The Versatile

The Versatile
Chapter 36



“Sial! Wanita itu bertindak terlalu jauh!” Maki Haikal. Pria itu mundar-mandir diruangannya, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Siaran ditelevisi memberitakan tentang kerusuhan dimana-mana. Bahkan mereka sendiri tidak menyadari sejak kapan orang-orang mereka berubah secara drastis. Dari yang tidak bertindak apa-apa hingga terjadi demonstrasi.


Indonesia benar-benar memberikan pengaruh yang kuat pada orang-orang untuk bersikap kritis. Semua orang yang awalnya hanya diam membisu bagai binatang yang dikurung dalam kandang, kini telah bermutasi.


Intinya semua orang telah bertindak kritis tentang apa yang telah pemerintah perbuat. Selama ini mereka hanya diam saat seseorang terjatuh, saat seseorang membutuhkan bantuan. Semua itu telah diatur dan diundang-undangkan. Bahkan mereka hanya diam saat melihat anak kecil yang menangis mencari ibunya. Pemerintah telah membuat rakyatnya menjadi mesin pencari uang yang hebat.


Dengan gelisah Haikal menyuruh bawahannya untuk membentuk pasukan. Membantu petugas kepolisian mengamankan situasi. “Semuanya siapkan pasukan! kita akan turun kejalan,” perintah Haikal. “Aku yakin Olivia ada disana.”


Haikal kembali keruangannya. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi saat ini. baginya dia telah membuat pilihan yang salah dan sekarang waktunya utnuk memperbaikinya. Tapi tidak sepenuhnya kesalahan dia, Olivia memang terlihat seperti boneka Barbie yang psikopat.


“Arghh! Dasar wanita gila! Kenapa aku tergiur dengan kata-katanya.” Haikal menendanng meja kerjanya dengna cukup keras.


Wajahnya benar-benar terlihat putus asa. Kulitnya yang putih, walalupun tidak seputih orang Eropa, berubah menjadi merah. Saat kulitnya sudah memerah hal pertama yang ia lakukan pasti menendang meja dan itu sudah dia lakukan. Berikutnya dia akan mulai dengan bersikap menyebalkan.


“Arghh!” Haikal berteriak dengan keras. Sepertinya dia butuh seseorang untuk diajak bicara. Orang yang palin pas untuk berbicara dengna orang seperti Haikal adalah Hazel. Tapi gadis itu sudah terlanjur membecinya lebih dari hal yang Hazel benci di dunia ini.


Jika dia bertemu Hazel, dia sangat ingin mengatakan maaf. Dia tahu yang dilakukannya bodoh. Dia rela menukarkan appaun untuk mendapatkan kata maaf dari Hazel, tapi tidak harga dirinya. Harga diri lebih mahal dari apapun.


Haikal berusaha menenangkan dirinya. Dia menarik kursi didekat meja kerjanya, kemudian duduk disana. Menjernihkan pikirannya kembali membatunya berpikir logis. Haikal bersandar dikursinya, memejamkan matanya kemudian.


***


Hazel mencoba meregangkan tubuhnya. “Kita akan buat dia bicara!” ujar Hazel bersemangat.


“Gedung versatile sangat dijaga ketat. Ada sekitar dua puluh orang menjaga bagian depan. Sedangkan bagian dalamnya tentu akan lebih banyak lagi,” Hamish menjelaskan. “Tapi ada pintu yang mereka tidak dijaga, yaitu pintu tempat sampah.”


“Apa? Kita akan lewat pintu tempat sampah?” keluh Josh.


“Terserah, kau lebih memilih pintu tempat sampah atau lebih memilih melawan dua puluh penjaga didepan dan puluhan orang didalam,” tambah Hamish.


“Aku rasa pintu tempat sampah lebih baik,” ujar Josh sambil tersenyum malu.


“Jika lewat pintu tempat sampah, kita bisa menghemat tenaga untuk didalam. Ruang Haikal berada didepan ruangan ku. Ada sekitar tiga kamera penjaga didekat sana. Tspi tidak masalah, aku bisa menanganinya.” Hamish menjelaskan kembali.


“Bagaimana dengan alarmnya?” tanya Spencer.


“Kita bisa pikirkan nanti,” jawab Hamish singkat.


Sejak tadi Nissa hanya diam. Dia tidak pernah melakukan hal semacam ini. Bahkan dia tidak mengerti apa yang akan mereka lakukan. Nissa memang gadis feminim yang tidak tahu menahu tentang berkelahi, apalagi menggunakan senjata. Tapi jika dia bersama Hazel, gadis itu akan dipaksa untuk bisa melakukan apapun.


Tapi kali ini gadis ini bicara. “Semuanya, aku rasa kita harus mengganti rencana,” ujar Nissa yang sedang memandang televisi.


Seorang pira berseragam sedang mengamankan aksi demonstrasi. Dibawahnya tertulis nama Haikal Niswar. Pria itu terlihat gagah dengan seragamnya. Dia memang tampan, bahkan Hazel hampir menyukainya saat mereka pertama kali bertemu.


“Rencana B? tapi kita baru membuat satu rencana!” ujar Josh bergurau. “Aku bercanda,” tambahnya dan dia memakai kaca mata hitamnya, seolah siap bertempur.


Mereka semua menghabiskan sarapan mereka dengan cepat. Setelah itu mereka keluar dari restoran tersebut dan berjalan menuju Monumen Nasional kembali. Tiga pria dan dua wanita, seharusnya mereka sudah mati jika saja mereka tidak bisa menggunakan teknik bela diri. Tidak bisa dibayangkan hidup dijalan selama beberapa hari belakangan ini telah membuat mereka kebal akan udara jalanan.


Josh lah yang pergi pertama, diikuti Hazel, dan kemudian Hamish, Spencer, dan tentu saja Nissa yang selalu berada didekat Spencer. Hazel berjalan berdampingan dengan Josh, dia menoleh kebelakang untuk beberapa saat. Hanya memastikan semuanya mengikutinya. Tapi yang dia lihat, justru membuatnya kesal.


Nissa dan Spencer berjalan berdampingan. Dengan cepat Hazel membalikan badannya, dia benci melihat Spencer dan Nissa. Atau lebih tepatnya dia cemburu melihat mereka berdua. Hazel memutar matanya, disampingnya Josh menoleh ke arahnya dan menatapnya dibalik kaca mata hitamnya.


“Apa?” tanya Hazel. Nadanya terdengar sedikit marah.


Josh menurunkan kaca matanya agar dia bisa melihat Hazel dengan jelas. “Tidak,” jawab Josh singkat. Sebenarnya Josh sangat ingin menanyakan sikap Hazel, tapi dia tahu gadis itu pemarah. Dia tidak suka di komentari, jadi lebih baik dia diam atau  dia akan kena pukulan maut Hazel.


Perjalan mereka dibumbui dengan diam dan hanya melihat ke sekeliling. Hamish yang biasanya tidak pernah diam, sekarng dia hanya diam. Mungkin dia sedang meratapi Negaranya yang sekarang menjadi hancur berantakan. Tidak ada yang bisa disalahkan disini, semua Negara sedang mengalami masalah seperti ini sekarang.


Lagi-lagi mereka harus berada di Monumen Nasional. Hazel bahkan hampir ingat semua jalanan yang ia lewati menuju Monumen tersebut. Tempat itu terlihat hampir sama seperti biasanya, hanya saja telah hancur dibom.


Orang-orang masih memadati di luar Monas. Hazel melihat kesekeliling, mencari orang yang seharusnya dia hajar jika bertemu dengannya. “Aku tidak bisa menemukan Haikal disini!” Hazel mengeluh.


“Sebentar! Aku sedang mencarinya lewat satelit,” Josh mulai menggunakan kaca mata pintarnya.


"Wow, jadi kaca mata mu itu bisa melakukan apa saja?” tanya Hamish sambil melihat kesekeliling. Kalau-kalau ada seseorang yang mengenali mereka.


Hazel masih harap-harap cemas. Dia harus benar-benar mencari orang ini, dia harus tahu apa yang terjadi pada ayahnya. Dan hal lain yang harus dia ketahui.


“Ketemu! Dia berada di dekat pintu selatan, tapi ada beberapa petugas didekatnya dan mereka mempunyai flazz,” Josh memberi tahu.


Hamish berputar, berusaha memikirkan rencana. “Hazel kau lihat petugas disana? arah pukul sepuluh,” ujar Hamish tanpa menunjuk ke petugas tersebut.


“Ya,” jawab Hazel singkat.


“Kita bisa melumpuhkan mereka dengan merusak anti-flazz mereka yang berada dipinggang.”


“Aku mengerti. Aku akan gunakan Anti-flazz ku untuk mendekat sedekat mungkin. Saat aku sudah berhasil melumpuhkan mereka, barulah kita bisa menagkap Spencer.” Hazel tersenyum lebar.


“Aku akan membantu mu!” Josh menyela pembicaraan mereka.


“Memangnya kau bisa bocah kecil?” ejek Hamish.


“Hey! Umur ku sama dengan Hazel. Sejak kapan kau memanggil ku bocah kecil? Dasar bodoh!” Josh memelototi Hamish. Pertengkaran kedua orang ini tidak pernah ada habisnya.