
Brakkk... Prung... Elsa terkejut mendengar suara dibawah tangga. Ia bergegas ke bawah memastikan sesuatu.
"Aaarrrrggghhh." Suara ayah menggelegar. Elsa menghela nafas.
"Ayah...?" Gumam Elsa. Ia hendak menghampiri ayahnya, namun ia menahan diri karena ibunya juga ada di sana.
"Ada apa?" Tanya ibu.
"Sialan." Ketusnya.
"Ada apa? Apa yang sialan?" Ibu mengulang pertanyaannya.
"Adikmu."
"Erik? Kenapa dengan Erik."
"Dia menggagalkan kontrak kita dengan perusahaan besar dari Selandia baru. Dan dia juga yang melaporkan penggelapan dana kita kepada Presdir Harvest. Kau tahu siapa dia? Dia yang mempunyai perusahaan besar di Australia. Perusahaan kita akan menjadi besar jika bekerja sama dengan mereka. Tapi adikmu, si sialan itu menggagalkan rencanaku dengan Sunil." Jelas Gunawan ayahnya Elsa. Ranti menghembuskan nafasnya.
"Lalu kita harus apa?" Tanya Ranti.
"Aku tidak tahu. Aku yakin kita pasti bangkrut. Semua harga saham akan anjlok parah. Kita sedang masa krisis. Apa kau punya solusi?" Jawab Gunawan. Elsa menghembuskan nafasnya, pasti masalah perusahaan lagi. Elsa tidak mengerti apa yang diperbincangkan oleh kedua orangtuanya. Saat ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya tiba-tiba jawaban ibunya membuat ia terkejut.
"Bunuh dia." Katanya. Elsa menahan nafasnya, ia berhenti seketika. Matanya melirik ke arah kedua orangtuanya. "Kalau dia mati, semua warisan milik ayahku akan jatuh kepadaku. Dan perusahaan kita tidak akan pernah mengalami kerugian apapun." Gunawan juga terkejut dengan penjelasan istrinya. Tapi tatapan Ranti meyakinkannya.
"Hallo..." Begitu seru ayah ketika ponselnya berdering dan ia menempelkannya ke telinga kanannya. "Sunil? Ikuti perintahku. Kita masuk ke rencana B. Habisi mereka seperti yang sudah kita rencanakan sejak awal." Begitu lanjut ayah. Bak disambar petir, Elsa menutup mulutnya dengan tangan kanannya lalu menahan nafas sebentar. Matanya melotot, detak jantungnya hampir saja tak berdetak. Tak disangka ia akan mendengar kalimat itu terlontar dari ayahnya. Apakah selama ini ayah adalah seorang pembunuh? Begitu kata tanya yang menyelinap masuk ke dalam relung hatinya. Terlebih lagi ibu juga mendukung semua rencana ayah. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini? Elsa bergegas masuk ke dalam kamarnya. Buliran air mata mengalir tanpa henti. Dadanya tiba-tiba tercekat sesak.
Tanpa diduga ia memencet tombol telepon rumah.
"Halo Via...?" Seru Elsa saat sambung telepon terhubung.
"Yaa ada apa Elsa...?" Balas Via.
"Aku... Aku takut...." Suara Elsa bergetar. Sekujur tubuhnya terasa terbakar.
"Kenapa? Elsa kamu kenapa?" Suara Via juga bergetar. Ia takut terjadi sesuatu dengan Elsa.
"Aku... Aku ke rumahmu ya."
"Iya Elsa. Kamu kesini saja. Aku tunggu." Kata Via. Air matanya mengalir cepat. Jantungnya juga berpacu dengan sangat cepat. Kenapa tiba-tiba ayah dan ibu mau membunuh om Erik? Setega itu ayah dan ibu kepada om Erik. Elsa sangat takut saat itu. Ia mengambil kunci mobilnya, lalu bergegas pergi.
"Elsa...? Kau mau kemana?" Tanya ibu saat Elsa keluar kamarnya.
"Aa, aku mau ke rumah Via bu. A...ada buku yang tertinggal." Jawab Elsa.
"Tapi ini sudah malam Elsa."
"Buku itu penting bu. Hanya sebentar." Katanya. Akhirnya Ranti membiarkan Elsa pergi. Karena ia pikir Elsa benar-benar akan pergi ke rumah Via.
Elsa menginjak pedal gas, mobil melaju di jalanan. Perasaannya sudah tidak karuan, pikirannya melayang kemana-mana. "Bagaimana ini? Bagaimana kalau ayah benar-benar membunuh om Erik? Aku harus apa?" Elsa sangat bingung. Kalimat ibu terngiang ditelinganya. Sangat jelas sekali. Kalau ternyata ibu berniat untuk membunuh om Erik. Satu-satunya paman Elsa yang sangat baik. Penuh kasih dan perhatian. Tapi karena warisan, ibu tega membunuh adiknya sendiri. "Aku harus menelpon om Erik. Agar dia bisa berhati-hati." Pikirnya.
"Om ayo dong angkat." Karena panggilan keluar tidak terjawab, akhirnya Elsa memutuskan untuk menghubungi tante Dini. "Tante Dini. Iya, aku harus telepon tante Dini." Telepon terhubung ke istrinya om Erik. "Halo tante..."
"Tante... Om Erik ada dimana?" Tanya Elsa.
"Iya Elsa. Om Erik belum pulang. Katanya ada kepentingan mendadak dengan Sunil." Jawab Dini.
"Ddddimana...? Tante tahu kemana mereka pergi?"
"Emmmm katanya ke rumah barunya Sunil." Balas tante Dini.
"Ohhh iya tante. Makasih ya." Elsa memutar balikkan setir mobil. Menginjak pedal gas dan menancap kecepatan mobil dengan sangat cepat. Ia bergegas ke rumah om Sunil. Begitu sampai, Elsa memarkir mobilnya agak jauh dari rumah om Sunil. Lalu Elsa berjalan pelan menuju rumah yang baru saja dibangun dan ditata dengan rapi itu. Saat ia berusaha menyelinap masuk ke ruang tengah lewat pintu belakang. Elsa mendengar suara tembakan dari dalam rumah. Elsa berjalan pelan, lalu bersembunyi dibalik jendela. Remang-remang ia melihat kejadian yang sangat menakutkan didalam rumah Sunil. Suasana gelap, tapi Elsa dapat mengenali siapa saja yang ada didalam rumah itu.
"Sunil...?" Seru Pak Yanto. Sunil menoleh. "Celaka. Presdir Harvest ada diluar. Dia melihat kita menembak Erik."
"Sial..." Elsa juga menyadari ada sebuah mobil terparkir di depan rumah om Sunil.
"Ssst...." Dua orang pegawai kantor ayahnya Elsa menghampiri mereka.
"Bereskan dia." Kata Sunil.
"Baik pak." Pak Yanto dan Sunil segera menghampiri mereka.
"Sunil...? Keluar kau. Aku sudah menelpon polisi. Kau akan segera dikepung." Serunya.
Kemudian datang sebuah mobil polisi. Namun tidak membuat Sunil dan Yanto gentar. Ekspresi keduanya sangat tenang. Sementara Presdir Harvest itu dengan berkuasa meminta kedua polisi itu menangkap Sunil dan pak Yanto.
"Tangkap mereka!" Perintah Presdir. Tapi kedua polisi itu malah tertawa, begitu pun dengan Sunil dan Yanto.
Presdir memandangi mereka dengan takut. Mereka sudah bersekongkol.
"Pah..." Seorang wanita meraih tangan pria itu. Matanya memancarkan ketakutan yang sangat dalam. Elsa masih dalam posisinya. Ia dapat melihat kejadian itu sangat jelas.
"Kalian menipuku. Kalian akan dapat balasannya." Katanya. Sunil menembak ke sembarang arah.
"Kalau kalian ingin selamat. Pulang saja." Kata Sunil.
"Aaa..." Perempuan itu terlihat sangat ketakutan. "Kita pulang saja. Anggap kita tidak melihat apa-apa." Ujarnya.
"Tidak bisa mah. Mereka sudah membunuh Erik. Mereka harus dilaporkan ke polisi." Balas si Presdir.
"Tapi polisi juga bersekongkol dengan mereka. Kita tidak punya pilihan. Ayo, anak kita sedang menunggu kita." Ujar wanita itu. Elsa menutup mulutnya. Menahan untuk tidak bersuara.
"Halo pak. Bu Laura dan Pak Kris mengetahui semuanya. Sesuai dengan perintah bapak. Apa yang akan selanjutnya kita lakukan?" Tanya pak Yanto yang entah menelpon siapa. "Halo, pak, pak Gunawan, Anda di sana?" Elsa memejamkan kedua matanya. Takut ketahuan. Dan alangkah terkejutnya ia saat pak Yanto menyebut nama ayahnya. "Apa? Baik pak." Katanya. Lalu pak Yanto berbisik ke telinga Sunil. Tampaknya itu sebuah perintah. Sunil meregangkan tangan kanannya yang sedari tadi menodongkan pistol ke arah mereka.
Dan satu peluru menembus ke dada pria yang bernama Kris itu. Si wanita berteriak histeris, air mata yang ia tahan jatuh begitu saja. Suasana sangat mencekam. Wanita bernama Laura itu memeluk suaminya.
"Kalian sudah gila. Jangan harap kami akan bekerja sama dengan kalian. Ini sudah keterlaluan. Pah... Papa... Bangun pah." Melihat kejadian tersebut membuat Elsa panik bukan main. Dan tidak sengaja ia menyenggol pot bunga sehingga terjatuh ke lantai. Elsa bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Jantungnya berpacu dengan cepat, seluruh tubuhnya penuh keringat dan bergetar. Air matanya tak berhenti berjatuhan. Apakah perintah untuk membunuh mereka adalah perintah dari ayah? Batin Elsa. Rasanya sangat menyesakkan dada. Elsa tak percaya bahwa ayahnya begitu kejam.
Saat bersamaan, pak Yanto dengan salah seorang pegawai kantor membuntutinya. Elsa sangat ketakutan, sehingga kecelakaan itu terjadi begitu saja.
***
Elsa menginjak pedal gas dengan sangat cepat. Ia menyadari bahwa bawahannya om Sunil sedang membuntutinya. Berulang kali ia memutar mobilnya. Elsa berusaha mengatur nafas. Namun jantungnya berdegup sangat cepat. Matanya nanar berair tanpa terduga. Seluruh tubuhnya seperti terbakar. Elsa berusaha keras untuk kembali pulang ke rumah. Namun ia juga takut terhadap ayahnya. Semua kalimat Anna dan mama telah terekam didalam sistem limbiknya. Kini Elsa mengkhawatirkan dirinya sendiri. Sebuah mobil melaju lebih cepat darinya. Om Sunil menyeringai dengan ekspresi panas menyala. Elsa mengedipkan kedua matanya. Ia berusaha membanting setir ke kanan. Dan menabrak mobil yang mengejarnya. Elsa berusaha menginjak pedal rem. Namun seketika kakinya terasa sangat lemas. Ia bernafas berat.
"Mama...?" Elsa menabrak mobil yang sengaja diparkir 200 meter dihadapannya. Dan gludak gludak gludak... Mobil Elsa berguling berulang-ulang kali. Elsa menyalakan pengaman namun kakinya teramat lemas dan tak berdaya. Elsa masih dalam keadaan sadar ketika mobilnya berguling-guling. Ia sempat tak sadarkan diri.
"Elsa... Elsa... Kamu harus kuat. Bangun cepat. Mobilmu akan terbakar." Seketika Elsa melotot. Ia bergegas melepaskan sabuk pengaman. Dan keluar dengan memecahkan kaca mobil yang tinggal setengahnya. Bagian tubuhnya yang lain berdarah. Kepalanya terbentur dengan sangat keras. Elsa merasakan pusing yang amat hebat.
"Aaaarrrrgggghhhh." Elsa mendengar suara raungan seorang lelaki. Mobil yang Elsa tabrak tadi tergilas mobil aqua yang besar. Hingga menewaskan dua orang sekaligus. Elsa hampir tak sadarkan diri. Namun begitu melihat bayangan om Sunil. Ia bergegas bersembunyi dengan keadaan tertatih-tatih.
"Kau..." Tunjuk seorang lelaki tiba-tiba menghampiri dirinya. Elsa mendongak. "Kau yang menyebabkan orangtuaku mati. Kau harus bertanggungjawab." Lelaki yang memakai baju berwarna hijau itu menarik lengan Elsa.
"Bukan... Bukan aku." Tukas Elsa. Pelan-pelan pandangannya kabur. Lelaki itu masih menarik kerah baju Elsa. Lantas Elsa jatuh tak sadarkan diri.
***
Liputan kecelakaan berantai disiarkan di televisi di seluruh Indonesia. Elsa menahan luka batinnya. Seminggu pasca kecelakaan itu terjadi, Elsa mengurung dirinya di kamar. Ia tak berani keluar rumah. Apalagi berhadapan dengan para wartawan. Dan penangkapan om Sunil pun telah dilaporkan. Elsa hanya diam membisu. Stress dan depresi membius seluruh pikiran dan hatinya.
"Elsa, om Sunil ditangkap polisi." Kata ibu saat Elsa berbaring di sofa. Elsa mendongak melihat ibunya. Siapa yang telah melaporkan kasus tersebut? Kali ini Elsa sangat takut terhadap ibunya. Karena ternyata ayah dan ibu adalah dalang dibalik kejadian ini semuanya. Ia juga yakin bahwa ayah dan ibu telah mengetahui bahwa dirinya telah melihat semua kejadian itu.
***