
Hazel dan Josh masih berkeliaran di jalan. Mereka harus bertemu Hamish, tapi entah bagaimana. Kejadian tadi masih berputar diotak Hazel. Berbagai pertanyaan mulai muncul. Tapi sekarang bukan saatnya untuk melihat kebelakang, mereka harus bertemu Hamish.
Sebuah toko pakaian membuat ide muncul di otak Hazel. Belum sempat dia memberi tahu Josh, Hazel sudah masuk kedalam toko itu.
“Hazel, sekarang bukan saatnya untuk berbelanja. Kita harus bertemu Hamish.”
“Kita akan bertemu Hamish.” Hazel tersenyum senang.
Josh tidak tahu apa yang dipikirkan Hazel. Apa dengan berbelanja mereka bisa bertemu Hamish. “Oh aku tahu maksudmu. Kita akan menyamar.” Teriak Josh kegirangan.
“Ssstt, jangan katakan itu dengan keras.” Hazel merunduk sedikit. “Kau punya uang?” tanya Hazel.
“Tidak, kenapa?”
“Bagus, sekarang kita harus mencuri.”
“Mencuri? Kenapa itu bagus? Itu hal yang tidak bagus, kita tidak pernah mencuri disini.”
“Itu bukan pujian, itu sindiran Josh.”
“Oh, aku kira tadi kau bilang mencuri itu bagus.”
Hazel berdiri, kemudian dia mengambil sebuah hoddie berwarna hitam dan rok selutut berwarna hitam. Josh mengambil kaca mata bergaya dan mengambil sau lagi untuk Hazel. Josh juga mengambil satu setel jas hitam lengkap dengan dasinya. Mereka mengganti pakaian mereka di ruang ganti dan menukar baju mereka untuk digantung. Untungnya penjaga toko tidak terlalu memperhatikan pakaian mereka saat masuk. Dia melihat Hazel dan Josh menaruh kembali baju yang mereka bawa dan cepat-cepat mereka keluar dari toko itu.
“Jangan pernah melakukan hal itu lagi. Itu hal yang tidak patut ditiru.” Josh mengomel, tapi jelas dia menyukai baju barunya dan memakai kaca mata hitamnya.
Mereka berdua menuju kantor Hamish. Hazel telah mengingat tempat itu, seakan-akan tempat itu adalah memori yang telah dia tanam dan sewaktu-waktu dia akan membutuhkannya.
Seorang penjaga keluar dari tempat penjagaannya. Dia berdiri dan bertanya pada kedua orang itu. “Ada perlu apa kalian kesini?” tanya penjaga itu.
“Kami perlu bertemu Hamish,” jawab Hazel pelan pada penjaga itu.
“Apa kalian sudah membuat janji? Apa kalian tahu tempat apa ini?” tanya penjaga itu lagi, seakan-akan dia tidak ingin Hazel dan Josh masuk. Jadi dia membuat pertanyan sulit dan menjebak.
“Tentu saja sudah, jika tidak aku tidak akan kesini. Tentu aku tahu tempat ini, memangnya kau tidak tahu kami ini siapa?” Gertak Hazel dengan nada yang menjengkelkan.
“Maaf Ma’am, tapi kami tidak mengenal anda dan teman anda. Kami hanya menjalankan perintah.”
Dalam hati Hazel terus menyumpah. “Sial, sial.” Tapi dia terus berusaha, dia sangatlah pintar dalam hal mengelabui orang, mungkin dia juga bisa menjadi mata-mata sungguhan.
“Pak kami ini adalah agen mata-mata Amerika yang sedang melakukan penyamaran. Kami disini sedang bekerja sama untuk melakukan tugas penyamaran dalam menyelidikan.” Hazel membuka kaca mata hitamnya. Kemudian dia melanjutkan. “Minggu-minggu ini beberapa orang telah memakai senjata api illegal. Padahal senjata itu telah dilarang sejak ratusan tahun yang lalu dan demi perdamaian semua pihak, kami harus bekerja sama. Jadi kami juga sedang melakukan tugas disini.” Hazel sangat berharap alasannya tadi bisa dipercaya oleh penjaga ini. Lagipula siapa lagi orang yang tahu mengenai senjata api illegal telah beredar.
Tidak perlu menunggu lama, petugas itu membukakan pintu gerbangnya. Dalam hati mereka berteriak kegirangan. Hazel pun memakai kembali kaca matanya dan berjalan layaknya mata-mata sungguhan bersama Josh.
“Kau hebat.” Josh menyikunya.
“Aku rasa itulah keahlian ku.” Hazel tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
Mereka menyusuri koridor dan Hazel berusaha mengingat-ingat jalan yang ditunjukkan oleh Haikal. Belok kanan, kemudian kiri, kiri dan kanan lagi. Disanalah tempat Haikal. Tapi yang mereka cari bukanlah Haikal melainkan Hamish. Saat itu Hamish tiba-tiba datang, sudah pasti ruangannya tidak jauh dari Haikal. Lagipula mereka partner.
“Tidak mungkin kita harus mengetuk pintu satu-persatu dan memeriksanya,” sahut Josh.
Dari koridor mereka mendengar seseorang mendekat. Cepat-cepat mereka bersembunyi ke ruangan Haikal. Tapi pada saat itu juga Hazel mengintip dari lubang dipintu.
“Itu Hamish!” ujar Hazel. “Ruangannya tepat didepan ruangan Haikal. Tunggu! Dia menuju kesini. Cepat bersembunyi!” Hazel berlari menjauhi pintu, Josh tidak terlihat sekarang. Dia pintar untuk bersembunyi. Tapi Hazel tidak dan dia tergesa-gesa. Bahkan dia tersandung oleh kakinya sendiri dan membuat suara debam yang cukup keras.
Pintu sudah terlanjur berayun terbuka. Hamish diam dengan tatapan kagetnya. “Apa yang kau lakukan disini? Haikal dimana?” tanyanya.
Hazel masih dalam keadaan terjatuh dilantai. “Aku kesini mencarinya, aku kira dia ada diruangannya.” Hazel tersenyum berharap Hamish percaya padanya.
“Pakaian mu kemana? Dan kenapa kau memakai kacamata hitam? Kita tidak sedang dipantai,” protes Hamish.
“Eh, e, ya. Kami sedang menyamar, kau tahulah, susah untuk masuk kesini,” keluh Hazel.
“Kami?”
Hazel baru ingat Josh masih bersembunyi, seharusnya dia tidak mengatakan kami. “Josh, kita ketahuan.” Hazel berdiri dari tempatnya. Membersihkan pakaiannya, kemudian Josh muncul dari balik meja.
“Hai Hamish. Atau kembaran Spencer, senang bertemu kau lagi.”
“Tidak perlu basa-basi. Apa yang kalian lakukan disini?” desak Hamish.
“Kau mau apa?”
“Tadi aku melihat mu saat bicara pada Haikal. Kau dimana saat itu?”
“Apa urusan mu? Kau tidak perlu tahu!” Hamish menutup pintunya dan pergi keruanganya.
Hazel dan Josh mengikutinya, tapi pintu ruangan Hamish dikunci. Hazel benci memohon pada laki-laki, mereka itu kadang egois dan tidak mau tahu. Tapi dia sangat butuh informasi.
“Hamish, ayolah. Aku melihat lukisan yang sama dengan yang berada di rumah ayahku di Amerika. Jika kau tahu sesuatu tolong beritahu kami,” pinta Hazel.
Untuk beberapa saat Hazel mengira Hamish tidak akan bekerja sama, tapi pintu terbuka saat Hazel dan Josh akan pergi.
“Benarkah? Kenapa kau tidak bilang dari tadi.”
Hazel melipat tangannya bosan. Dia yakin sekarang akan menjadi perjalan yang menyenangkan sekaligus membosankan. Sekarang mereka sudah berada di depan gedung. Hamish mengambil mobilnya yang terparkir dihalaman. Terlihat seperti mobil biasa di zaman ini tapi saat kau melihat dalamnya kau akan terkaget-kaget. Itu dalah kamuflase yang sempurna. Setidaknya mobilnya memiliki kecanggihan seperti mobil dizaman ini. Hanya tambahan-tambahan seperti dikendarai secara manual dan oprasional. Kau tinggal pilih.
Hazel duduk dikursi penumpang. Josh dan Hamish berada didepan. Dia berusaha untuk tidak tegang dan relaks. Tapi usahanya sia-sia apalagi pikirannya terus berkabut ke Spencer. Pria itu benar-benar telah membuat pikirannya kacau. Setelah kejadian di hotel mereka tidak bertemu dengan Spencer lagi. Bahkan saat Hazel dan Josh berada di monumen tempat pertemuan mereka, sama sekali Spencer tidak menunjukkan batang hidungnya.
Mereka melewati berbagai kerumuan orang dan toko-toko, tapi yang membuat perhatian Hazel tertarik adalah toko yang bertuliskan ‘barang antik’ dan tertempel peta dunia dengan sangat jelas. Dia tidak mengeti bagaimana bisa sebuah peta dunia menjadi barang yang antik. Dari segi manapun Hazel tidak melihat spesialnya benda itu. bahkan tempat yang menjadi bingkainya saja terlihat biasa.
“Spen ―” Hazel hampir memanggil nama Spencer. “Hamish, kau lihat peta dunia yang disana tadi?” tanya Hazel sambil menunjuk toko tersebut.
“Kenapa? Kau ingin membelinya?” nadanya terdengar seperti seorang kakak.
“Bukan, kenapa itu ada di toko barang antik? Apanya yang spesial dari peta itu?”
“Apa maksud mu? Jelas itu barang antik. Peta itu umurnya pasti sudah ratusan tahun.” Hamish menatapnya dari kaca spionnya.
Hazel dan Josh saling memandang, seakan-akan Josh tahu yang dimaksud Hazel. “Memangnya peta zaman sekarang seperti apa?” tanya Hazel penasaran.
“Kau bisa lihat di ID pergelangan tangan mu. Itukan bisa berguna menjadi apa saja.” Hamish menginjak rem dalam-dalam dan membuat Hazel tersentak kedepan. “Maaf. Oh ya dan aku rasa pitnu otomatis kami tidak berguna sekarang, mungkin hanya beberapa. Tapi ID nya masih bisa digunakan, hanya saja beberapa pekerjaan harus dilakukan secara maunual. Kalian telah membuat perubahan besar dizaman ini. Aku tidak tahu itu bagus atau tidak, tapi itu telah menjadi berita terhangat dan terheboh diseluruh penjuru dunia.”
“Ya, kami sudah tahu itu. Tapi bagian terbaiknya kami tidak perlu repot-repot membuat ID palsu. Ya kan Josh?” Hazel tersenyum ke arah Josh. Josh balik tersenyum.
Bunyi alarm mobil polisi membuat Hamish, Hazel, dan Josh sigap. “Apa mereka mengejar kita?” tanya Josh yang raut wajahnya berubah ketakutan.
“Aku rasa iya,” jawab Hamish. “Aku akan pinggirkan mobilnya.”
Hamish melambatkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Kota ini telah berubah seratus persen dari yang Hazel lihat waktu itu. Kemacetan tidak separah saat itu, begitu juga semua jalanan dan fasilitas umumnya lainnya. Jadi jika mereka ingin kabur pasti akan terjadi aksi kejar-kejaran yang sungguh hebat.
Tapi Hamish lebih memilih jalan damai, dia memberhentikan mobilnya di pinggir. Polisi itu juga memarkirkan mobilnya dibelakang mereka dan keluar. Hazel terus melihat ke belakang, dia tahu ada yang aneh dari polisi itu. Pertama mereka tidak memakai seragam dan kedua mereka memabawa senjata api.
“Hamish, injak pedal gasnya. Mereka membawa senjata api!” teriak Hazel.
Hamish langsung menekan pedal gas dalam-dalam. Membuat Hazel sedikit terpental kebelakang. Orang itupun menembaki mereka. Sayangnya mobil ini tidak didesain untuk anti peluru, karena peluru tidak digunakan lagi sekarang. Untuk apa membaut mobil anti peluru jika tidak ada peluru yang menembaki mobil ini.
Ingatan Hazel berkeliling. Dia ingat saat pertemuan pertama kalinya dengan Haikal. Pria itu menggunakan baju anti peluru, memang dipasang didalam bajunya yang ketat, tapi dia tidak bisa menyembunyikan. Hazel lebih tahu dari dia, dizamannya lebih banyak orang-orang yang memakai baju anti peluru.
Hamish masih mengendarai dengan kecepatan penuh, “Kencangkan sabuk pengaman kalian teman-teman. Kita akan kalahkan para polisi itu.” Hamish tertawa gembira.
Jantungnya bedegup kencang hingga dia hampir bisa merasakan ditelinganya. Tapi pada saat yang bersamaan kekhawatiran melandanya. “Hamish, apa mata-mata seperti kalian memiliki peralatan seperti baju anti peluru?” tanya Hazel penasaran, tubuhnya condong kedepan.
“Tentu saja tidak. Untuk apa baju anti peluru jika kau tidak akan pernah ditembak oleh peluru, itu tidak akan berguna sama sekali. Yang kita punya adalah baju anti kejutan listrik yang akan menghantarkan listrik ke orang yang menyetrum kita, kami menyebutnya anti-flazz.”
Hazel memandang ke jendela. Hujan mulai turun atau lebih tepatnya hujan buatan. Pepohonan bergoyang-goyang seakan menandakan alarm kebakaran sedang berbunyi. “Apa baju itu terlihat seperti baju anti peluru?”
“Tentu tidak. Baju anti peluru seperti baju yang akan kau pakai, sedangkan baju anti kejut listrik dipakai dipinggang dan itu akan menjadi perisai untuk seluruh tubuh kita. Lebih bagus dari dizaman kalian, tapi tidak akan berguna untuk senjata api.”
“Kalau begitu jauhi Haikal. Pasti dia bersekongkol dengan gadis itu, itu sebabnya dia memegangi tangan ku saat di Monumen Nasional dan dia memakai baju anti peluru saat menjemputku. Semua itu hanya rekayasa agar aku percaya padanya.” Kekecewaan melanda dirinya.
Josh menatapnya kasihan, tapi bukan itu yang Hazel inginkan. Josh pun berhenti menatapnya saat Hazel menunjukkan muka berangnya. Dia tidak ingin dikasihani. Bukan hanya karena kepercayaannya telah dikhianati tapi karena dia telah berjanji menolongnya dan membantu menyelesaikan masalah ini.
Sekarang pikiran Hazel melayang ke Spencer, dia tidak berharap Spencer juga mengkhianatinya. Tapi dia percaya pada Spencer, bukan karena dia menyukainya. Walaupun dia sudah beristri.