The Versatile

The Versatile
Chapter 12



Hazel berjalan mengikuti Josh, dia tidak tahu tempat ini, dia hanya ingat beberapa koridor yang dia lewati saat tadi dia dibawa. Josh terus berlari melewati kodiror-koridor. Ada beberapa orang yang melewati mereka, tapi mereka tidak sadar.


“Josh bagaimana kita bisa keluar dari sini? tempat ini memiliki pengamanan yang ketat,” nada bicaranya terdengar khawatir.


“Tenang, ayahku bekerja dipertahanan Negara. Aku bisa saja meretas semua keamanan disini. Cepat masuk sini,” perintah Josh sambil membuka sebuah lubang ventilasi udara.


Tempat ini didesain sebaik mungkin agar semua tahanan yang mencoba kabur tidak berhasil, tapi Josh cukup tahu beberapa kelemahan tempat ini. Ruang ventilasinya, jika ruang ventilasinya dibuat tertutup maka udara tidak akan masuk, karena sebagian besar tempat dan rumah hanya terbuat dari campuran besi dan logam.


Memang bisa diatur kadar udaranya, tapi tidak bisa membuat udara. Besi dan logam sangatlah padat, jadi udara tidak bisa masuk melalui poro-pori logam. Hanya ruang ventilasi udara yang dapat dimasuki udara. Karena itu ruang ventilasi udanya dibuat tidak tertutup.


“Kau yakin ini berhasil?” tanya Hazel ragu.


“Tidak ada yang tidak berhasil, sebelum kita mencobanya.”


Josh terlebih dahulu masuk, kemudian hazel. Mereka merangkak untuk bisa berjalan disini. Bau pengap bercampur udara yang panas tercium dari lubang itu. Hazel berusaha untuk menahan nafas, tidak begitu dengan Josh, dia terlihat santai dan menikmati udaranya. Sejak tadi dia hanya terfokus pada dirinya dan Josh, dia tidak ingat bahwa ada Spencer dizaman ini.


Tidak lama kemudian Josh berhenti, hingga membuat Hazel menubruk Josh. Hazel melirik kedepan Josh, ada sebuah lubang yang bisa membawa mereka keluar dari sana. Josh berusaha membukanya, tapi besi itu terlalu kuat untuk dibuka dengan tangan kosong.


Josh mengambil tasnya yang sedari tadi dia bawa, dikeluarkannya sebuah alat untuk membukanya. Selama beberapa detik Hazel menunggu dan Josh berhasil membukanya. Rasanya seperti baru keluar dari ruang bawah pengap yang penuh debu. Hazel menghela nafas panjang, udara segar yang dia butuhkan sejak tadi.


“Kau punya telepon?” tanya Hazel akhirnya.


Josh berbalik dan menatapnya, “Inilah yang aku curigai, sejak pertama kali pertemuan kita, kau bersikap aneh. Banyak hal yang tidak kau ketahui. Katakan sebenarnya dari mana asal mu?”


“Aku berasal dari tahun 2017, orang-orang dizaman ku meminta ku untuk mengetahui apa yang ayahku sembunyikan dari mereka,” suara hazel sedikit tersedak.


“Kenapa tidak ayahmu saja yang memberi tahu mereka?”


“Ayahku meninggal, karena itu mereka menyuruhku mencari tahu. Ayahku membuat sebuah alat, tapi yang kami temukan adalah alat model lama yang ia buat. Kami tidak menemukan alat yang barunya. Agar alat ini bekerja kami harus mengumpulkan orang-orang dari berbagai Negara yang memiliki kesamaan fisik. Tidak sama persis, tapi terlihat sama. Dan setelah alat tersebut bekerja, tiba-tiba saja aku sudah berada disini dan aku bertemu ayahmu.”


“Baikalah, aku akan membantu mu Hazel. Tapi kau harus berjanji padaku bahwa hal yang kau lakukan dapat kau pertanggung jawabkan.”


“Tentu saja, sekarang aku butuh telepon,” ujar hazel.


“ID mu bisa dugunakan untuk menelpon.” Josh menyilangkan tangannya.


Hazel melirik pergelangan tangnnya. “Oh ya, terima kasih. Bagaimana cara kerjanya?”


Josh mendekati Hazel, saat itu juga Hazel sedikit kaget dan mundur beberapa langkah. Tapi Josh terus menedatinya. “Kemari Hazel!” perintah Josh lembut, kemudian Hazel mendekat. “Tekan ini, sekarang masukan nomornya!” Josh sekarang berada dekat dengannya, sangat dekat. Bahkan Hazel merasa jantungnya berdetak kencang, dia berharap Josh tidak mendengar suara jantungnya.


“Hazel, nomor ini sudah lama tidak pernah dipakai. Sekarang kami menggunakan nomor ID kami untuk menelpon.”


“Tidak ada yang tidak bisa sebelum kita mencoba kan?” Hazel pun menekan nomornya dan menunggu. Dering pertama berbunyi, kemudian dering kedua, lalu ketiga. Dan seseorang mengangkatnya.


“Halo? Siapa ini?” ujar orang yang berbicara dari telepon. Hazel kenal sekali dengan suara itu, suara khas yang sangat seksi.


“Spencer, ini aku Hazel. Aku butuh bantuan mu sekarang,” ujar Hazel dengan nada pelan, agar tidak terdengar.


“Dimana kau sekarang?” tanya Spencer. Suaranya terdengar santai, tapi Hazel bisa mendengar kekhawatiran didalamnya.


“Ehm… Sebentar,” kemudian Hazel beralih ke Josh. “Kita ada dimana Josh?” tanya Hazel pada Josh yang masih berada disampingnya.


  “Siapa kau?”


“Tidak penting, katakan dimana kau sekarang? Aku dan Hazel yang akan kesana. Terlalu beresiko jika kau yang ketempat ini.”


“Tunggu sebentar,” Spencer menyalakan lampunya, matanya menyipit karena cahaya lampu. Kemudian dia bangun dari tempat tidurnya dan mencari sesuatu. “Aku tidak yakin aku dimana, yang aku tahu aku berada disebuah rumah yang tidak ada penghuninya. Entah rumah ini tidak terpakai atau tidak, tapi tidak ada siapapun disini.”


Pendengaran Josh menajam setelah mendengar itu. “Aku tahu tempat itu, tapi agak jauh dari sini.”


“Bagaimana kau bisa tahu tempat itu? memangnya hanya ada satu rumah yang tidak ditempati, belum tentu itu rumah yang kita cari,” bantah Hazel.


“Hanya ada satu rumah yang tidak pernah ditempati disini Hazel. Setiap rumah yang kosong pasti langsung ditempati oleh orang lain. Karena itu tidak ada orang yang tidak memiliki rumah. Menurut berita pemilik rumah itu menghilang secara misterius, ada yang melihat saat itu dia bersama seorang wanita, padahal sebelumnya dia tidak pernah membawa wanita kerumahnya. Dia juga belum memiliki istri. Setelah beberapa hari dia tidak pernah keluar, polisi curiga bahwa dia telah mati didalam. Tapi saat polisi ingin memeriksa, rumah itu tidak terbuka, dengan berbagai cara, meretas, bahkan merusak sistemnya, tetapi rumah itu tetap tidak terbuka. Akhirnya polisi membiarkan rumah itu tertutup untuk selamanya.”


“Lalu bagaimana dengan Spencer? Bagaimana dia bisa membuka pintu itu?” tanya Hazel, yang masih bersembunyi di balik semak-semak.


“Itulah yang tidak aku mengerti, tapi sekarang yang terpenting adalah kita keluar dari tempat ini.”


Sebuah mobil melintas, membuat Hazel dan Josh bersiaga. Seorang polisi keluar dari sana membawa sebauh alat yang tidak pernah Hazel lihat sebelunya. “Aku punya ide Josh,” kata Hazel,.


Hazel berjalan mendekati polisi itu secara perlahan-lahan. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Hazel menikam polisi itu dari belakang, seorang polisi kemudian keluar dari mobil dan mencoba menikam Hazel balik. Josh berlari dan memukul polisi itu. Kedua polisi itu terjatuh, Hazel pun masuk kedalam mobil dan Josh mengikutinya.


“Gerakan yang bagus Hazel,” puji Josh.


“Itu bukan apa-apa dibanding Spencer. Dia sangat ahli dalam hal berkelahi dengan tangan kosong.”


Hal pertama yang harus mereka lakukan adalah lolos dari penjagaan di gerbang. Tidak mudah untuk mengelak, tapi mereka akan berusaha tenang. Saat tiba di depan gerbang, banyak polisi dengan seragam lengkapnya dan senjata berkerumun.


Ada tiga mobil didepan mereka yang diperiksa untuk keluar. Saat mobil ketiga, yaitu mobil yang berada tepat didepan mereka akan keluar, pintu segera membuka. Hazel menekan pedal gas dengan kuat. Saat pintu terbuka dan mobil didepannya berjalan keluar, Hazel mendorong mobil itu keluar dengan cepat agar mereka bisa lolos dari penjagaan.


Para polisi menembaki mobil mereka, Hazel terus menekan pedal gasnya. Josh berpegangan pada gagang pintunya, kemudian mencari-cari sabuk pengamannya untuk dipasang.


“Kau tidak pernah berkendara secepat ini ya?” tanya Hazel dengan senyuman mengejek. Bunyi sirine muncul dan ada sekitar setengah lusin mobil polisi yang mengikuti mereka dibelakang.


“Tentu saja tidak. Kami tidak boleh berkendara dibawah empat puluh kilo meter perjam. Jika kami melanggar maka pemerintah telah menentukan hukumannya, sengatan flazz dua puluh kali. Lagipula, memangnya kau selalu berkendara seperti ini?”


“Tidak, ini pertama kalinya aku berkendara diatas enampuluh kilo meter perjam dan kau tahu apa? Ini pertama kalinya aku mengendarai mobil.”


Ucapan itu membuat Josh kaget, ini pertama kalinya dia mengendarai mobil dan dia sudah bisa mengalahkan para polisi dengan enam puluh kilo meter perjamnya. Hebat. Untung saja ini malam hari, jalan kosong. Jika ini siang hari, Hazel akan menambrak orang-orang ataupun toko-toko.


“Ke arah mana sekarang Josh?” tanya Hazel yang masih terfokus pada jalanan.


“Kita harus menjauh dahulu dari mereka. Rumah itu ada di daerah East 8, masih dua puluh kilo meter dari sini.”


“Baiklah kita akan mengurus para polisi ini,” tepat saat itu juga Hazel berbelok kejalan berlawanan arah, jalanan itu sepi. Dan Hazel benar-benar berkendara seperti orang gila.