The Secret Story

The Secret Story
Bab Dua puluh dua



Tok tok tok... Sam mengetuk pintu kamar Elsa. Ia menghembuskan nafasnya. "Harusnya kau ingat Elsa. Akulah cinta pertamamu. Lelaki yang sudah menculikmu. Lelaki yang sudah menghabiskan sisa hidupnya untuk selalu mencintaimu. Dan aku tidak ingin membuatmu kecewa dan terluka. Jujur, aku hanya ingin membuatmu mencintaiku lagi." Batin Sam. Elsa membuka pintu kamarnya dengan pelan.


"Apa?" Sam menatap mata Elsa dengan sangat dalam. Elsa menelan ludah. Tatapan itu sangat begitu nyata. Memberikan arti yang sangat dalam. Sam menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati. Lalu memandangi kembali wajah cantiknya Elsa. "Apa? Kenapa kau menutup pintu kamarku?" Lanjut Elsa dengan memonyongkan bibirnya. 


"Hemmmmmhhhh..." Sam menghembuskan nafasnya. "Duduklah!" Perintah Sam sambil menepuk kasur. Mau tak mau Elsa duduk di samping suaminya meskipun ia masih jengkel terhadap Sam. 


"Sa...? Aku tahu kamu marah kesal dan jengkel. Aku minta maaf ya." Kata Sam sambil membelai lembut rambut istrinya. Elsa menoleh, menatap Sam dengan penuh keteduhan. Menelan ludah sebentar, sebulir air mata jatuh disudut matanya. "Lho, koq nangis sih. Aku kan udah minta maaf. Kenapa nangis?" Sam mencondongkan bahunya. Menyeka air mata dikedua sudut mata Elsa. 


"Aku... aku hanya terharu." Balas Elsa. Sam mengusap kedua pipi Elsa, lalu memeluknya. Seluruh tubuhnya terasa hangat, aliran darah yang mengalir dari didalam tubuhnya bergetar hebat. Tiba-tiba Sam begitu baik dan hangat. Elsa merasakan ada getaran hebat didalam dadanya. Tubuh Sam sangat hangat, ia tidak ingin melepaskan pelukan yang sangat menenangkan hatinya itu. Hanya Sam, ya, sampai saat ini, hanya Sam lelaki pertama yang memperlakukan Elsa dengan sangat baik. Elsa membalas memeluk Sam dengan erat. Mendekap dan merasakan setiap serpihan kehangatannya. 


"Tidak akan ada yang mampu menggantikan posisi aku dihatimu. Tidak siapapun juga. Hanya aku yang akan selalu mencintaimu, selamanya." Bisik Sam tepat ditelinga kiri Elsa. 


Spontan Elsa melepaskan pelukannya. Kalimat itu tidak pernah asing didalam pikirannya. Ada seseorang yang pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya. Namun Elsa tidak tahu, dari mana dan dari siapa kalimat itu terlontar. 


"Kenapa?" Tanya Sam. 


"Kau bisa mengulangi apa yang baru saja kau katakan?" Balas Elsa, berusaha memastikan semua kalimat yang diucapkan suaminya itu adalah hal yang benar.


"Tidak akan ada yang mampu menggantikan posisi aku dihatimu. Tidak siapapun juga. Hanya aku yang akan selalu mencintaimu, selamanya." Sam mengulangi kalimatnya. Elsa terhenyak, ada sembilu yang menyelip ke dalam dadanya. Elsa memeluk Sam lagi, entah bagaimana rasanya, namun kalimat itu membuat Elsa sangat merindukan seseorang. Rindu yang sangat dalam. Elsa tak menyadari buliran air mata jatuh dikedua pipinya. "Mulai hari ini, buang obat-obatan yang kamu punya." 


"Huh?" Elsa melepaskan pelukannya. "Aku tidak bisa tidur kalau tidak meminum obat tidur." Ucap Elsa. 


Sam menghembuskan nafasnya, lalu menarik tubuh Elsa ke atas kasur. Elsa tercengang, "Sam... Sam... Kau mau apa?" Elsa terkejut, ia menatap Sam dalam-dalam, begitupun dengan Sam. Tarikan nafasnya semakin berat, jantungnya berpacu lebih cepat. 


"Mulai sekarang, aku yang akan menjadi obat tidurmu. Semakin banyak kau mengonsumsi obat-obatan itu. Semakin kau tidak bisa mengingat siapa aku. Aku ingin kau ingat semuanya. Tentang cerita kita yang mungkin kau lupakan." Ujar Sam. Elsa menatap kedua bola mata Sam. Ada banyak yang ingin ia tanyakan dengan semua penuturan Sam malam ini. Namun sentuhan hangat Sam menahan semuanya. Sam menyelipkan anak rambut Elsa ke belakang telinga kanan Elsa. Meniup lembut wajah Elsa sehingga ia mengedipkan mata berkali-kali. Menyentuh lembut pipinya. ******* nafas Sam terasa sangat dekat diwajahnya. Elsa menutup kedua matanya, sambil merasakan detak jantung yang tidak beraturan. Tiba-tiba sebuah bibir mendarat dibibir Elsa. Elsa mengerjap tak percaya. Sam mencium bibirnya. 


"Sam...?" Ucap Elsa. 


"Kenapa?" Tanya Sam. Elsa menggelengkan kepala. Ia menggigit bibir bawahnya. Itu adalah kali pertama Sam menyentuhnya sebagai istrinya yang sah. "Kau keberatan? Kalau kau belum siap untuk tidur bersamaku, tidak apa-apa. Aku akan menunggu kapan kau siap untuk kusentuh." Aku dengan jujur. Elsa menelan ludah tak percaya. Benarkah bahwa Sam sudah mencintainya. Sam beranjak pergi.


"Kalau kau bilang, kau adalah obat penenangku. Harusnya kau tidak boleh pergi meninggalkanku." Jawab Elsa menahan kepergian Sam dikamarnya. Sam berbalik, lalu duduk kembali dihadapan Elsa. Ia menarik wajah Elsa dengan hatihati. Menempelkan bibirnya tepat dibibir Elsa. Lalu ********** dengan lembut.


***


Bepp bepp bepp bepp... Suara jam beker berbunyi nyaring. Sam terbangun. Ia mengucek kedua matanya. Melihat sekeliling, kemana Elsa pergi? Ada sebuah rasa trauma yang menyelip didalam hatinya. Perasaan yang dipaksa berhenti mencintai seorang perempuan. Dan kejadian beberapa tahun yang lalu memberikan dampak yang amat besar baginya. "Elsa... Elsa...?" Sam berseru dengan nada tinggi.


"Elsa... Elsa... Elsa..."


"Ada apa?" Tiba-tiba Elsa muncul dibelakangnya. Sam mengelus dadanya. Lalu refleks ia memeluk istrinya itu.


"Rasanya baru kemarin aku kehilangan dirimu." Batin Sam. Elsa mengedipkan kedua matanya dengan heran.


"Kau kenapa? Sakit?" Tukas Elsa.


"Kau menghilang tiba-tiba." Ketusnya.


"Ehh menghilang? Bukannya aku sudah terbiasa bangun tidur langsung masak dan beres-beres rumah. Kamu aneh..." Ujar Elsa. Sam menghembuskan nafasnya. Lalu ia menyentil dahi Elsa. "Akkkk..."


"Kau yang aneh." Ketusnya sambil berlalu meninggalkan Elsa.


"Sam...?" Nada Elsa meninggi.


"Apa?" Sam menoleh.


"Kau tidak memakai celana?" Ucap Elsa dengan menahan tawanya. Sam baru menyadari bahwa sejak tadi ia tidak mengenakan celana.


"Hhehe... Lupa sayang. Bentar ya, aku mau mandi dulu. Kamu mau ikut nggak?" Tukas Sam nyengir.


"Enggak. Udah cepetan mandi sana." Balas Elsa.


Sedari pagi tadi, saat ia terbangun. Elsa menyadari bahwa ada darah yang keluar dari alat kelaminnya. Dan itu terasa sangat sakit sekali. Elsa berusaha berjalan seperti biasa saja. Namun ia tidak bisa menahan pegal dan linu yang saat ini sedang ia rasakan.


"Kenapa...?" Tanya Sam dengan mengunyah makanannya tanpa melirik istrinya.


"Kakiku agak sedikit pegal, emmm perih dan nggak tahu deh. Agak sedikit aneh." Jawab Elsa polos.


Pandangannya beralih kepada Elsa, ketika ia mendengar bahwa istrinya sedang sakit. "Kamu sakit...?" Tanya Sam cemas. Elsa segera menggelengkan kepala, "terus kenapa?"


"Aku belum terbiasa..." Ucap Elsa dengan manja. Ia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya.


"Ter-terbiasa apa?" Sam terus menatap Elsa. Namun Elsa sangat malu mengatakan semuanya kepada Sam.


"A-anu... Aduh gimana ya? Pokoknya izinin aku libur sehari deh. Please...?" Pinta Elsa. Sam menghembuskan nafasnya.


"Ya udah, kalau gitu aku temenin kamu ya." Jawab Sam.


"Huh? Ehhh nggak gitu. Maksud aku. Aku nggak apa-apa koq sendirian di rumah juga. Kalau kamu ikut cuti, nanti nggak enak dengan yang lain." Balas Elsa.


"Kamu kan istri aku, Sa. Kalau kamu sakit, siapa yang jagain kamu. Aku temenin ya." Ujar Sam.


"Aduh.... Kamu kenapa sih kayak gini." Elsa memonyongkan bibirnya.


"Kayak gini gimana maksud kamu?" Sam mengernyitkan dahinya dengan bingung. Sementara ekspresi Elsa jelas sekali tidak ingin diganggu. "Sa...?" Seru Sam lembut, sembari menggenggam tangan Elsa. 


"Huh?" Elsa mendongak menatap mata Sam yang teduh. 


"Apa yang membuatmu merasa khawatir?" Tanya Sam pelan-pelan. Takut menyinggung perasaan wanita yang dicintainya. 


"Ummm... aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu." Jawab Elsa dengan malu. 


"Kenapa?" Sam mengernyitkan dahinya. "Kau bisa menjelaskan kepadaku dengan pelan-pelan, agar aku mengerti keadaanmu. Okay?" Elsa mengembungkan pipinya. Ia merasa frustasi dengan desakan Sam yang harus menjelaskan keadaannya yang saat ini. "Kenapa sih?" Sam semakin ingin tahu apa yang terjadi dengan istrinya. 


"Masa aku harus ngejelasin secara detil sih." Ketus Elsa. 


"Emangnya kenapa? Kamu malu?" Elsa menganggukkan kepalanya. "Kan disini cuma ada kita berdua. Kenapa harus malu?"


"Bukan gitu, aku kepikiran yang semalam." Celetuknya dengan spontan Elsa menutup mulutnya. Aduh, Elsa. Kenapa keceplosan sih. Gimana kalau Sam berpikiran kalau kau mau gituan lagi? Aduh... bodoh. Elsa menggigit bibir bawahnya, matanya menunduk sedalam-dalamnya, tak berani menatap wajah Sam. 


Sementara Sam tersenyum tipis sembari menyipitkan kedua matanya. "Elsa...?" Bisik Sam, tepat ditelinga kiri Elsa. Elsa menelan ludah dan tercengang. "Apa yang kamu sembunyikan dari aku?" Tanya Sam. Elsa merapatkan kedua bibirnya. Lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya. 


"Sebaiknya kita ke kantor saja. Aku janji, aku tidak akan mengeluh apa-apa lagi kepadamu." Balas Elsa dengan cepat. 


"Ya udah kita liburan aja deh, gimana?" Ujar Sam. Elsa menggelengkan kepalanya. 


"Ke-kenapa kita jadi liburan? Aku kan enggak minta liburan. Emmm, kita kembali seperti biasa aja, gimana?" Elsa salah tingkah begitu Sam memintanya buat liburan.  


"Emmm aku pikir kita bisa menghabiskan waktu berdua. Semenjak menikah, kita kan belum pernah honey moon. Gimana?" Usul Sam. 


"Ehhh kenapa tiba-tiba kau pengen honey moon? Hari ini bukannya kita ada meeting sama klien yang dari China? Kalau kita batalkan, nanti kita kehilangan investor terbesar kita lho. Kita juga belum bayar pajak. Perusahaan yang di handle sama kakek sedang menunggu kestabilan perusahaan kita. Kamu nggak mau kan mengecewakan kakek." Jelas Elsa sambil berdiri dan bergegas menyiapkan tasnya. Sam pun berdiri berhadapan dengan Elsa. Menghembuskan nafasnya dengan pelan. 


"Elsa...? Sameer adalah lelaki yang bisa merasakan tiap getaran yang ada didalam hatimu. Ikatan yang kuat antara kita tidak akan usang oleh waktu. Aku akan selalu hidup didalam hatimu. Begitupun sebaliknya. Sejauh apapun jarak memisahkan atau seberapa lama pun waktu memisahkan raga, kita akan kembali bertaut untuk mengisi sakit yang sama. Lukamu adalah lukaku. Sedihmu adalah sedihku. Kalau kau terluka aku adalah orang pertama yang akan berlari mengejarmu dan menggantikan luka itu. Karena..." Kalimat Sam terhenti. Ia menatap Elsa dengan sangat dalam. 


"Karena....?" Tanya Elsa. 


"Karena....." (Aku sangat mencintaimu). Sam berdeham, lalu melirik jam. "Karena kita sudah terlambat masuk ke kantor. Ayo...." Sam menarik lengan Elsa. 


Elsa mendesah kecewa. Kenapa lagi dia? Selalu bikin aku penasaran. Dasar Sam, dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah. Tapi aku selalu menyukainya. Cara dia tersenyum, cara dia mengusap dahiku, cara dia mengelus punggung tanganku, cara dia menggenggam tanganku, bahkan dia selalu tahu apa yang aku butuhkan. Dibandingkan Indra, dia lebih dari sekedar baik. Namun... entah kenapa, aku merasa kami pernah ditakdirkan bersama pada satu dekade yang lalu. Sam, kuakui aku mencintaimu. 


***