The Secret Story

The Secret Story
Bab Dua puluh empat



"Sam... Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Okey...?" Kata Elsa saat Sam merasa cemas karena sebentar lagi Elsa akan masuk ke ruangan sidang.


"Kau tidak boleh ragu. Kau harus percaya diri. Apapun hasilnya itu pasti yang terbaik. Jangan gugup dan jangan cemas ya...?" Balas Sam. Elsa menahan senyumnya.


"Yang cemas itu kamu." Ketus Elsa dengan memonyongkan bibirnya. Sam mengusap wajah Elsa dengan sangkalannya. Nama Elsa dipanggil oleh tim penguji. Sekali lagi Sam membelai lembut rambut Elsa.


"Semangat ya..." Ucap Sam menyemangati. Elsa mengangguk dengan percaya diri. 


"Aku masuk ya." Kata Elsa. Sam menganggukkan kepalanya. Seketika Sam berubah menjadi tegang. Ia khawatir kalau Elsa tidak dapat menjelaskan secara runtut permasalahan penelitiannya. Berulang kali ia berdiri memandangi pintu ruang sidang. Namun begitu Elsa keluar. Sam bergegas menghampiri. 


"Bagaimana? Lancar semuanya?" Tanya Sam. Elsa mengangguk. "Hasilnya bagaimana..?"


"Ummmm..." Elsa bergumam.


Kemudian Sam memeluk Elsa. "Its okay. Nggak apa-apa. Aku ngerti koq." Ujar Sam yang mengira kalau nilai sidang Elsa rendah.


"Uhmmm iya, Sam. Nilainya A." Balas Elsa.


"Mmmm, sudah kuduga." Sam menundukkan kepala. Lalu menatap wajah Elsa dengan serius. "Kau bilang apa? Nilaimu berapa?"


"A..." Jawab Elsa. Mata Sam berbinar tak percaya. Lalu memeluk Elsa dan mencium kening istrinya itu.


"Aku bahagia sekali. Selamat ya sayang." Ucapan tulus dari Sam menyertainya. Elsa sangat bahagia sekali. Kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil. Dan hal yang paling membuatnya merasa bahagia adalah memiliki suami seperti Sam. Elsa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Ia merasa bahwa Sam sangat mencintainya sehingga ia tidak lagi khawatir dengan hubungan pernikahannya. Ia juga sudah menjadi seorang istri seutuhnya.


"Sam...?" Seru Elsa. Saat Sam sudah menginjak pedal gas dan mobil melaju di jalanan beraspal.


"Iya sayang..." Balas Sam lembut.


"Aku kan sudah dapat nilai A. Kamu mau apresiasi apa atas keberhasilanku ini?" Ujar Elsa.


"Kamu maunya gimana?"


"Kalau kita liburan gimana?" Usul Elsa.


"Kemana sayang?"


"Kemana ya...?" Elsa mengembungkan pipinya sambil berpikir keras.


"Aku pengen ke Amerika." Kata Elsa.


"Jauh banget sayang. Lagi pula Amerika itu luas. Mau ke daerah mana?" Balas Sam.


"Emmmm... Ya udah nggak usah ke Amerika deh. Gimana kalau kita ke New Zealand? Di sana banyak tempat yang sangat bagus untuk kita honey moon." Tutur Elsa. Sam melirik istrinya. Lalu menelan ludah. Tidak salah bicara dia? Pikir Sam.


"Honey moon?" Tukas Sam dengan menyipitkan kedua matanya.


"Iya... Kenapa kau tidak suka?" Elsa menoleh.


"Suka. Aku sangat suka. Apalagi dengan suasana yang sangat romantis." Balas Sam.


"Mau kapan?"


"Kapan ya? Jadwal kita padat banget bulan ini, gimana kalau nanti bentrok dengan pertemuan kita dengan investor dari Perancis." Balas Elsa.


"Emmm... Gimana kalau pas akhir tahun saja?" Usul Sam. Elsa menoleh dengan cepat lalu mengangguk dengan semangat.


***


Alex Graham. Sepupu Sam yang ingin menyamakan kedudukannya di perusahaan. Keluarganya sudah berulang kali berusaha menjatuhkan tingkat ekonomi dan kestabilitasan harga perusahaan di pasaran negara. Sam sudah mencurigai Alex sejak 10 tahun yang lalu. Ia merasa bahwa Alex terlibat dengan kematian orangtuanya. Misteri kematian orang tua Sam sama sekali belum terungkap. Karena satu-satunya saksi mata yang dapat mengungkap kematian orangtuanya adalah Elsa. Namun Elsa mengalami cedera otak yang mengakibatkan sebagian memorinya hilang. Lelaki itu tiba-tiba datang ke Australia bersama seorang perempuan.


"Hai saudaraku. Lama sudah kita tidak berjumpa." Sapa Alex dengan merangkul pundak Sam. Namun ditepisnya.


Dengan santai Alex duduk di sofa kerja. Elsa mengerutkan kedua alisnya dengan perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya.


"Hai kakak ipar...? Sam, dia Elsa kan?" Alex menyapa Elsa dengan gayanya yang santai dan tidak sopan. Melihat wajahnya saja membuat Elsa tidak suka. Elsa merasa tidak asing dengan wajah itu. "Ahhh, aneh rasanya kalau melihat kalian. Seperti melihat dua orang yang sama dalam dua karakter. Baik Ad maupun kau, sama saja. Sama-sama mencintai wanita yang sama." Lanjutnya dengan gaya bicara yang sembrono. Sam menggertakkan rahangnya. Elsa belum mengetahui kebenaran tentang saudara kembar Sam.


"Apa yang kau bicarakan?" Sam membulatkan kedua bola matanya.


"Beberapa hari yang lalu, aku melihat kembaran kalian. Dan tak menyangka, saudara kembarmu berpacaran dengan saudara kembar dia. Eee siapa ya namanya aku lupa. Oh ya, Anna. Anna Anindita putri kembar yang terpisah. Bukankah begitu?" Tutur Alex dengan nada yang menjengkelkan.


"Anna?" Bagaikan disambar petir di siang bolong. Seluruh jantung Elsa bak dicabik-cabik samurai. Bayangan hitam yang berada di dalam pikirannya berlarian. Elsa memejamkan kedua matanya.


"Aku tahu kau tidak akan percaya ini Elsa. Kau kakakku. Mama bilang, saat itu kau tertidur pulas sehingga tidak tahu apa yang terjadi pada mama dan juga ayah." Tiba-tiba ingatannya terhenti pada sebuah peristiwa.


"Anna, kau harus menjaga mama. Setelah semua urusanku disini selesai. Aku janji akan menyusul kalian." Nanar mata Elsa, ia merasa sangat sesak didadanya. Peluh keringat membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Elsa...?" Sam menggoyahkan kedua bahu istrinya. Tiba-tiba Elsa merasakan seluruh tubuhnya bergetar dan penuh dengan keringat dingin. "Sayang, kau tidak apa-apa?" Tanya Sama khawatir. Elsa menggelengkan kepalanya.


"Pergi kau dari sini!" Usir Sam.


"Kenapa? Ada masalah? Aku sudah peringatkan kepadamu baik kau dan Elsa ataupun Ad dan Ann, tidak akan mendapatkan informasi apapun. Sejauh apapun kau mencari. Kau tidak akan mendapatkan apapun." Balas Alex.


Elsa mendongak, menatap Alex dengan tajam. "Kejahatan tetap akan menjadi kejahatan. Kejahatan tidak akan pernah menang dari kebenaran. Kebenaran akan terungkap dengan caranya sendiri. Sepasang mata akan menjadi pedang untuk mengungkap kejahatan." Jelas Elsa. Sam menelan ludah, menatap Elsa dengan khawatir.


Seketika wajah Alex berubah. Ia membawa perempuan yang ada disampingnya. Kalimat itu terngiang ditelinga Alex. Sama persis yang pernah ia dengar seminggu yang lalu. Saat bersamaan menggertak Ad dengan Ann.


"Keluar!" Gertak Sam.


***


Sameer usia 18 tahun.


Seorang gadis remaja berusia 14 tahun telah ia culik dengan alasan bahwa ia adalah pelaku dari kematian orangtuanya. Sehari setelah penculikan, Sam berencana untuk membawa gadis itu ke kepolisian dan memenjarakan dia.


"Sam... Sam...?" Ad saudara kembarannya Sam menyeru dan bergegas menghampirinya. "Lu jangan gila ya. Lu pikir gue nggak tahu kalau lu nyembunyiin seseorang di kamar sana. Huh? Sam, jangan salah ambil langkah. Elu dan gue bisa jadi korban. Lu ngerti kan?" Sam menepis tangan Ad dari pundaknya.


"Ahhh... Tahu apa lu. Jangan pernah sentuh perempuan itu. Sedikit aja lu sentuh gue yang bakalan penjarain lu. Gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri. Minggir." Balas Sam.


Sam membuka pintu kamar. Sam disambut dengan seulas senyum dari bibir Elsa. Sirna sudah perasaan dendam yang pernah merekah di hati Sam.


"Makan...!" Sam memerintah. Elsa menghampiri lelaki jangkung itu, lalu meraih plastik yang membungkus sebuah nasi dan ayam.


"Untukku?" Tanya Elsa dengan mendongak ke arah Sam. Sam mengangguk.


"Lu pikir buat siapa?" Ketus Sam. Elsa mengangkat sebelah bahunya. Lalu ia membuka bungkusan nasi, dan segera melahapnya. Dalam suapan ketiga ia tak sengaja melihat Sam menelan ludah.


"Mau...?" Ucap Elsa.


"Enggak." Jawab Sam gengsi.


"Enak lho... Kak Sam yakin nggak mau? Nanti kurus lho..." Tukas Elsa sambil melahap makanannya.


"Aku nggak selera." Balas Sam.


"Kak Sam, aku tahu, rasanya sakit banget ditinggal kedua orang tua kita yang kita cintai. Tapi lebih sakit lagi kalau ternyata orang yang selama ini kita cintai dan kita hargai ternyata melakukan hal yang kejam. Bahkan lebih jahat dari iblis." Ujar Elsa. Sebulir air mata jatuh tak terasa. Ia bergegas menghapusnya. Sam menatap gadis remaja itu.


"Hal yang tidak ingin diketahui oleh seorang anak adalah ketika ternyata orang tuanya adalah seorang pembunuh." Kalimat itu terucap begitu saja. Sam menelan ludah ketika ia menatap lamat-lamat wajah Elsa. Wajah ayu-nya tiba-tiba menyihir deru hatinya yang amat dalam. Seketika perempuan itu memberi kesan yang berbeda dari sebuah ekspresi yang ia pancarkan.


***