencatat nomor itu. Dan sekarang dia harus berpikir keras untuk meningat nomor-nomor itu. Kemudian dia ingat kembali ada angka empat, satu, dan yang terakhir lima.
Angka-angka itu terus dia acak-acak, tapi dia tidak berhasil menemukan apapun. Akhirnya Hazel menyerah, walaupun dia masih terus memikirkan angka-angka itu. Tapi dia berusaha menyingkirkan angka-angka itu dari pikirannya. Dia mengingat-ingat kejadian tadi, hal yang dikatakan Spencer memang benar, dia tidak pernah memiliki pacar. Lagipula hal terpenting baginya adalah keluarga, sahabat, dan dirinya sendiri. Berbicara mengenai sahabat, Hazel tidak pernah benar-benar memiliki sahabat.
Sekarang pikirannya melayang pada ayahnya lagi. Sejak tadi pagi dia terus memikirkan kenangan-kenangan kecil mengenai dia dan ayahnya. Membelikannya sepeda pertamanya pada umur tujuh tahun dan pemberian terakhir dari ayahnya saat berumur tujuh belas tahun.
“Tunggu! Tujuh dan tujuh belas. Aku rasa itu ada didalam angka-angka acak ini.” Hazel mencoret-coret kertasnya. Hanya ada satu angka tujuh disana, tapi ada angka satu, yang berarti dia bisa menuliskan angka tujuh belas disana. Tinggal tersisa tiga angka lagi untuk menemukan sisanya. Ini lebih mudah karena hanya ada tiga angka. Tersisa angka empat, delapan, dan lima.
Dia mencari-cari hubungan dirinya dengan angka-angka itu. Empat apakah dirinya telah melakukan susuatu diumurnya yang ke empat tahun. Hazel tidak mengingat itu, anak kecil jarang meningat kejadian penting saat berumur empat tahun. Tentu dengan ayahnya yang sangat detail dia pasti tidak memasukkan hal-hal yang tidak Hazel ingat.
Hazel duduk di tempat tidurnya, kemudian menyandarkan dirinya dengan bantal. Dia pikir tiga angka ini lebih mudah untuk dicari, tapi lebih sulit dari yang dia duga. Dia terus menukar angka-angka itu. Lima, empat, dan delapan. Delapan, lima, empat. Empat, delapan, lima. Lima, delapan, empat. Delapan, empat lima. Dan angka yang terakhir, empat, lima, dan delapan. Hazel memilah-milah angka-angka itu.
Dia mengambil dua angka terakhir, empat dan delapan. Lima dan empat. Delapan dan lima. Delapan dan empat. Empat dan lima. Lima dan delapan. Hazel terus memutar otaknya hingga pada suatu titik dia menemukan angka ke dua.
“Aku berasal dari tahun 2017, sama seperti angka pertama yang aku temukan. Dan sekarang aku berada ditahun 3045. Dan ada angka empat lima disana. aku rasa angka keduanya adalah empat puluh lima.” Hazel tertawa kegirangan.
Tinggal satu angka lagi, dan itu tidak perlu dia acak lagi. Karena hanya tinggal satu, apa yang ingin di acak-acak dari satu angak itu. Angka yang tersisa adalah delapan. Sekarang Hazel hanya perlu mengacak tiga bilangan tersebut dan lihat apa yang dia dapatkan.
Dia mengambil secarik kertas bersih lagi, kemudian menuliskan kembali apa yang sudah dia dapatkan, dia menulis angka tujuh belas, kemudian empat puluh lima, dan yang terakhir delapan. Dia memberi tanda setrip pada setiap bilangan sebagai pembatas. Apakah ini sebuah kode dan berhubungan dengan Lidah Api Emasnya atau tidak. Dia mencatat nomer-nomer tersebut seprti pada pertama yang dia lakukan, membaginya menjadi enam bagian.
Tujuh belas, empat puluh lima, dan delapan. Empat puluh lima, tujuh belas, dan delapan. Delapan, empat puluh lima, dan tujuh belas. Empat puluh lima, delapan, dan tujuh belas. Tujuh belas, delapan, dan empat puluh lima. Delapan, tujuh belas, empat puluh lima.
Angka-angka ini terus membuatnya harus memutar otak. Dua menit berlalu dan Hazel tidak menemukan apapun. Saat ini dia tidak memikirkan Spender dan Josh sedikitpun, pikirannya terus terfokus untuk menemukan kode-kode ini. Ayahnya telah meniggalkan kode-kode ini untuk dia pecahkan, jika dia berhasil mungkin dia akan menemukan rahasia yang tidak pernah orang tahu. Dan mungkin dia satu-satunya orang yang tahu.
Dia memandang angka-angka tersebut. Kode, atau sebuah tanggal. 17-8-45. “Aku mnemukannya!” ujar Hazel dengan gemetaran. Bukan karena dia ketakutan, melainkan senang karena telah menemukan kodennya.
Tapi apa maksud dari semua ini. Hari tujuh belas, bulan delapan, tahun empat puluh lima. Ada apa ditanggal tersebut. Apakah itu hari terpenting dalam hidupnya. Atau itu adalah hari terburuk dalam hidupnya. Atau itu adalah kejadian yang akan datang.
Udara malam membekukan seluruh belahan dunia. Tapi tidak sampai menjadi es. Untungnya Hazel dan yang lainnya berada jauh dari permukaan. Karena itu mereka tidak merasakan dinginnya malam.
Sejak pertengkaran Hazel dan Josh, Hazel belum bicara pada mereka lagi. Lagipula Hazel juga sedang sibuk menemukan kode-kode dari ayahnya. Matanya sedikit membengkak sekarang. Dia tidak menangis, dia hanya kurang tidur.
Dari luar Hazel mendengar seseorang mengetuk pintu, entah Josh atau Spencer.
“Hazel? Kau didalam?” itu Josh. “Maafkan aku dan Spencer, kami tidak bermaksud begitu. Kami kira kau tidak menganggapnya serius.”
“Memang tidak. Tapi kenapa aku marah?” jawab Hazel dan kemudian mengajukan pertanyan balik. “Karena aku tidak ingin diperlakukan seperti gadis manja yang suka menggoda,” Hazel bertanya dan dia menjawabnya sendiri.
“Ya, Hazel maafkan kami,” kali ini suara Spencer yang terdengar.
Di dalam kamarnya Hazel sedang duduk dimeja belajarnya. Dia mengambil kertas yang berisi tanggal dari angka-angka yang telah dia temukan. Dia melirik tanggalan yang tertempel didindingnya. Sekarang tanggal enam belas agustus tahun empat puluh lima, berarti besok adalah tanggal tujuh belas agustus tahun sempat puluh lima. Bahkan dia tidak sadar bahwa sekarang tanggal enam belas.
Suara Josh dan Spencer sudah tidak terdengar lagi dari balik pintu. Hari cukup melelahkan bagi Hazel, dia memang tidak melakukan aktivitas di luar, tapi oraknya terus bekerja untuk memecahkan angka-angka itu. Bahkan dia belum makan sejak sarapan pagi tadi. Perutnya juga tidak memprotes lapar, jadi Hazel membiarkannya. Hingga dia tertidur dan tidak merasakan apa-apa lagi.