
Happy Reading...
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Lanjut...
" King! "
" Panggil Leon segera! " Teriak Michael sambil mengikuti laju brankar yang membawa gadis itu.
Salah satu mereka segera menghubungi ketua medis mereka.
Sedangkan disisi Michael...
" Kalian keluar sebentar " Dingin Michael dan mereka pun patuh.
Michael menatap gadis itu dengan nanar, dia menggenggam tangan gadis itu dengan perasaan campur aduk.
" Kumohon... " Lirih nya sambil menahan air matanya.
Brak...
" Bos saya sudah datang! Mana yang sakit sini saya sembuhkan " Pekik Leon yang sudah datang dengan mendobrak pintu.
Michael menatap tajam Leon setelah menetralkan matanya yang hampir turun sungai.
" Diam! Periksa gadis ini " Leon berdehem canggung dan mendekat.
" Siapa gadis ini? " Leon bingung. Dia sangat mengenal bos nya ini, mana mungkin mau peduli sama wanita kecuali adiknya dan ibunya. Tapi selain itu...
" Apa dia istrimu Michael? " Tanya Leon.
" Bukan urusanmu " Ketus Michael.
" Periksa dia dengan baik, jngn ada satu pun luka yang tersisa di tubuhnya dan... "
Michael berhenti didepan pintu ruangan itu, membalikkan wajahnya kesamping.
" Jangan melepaskan topeng nya apa lagi terlalu menyentuhnya atau kau akan mendapatkan bunganya " Michael pun keluar.
Glek...
Gila, ternyata aku belum bisa menahannya.
Leon mulai menatap gadis itu, tunggu dulu...
Mengapa dia merasa mengenal gadis ini, tangannya yang gatal tanpa sadar terulur dan ingin menyentuh topeng itu.
Namun...
Hap...
Leon tersentak kaget...
" Siapa? " Suara dingin itu menusuk pendengarannya.
Dia merinding.
Ternyata ada yang lebih dingin dari bos nya yang mengerikan itu.
" Ah maaf, saya dokter yang akan memeriksa kamu dan maaf telah lancang " Ucap Leon sedikit gagap.
Mata itupun perlahan terbuka menampilkan sepasang mata segelap malam itu.
Degh...
Perasaan ini tak asing...
Gadis itu bangun dan memposisikan tubuhnya untuk duduk.
" Kau boleh memeriksa ku asal akan hanya menyembuhkan nya di bagian luar anggota tubuhku saja " Titah gadis itu.
" Baik "
Michael dengan arogannya berjalan menuju ke sebuah ruangan.
Brak...
Michael menatap semua anggota mafiosonya dengan dingin.
Mereka terlihat mematung.
" Ma-maafkan kami yang lalai King " Ucap mereka tergagap.
" ... " Hening.
" Ekhem... " Mereka tersentak dan merasa merinding diam-diam dibalik wajah mereka yang datar.
" B-baik " Tegas mereka.
" Mike " Michael memasukkan tangannya ke saku dan menatap ayahnya yang menghampirinya.
" ? "
" Keruanganmu "
Mereka berdua pun berjalan bagaikan teman bukan seperti ayah dan anak.
Di ruangan Michael...
" Sembuhkan dulu dirimu " Martin yang sudah menyiapkan perawatan untuk Michael pun membuat Michael tak bisa menolak.
" Hm "
Setelah luka nya diberi obat...
" Istri- "
" Dia sudah ku urus " Potong Michael acuh membuat Martin menghela napas.
" Rencanamu selanjutnya apa? " Tanya datar sang papa.
" Biarkan ini menjadi urusanku bersama gadis itu " Dingin Michael.
Martin menatap anaknya dengan tak dapat diartikan.
" Pria itu akan menjadi musuh mu namun ingatlah... "
Martin menatap sang anak dengan lekat.
" Musuh itu bukan musuh terakhir kita. Kita hidup didunia penuh darah, jeritan, senjata, maupun kegelapan. Kita sebenarnya adalah musuh terbesar disini, karena mereka yang ingin memusnahkan kita. Mereka merasa kita adalah orang-orang yang menghalangi mereka menuju ke obsesi yang mereka inginkan. "
" Bahkan musuh kita mungkin adalah orang terdekat kita yang bersembunyi di balik selimutnya "
" Michael mengerti "
" Pria itu... " Ucapan Martin terpotong.
" Bajingan itu ternyata licik " Kata Michael dengan suara rendahnya.
" Cih, seharusnya kau yg harus aku tanyakan " Sinis pria yang terlihat perawakan itu.
" Ada apa dengan dirimu? " Tanya Michael yang tak mengerti karena sejak awal dia mendapat aura yang tidak bersahabat dari pria ini.
" Apa kau tdk sadar "
" Tdk " Singkat Michael.
Pria itu menghela napas.
" Papa menuntut penjelasan mu Michael " Setelah mengucapkan itu Martin keluar dari ruangan yang steril itu.
Michael yang mengerti itu pun paham mengapa papa nya seperti itu.
" Hah, mungkin dia akan membenciku " Gumamnya tak berdaya.
Cklek...
" Hei " Michael mengalihkan perhatiannya.
" Apa lukamu sudah diobati? "
" Hm " Gadis itu duduk di hadapan Michael.
" Kau baik-baik saja? " Tanya gadis itu.
" Tdk " Ucapan nya tidak singkron dengan anggukan kepalanya.
Sebelah alis gadis itu naik.
" Saya butuh pelukanmu " Pelan Michael.
" Cih... " Gadis itu tersenyum sinis dan berdiri.
Gadis itu memeluk Michael dengan lembut dan dibalas olehnya dengan erat namun masih lembut.
" Ya, kau membuatku khawatir " Lirih Michael dan menenggelamkan wajahnya keceruk leher sang gadis.
" Sy tdk apa " Singkat gadis itu sambil menumpukkan dagunya di atas kepala Michael.
Tanpa sadar kelakukan mereka di pantau oleh pasang mata yang menatap mereka berang.