The Secret Story

The Secret Story
Episode Delapan



Elsa kembali beraktivitas seperti biasa. Seminggu pasca percobaan bunuh dirinya, Elsa tidak lagi bertemu dengan Indra. Itu adalah hal teraman yang saat ini Elsa rasakan. Namun sore itu sepulang ia bekerja. Tiba-tiba ia mendengar siulan sialan itu. Suara khas yang saat ini Elsa benci. Elsa merapatkan sweaternya. Ia melangkah pelan. Kedua matanya melirik kiri kanan. Seluruh bulu kuduknya berdiri. Sekujur tubuhnya tiba-tiba merespon emosi negatif. Sesosok lelaki jangkung dengan mata tajam bagaikan burung elang, berjalan menghampiri Elsa dengan emosi marah yang membara. Elsa terkejut bukan main, rasa trauma yang kini menyelinap masuk ke dalam aliran darahnya, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Indra menarik lengannya dengan kasar. "Lepaskan tangan aku Indra. Lepaskan." Ujar Elsa. Tapi Indra menghiraukannya. Sam yang baru saja keluar dari kantor pun terkejut dengan pemandangan itu. Teriakan Elsa membuat semua karyawan lainnya saling berbisik, Sam hampir mendengar apa yang orang-orang gosipkan mengenai sekretarisnya itu.


***


Sudah lama Indra menyiapkan gaun hitam tanpa lengan dan rok menjuntai semata kaki yang transparan untuk dikenakan oleh Elsa. Ia mendapatkan ide untuk melelang pacarnya dari Rizki temannya. Banyak para pejabat yang haus akan nafsu. Yang selalu meminta gadis muda yang bisa menemaninya tidur dalam waktu beberapa malam. Indra sudah tidak lagi mencintai perempuan bernama Elsa itu. Ia hanya tergiur dengan harta yang dimiliki keluarga Elsa. Namun karena saat ini keluarga Elsa bangkrut. Indra tidak pernah berniat untuk melepaskan perempuan itu. Ia justru memanfaatkan kesempatan untuk menguras semua uang milik Elsa. Tak hanya itu, Indra melampiaskan semua energi emosinya kepada Elsa. Menampar, memukul, bahkan sampai menyiksa perempuan itu sampai babak belur. Baginya itu adalah sebuah kepuasan yang menyenangkan. Menemukan Elsa lagi adalah kesempatan emas baginya.


"Pakai ini!" Perintah Indra.


"Nggak mau." Jawab Elsa.


"Pakai atau gue bunuh lo." Ancamnya.


"Apa yang akan kamu rencanakan?" Sebening air mata jatuh tak terasa dipipi Elsa.


"Jangan banyak bacot. Gue minta pakai ya pakai." Tugasnya. Indra menyuruh Oliv untuk merias wajah Elsa secantik mungkin.


"Indra please... Jangan paksa aku. Indra..." Pinta Elsa sambil ditarik oleh Oliv dan dua asistennya.


20 menit berlalu, begitu Elsa keluar. Indra terpesona dengan kecantikannya. Tapi sayangnya, Indra tidak pernah tertarik dengan kemolekan Elsa. Ia hanya ingin Elsa menghasilkan uang sebanyak-banyaknya untuk kepuasan dirinya sendiri.


"Kita mau kemana?" Tanya Elsa saat diperjalanan.


"Udah ikut aza." Jawab Indra.


"Indra...?" Lirih Elsa. Indra menoleh saat berada didalam taksi. "Ini untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak ingin kau terus menerus menyiksaku dan membuat aku menderita. Setelah ini, bunuhlah aku. Aku inginkan kematian, bukan menjadi boneka atas kehendakmu." Jelas Elsa. Indra menelan ludah. "Terlepas aku kekasihmu atau bukan, permintaanku hanya satu, bunuhlah aku. Pun engkau mencintaiku atau tidak, bunuhlah aku. Jika kehidupanku hanya untuk menjadi beban orang lain, maka aku tak memiliki hak untuk hidup. Bunuhlah aku. Itu permintaan terakhirku saat aku memenuhi permintaanmu kali ini " Lanjut Elsa. Sebenarnya, jauh didalam nurani lelaki kasar itu tersimpan rasa simpati terhadap Elsa. Namun semua itu ia tapik dengan kasar. Jika bukan karena keluarganya menekan dirinya untuk memanfaatkan Elsa, ia pun akan melepaskan perempuan itu dengan baik-baik. Namun, ayahnya seorang penjudi dan pemabuk, ibunya punya hutang ke reternir, kakaknya pecandu narkoba, adiknya pun wanita penghibur, apa yang bisa ia lakukan selain menuruti semua keinginan mereka. Ia sendiri pun selalu haus akan wanita. Ia tidak bisa membeli satu malam seorang pelacur jika tidak memiliki uang. Itulah kehidupan buruk milik Indra. Ia tersenyum tipis.


"Ccch... Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Bagaimana pun nasib kita? Kita takkan bisa terpisahkan." Ujarnya. Elsa menahan tangisnya, ia tak ingin terus begini. Ia berharap sebuah keajaiban datang kepadanya.


"Kapan kau akan berhenti membuatku menderita?" Lirih Elsa.


"Sampai aku mati." Jawab Indra sekenanya.


Elsa menatap kota malam. Ia memejamkan matanya sebentar. Berdoa dengan tulus. Meminta semua hal yang terjadi antara dirinya dan Indra berakhir malam ini juga. Memohon dengan sangat kepada Sang Pencipta.


Setibanya mereka di bar. Indra menggandeng Elsa masuk ke dalam. Suara volume musik yang entah apa genrenya, memekik ke telinga Elsa.


"Duduklah dulu disana." Kata Indra. Elsa duduk disebuah kursi, sementara Indra berbicara dengan seorang lelaki yang agak tua darinya. Lalu menghampiri Elsa.


"Ini Elsa, om. Perempuan yang waktu itu aku ceritain." Tukas Indra.


"Hai Elsa." Lelaki itu mengulurkan tangannya. Ia juga mengedipkan sebelah mata dengan genit.


"Elsa, dia om Wisnu. Berkenalanlah." Kata Indra. Elsa tersenyum tipis. Elsa tahu bahwa Indra akan menjualnya lagi.


"Elsa." Kata Elsa.


"Cantik. Sangat cantik. Sayang kalau cuma 10 juta, Ndra. Mau tambah...? Aku kasih kamu 15 juta deh." Kata om Wisnu.


"Indra, kalau kamu mau aku tidur dengan dia. Aku enggak mau." Elsa berujar tepat ditelinga kiri Indta.


"Heyyy tenang aza. Kamu nggak akan tidur dengan om Wisnu koq. Kamu cuma harus melayani om Wisnu selama yang dia inginkan." Balas Indra.


"Kurang ajar." Batin Elsa.


"Kalau punya barang bagus, bagi-bagi dong." Seorang lelaki yang sebaya dengan om Wisnu datang dengan sebotol wine.


"Gimana kalau lelang saja dia." Bisik om Wisnu kepada Indra. Indra mengangguk setuju. Elsa ditarik maju ke panggung diskotik tersebut. Benar perkataan Rizki. Orang-orang seperti om Wisnu pasti akan membayar dengan bayaran yang sangat tinggi. Indra bersorak semangat untuk melelang Elsa pacarnya sendiri.


"Ladies and gentleman, kali ini gue bawa barang bagus. Masih grass, virgin dan harga lelang dimulai dari 15 juta. Ada yang mau nambah lagi?" Kata Indra bersemangat.


"20 juta." Seorang lelaki dari arah kiri berteriak. Elsa menutup dadanya dengan kedua tangannya. Ia sangat malu sekali. Ia tak berani melihat ke depan.


"25 juta." Yang lain ikut berteriak menaikan harga. Sementara itu om Wisnu memberi isyarat. Dan Indra mengangguk setuju. Indra merobek sebagian rok milik Elsa.


"Ugggghhhhh... Lagi lagi lagi." Seru kebanyakan orang saat paha milik Elsa dipertontonkan secara terbuka. Sebulir air mata jatuh pelan-pelan. Sangat menyakitkan sekali. Indra meminta teman wanitanya mengikat rambut Elsa, sehingga leher seksi milik Elsa tampak sangat menggiurkan para lelaki hidung belang. Tak sampai disitu, Indra membuka resleting belakang, dan dengan senang mempertunjukkan punggung Elsa yang mulus.


Elsa tak tahan lagi dengan semua kejadian malam ini. Akhirnya derai air mata jatuh beriringan. Semua orang bersorak ramai. 


"Tuhan, sakit rasanya hatiku ketika aku harus menjual diri seperti ini. Ini bukan mauku. Aku tidak ingin berakhir dalam keadaan seperti ini. Tolong berikan aku keajaiban atas kehendak-Mu, Tuhan." Batin Elsa.


"100 juta." Dan diatas keramaian itu, tiba-tiba hening ketika seseorang menyebutkan harga yang sangat tinggi.


"300 juta." Om Wisnu tak mau kalah.


"1 Milyar." Kata lelaki tersebut. Indra tak percaya bahwa akan ada lelaki lain yang mau membeli mantan pacarnya. Karena tergiur dengan uang 1 M. Akhirnya Indra mengangguk setuju. Karena om Wisnu sudah tidak lagi menawar. Padahal ia sudah janji akan memberikan Elsa kepada om Wisnu. Om Wisnu sangat marah. Ia tidak bisa menerima kekalahannya itu.


"Ini cek sebesar 1 milyar. Kau bisa mencairkannya di bank. Dan wanita ini akan aku bawa." Katanya. Indra mengangguk setuju. Lelaki itu mendekatinya. Ditutup lagi resleting gaun yang dikenakan Elsa. Lalu tiba-tiba sebuah jas menutupi bahunya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya lelaki itu. Elsa yang sedari tadi menunduk dan menangis, kini menengadah. Ia melihat sesosok lelaki yang ia kenal.


"Pak Sam." Lirih Elsa. Sam melepaskan kemejanya lalu mengikatkan ke pinggang Elsa.


"Ayo..."


"Indra lu pembohong. Elu kan mau jual si Elsa ke gue." Kata Om Wisnu.


"Gue sih gimana uang om." Balas Indra.


"Jangan bergerak." Disaat bersamaan polisi datang dengan menodongkan pistol. Dan sebuah peluru meleset ke dada Indra. Dua dan tiga. Sehingga polisi pun melesetkan peluru ke sembarang arah. Mengamankan Wisnu yang sudah menembak sebanyak tiga kali ke arah Indra. Sam bergegas mengamankan Elsa ke mobilnya. Wisnu di borgol, sementara Indra dibawa ke rumah sakit.


***