The Secret Story

The Secret Story
Episode Sembilan belas



"Beri aku satu bukti, kalau kau bukan pembunuhnya." Tukas Sam. Elsa menyipitkan matanya, lalu menghembuskan nafas dengan berat. Lalu menundukkan kepalanya. Ia memeluk erat kedua lututnya.


"Heh? Ngomong!" Sam mencolek lengan Elsa yang sedari tadi tidak angkat suara. Elsa menghembuskan nafasnya lagi. Melirik Sam dengan perasaan gugup.


"Kau mau jawaban yang seperti apa?" Tanya Elsa.


"Kau pikir, aku menculikmu karena sebuah hobi, begitu? Dengar, aku menculikmu karena aku ingin membunuh orang yang sudah membunuh kedua orangtuaku." Jawab Sam dengan jelas.


"Bukan aku..." Elak Elsa lagi. Tapi tetap saja Elsa tidak bisa menjelaskan apa-apa kepada Sam.


"Kalau bukan kau, lalu siapa? Huh?" Sam meninggikan nada suaranya.


"Kak Sam, aku tahu, kau pasti lebih cerdas dibandingkan aku. Aku diam bukan berarti aku tidak tahu apa-apa. Aku tahu. Tapi aku tidak bisa bersaksi. Untuk saat ini, aku ingin melindungi orang yang aku cintai. Ingin menegakkan keadilan. Tapi..., aku tahu, aku belum bisa. Kak Sam, aku janji, suatu hari nanti, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi tidak sekarang." Tutur Elsa.


"Lalu kapan? Nanti? Setelah kau masuk neraka begitu?" Sam mengernyitkan dahinya.


"Enggak." Elsa menggelengkan kepalanya.


"Terus ngapain kamu coba buat bunuh diri? Udah bosan hidup?" Sam mengatur posisinya. Elsa menyipitkan kedua matanya.


"Hampir putus asa." Ketusnya.


"Hampir putus asa?" Sam mengulangi kalimat Elsa. Dan Elsa menganggukkan kepalanya.


"Kau tidak akan mengerti. Seperti ingin tapi tak ingin. Seperti benci tapi tak bisa. Semua hal yang ada di dunia ini hanya sebuah kepalsuan. Semua orang bersandiwara untuk menutupi semua isi hati dan kepalanya. Namun... Dibalik semua kebaikan yang pernah kita lakukan, belum tentu dapat dibalas dengan kebaikan. Lalu apakah kita harus melakukan hal yang jahat? Ketika kita sudah mengetahui orang yang kita percayai menyakiti hati kita?" Tutur Elsa. Sam menelan ludah. Menatap Elsa lamat-lamat. Ia melihat sebulir air mata jatuh di pipi Elsa.


"Kalau kau berpikir bahwa tidak ada yang mencintaimu di dunia ini. Ingatlah masih ada seseorang yang sangat mencintaimu." Balas Sam. Elsa menoleh. Dua bola mata saling bertatapan. Ada magnet yang tiba-tiba saja bergetar di dalam hati Elsa dan Sam. Itulah dimana Elsa dan Sam saling mengenal. Sam telah menculik Elsa, untuk mengetahui kebenaran tentang pembunuhan orang tuanya.


***


Satu bulan sebelum penculikan terjadi.


"Sa...?" Seru Naira. Dia menarik lembut lengan sahabatnya.


"Ada apa?" Tanya Elsa.


"Aku mau nanya serius ya. Tapi kamu harus jawab yang jujur, enggak kayak kemarin jawabannya ngelantur." Balas Naira serius.


"Nanya apa sih? Serius amat." Ketus Elsa.


"Aku tanya sekali lagi soal yang minggu kemarin. Kamu ingat nggak kalau kita pernah ketemu di kantor ayah kamu. Waktu itu di parkiran wajah kamu lebam. Kamu lari, terus kamu bilang ke aku kalau kamu dalam bahaya. Bahaya apa sih, Sa? Aku nggak ngerti deh. Terus kita ketemu lagi, kamu ngasih aku ini. Kamu ingat nggak?" Kata Naira. Elsa menggigit bibir bawahnya. Menggelengkan kepala. Naira memberikan sebuah kertas kosong.


"Apaan sih, Ra. Aku nggak pernah ke kantornya ayah. Terus ngapain coba aku ngasih kamu kertas kosong. Udah berapa kali sih aku bilang. Kamu tuh ngayal tahu nggak." Sanggah Elsa.


"Aku nggak bohong, Sa. Aku ketemu kamu koq. Kamu punya penyakit ya. Koq nggak ingat terus sih." Naira bersih kukuh mengatakan bahwa seminggu yang lalu ia ketemu dengan Elsa.


"Aku nggak pernah ke kantor ayah aku, Naira."


"Terus ini apa? Kamu ngasih aku kertas kosong gini maksudnya apa?" Naira menyodorkan kertas. Elsa termenung menatap kertas kosong yang ada ditangannya. Naira kembali duduk bersama teman-teman yang lain. Begitupun dengan Elsa, ia meletakkan kertas kosong itu dimeja. Namun Niken tak sengaja menumpahkan air sehingga mengenai seluruh meja dan membuat selembar kertas itu hampir basah. Untung saja Elsa segera menarik kertas itu. Dan tak sengaja Elsa membaca sebuah kalimat.


"Hubungi aku di nomor ini 08xxxxxx." Elsa mengernyitkan keningnya. Hemmmhh.... Sepulang dari sekolah, Elsa sengaja membasahi kertas yang diberikan oleh Naira. Dan benar saja ada tulisan yang tersembunyi didalam kertas itu.


"Elsa... Ini aku Anna, kembaranmu. Aku yakin kau pasti akan terkejut ketika membaca surat ini, dan ternyata kau punya kembaran. Elsa, tolong simak baik-baik. Aku dan mama sedang dalam bahaya. Ayahmu, maksudku ayah kita terlibat dalam sebuah pembunuhan berantai dan berencana. Ayah memisahkan aku denganmu. Dia tidak ingin aku masuk ke dalam kehidupanmu. Elsa... Saat aku dan mama dalam keadaan bahaya, kau juga dalam bahaya. Hati-hati dengan ayah dan ibu tirimu. Kalau ada apa-apa hubungi aku ke nomor yang ada disini 081xxxxxxx. Okey. Dari Anna. Your twins." Elsa melotot tak percaya, ia menelan ludah ketika membaca surat itu. Bergegas ia menelpon nomor yang tertera pada kertas itu.


"Hallo...?" Elsa memencet nomor Anna. Panggilan masuk terhubung. Sebuah suara terdengar dengan sangat jelas.


"Hallo... Anna...?" Ujar Elsa dengan ragu.


"Elsa...?" Suara perempuan yang berbeda terdengar. Tampak berat dan serak. "Elsa benarkah ini kamu?"


"I-i-iya. Aku Elsa." Balas Elsa.


"Elsa...? Ini mama nak. Ini mama. Mama kangen." Ujar suara itu. Elsa menelan ludah. Masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Elsa...? Aku Anna. Elsa dengarkan aku. Kita harus bertemu. Kau harus bertemu dengan mama. Aku tahu, kau pasti sangat terkejut dengan kehadiran kami. Tapi percayalah Elsa. Apa yang terjadi sekarang, yang ada dihadapanmu bukanlah ibu kandungmu. Elsa...? Kau dengar aku?"  Anna berujar dengan cepat.


"I-iya. Aku dengar." Sebulir air mata jatuh tak terasa. Dadanya terasa sangat sesak. Seluruh tubuhnya terasa panas dan terbakar. Ada rindu yang tiba-tiba menyelinap.


"Elsa...? Bisakah kita bertemu?" Pinta Anna. Elsa mengangguk.


"Ya... Kita memang harus bertemu. Kapan? Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu." Balas Elsa.


"Aku juga. Kapan kita bisa bertemu?" Tanya Anna.


"Besok jam 9." Jawab Elsa.


"Okey. Aku punya tempat rahasia yang tidak banyak orang tahu. Alamatnya akan aku kirim lewat sms. Okey?" Balas Anna.


"Okey."


***


Elsa tidak menduga bahwa ia punya saudara kembar. Seorang perempuan berambut panjang sebahu berdiri tepat dihadapannya. Elsa seperti melihat dirinya sendiri. Mirip. Sangat mirip sekali. Mereka saling berhadapan. Berusaha mempercayai apa yang dilihatnya.


"Aku tahu kau tidak akan percaya ini Elsa. Kau kakakku. Mama bilang, saat itu kau tertidur pulas sehingga tidak tahu apa yang terjadi pada mama dan juga ayah." Ujar Anna. Elsa menelan ludah.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Elsa. Seorang wanita paruh baya datang tanpa diduga. Wanita itu adalah ibu kandung Elsa. Kedua matanya berair. Berpendarlah tangis dikedua pipinya. Lalu ia merangkul dan memeluk Elsa. Sangat erat. Sebuah kehangatan menjalari seluruh tubuh Elsa. Rindu yang teramat dalam dirasakan wanita itu. Pecah sudah tangis dan kerinduannya. Elsa juga menangis begitu saja. Itu adalah kali pertama Elsa bertemu dengan keluarga kecil yang selama ini tidak ia sangka.


Mama dan Anna bercerita panjang lebar. Sementara Elsa menyimak dengan sangat baik. Semua penjelasan Anna dan mama, membuat Elsa tersadar banyak hal. Tak terbayang bagaimana mereka bisa hidup. Hati Elsa terasa dicabik-cabik dengan belati. Sakit dan pedihnya penderitaan mama dan Anna memberikan dampak yang sangat besar untuk Elsa.


Mama dan Anna sedang dalam bahaya. Elsa ingin melindungi mereka sehingga Elsa berusaha untuk memindahkan mama dan Anna ke luar negeri. Strategi itu sudah ia susun dengan sangat hati-hati. Berawal pemberangkatan ke Batam lalu ke Singapore kemudian ke Kanada. Elsa juga mengurus visa dan pasport untuk mereka, agar tidak dicurigai oleh siapapun.


"Elsa...?" Seru mama.


"Mah, mama harus sehat. Mama harus kuat. Nanti Elsa akan menyusul.  Setelah berada di Singapura. Kalian harus langsung pergi ke Kanada. Aku akan menjamin ayah tidak akan bisa melacak kalian. Kalian akan aman berada disana. Anna. Aku percaya kepadamu. Kau, harus menjaga mama. Pakai namaku untuk kau sekolah. Kelak, kalau namamu disini sudah bersih, aku akan memberikan identitas baru untukmu. Nama aslimu akan aku kembalikan. Percaya padaku." Jelas Elsa.


"Elsa...? Kau sungguh tidak apa-apa kalau kami pergi?" Tanya Mama khawatir.


"Aku jamin ayah tidak akan melacak mama dan juga Anna. Aku akan mengorbankan diriku untuk kalian. Meskipun nyawa taruhannya." Balas Elsa. Mama mencium seluruh wajah Elsa. Mereka berpisah di pelabuhan.


"Elsa...? Maafkan aku." Tukas Anna.


"Hemmmhh." Elsa menganggukkan kepala.


"Kau harus hati-hati." Ucap Anna.


"Sekarang cepat kalian pergi." Ujar Elsa. Anna dan mama bergegas pergi.


Kapal laut beranjak pergi meninggalkan pelabuhan. Anna dan Mama pergi meninggalkan kota ini. Elsa menghembuskan nafas lega. Ia tinggal memilih waktu yang tepat. Rencana demi rencana telah ia susun. Termasuk meninggalkan ayah dan ibu. Ia memilih tinggal bersama mama dan juga Anna di Kanada. Semua aset dan perhiasan yang ia simpan untuk masa depannya telah ia berikan untuk mereka. Sebagai bekal nanti di Kanada.


***