
Elsa kembali ke Jakarta untuk bekerja. Ia mengabaikan permintaan ibunya untuk bertemu dengan lelaki pilihan mereka. Namun Elsa tak pernah berpikir ia akan menerima lamaran itu. Saat ini hatinya sedang dilanda dilema. Lebih tak tenang dari pada dihadang oleh almarhum Indra yang bengis itu. Ia selalu berharap Sam bisa berubah pikiran. Namun kenyataannya enggak. CEO yang judes itu, justru mencari perhatian Elsa. Sering kali ia terang-terangan memuji kecerdasan dan kecantikan Elsa. Seperti bukan gaya dirinya. Sehingga beberapa kali ia ke pergok oleh karyawan lainnya sedang mengedipkan mata atau sekadar menyapanya dengan riang. Sebenarnya Elsa agak risih dengan sikap Sam.
"Els...?" Panggil Sam dari ruangannya. Elsa bergegas menghampiri CEO-nya.
"Anda memanggil saya?" Kata Elsa. Sam mengangguk masih sambil memeriksa pekerjaannya di komputer. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Ini..." Ucap Sam dengan mengetuk meja dengan kedua jarinya. Elsa mengerti, pasti ada pekerjaan yang tidak bisa dia kerjakan. Elsa mendekat, memeriksa komputer milik Sam. Namun ia menemukan video ciuman dari layar komputer. Sam mengerjapkan kedua matanya. Lalu segera mengklik tanda silang di ujung dekstop.
"Apa yang kamu lihat?" Ujar Sam.
"Emmm itu..." Sam menarik lengan Elsa, lalu meletakkannya dibahunya.
"Huh?" Elsa bingung.
"Pijitin. Badan saya rasanya sangat pegal." Kata Sam.
"Huh? Disini? Sekarang?" Elsa kikuk.
"Kau mau kita ke hotel?" Sam mendongak. Kedua mata mereka bertemu.
"Kau gila." Ketus Elsa dengan tak sengaja mendorong Sam hingga ia terbentur ke mejanya. "Aduh... Bapak tidak apa-apa. Maaf. Aku minta maaf. Aku tidak sengaja." Tukas Elsa.
"Elsa..." Serunya geram.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Elsa khawatir.
"Menurutmu...? Lihat." Sam menunjuk wajahnya. Elsa memperhatikan wajah atasannya itu.
"Tidak apa-apa." Gumam Elsa.
"Wajah tampanku bisa terluka oleh kelakuanmu. Kau mau tanggungjawab tidak?" Katanya. Elsa menyunggingan bibirnya.
"Anda mau aku bagaimana?"
"Bersihkan wajah saya." Ujarnya. Elsa menghembuskan nafasnya. Ada-ada saja tingkah CEO yang narsis itu. Elsa menurut saja.
Pekerjaannya masih sama. Kadang Sam selalu meminta Elsa datang ke rumah pukul 4.00 pagi. Kadang ia juga merangkap sebagai asisten rumah tangga. Elsa tidak mengatakan apapun kepada Sam tentang uang yang dia berikan kepadanya. Tiba-tiba, pagi itu Elsa kedatangan tamu tak diundang. "Siapa ya...?" Seru Elsa sambil membuka gerbang rumah kostannya.
"Saya Ihsan dari sorum mobil bu. Apa benar ini rumah bu Elsa?" Tanya Ihsan.
"Iya. Ada apa ya?" Tanya Elsa.
"Ibu bisa tandatangani ini?" Balas Ihsan.
"Ini apa ya?" Elsa mengernyitkan dahinya.
"Kemarin pacar ibu beli mobil, katanya hadiah untuk ibu." Balas Ihsan lagi.
"Pacar?" Ihsan menyodorkan secarik kertas yang perlu Elsa tandatangani, tidak begitu lama, Elsa pun menandatanganinya. Lelaki bernama Ihsan itu pun pamit setelah memberikan kunci mobil.
Belum pun pintu ditutup, bu Tuti pemilik kontrakan itu sudah berteriak memanggil nama Elsa.
"Mbak Elsa... Wahhh, mobil baru ya. Beruntung sekali punya pacar ganteng dan kaya raya." Katanya. Elsa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ehhh bu Tuti." Elsa melempar senyum. "Ada perlu apa ya bu? Bukankah saya sudah bayar kontrakan dua hari yang lalu." Lanjut Elsa.
"Oalah mbak Elsa, emangnya saya kesini cuman minta bayaran kontrakan saja toh." Balas bu Tuti. Elsa mengangguk pelan. Memang begitu koq. Pikir Elsa. "Ini lho, saya cuman mau ngasih sertifikat tanah dan rumah buat mbak Elsa."
"Sertifikat tanah dan rumah?" Tanya Elsa.
"Iya. Punya pacar baik, ganteng dan kaya raya itu anugerah ya mbak Elsa. Pengin deh saya punya calon mantu kaya, uhmmmm siapa ya namanya. Ohiya Sameer." Jawab bu Tuti.
"Pagi ini kamu siapkan dulu sarapan untuk kakek saya. Kamu berkemas, kita akan meeting ke luar kota." Kata Sam.
"Baik pak." Balas Elsa. "Tapi pak, saya mau bertanya...." belum pun Elsa melanjutkan kalimatnya, panggilannya sudah ditutup.
Elsa menghembuskan nafas lagi. Elsa menyetir mobil barunya, ia pergi kerumah Sam untuk menyiapkan sarapan untuk kakeknya. Setelah itu Elsa pergi meninggalkan rumah Sam, dan bergegas menuju kantor.
Bekerja seperti biasanya.
"Bu Elsa, ini foto copy-an yang kemarin." Seru Hanum dengan membawa berkas foto copy. Elsa menghembuskan nafas, lantas Elsa merapikan salinan tersebut ke dalam sebuah file. Setelah selesai, Elsa mengetuk pintu ruangan Sam.
"Masuk!" Perintah Sam.
"Maaf sebelumnya pak, saya ingin bertanya, apa alasan bapak membeli rumahnya bu Tuti...? Serta membelikan saya mobil." Tutur Elsa.
"Kenapa? Kau tidak suka? Atau apa yang aku berikan untukmu kurang?" Balas Sam. Elsa mengernyitkan dahi dengan heran.
"Bukan begitu pak, saya merasa keberatan atas pemberian bapak ini. Karena menurut saya ini berlebihan." Ujar Elsa.
"Saya memberikan fasilitas ini untuk calon istri saya. Kamu." Jawab Sam.
"Saya tahu niat Anda baik. Tapi maaf saya tidak bisa menerima semua ini." Tukas Elsa.
"Kenapa?" Sam berdiri. Mensejajarkan dirinya dengan sekretarisnya itu. Elsa menelan ludah.
"Saya merasa kurang pantas." Balas Elsa.
"Kau tahu. Kau akan menikah dengan siapa? Dengan seorang CEO Perusahaan Pangan. Saya membelimu tidak dengan harga yang murah. Saya ingin kau menjadi seperti yang saya inginkan. Dengan menerima cek sebesar 1 Milyar, dan semua fasilitas yang saya beri untukmu. Seharusnya kau bisa lebih paham dengan semua maksudku. Jadi, terima saja." Ujar Sam. Sebulir air mata jatuh ke pipi Elsa. Menyinggung soal jual beli atas harga dirinya, membuat Elsa sangat insecure. Elsa menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan.
"Saya tahu Anda sudah membeli harga diri saya dengan sangat mahal. Saya menerima uang Anda karena saya butuh untuk menghidupi keluarga saya. Kalau saya mau, saya bisa membawa kabur uang Anda dan mengingkari janji untuk tidak menikah dengan Anda. Anda tahu, pernikahan bukanlah sebuah permainan. Pernikahan bukan antara jual dan beli harga diri dan martabat seorang perempuan. Didalam pernikahan harus ada perasaan menerima dan memberi. Bukan perjanjian ataupun pemaksaan. Ada hak dan kewajiban seorang suami terhadap istrinya yang tidak bisa diukur dengan jabatan ataupun hukum ekonomi. Saya tahu, Anda seorang CEO. Anda kaya, tampan, dan sempurna. Tapi, Anda tidak bisa mengatur perasaan saya. Berharap saya menjadi seperti yang Anda inginkan. Maaf saya tidak bisa." Jelas Elsa.
Sam menatap Elsa lamat-lamat, "apa maksudmu dengan tidak bisa?" Tanya Sam dengan menajamkan pandangannya.
"Saya tahu, saya sudah menerima uang sebesar 1 milyar. Saya sudah transfer ke rekening Anda. Sisanya akan saya lunasi nanti. Sertifikat rumah dan mobil yang Anda berikan. Saya kembalikan. Saya tidak bisa melanjutkan kesepakatan kita. Saya akan menikah dengan pilihan orang tua saya. Tidak dengan Anda." Jelas Elsa sambil memberikan selembar sertifikat rumah, bpkb dan kunci mobil, ia letakkan dimeja kerja Sam.
"Kenapa...? Kenapa kau mau membatalkan kesepakatan kita?" Tanya Sam terkejut, ia tak percaya bahwa Elsa akan menolaknya.
"Saya sudah bilang, orangtua saya akan menjodohkan saya dengan pria pilihan mereka." Balas Elsa.
"Kau sudah bertemu dengan lelaki itu? Huh? Kau menyukainya? Apa dia lebih tampan dariku? Dia lebih kaya dariku? Huh? Katakan!" Mata Sam menyala bagaikan kobaran api.
"Siapapun dia, setidaknya kepribadiannya tidak seburuk Anda." Tukas Elsa. Sam meraih tangan Elsa. Mencengkeramnya dengan kuat.
"Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan siapapun. Kau sudah menjadi milikku. Dan kau pasti akan menyesal telah menolakku." Kata Sam dengan tegas.
Air mata Elsa jatuh pelan-pelan, "lepaskan tangan Saya. Sakit."
"Kau tidak akan mengerti perasaanku. Bertahun-tahun Elsa. Bertahun-tahun. Buka matamu. Buka lebar-lebar. Kau punya ingatan itu. Kalau tidak sekarang kau akan selalu terjebak disini." Sam menggertakkan rahangnya. Sementara pandangan Elsa telah kabur dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Jangan paksa saya. Saya mohon." Sam melepaskan cengkeramannya.
"Saya akan menggagalkan pernikahanmu. Dan kau harus menjadi milik saya." Tutur Sam.
Elsa menggeleng tak percaya. Sam sudah gila. Begitu pikir Elsa.
"Kau tidak bisa melakukan hal ini kepadaku. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan orang lain, kecuali denganku." Teriak Sam. Elsa mundur pelan-pelan lalu meninggalkan ruangan Sam. Elsa menghapus air matanya, sambil berlalu keluar dari gedung berlantai 20 itu.
***