
Sekarang mereka telah sampai di atas. Mobil mereka dibiarkan di tengah hutan agar mereka tidak melacak mereka pergi keatas.
“Selamat datang didunia ku,” ujar Nissa.
Hazel bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Mereka seperti berada diperkebunan panel surya. “Jadi dari sinilah mereka mendapatkan sumber cahaya mereka,” Hazel bergumam.
Nissa dan Spencer membimbing mereka menuju pusat kota. Lagi-lagi Hazel tidak bisa berkata apa-apa. Kota yang hancur, gedung-gedung yang hampir runtuh, serta rumah yang ditinggalkan. Tidak bisa dibayangkan kehidupan mereka diatas sini sedangkan orang-orang dibawah sana tidur dengan kasur empuk dan udara yang bisa mereka atur sesuai keinginan.
“Apakah semua Negara seperti ini?” tanya Hamish.
“Ya, aku pernah ke Prancis, Italia, dan kota mereka seperti ini,” jawab Nissa.
“Tunggu! Bagaimana kau bisa pergi keluar negeri?” kali ini Josh yang penasaran.
“Ratusan tahun yang lalu saat pemerintah memutuskan untuk tinggal dibawah sana, kami para orang-orang yang tidak memiliki uang untuk membayar kemewahan itu, ditinggalkan begitu saja. Nenek moyang kami melanjutkan hidup dengan memanfaatkan sisa-sisa barang yang ditinggalkan orang-orang kaya itu,” Nissa menjelaskan.
Mereka menjadi perhatian orang-orang yang ada disekitar. Tentu disini masih lumayan ramai, karena tidak ada jam malam. Tatapan mereka sama seperti tatapan saat Spencer pertama kali menginjakkan kakinya disini. Bersahabat.
“Jadi kalian bertahan hidup dengan barang-barang sisa?” tanya Josh lagi.
“Ya, barang sisa yang masih bagus. Kalian bisa bayangkan, mereka seperti ingin membuat peradaban baru. Jadi, barang-barang mentah saja yang mereka bawa, sedangkan barang yang telah jadi atau siap pakai mereka tinggalkan,” tambah Nissa.
“Kita diatas sana membayar dua ratus lima puluh unit pertahun hanya untuk rumah kami. Sedangkan tanah diatas sini bisa kita dapatkan secara gratis,” Josh mengeluh.
“Tunggu! Ini masuk akal, kenapa pemerintah menutupi dan menanipulasi semuanya. Sama saat aku melihat orang yang berjalan diatas langit saat kita terbang ke Indonesia. Tentu sebenarnya kita tidak terbang, mereka pasti telah menemukan semacam alat untuk bertleportasi.”
“Ya, dan mereka tidak ingin orang bertanya-tanya kenapa kami tidak pernah terbang. Itu juga karena pemerintah tidak ingin kehilangan sumber uang mereka, jika tahu ada tempat yang bisa kami tinggali selain dibawah sana.” Hamish ikut menyimpulkan.
“Pantas saja, aku jadi ingat serum yan gwaktu itu diberikan kepada anak laki-laki dijalan itu. Serum itu menjadikan pemakainya bengkak disekujur tubuhnya. Aku yakin itu pasti serum yang dapat menghilangkan beberapa memori kita,” ujar Josh.
“Mereka membuat efek bengkak hanya agar orang tidak bertanya-tanya tentang serum itu, kenapa diberikan kepada mereka jika tidak menghasilkan efek apapun.” Haikal menambahkan penjelsan Josh.
Mereka berjalan menuju rumah Nissa. Rumah kecil yang tidak mungkin muat untuk semua orang yang ada disini. Nissa menghela nafas saat sampai didepan rumahnya. Terakhir kali dia meninggalkan ini dia meninggalkan adiknya sendirian. Walaupun dia yakin adiknya bisa mengurus dirinya sendiri, tapi Nissa tetap saja khawatir.
Nissa mengetuknya pintunya lembut. “Dewi? Ini aku Nissa,” panggil Nissa.
Awalnya tidak ada jawaban, mungkin adiknya telah tidur. Tidak baik untuk anak kecil tidur larut malam dan Dewi selalu menuruti perkataan kakaknya. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan untuk kakanya sekarang.
“Sebentar,” gumam suara dari dalam. Tidak lama setelah itu pintu terbuka. “Kakak?” Dewi yang tadinya mengantuk dan menguap sekarang seperti baru saja mendapatkan sebuah hadiah.
Nissa memeluk adiknya erat, terasa hangat dan penuh kasih sayang. Hazel menatap kedua gadis tersebut sambil tersenyum senang. Dia pernah merasakan hal seperti itu saat bersama Thania, wallaupun dia bukan adiknya. Hanya saja Hazel merasa ikatan batin antara mereka terjalin sangat kuat, sama seperti Nissa dan adiknya.
“Tidak sama bukan berarti berbeda. Inti dari rumah itu sendiri adalah tempat berlindung bagi semua yang ada didalamnya dan berbagi kebahagian.” Hazel menepuk pundak gadis itu. “tidak penting rumah itu kecil atau besar, bagus ataupun jelek. Intinya adalah terjalin hubungan yang baik antara semua penghuni, maka rumah itu akan terasa hangat.” Hazel tersenyum.
Nissa membalas senyumnya dan mengangguk setuju. Hazel memang bukan orang bijak, tapi dia tahu cara terbaik untuk memuji seseorang.
Malam itu bulan sangat terang, tidak ada yang tahu bahwa saat itu bulan sedang senang karena kedatangan seseorang. Bahkan udaranya tidak begitu dingin dan bersahabat. Keselamatan mereka sekarang tergantung tempat ini.
***
“Ini mobil Haikal, mereka pasti tidak jauh dari sini,” ujar seseorang berambut putih tersebut. Rambutnya tampak putih dan beruban dibawah pantulan cahaya malam. “Cari mereka! hidup atau mati!” perintahnya.
“Baik,” ujar serempak para petugas.
“Jangan sampai mereka menghacurkan dunia kita, hanya karena orang-orang bodoh itu!” katanya marah.
Semua orang menusuri hutan ini. seluruh pasukan dikerahkan untuk menemukan mereka. mereka memang tidak bersenjata, tapi mereka lebih pintar dari yang mereka kira. Bahkan tidak satupun dari mereka yang menemukan jejak kaki mereka. mereka bagaikan hantu yang bersembunyi dihutan.
Hampir tengah malam dan mereka tidak bisa menemukan apapun. Bahkan bendungan yang menurut mereka ada disana tidak ada. Mereka telah berkeliling, namun tidak masuk, karena tempat itu terlarang untuk siapapun. Bahkan petugas Negara, kecuali para pekerja pemerintah dunia. Mereka haru smemiliki izin untuk masuk kedalam sana.
Pria berambut putih itu menggunakan ID nya untuk memanggil seseorang. Seseorang muncul dilayar kemudian. “Pak, kami tidak menemukan jejak mereka. kami hanya menmeukan kendaraan yang mereka naiki yang ditinggalkan dihutan.”
“Hutan? Bisa kau jelaskan lebih spesifik tempatnya?” tanya pria yang berada dilayar itu.
“Hutan yangletaknya tidak jauh dari kota, tapi jalanannya tidak pernah dilewati karena tidak ada yang tahu kemana jalan itu. Ada bendungan juga didekat sini,” ujar pria berambut putih.
“Bendungan?” tanya pria itu kaget. “Kembalilah! Aku akan mengadakan rapat mendadak besok pagi,” tambah pria itu.
“Ada apa pak? Apa ada yang tidak beres?” tanya pria berambut putih itu lagi.
“Tidak perlu banyak tanya, nanti kau akan tahu. Suruh anak buah mu untuk pulang, besok pagi kita akan bicarakan hal ini langsung.” Pria itu menutup panggilannya lebih dulu.
Pria berambut putih itu tampak kebingungan. Tapi dia mengikuti perintah dari pria di layar tadi. “Perintahkan semua pasukan untuk mundur. Yang tertinggi akan mengadakan rapat besok, kita akan menunggu keputusannya besok. Dan biarkan mobil ini disini.”
Semua pasukannya mengambil langkah mundur. Mereka semua mematuhi perintah, karena yang tertinggi akan mengadakan rapat besok. Saat yang tertinggi sedang mengadakan rapat semua orang dilarang untuk berada diuar rumah. Toko-toko akan ditutup, kantor, rumah makan, semua ditutup.
Ini menjegah adanya kebocoran atas hasil dari rapat tersebut, biasanya saat yang tertinggi mengadakan rapat hal genting telah terjadi. Dan ini untuk pertama kalinya dalam sejarah para cryptor, yang tertinggi mengadakan rapat.