
Tugas akhir pasca sarjana adalah pengerjaan tesis. Dan itu sudah Elsa kerjakan semenjak semester empat ini. Penelitiannya tidak jauh dari kantor tempat ia bekerja. Apalagi Sam sangat mendukung dan membantu dalam pengerjaan tesis tersebut. Elsa sangat berterimakasih kepada Sam karena banyak membantu dirinya. Sam tak hanya sekedar CEO yang sempurna. Tapi juga suami yang sempurna bagi Elsa.
Tapi malam itu, Elsa mengerutkan keningnya. Ia mendesah berat ketika sudah duduk di kursi mobil. Sam menginjak pedalaman gas, lalu melirik sebentar ke arah istrinya.
"Kamu kenapa?" Tanya Sam.
"Nggak apa-apa." Ketus Elsa dengan nada yang tidak biasa. Sam dapat merasakan bahwa nada itu bukan nada yang sedang baik-baik saja.
"Elsa...?" Seru Sam. Elsa menoleh dengan raut wajah yang merengut. Kedua alisnya mengerut, matanya sedikit berair. Ia tampak sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apa...?" Tukas Elsa.
"Kita turun didepan ya." Usul Sam begitu melihat sebuah cafe. Ia memasuki parkiran dan menginjak pedal rem ketika mobil sudah terparkir didepan cafe yang tadi dia tunjuk.
"Kamu mau ngapain kesini?" Tanya Elsa dengan ketus.
"Emmm, mau beli sesuatu." Jawab Sam sekenanya.
"Pulang aja deh. Aku lagi malas makan." Balas Elsa.
"Sayang...?" Seru Sam dengan lembut. Dua bola mata Elsa memutar, menatap Sam. Hatinya luluh mencair bagaikan es begitu Sam memanggilnya dengan panggilan sayang. Sam meraih tangan kirinya. "Aku tidak akan tahu perasaanmu kalau kau tidak mengatakannya kepadaku. Aku tahu, perasaanmu sedang tidak baik-baik saja. Oleh karena itu aku mengajakmu kesini. Di cafe ini, ada cokelat caramel panas yang sangat lezat. Bukankah kau suka minuman cokelat caramel. Itu cocok untuk mood boostermu yang sedang tidak baik-baik saja." Jelas Sam. Tak hanya leleh bagaikan es krim yang mencair. Hati Elsa bagaikan pelangi warna warni yang berpendar di langit yang gelap.
"Sam...?" Elsa menahan lengan Sam.
"Iya sayang...?" Elsa melebarkan bibirnya.
"Emmmm, sebenarnya aku lagi kesal sama dosen pembimbingku..." Ujar Elsa. Sam mengelus punggung tangan Elsa. Dan menyimak setiap kata yang terlontar dari mulut istrinya.
"Tesismu masih kurang referensi?" Tanya Sam berusaha menebak. Elsa menggelengkan kepalanya.
"Kata dosenku, hasil penelitian dengan hipotesa awalku sama sekali enggak nyambung. Malah kata beliau kesannya kayak buku fiksi. Kan aku kesal. Kamu tahu kan gimana perjuangan aku nyusun tesis ini. Sampai aku begadang bahkan nggak tidur semalaman hanya untuk mentargetkan kalau tesis-ku harus selesai tahun ini. Jahat banget nggak sih. Terus bilangnya aku nggak bakalan bisa sidang dan lulus tahun ini. Kesel banget kan." Jelas Elsa. Sam mengelus lembut rambut Elsa.
"Emmmm..." Sam mengusap dagunya. "Kalau aku jadi kamu, aku juga bakalan kesal. Apalagi buat tesis itu nggak mudah." Balas Sam.
"Ya itu kamu aja paham. Ihh nyebelin banget deh." Gerutu Elsa. Sam menggenggam tangan Elsa, lalu mengelusnya.
"Makanya biar mood booster kamu naik lagi. Aku ajak kamu buat minum cokelat caramel kesukaan kamu. Dan pie susu cokelat yang istimewa buat istriku tercinta. Gimana? Mau nggak?" Usul Sam dengan mata yang berbinar. Bola mata Elsa berputar membayangkan minuman dan makanan kesukaannya.
"Kalau kamu nggak mau ya udah kita pulang aja." Lanjut Sam.
"Ihhhh... Siapa bilang aku nggak mau?" Balas Elsa. "Aku mau..." Elsa manja kepada Sam.
"Ya udah yuk turun." Sam mengusap kepala Elsa dengan lembut. Elsa pun mengangguk setuju.
Hal yang sangat Elsa sukai dari Sam saat ini adalah caranya memperlakukannya. Sam menggenggam tangan Elsa ketika di keramaian, mengelus rambut, mengusap dahi, mengusap pipi dengan lembut, memeluk disaat Elsa sedih dan hatinya berantakan, menjaganya ketika Elsa sakit, bahkan rela menunggui ketika Elsa di rawat di rumah sakit. Atau hal yang paling Elsa sangat sukai adalah tidur didada Sam sampai pagi. Apalagi ketika Sam memanggilnya dengan panggilan sayang didepan umum. Itu sangat mempengaruhi semua kinerja Elsa.
Pie susu cokelat dan cokelat caramel panas sudah dihidangkan di atas meja. Mata Elsa berbinar melihat hidangan yang sangat istimewa itu. "Kenapa kau tidak pesan?" Tanya Elsa.
"Cukup secangkir cokelat panas saja." Jawab Sam. Elsa memanggil pelayan lagi. Meminta pie keju vanila dengan menu dessert yang lain tanpa susu.
"Kenapa tanpa susu?" Tanya Sam.
"Kamu kan alergi susu. Jadi biar kita bisa makan bareng. Masa yang makan ini semua cuma aku. Meskipun aku suka susu dan kamu enggak, setidaknya selera kita sama. Karena setahu aku, pasangan yang bakalan langgeng selamanya adalah ia yang sepaham, sejalan, satu hobi serta satu tujuan yang sama. Benar kan?" Jelas Elsa. Sam terperanjat dengan kata-kata yang terucap dari mulut Elsa. Kalimat yang sama yang pernah Elsa katakan 14 tahun yang lalu.
"Sam...?" Elsa membuyarkan lamunan Sam. Lalu ia menyendok pie keju vanilla dan menyodorkannya ke arah Sam. "Aaa....?" Sam membuka mulutnya dan pie keju vanilla melumer dimulutnya. "Enak?" Sam menganggukkan kepalanya. Lalu menyuapi Elsa dengan pie susu cokelatnya.
***
Sam mengecek tesis punya Elsa. Lalu menjelaskan secara detil maksud dari dosen pembimbing itu, Sam tahu betul bagaimana sifat Elsa. Pelan-pelan Elsa mengerti dan mengulang kalimat yang harus ia revisi. Terkadang Sam yang membantu mengetik revisi tesisnya. Lalu gantian, Elsa kembali mengetik di atas keyboardnya. Elsa ingin malam ini juga ia bisa menyelesaikan revisian tesisnya. Agar ia bisa sidang dan wisuda bareng bersama teman-temannya yang lain.
"Elsa... Aku menyiapkan sup apel kesukaanmu." Ujar Sam sambil membawa nampan. Namun begitu ia sampai di ruang khusus kerja, Elsa sudah merapatkan kedua matanya. Sam bergegas menyimpan sup apel ke dalam lemari es. Lalu membopong Elsa ke kamarnya. Pelan-pelan ia membaringkan Elsa di atas kasur. Memberikan selimut dan mengecilkan ac. Kemudian ia juga berbaring disamping Elsa, sembari menatap wajah cantik istrinya itu. ******* nafas Sam terasa hangat di pipi Elsa. Sehingga membuat Elsa mencari tangan Sama agar ia bisa tidur dengan nyenyak.
"Apakah kau sudah mengingatku? Ataukah justru kau sama sekali tidak mengingatku? Namun begitu, aku akan selalu tetap mencintaimu, selamanya. Elsa, ada cerita yang belum kau selesaikan. Dan aku menunggu ceritamu itu. Sebenarnya siapa yang membunuh orang tuaku?" Batin Sam.
Sam mengusap lembut kepala Elsa. Lalu mendekap dan memeluk Elsa dengan sangat erat.
***
Sup apel sudah dihangatkan. Sam sangat bersemangat menyiapkan sarapan untuk istrinya. Dan tiba-tiba Elsa berteriak memanggil Sam.
"Sam...? Tesisku gimana? Sam...? Aku belum menyelesaikan tesisku." Tukasnya dengan nada yang tinggi.
"Ya ampun Sa, nggak kira-kira kamu ya. Bangun-bangun bukannya nyapa aku, ini malah teriak-teriak." Balas Sam.
"Laptopnya kenapa kamu matiin? Tesis aku belum diprint." Ujar Elsa dengan cemberut.
"Coba lihat di meja." Ucap Sam. Elsa menoleh, melihat ke meja makan. Sudah ada 2 tesis yang diletakkan di meja makan. Elsa membaca per-bab, meneliti setiap kalimat yang kemarin di revisi. Hasilnya jauh lebih baik dibandingkan dengan kemarin. Elsa menghembuskan nafasnya, melirik Sam sebentar lalu memeluknya.
"Kau yang membantuku ya? Makasih sayang. Thank you banget suamiku yang ganteng." Puji Elsa.
"Hemmmhhh... Tadi aja teriak-teriak. Sekarang dipuji-puji." Ketus Sam.
"Iya maaf, maaf, kalau dari awal kamu yang buat tesisnya, aku yakin, kayaknya aku nggak bakalan banyak di revisi." Tukas Elsa.
"Kalau kayak gitu, nanti kamu nggak belajar." Sam menyentil dahinya Elsa.
"Sup apel dan jus nanas kesukaanmu." Balas Sam.
"Wahhh. Kayaknya enak. Makasih ya."
"Enggak gratis. Kamu harus bayar." Kata Sam. Elsa meneguk jus nanas buatan Sam. Meleleh di lidah dan segar di tenggorokan.
"Bayar pake apa? Aku aja belum dibayar sama kamu." Ketus Elsa dengan menurunkan gelasnya.
"Bayar apaan?" Sam menarik kursinya lalu duduk.
"Emmm... Gajian." Ucap Elsa pendek, ia duduk saat Sam menarik kursi sebelahnya.
"Hey, ini tanggal berapa nona? Gajian turun setiap seminggu sekali. Itu peraturan dari perusahaan yang udah berjalan lebih dari 10 tahun." Tutur Sam, sembari merapikan rambutnya Elsa.
Sementara itu Elsa sibuk menyeruput sup apel buatan Sam. "Bukan gajian di kantor." Balas Elsa.
"Terus gajian yang dari mana? Emang kamu punya pekerjaan tambahan?" Elsa mengangguk yakin. "Apa?"
"Ehhh, yang kamu minta setiap malam itu apa? Beres-beres rumah, nyuci baju, setrika pakaian, dan lain-lain, kan tenagaku terkuras habis." Celoteh Elsa. Sam menyipitkan kedua matanya.
"Nyuci baju dan beres-beres rumah kita lakukan berdua ya." Bela Sam.
"Terus yang tiap malam...?" Ketus Elsa dengan memicingkan matanya ke arah Sam. Sam tampak salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap Elsa. "Emmm, sekali melakukan hubungan, aku minta 10 juta dolar. Gimana...?"
"Ohh berani kamu ya... Okey. Kalau begitu harga jasa revisi tesis satu kata 5 juta dolar." Balas Sam.
"Ehh jangan, nanti aku bangkrut." Raut wajah Elsa berubah seketika. Sam tertawa mendengar kalimat itu keluar dari mulut istrinya. Elsa pun ikut tertawa. Menatap pemandangan yang sangat indah itu membuat jakun milik Sam naik turun. Ia tak bisa menahan untuk mencium bibir Elsa. Seketika rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Elsa.
"Ayo...?" Ajak Sam.
"Kita mau ke kantor lho Sam."
"Sebentar aja. Ayo...? Lagian kan kamu juga belum mandi."
"Iya aku belum mandi, badan aku bau lhoo Sam." Tukas Elsa. Sam membopong Elsa ke kamar. Menikmati tubuh molek istrinya.
***
Sore setelah pulang kantor. Elsa melakukan bimbingan kembali dengan dosen pembimbing. Satu jam lamanya, kedua dosen itu memeriksa hasil tesis dengan teliti.
"Okay." Ucap salah satu dosen. Mereka saling menganggukkan kepala.
"Elsa, well. Tesis ini sangat luar biasa. Kamu bisa melakukan revisi ini dalam waktu satu malam. Saya sangat bangga terhadapmu. Jadi, kita akan buatkan jadwal sidang untukmu." Ujar Professor Jill.
"Anda serius prof...?" Elsa terbelalak tak percaya.
"Atau kita buat sk-nya sekarang. Dan besok siang kau melakukan sidang." Balas Professor Amanda. Mata Elsa berbinar.
"Ya, bisa. Saya tidak sabar menunggu kamu sidang. Tesis kamu unik dan jarang ditemui kasus yang seperti ini." Tukas Professor Jill.
"Terimakasih professor Jill, terimakasih professor Amanda."
"Pukul 9.00 malam akan dikabari oleh petugas administrasi." Balas Professor Jill. Elsa dan kedua professor-nya saling berjabat tangan.
"Elsa...?" Seru Professor Amanda.
"Yes Prof...?"
"Minggu lalu kita bertemu di Kanada. Tapi kau tidak menyapaku? Apa kau ada dalam masalah?" Tanya Professor Amanda.
"Huh? Kanada? Saya tidak pernah ke Kanada prof." Jawab Elsa.
"Oh ya? Kamu tidak punya saudara kembar kan? Nanti saya salah orang lagi." Elsa menggelengkan kepala. Tapi sontak membuat amigdala-nya terasa sakit berat. Bayangan samar-samar yang membuat hatinya terluka berputar kembali didalam ingatan Elsa. Diluar Sam menunggu.
"Gimana?" Tanya Sam penasaran. Elsa menghembuskan nafasnya lalu menggelengkan kepala.
"Besok aku sidang." Jawab Elsa girang.
"Sudah ku duga. Ayo kita rayakan." Tukas Sam dengan bahagia.
"Sam...?" Elsa menahan lengan Sam.
"Ada apa sayang?"
"Pernahkah kau mengalami hal aneh dalam hidupmu?" Elsa mengerutkan keningnya. "Seperti ingatan yang pernah hilang didalam hidupmu. Seperti sesuatu yang dipaksa hilang dan di represi dengan ingatan baru. Jujur, aku tidak mengingat kenangan saat aku berusia 14 tahun. Masa dimana aku bertemu dengan sahabat-sahabatku. Dan masa dimana aku bertemu dengan..." Elsa memejamkan kedua matanya. Berusaha memperjelas bayangan samar yang ada didalam pikirannya.
"Elsa...?" Sam menggenggam lengan Elsa. "Tidak sekarang." Sam menggelengkan kepala. Elsa menatap Sam dengan tajam. Sam tertegun, ia menelan ludah lalu merangkul pundak Elsa.
"Aku tahu maksudmu. Tapi tidak sekarang. Hari ini, kau harus mempersiapkan diri untuk persiapan sidang besok. Okey?" Lanjut Sam. Elsa mengerutkan kedua alisnya, lalu mengangguk. Professor Amanda menatap Sam dan Elsa yang berjalan menjauhi ruangan. Seminggu yang lalu, ia bertemu dengan mereka namun dalam keadaan yang berbeda.
***