The Versatile

The Versatile
Chapter 40



Seperti biasa pagi itu Nissa telah bangun sejak pukul lima pagi. Tidak seperti dibawah sanan, pekerjaan semua orang dimulai sejak pagi-pagi sekali. Nissa melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan sebelum dia meninggalkan adiknya sendirian. Memetik sayur dan buah-buahan segar dikebun milik semua orang.


Hazel adalah orang yang kedua bangun dari mimpi indahnya. Gadis itu berjalan keluar rumah untuk mencari Nissa. Seperti dugaannya, orang Indonesia di atas sini sama seperti orang Indonesia dizaman dahulu. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, berangkat sekolah pagi-pagi, semuanya serba pagi.


Fakta menarik lain adalah mereka tidak hanya menjabat tangan orang tua atau orang yang lebih tua dari mereka, tapi mereka menciumnya. Setiap saat mereka akan pergi keluar rumah atau yang lainnya. Menghormati orang yang lebih tua memang penting, agar kita lebih dihargai oleh orang lain.


“Nissa!” panggil Hazel. “Apa yang kaulakukan?” tanyanya.


“Mencari bahan untuk sarapan kalian,” jawabnya.


“Boleh aku membantu?” tanya Hazel lagi.


“Tentu, kemarilah!”


Hazel mendekati Nissa, ada beberapa orang lain yang juga sedan gmemtik sayuran disini. Hazel membantunya memetik beberapa cabai dan bawang. Dia membungkukkan tubuhnya didekat Nissa untuk mengambil cabai dan bawang tersebut.


Mereka terlihat sangat akrab, mungkin hanya disaat tertentu Hazel membencinya. Saat dia mulai mendekati Spencer.


“Aku rasa aku tahu apa yang akan kau buat untuk sarapan kita,” uajr Hazel seketika. Untuk mencairkan suasana.


“Benarkah?” tanya Nissa sambil masih memetik.


“Coba aku tebak! Kau akan membuat rendang kan?” tanya Hazel balik.


Nissa behenti memetik dan menatap Hazel. Hazel balas menatapnya. “Tentu saja tidak, rendang itu pakai daging kan? Lagipula tidak cocok untuk sarapan.”


Nissa masih memandangnya. “Rendang? Makanan khas di Negara mu ya?” tanya Nissa.


Kali ini Hazellah yang memandang Nissa dengnapenuh penuh kebingungan. “Apa? Itu makanan khas Negara mu!” Nissa masih memandnya bingung. “Berwarna coklat, dimasak dengna daging, dan bumbunya kaya akan rempah-rempah. Walaupun agak berminyak,” tambah Hazel.


“Kau bercanda? Kami tidak pernah memiliki makanan khas!” bantah Nissa.


“Kau yang bercanda!” elak Hazel. “Orang-orang dibawah sana, telah membuat kalian hilang akan kebudayaan! Dizaman ku, Negara kalian adalah Negara kepulauan. Dengan sumber daya lam yang melimpah1”


Kali ini Nissa menatapnya dengan serius. “Benarkah? Aku kira negeri ini memang seperti ini sejak dulu. Seperti pulau kecil ditengah lautan.”


“Ya semua orang memang kadang seperti itu. Selalu mengira-ngira.” Kata Hazel, nadanya terdengar mengejek.


“Kakak! Mereka sudah bangun, sebaiknya kau cepat mencari bahannya,” ujar seseorang yang ternyata itu Dewi.


“Iya, ini kakak sudah selesai,” ujar Nissa.


Nissa pun meninggalkan Hazel. Hazel masih tidak habis pikir, kemana semua keindahan alam yang pernah ada dulu. Mungkin semua Negara disini juga telah kehilangan semuanya. Jika memang seperti itu semua ini tidak bisa dibiarkan.


Walalupun dalam keadaan seperti ini Hazel tetap harus membuat tubuhnya tetap bugar. Jadi dia memutuskan untuk berolaraga disekitar sini. dia juga bisa mengamati keadaan disini. Banyak yang berubah dari masa lalu dan sekarang Hazel tahu bahwa gambar dari lukisan ayahnya itu adalah gambaran kehidupan diatas sini, bukan dibawah.


Orang-orang menatap Hazel bergantian saat Hazel melewati mereka. Kemudian Hazel berpikir untuk pergi keperbatasan. Saat dia lewat sana kemarin, jalanan telah gelap, dia bahkan hampir tidak bisa mengingat apa yang dia lewati.


Perbatasan hampir terlihat, Hazel mulai berlari agar sampai lebih cepat. Kemudian dia melewati garis batasnya. Dia masih ingat tentang ladang panel surya itu, jadi saat melihatnya dia tidak terlalu terkejut.


“Aku tidak yakin dengan apa yang ayah ku lakukan disini. jika Olivia mengincar alat yang ayah ku buat, aku rasa dia salah. Pesan untuk pergi ke Monumen Nasional dan aku pergi keatasnya. Lukisan yang diletakkan di rumah ayah ku menggambarkan kehidupan orang-orang diatas.” Hazel melipat tangannya didada.


Tiba-tiba gadis itu terkejut dengan suara sesuatu didepannya. Dia tidak tahu dari mana asalnya, tapi suaranya sangat dekat. Kemudian seseorang muncul dari bawah tanah, berseragam, dan membawa flazz.


Hazel terpaku seketika, begitu juga orang berseragam tersebut. Jarak mereka hanya satu meter, jarak yang bagus untuk Hazel meyerangnya. Dengan cepat Hazel menyergap tangannya dan mnendang lututnya. Kemudian mengancamnya dari belakang.


“Bagaimana ku bisa tahu tempat ini? siapa yang mengirim mu?” tanya Hazel penuh amarah.


“Yang tertinggi telah memutuskan untuk menagkap kalian hidup atau mati. Aku disini untuk leihat keadaan dan mereka akan mendatangkan lusinan yang lain petugas. Kau akan mati!” ujar pria itu.


Hazel memukul kepalanya dengan sangat keras. “Dasar banyak bicara!” ejek Hazel. Kemudian dia mengambil flazz-nya dan berlari sekencang mungkin.


  Hazel berlari dengan sangat kencang hingga dia hampir tersandung kakinya sendiri, namun dia bisa menyeimbangkan kembali tubuhnya. Di bahkan melompati pagar rumah dan untungnya pintu rumah tidak dikunci.


“Whoa, whoa! Hazel! Kau ingin bertarung dimeja makan?” kata Hamish bercanda.


“Kita harus pergi sekarang juga!” perintah Hazel.


“Ada apa? Dan dari mana kau dapatkan senjata itu?” tanya Spencer cemas.


Hazel berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. “Mereka menemukan kita dan aka nada lusinan pertugas menuju kesini.”


“Apa?” Haikal tersentak dari kursinya.


“Dia bilang yang tertinggi sudah memutuskan dan ingin menangkap kita hidup atau mati.”


Semua menatatp Hazel. Entah apa yang tergambarkan diwajah mereka, tapi sekarang Hazel sedang panik. Dia bahkan tidak pernah sepanik ini. tapi panik bukanlah solusi yang tepat, Hazel tahu itu.


“Kita harus pergi sekarang!” perintah Hazel lagi. Semuanya hanya diam memandang Hazel. “Sekarang juga!” perintahnya lagi.


Semuanyapun bangkit dari kursi mereka dan tidak menyelesaikan sarapan mereka. mereka mengambil beberapa buah-buahan yang Nissa ambil tadi. Tapi ada satu orang yang hanya diam dan tidak melakukan apapun, yaitu Nissa.


“Nissa apa yang kau lakukan? Cepat berkemas! Kita harus pergi!” perintah Spencer.


“Aku dan adikku tidka ikut bersama kalian,” ujar Nissa.


Ucapannya membuat semua orang menatapnya. “Tidak! Kau harus ikut dengan kami, begitu juga adik mu! Kalian akan dibunuh jika disini!” Spencer terlihat sangat khawatir.


Hazel terlihat sedikit kesal karena Spencer terlihat sangat khawatir pada gadis itu. tapi Spencer benar, Nissa dan adiknya bisa mati jika berada disini.


“Aku tidak akan ikut! Itu keputusan ku. Aku tidak akan kabur atau meninggalkan tempat ini lagi,” kata Nissa tegas.


“Kenapa? Aku butuh jawaban yang masuk akal!” Kini Spencer menggenggam tangannya.


“Karena inilah tempat ku, ini tempat dimana seharusnya aku berada,” ujar Nissa. “Sekarang kalian harus pergi! Cepat!” Nissa melepas genggaman Spencer dan menyuruh pria itu mengikuti yang lainnya.


Nissa memandangi mereka dari jendela rumahnya yang hampir rusak. Mereka berlari, mulai menjauh dari pandangan dan menghilang.