
"Hazel! Hazel!" teriak Hamish yang sekarang sudah keluar dari area Monas. "Josh dimana posisi mu? Aku sudah berada diluar gerbang! Bagian selatan," ujar Hamish pada Josh lewat earpiece-nya.
"Aku akan kesana! Aku rasa Hazel tertangkap, kita harus menyusun rencana baru!" Josh berjalan melewati kerumunan menuju Hamish.
Seseorang ditengah kerumunan dan terlihat seperti orang bingung, itulah Hamish. Tanpa ragu Josh mendekati Hamish dan menepuk pundaknya. Hamish menengok ke belakang dan mendapati Josh.
"Sebaiknya kita berjalan berjauhan, agar tidak ada orang yang curiga." Hamish berkata pelan. Hamish pun berjalan terlebih dahulu.
Josh menjauh dari Hamish namun masih dalam jarak pandangannya, kemudian dia mengikuti Hamish. "Kita harus menolong Hazel," ujar Josh lewat earpiece-nya.
"Tidak sekarang! Aku yakin Hazel tidak ingin kita tertangkap juga."
Kali ini mereka hanya diam, hingga sampai dimobil mereka. Mereka melepas semua atribut penyamaran mereka. Dirumah mereka diam dan mereka merasa bersalah karena Hazel tertangkap. Josh menunduk tanpa berkata sepatah katapun, Hamishpun begitu. Rasa tegang dan ketakutan bercampur keduanya didalam diri mereka.
"Aku akan buat kesepakatan pada Haikal!" ujah Hamish kemudian.
"Untuk apa? Untuk membebaskan Hazel? Dia hanya akan menjebak mu dan menangkap kita!" Josh menekan tubuhnya kebelakang.
Hamish diam, seolah berpikir. "Kau benar. Tapi aku tahu apa yang harus dilakukan." Tubuh Hamish condong kedepan. Pembicaraan menuju keseriusan. "Kita akan menyelinap. Aku tahu dimana tempat Hazel dikurung. Hanya ada satu tempat rahasia untuk mengurung orang seperti Hazel.”
“Tunggu! Orang seperti Hazel? Apa ada orang lain yang seperti dirinya?” tanya Josh, kini tubuhnya juga condong kedepan.
“Tempat itu tidak pernah dipakai sejak puluhan tahun yang lalu. Pernah terjadi pemberontakan disini, tapi tidak sampai separah yang Hazel lakukan.” Hamish menggosok hidungnya.
“Baiklah, tunjukkan dimana itu. Kita lakukan seperti yang Hazel lakukan.”
***
“Kau sedang apa?” Nissa mengintip dari balik dinding.
“Membuat staregi untuk masuk ke bawah sana.” Spencer menghapus sebagian yang menurutnya tidak berguna.
Nissa berjalan mendekati Spencer. “Bolehkah aku ikut?” angin malam cukup kencang diatas sini. Apalagi dengan keadaan atap yang bolong-bolong dan dinding yang rusak.
“Kau serius?” Mata Spencer langsung tertuju pada Nissa.
"Ya. Jika ini menyangkut kehidupan kami, orang-orang yang tinggal diatas, aku bersedia ikut bersama mu. Sudah banyak dari kami yang meninggal karena kelaparan, banyak penyakit mewabah. Karena kebanyakan dari kami adalah orang-orang yang miskin dan tidak berpendidikan kami tidak tahu mengenai ilmu kedokteran."
Alasan yang Nissa berikan memang logis, tapi bukan hanya itu saja tujuannya. Dia ingin berada disisi Spencer lebih lama lagi. Rasa simpatinya yang besarlah yang membuat Nissa menyukai pria ini.
"Tapi aku tidak bisa menjamin keselamatan mu," tambah Spencer untuk meyakinkannya.
Nissa hanya mengangguk setuju. Spencer masih ragu dengan keputusan Nissa. Berkali-kali dia meyakinkannya lagi, tapi jawabannya tetap sama. Nissa berpegang teguh dengan keyakinannya.
“Baiklah, kita buat kesepakatan dan buat semua ini menjadi mudah,” ujar Spencer tegas.
“Oke, apapun kesepakatan kita aku setuju.” Itulah yang dikatakan Nissa, walaupun dia belum tahu apakah kesepakatannya menguntungkan dirinya atau tidak. Berpikir lebih baik sebelum bertindak itulah prinsip Spencer, tapi tidak dengan Nissa.
“Pertama aku ingin mulai dari sekarang kau berpikir sebelum bertindak. Jangan tanya kenapa, tapi aku mau kau melakukannya. Kedua, karena aku tidak bisa menjamin keselamatan mu, kau harus bisa menggunakan senjata.” Spencer mengeluarkan sebuah pisau. “Ambil ini! kau bisa melemparkan ini ke target. Akan kuajarkan nanti.”
Nissa mengambilnya. Tangannya yang agak kasar menyentuh tangan Spencer. Bukti bahwa semua pekerjaan dia lakukan untuk mencukupi kehidupannya yang sulit diatas sini. “Kalau pisau aku punya bayak didapur,” jawabnya singkat.
“Ini berbeda, pegangannya dibuat menyatu. Agar tidak licin saat kau melemparkannya ke target.” Spencer memberikan tiga pasang pisau tersebut. “Dan yang ketiga, kau tidak bisa pergi ke bawah sana dengan pakaian seperti ini.”
Dengan terkejut Nissa diam-diam memperhatikan pakaiannya. Apakah pakaiannya sungguh jelek hingga dia tidak bisa berpakaian seperti itu dibawah sana? Nissa memperhatikan bajunya yang sudah bolong dan ditambal dimana-mana. Celananya yang lusuh dan belel pun telah menjadi pakaian andalannya selama ini, tapi jika ia ingin tetap berada didekat Spencer dia harus mengganti pakaiannya.
“Baiklah. Baju ini memang tidak layak pakai,” ujar Nissa sedikit kesal.
“Aku tidak bermaksud menghina mu. Hanya saja jika kau berpakaian seperti ini ke bawah sana, kau akan menjadi pusat perhatian. Aku bisa melihat dari pakaian mereka bahwa mereka tidak perduli dengan orang lain. Tapi jika itu masalah pakaian seolah-olah kau ini adalah orang terpelit dimuka bumi.”
“Mungkin, mereka bilang bahwa semua orang telah kaya dan sejauh yang aku lihat selama ini, semua orang tidak memakai baju yang memiliki lubang jelek ataupun benang yang keluar. Bahkan warna yang pudar.”
“Kalau begitu mereka pasti membeli pakaian setiap minggu.”
“Nah, kau mulai mengeti.”
Nissa membenarkan hijabnya. Spencer duduk disebuah bangku rotan yang hampir rusak, namun masih bisa menopang tubuhnya. Nissa tahu, jika dia berada disisi Spencer akan berbahaya untuk dirinya. Tapi dia juga tidak seegois itu, dia juga memikirkan adiknya. Tidak boleh tertangkap adalah prinsipnya. Lagipula dia tidak bisa menyerahkan begitu saja keselamatan negerinya pada orang lain. Dia juga berhak memperjuangkan tanah kelahirannya.
“Kita berangkat besok malam. Pastikan keputusan mu itu tidak membuat dirimu menyesal. Aku tidak ingin kita mundur ditengah-tengah peperangan,” Spencer menegaskan.
“Aku mengerti.”
***
Darah mengalir dari dahinya Hazel. Tadinya dia mengira itu keringat, tapi saat dia mencium baunya, jelas itu darah. Sudah dua jam sejak hazel ditangkap dan dibawa ke sebuah tempat yang Hazel tidak tahu. Matanya ditutup saat perjalanan menuju tempat ini.
Pintu terbelalak membuka, Hazel yang masih dalam keadaan diikat disebuah kursi mendadak menjadi waspada.
“Santai saja Hazel. Aku hanya ingin bicara.” Suara yang menurutnya tidak asing. Suara yang sama persis saat pertama kali dia dengar.
Hazel hanya diam membisu. Saat wajah Haikal muncul perasaan kesal bercampur marah membuat Hazel ingin memukulnya. Tidak dalam keadaan seperti ini, diikat. Hazel menarik napas panjang dan beruasaha tenang.
“Ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padamu. Apa tujuan kau sebenarnya kesini?” tanya Haikal, wajahnya sangat santai dibalik jas licinnya.
Mata Hazel tepat menatap pada mata Haikal. Tatapan tajam yang mematikan itu terus dia perlihatkan.
"Kita tidak akan membutuhkan waktu lama jika kau bekerja sama." Haikal duduk pada sebuah kursi didepan Hazel. "Kau hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan."
Hazel mendongakkan kepalanya. "Apa untungnya untukku? Bebas bersyarat?" suaranya menjukkan ketegasan.
"Tentu saja tidak. Tapi ini akan menguntungkan kami, entah dengan kau. Mungkin penambahan jatah makanan." Haikal mengangkat bahunya.
"Kalau begitu tanya saja pada kakek moyang ku," ejek Hazel.
"Jika itu bisa kami lakukan tentu, tapi sayangnya hanya ada kau disini gadis kecil. Jadi sebaiknya kau menjawab pertanyaan kami." Terdengar nada sindiran dari perkataannya.
Hazel meludah kelantai. "Bicaralah pada diri mu sendiri!" kali ini amarah Hazel meluap. Bagaikan kobaran api yang tidak bisa dipadamkan.
Haikal hanya memandang sebentar kearah Hazel, kemudian dia menatap kertas yang ia bawa dan mulai melontarkan pertanyaan. "Kau berasal dari zaman berapa?" tanya Haikal. Tidak ada jawaban, Hazel hanya diam.
"Bagaimana kau bisa kesini? Apa tujuan kalian sebenarnya? Menghancurkan masa depan? Itu tidak logis, ini masa depan kau juga!"
Lagi-lagi Hazel hanya membisu tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya. Wajahnya datar menatap ke depan. Tanpa melihat mata Haikal yang berwarna coklat gelap.
"Baiklah jika kau tidak ingin bicara. Tapi tatap mata ku!" Haikal bersikeras menyuruh Hazel menatap matanya. Tapi Hazel tidak beralih sedikit pun untuk menatap Haikal.
Haikal berdiri dari kursinya, kesabarannya telah habis oleh Hazel. "Jangan berikan dia makan hingga dia bicara!" perintah Haikal pada salah seorang petugas, kemudian dia berjalan keluar tanpa menatap ke belakang.
Hazel masih tertunduk, sesaat kemudian dia mengangkat kepalanya, seakan memindai setiap sudut tempat ini. Empat orang penjaga didalam, satu dipintu, dua dibelakang, dan satu lagi diluar.
Cukup mudah menghajar mereka semua, jika saja dia tidak diikat ke kursi ini. Pintu keamanan berlapis terlihat saat Haikal akan keluar pintu ini. Tapi mengalahkan semua petugas dan membuka pintu keamanan, itu mustahil.