
Angin musim dingin menyibak keras tirai kamar. Sesekali Elsa mendongak, berharap seseorang datang menyelamatkannya. Kemarin malam ia melihat Sam tergeletak tak bergerak di jalan beraspal. Dengan berlumur darah yang membaluti tubuhnya. Elegi menyayat ke seluruh tubuhnya. Ratapannya tak ada yang mendengar. Isak tangis yang terjerembab di kedua pipinya tidak ada yang menoleh. Dinginnya angin yang masuk lewat jendela kamar, seakan-akan menusuk seluruh tubuh, mencabik-cabik tulang belulang raganya, bahkan membunuh seluruh mimpi dan harapannya. Pikiran Elsa melayang ke udara, membayangkan Sam yang lemah tak berdaya, bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia masih bisa bernafas? Ataukah justru Sam sudah tiada? Patah hatinya, sesak nafasnya, ketika membayangkan betapa takutnya ia kehilangan Sam. Jantungnya lemah tak berdaya. Tubuhnya lesu dan lunglai, seakan-akan ia tak mampu berdiri sendiri. Ia tak mampu menopang hidupnya sendiri. Sesekali ia menepuk dadanya yang tiba-tiba sangat sakit. Lalu memukul kepalanya dengan kedua tangannya yang terasa berat itu. Ia juga menyesal karena telah melakukan hal bodoh. Kalau saja aku tidak bertemu dengan Sam. Mungkin sampai saat ini ia masih bisa menghembuskan nafasnya. Masih hidup dan mungkin bahagia bersama orang lain. Tuhan, aku ingin waktu diputar kembali. Disaat semuanya berjalan baik-baik saja. Aku mohon. Namun, Tuhan tidak mendengar keinginan gila dari pikiran Elsa. Setiap detik ia selalu mengigau menyebut nama Sam. Inilah yang dimaksud oleh Elsa. Ia takut sekali ibunya akan menganggap ia gila. Ia takut orangtuanya justru akan membuatnya menderita. Setelah banyak sekali yang ia lakukan untuk mengumpulkan bukti bahwa ayahnya dan ibu tirinya bukanlah orang yang baik.
"Elsa....?" Seru Ranti sambil membanting pintu kamar Elsa dengan keras. Seketika Elsa terkesiap. Ia memeluk kedua lututnya. Menelungkupkan kepalanya sedalam-dalamnya. Ranti membawa segelas air mineral dan obat yang biasa ia berikan kepada Gunawan suaminya. Elsa menduga bahwa ibu tirinya akan menghapus ingatannya.
"Minum...?" Kata Ranti memaksa.
"Enggak...!" Bentak Elsa. "Ibu jahat. Ibu jahat." Ranti menghela nafas. Menatap Elsa dengan tajam.
"Dengar. Elsa dengarkan ibu. Kamu tidak akan lagi bertemu dengan Sam kalau kamu tidak minum obat ini." Ujar Ranti. Sementara Elsa sudah tahu kalau ia meminum obat itu, ia akan lupa kejadian hari ini.
Elsa menepis tangan ibunya. Sehingga gelas yang dipegangnya pecah.
"Ibu tahu... Aku sudah tahu semua. Aku tahu kalau kau adalah wanita paling menderita di dunia ini. Kau merebut ayah dan harta ibu kandungku. Aku tahu apa yang sudah kau lakukan terhadap ayahku. Aku tahu kejahatan apa saja yang sudah kau lakukan. Aku tahu bu. Aku sudah tahu." Ranti menahan nafasnya, matanya memerah, rahangnya mengeras. Ia menjambak rambut Elsa dengan keras. Tak peduli ia berteriak meminta tolong. Sekujur tubuhnya dibalut dengan api yang membara.
"Elsa, aku sangat senang sekali kalau kau sudah mengetahui semuanya. Tapi sayangnya, kau tidak bisa menemui ibu kandungmu. Kau sudah tidak bisa menemui siapa-siapa. Hanya aku yang bisa mengendalikanmu. Dan kau tahu, dimana Sam sekarang? Dia sedang sekarat. Dia tidak bisa lagi menyelamatkanmu. Bukankah kau bilang kau mencintai Sam? Sayang sekali, dia tidak bisa menyelamatkanmu. Sebentar lagi dia akan berhenti bernafas." Balas Ranti. Dengan tega Ranti menenggelamkan wajah Elsa ke dalam bathub. Berulang kali hingga Elsa berhenti berteriak.
"Sam akan mati." Ancam Ranti. Elsa menggelengkan kepalanya. Buliran air mata berjatuhan.
"Enggak. Jangan. Jangan sakiti Sam. Jangan sakiti Sam. Aku mohon jangan sakiti Sam." Kata Elsa memohon. Wajahnya pucat pasi. Ia berteriak memohon kepada ibunya.
"Bunuh saja aku." Ujar Elsa. Ranti menelan ludah. Mata tajamnya mengarah ke wajah Elsa. Ia ingin sekali membunuh anak ini. Anak yang selalu menjadi penghalang untuk meneruskan rencana-rencananya. Tapi ia berusaha menahannya, sebab ia masih membutuhkan Elsa untuk menandatangani surat warisan dari ibu kandungnya. Dan Ranti ingin menguasai semua harta milik Gunawan termasuk harta keluarga ELsa.
"Aku tidak akan menyakitimu. Tapi kau harus mengikuti alur kisah yang aku buat." Lanjut Ranti kemudian berlalu meninggalkan Elsa sendirian di kamarnya. Dengan keadaan basah, Elsa memeluk kedua lututnya. Menggigit bibir dengan perih. Air mata yang tak pernah berhenti keluar dari permukaannya, mengiringi rasa pilunya. Elsa hanya bisa pasrah dengan kehidupannya saat ini.
***
Suara angin terasa sangat bising didaun telinga Sam yang sudah tak berdaya. Namun ia masih mendengar sahutan suara Elsa dibalik remang-remang malam. Elegi berjatuhan diantara serpihan angin dan hujan yang masih gemericik. Lambat laun, suara isak Elsa menjauh dan menghilang. Diantara remang-remang itu, sosok gadis yang ia cintai perlahan-lahan hilang. Diseret dengan paksa oleh orangtuanya. Sementara Sam masih dalam keadaan lemah dan tak sadarkan diri.
Sebuah cahaya bersinar sangat terang. Pelan-pelan Sam membuka mata. Sakit. Remuk. Rasanya seluruh tubuhnya teramat sakit. Sam berusaha mengangkat badannya namun ia tak berdaya. "Sam...?" Sam menoleh begitu ia mendengar suara kakeknya.
"Elsa...?" Ia menyadari bahwa ada yang sedang tidak beres dengan kekasihnya itu.
"Elsa. Dia bagaimana?" Balas Sam mengkhawatirkan Elsa.
"Kakek tidak tahu. Dia pasti baik-baik saja." Sam mengacuhkan kalimat kakek. Ia merasa bahwa Elsa tidak sedang baik-baik saja. Tak lama setelah Sam tersadar dari masa kritisnya, dua polisi memborgol dan menggiring Sam ke penjara dengan tuduhan penculikan kepada gadis remaja. Sam pasrah dengan tuduhan tersebut.
***
Terkurung di dalam kamar selama 10 hari, membuat hidup Elsa berkabung dan tertekan. Bahkan berulang kali Ranti memberinya ramuan yang entah apa isinya. Dan berulang kali itu pula Elsa berontak, membanting bahkan melempar pemberian dari ibu tirinya. Terekam olehnya suara Ranti yang berbisik ke telinga ayahnya.
"Kita tidak bisa membunuh Elsa. Sebelum ia berusia 20 tahun, kita masih butuh dia untuk menandatangani wasiat yang kakeknya berikan kepadamu." Begitu ujar Ranti. Sehingga Elsa sengaja menyakiti dirinya sendiri. Ia berusaha menggagalkan rencana ibu tirinya itu. Namun ia selalu gagal dalam percobaan bunuh dirinya itu.
***
Keberadaan Elsa di rumah sakit jiwa membuat ke-4 sahabatnya yaitu Naira, Niken, Naina, dan Via mengkhawatirkan kondisi mental Elsa. Pasalnya sepengetahuan mereka, Elsa sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang sakit parah. Apalagi keadaan psikologisnya. Kabar itu datang dari kepala sekolah, sehingga membuat mereka terkejut setengah mati.
Sore itu, sepulang sekolah Naira, Naina, Niken dan Via mengunjungi Elsa ke rumah sakit jiwa. Kondisi Elsa memang sedang tidak stabil. Ia tampak sangat depresi, meronta-ronta bahwa kedua orangtuanya-lah yang memasukkan ia ke dalam rumah sakit jiwa.
"Elsa...? Kamu ingat kita kan?" Ujar Naira. Elsa dengan wajah yang lemah, mata merah dan bengkak, serta rambut yang acak-acakkan itu mengangguk.
"Ra, aku mohon sama kamu, tolong... tolong sampaikan kepada Sameer kalau dia harus menemuiku. Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadanya. Aku mohon. Aku mohon bantu aku." Tukas Elsa dengan menggenggam tangan Naira.
"Sa, lu nggak gila kan? Terus kenapa bokap sama nyokap lu masukkin ke penjara sih?" Tanya Niken. Via menyikut lengan Niken. Elsa menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Aku nggak gila. Aku nggak tahu apa yang sedang mereka rencanakan untuk aku. Aku bingung harus gimana? Aku pengen pergi, nemuin Anna dan mama." Jawab Elsa. Ke-4 sahabatnya menatap Elsa dengan bingung. "Dengar, aku punya kembaran. Dia namanya Anna. Udah satu bulan lebih mereka pergi dari Indonesia. Aku bilang, aku akan datang ke sana, setelah urusan disini selesai. Tapi, aku malah terjebak. Aku adalah saksi dari pembunuhan berantai itu. Dan aku tahu, aku sangat tahu persis siapa dalang dibalik pembunuhan berantai itu. Aku tahu. Aku sangat tahu." Lanjut Elsa.
"Jadi, apa ada hubungannya dengan orang tuamu yang memasukkanmu ke dalam rumah sakit jiwa?" Tanya Naira dengan mengernyitkan dahinya. Elsa menggelengkan kepalanya.
***