
Sam mendapat panggilan masuk dari kakeknya. "Sam, jangan gegabah. Kalau kamu pergi ke Kanada, kamu tidak hanya akan membahayakan dirimu saja. Kamu akan membahayakan Elsa, membahayakan reputasimu sebagai calon CEO untuk dimasa depan. Sam kembali ke Jakarta. Ada yang harus kamu urus. Ayo Sam, kembalilah." Bujuk sang kakek. Kali ini Sam sangat keras kepala, sehingga kakek kewalahan dengan sikap Sam yang tidak biasanya.
"Elsa dan kamu sedang dalam bahaya. Jangan berlari terlalu jauh. Nanti kalau masalah sudah mereda, baru kamu boleh membawa Elsa ke Kanada." Lanjut kakek.
"Enggak kek. Maafkan aku. Kali ini aku mohon, kakek ada dipihakku. Aku ingin bersama Elsa." Balas Sam.
"Kakek tahu, kakek mengerti. Elsa sudah merencanakan banyak hal. Dan kakek rasa dia benar." Tukas kakek.
"Elsa? Dia merencanakan apa?" Tanya Sam dengan mengernyitkan dahinya. Sam menahan nafas sebentar. Telepon masih terhubung, Sam menatap Elsa yang sedang menonton televisi. Begitu Sam memutuskan sambungan telepon, ia mendekati Elsa. Membelai lembut rambut Elsa.
"Kamu kenapa..??" Tanya Elsa dengan heran. Sam menggelengkan kepalanya. Ia mencium ubun-ubun perempuan yang dia cintai itu.
***
Sesosok pria yang sangat Elsa kenal tengah menghampirinya ketika mereka berjalan di pantai. Beberapa pengawal pesuruh ayahnya telah memasang peluru di dalam pistolnya masing-masing.
"Sam...?" Elsa menggoyangkan lengan Sam. Sam menoleh ke belakang, ia terkejut melihat beberapa orang berpakaian hitam sedang menghampiri dan hendak menangkap mereka berdua.
Sam menggenggam tangan Elsa dengan erat, berlari secepat mereka bisa. Menyusuri setiap tempat dan terus berlari untuk menyelamatkan diri. Elsa menarik Sam bersembunyi disebuah gedung kantor. Tanpa pikir panjang mereka menaiki anak tangga dan tiba di atap gedung.
Terkejar. Tertangkap. Dua lawan 15 orang. Begitu hitungan Sam dan Elsa. Gunawan tiba dengan nafas ngos-ngosan. Ia berusaha mengatur nafasnya. "Elsa. Pulanglah." Bujuk Gunawan.
"Enggak. Aku nggak akan pulang." Timpal Elsa dengan nada yang tinggi.
"Ayah tahu. Ayah salah. Maafkan ayah. Ayah janji, ayah tidak akan menghalangi jalan kamu. Kamu boleh bersama Sam. Kamu boleh pergi kemana pun kamu mau. Dan Sam, ayah tidak akan melarangmu untuk berpacaran dengan Sam. Asalkan kamu pulang bersama ayah." Jelas Gunawan berusaha meyakinkan anaknya. Elsa menelan ludah. Ia berusaha untuk percaya dengan semua kalimat ayahnya. Sam mencengkram kuat pegangan tangannya.
"Ayah janji?" Tukas Elsa. Gunawan menganggukkan kepalanya.
"Lalu untuk apa ayah membawa anak buah ayah kesini?" Lanjut Elsa.
"Ayah ingin membawamu dan Sam keluar dari sini. Ayah hanya ingin mencarimu Elsa. Ayah sangat menyayangimu." Ujar Gunawan. Elsa melepaskan genggaman Sam.
"Elsa...? Elsa jangan...!" Sam menelan ludah mengingat apa yang kemarin yang telah dijelaskan oleh kakeknya.
"Elsa jangan!" Begitu Elsa mendekati ayahnya, sebuah suara setengah berbisik terdengar di daun telinganya.
"Bunuh dia." Elsa menyipitkan matanya ke arah kanan. Sebuah peluru akan meleset ke dadanya Sam. Jantung Elsa mendadak berpacu dengan sangat cepat. Ia membalikkan tubuhnya berlari dengan cepat ke arah Sam.
"Jangaaaaannnnnnn." Elsa memeluk Sam dan dorrrrr.... splossshh.... Deppppp.... Peluru menghujam ke punggung Elsa.
"Elsaaaaa....????" Jerit Gunawan.
Jantung Sam serasa tak berdetak. Pelukan Elsa amat lemah. Buliran air mata jatuh berderai di wajah Sam.
"Aaakkkkk... Els... Els... Nggak... Enggak Elsa.... El... ELSAAAAAA....." Sam memeluk erat tubuh Elsa. Ia bergegas membopong tubuh Elsa berlari menuruni anak tangga bersamaan dengan air mata yang menghujami dadanya. Elsa lemah tak berdaya, seluruh tubuhnya penuh dengan darah. Hati Sam hancur lebur bagaikan butiran debu.
"Jangan tinggalkan aku Elsa. Bangun Elsaa... Aku mohon bangun..."
Di situasi yang lain, Gunawan menghajar habis-habisan anak buahnya yang menembak putrinya. Ia marah, sejadi-jadinya. Tidak menerima jika yang dia tembak itu adalah putri kandungnya. Gunawan murka sehingga meminta anak buah yang lainnya untuk membunuh lelaki itu.
***
Canberra, Australia.
Sam terbangun dari tidurnya. Seketika ia terkejut dengan apa yang telah terjadi. Apakah terulang kembali? Sam mendapati dirinya bertelanjang dada. Tiba-tiba ia teringat kejadian 17 tahun yang lalu.
"Els... Elsa... Els...?" Seru Sam.
"Good morning..." Sapa Elsa di dapur. Sam menghembuskan nafas lega. Sam mendekatinya lalu memeluk Elsa dengan erat. Sementara Elsa merasa aneh dengan sikap Sam pagi ini. Padahal baru saja semalam mereka melakukan hubungan suami istri.
"Emmm... Apa kau mimpi buruk?" Selidik Elsa. Sam membelai lembut rambut Elsa. Mengecup bibir Elsa dengan mesra.
"Aku hanya..." Sam menelan ludah.
"Hanya... Mmmm... Khawatir." Lanjut Sam.
"Kepada siapa? Aku?" Tebak Elsa.
Sam memainkan rambut Elsa, serta merapikan rambut panjang istrinya itu.
"Menurut aku khawatir kepada siapa? Kalau bukan kepadamu, istriku." Balas Sam.
"Mm... Tumben. Sepagi ini kau mengkhawatirkanku. Apa kau mimpi buruk?" Selidik Elsa lagi. Sam menganggukkan kepala. "Mimpi apa?" Tanya Elsa penasaran.
"Kau tidak perlu tahu. Els, aku sangat mencintaimu." Jawab Sam. Elsa menatap lembut mata Sam yang teduh itu.
"Aku juga. Aku juga sangat mencintaimu." Balas Elsa. Sam menahan air mata yang hendak jatuh dikedua sudut matanya. "Kau menangis...?"
"Huh? Aku tidak menangis." Elak Sam.
"Matamu basah, Sam. Kau tidak bisa membohongiku." Ucap Elsa sambil menahan tawanya.
"Aku tidak menangis Elsa..." Sam terus mengelak tuduhan istrinya.
"Are you sure...?"
"Yes, I'm sure. But, I want you." Sam menarik tubuh Elsa untuk mendekat ditubuhnya.
"Apa...?"
"Kita lakukan sekali lagi. Yuk?" Ajak Sam. Elsa menelan ludah dengan heran.
"Melakukan apa?" Elsa mengangkat kedua alisnya. Pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya.
"Ohh ayolah. Aku sudah tidak tahan." Pinta Sam.
"Sam, kita sudah melakukan tadi malam dan itu juga sudah 2, ehh 3 kali malahan. Kamu nggak capek?" Pungkas Elsa. Sam menggelengkan kepala.
"Enggak. Aku malah lebih bersemangat pagi ini." Elsa tidak mampu menahan tawanya. "Ehhh malah ketawa lagi. Ayo..." Ajak Sam sembari membopong Elsa pergi ke kamar utama.
***
"Semuanya sudah selesai." Ucap Gunawan sembari menatap legamnya sang mega. Ia menelan ludah setelah kehilangan seluruh hartanya. Tak bersisa. Pada akhirnya semua harta yang ia miliki dengan cara yang tidak halal akan habis tak bersisa. Dan Gunawan menyadari semua kesalahan dan dosa yang pernah ia perbuat semasa hidupnya di masa lalu. Bahkan sampai membunuh banyak korban. Sekarang, hanya tinggal menunggu kematiannya. Gunawan menelan ludah. Masa tua yang tidak indah. Begitu gumamnya dalam hati. Ia teringat pada sebuah kebahagiaan di masa lalu. Saat bersama mantan istrinya Eliana. Dan saat Eliana melahirkan putri kembar identik yang sangat cantik. Persis seperti ibunya. Dan Gunawan sangat bahagia sekali. Untuk pertama dan terakhir kalinya, sebelum ia haus akan uang dan serakah dalam jabatan. Sebelum pak Sulaiman ayah Eliana memberikan posisi direktur utama kepada Gunawan. Dan sebelum Gunawan bertemu dengan Ranti. Ia masih merasakan indahnya cinta dan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun setelah Ranti menjadi sekretarisnya, semua berubah seketika.
Perselingkuhannya bersama Ranti diketahui oleh ayah mertuanya. Sehingga ia tak sengaja membunuh pak Sulaiman saat itu juga. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca, berulang kali ia menelan ludah karena takut ketahuan. "Jatuhkan ia ke atas gedung dengan begitu publik akan tahu bahwa Presdir perusahaan mati karena bunuh diri. Buat berita palsu mengenai tekanan batin yang ia alami sepanjang hidupnya. Dengan begitu kita akan aman." Usul Ranti.
"Kau yakin?" Tanya Gunawan ragu. Ranti menganggukkan kepalanya dengan yakin. Itulah awal mula Gunawan dan Ranti tega membunuh orang-orang di sekitarnya hanya untuk menguasai seluruh harta dan kekuasaan mereka. Serakah. Begitulah Gunawan. Penjara adalah tempat yang tepat dimana ia harus bertaubat. Usia Gunawan sudah tak lagi muda, sudah berkepala 6. Staminanya sudah tidak sebugar selagi ia muda.
"Nomor 1624, ada tamu yang datang." Kata seorang penjaga. Gunawan bergegas ke tempat biasa ia bertemu dengan istrinya Ranti. Gunawan terbelalak melihat siapa yang datang menemuinya.
"Eliana...?" Seru Gunawan. Wanita paruh baya itu tersenyum begitu mantan suaminya memanggil namanya. Masih dalam ingatan Gunawan, wajah cantik nan menawan milik Eliana. Bahkan Eliana lebih cantik daripada Ranti. Namun entah bagaimana dulu ia mengkhianati mantan istrinya itu.
"Lama tidak bertemu. Apa kabarmu mas?" Balas Eliana.
Gunawan menelan ludah, "baik." Jawab Gunawan pendek.
"Aku ke sini, untuk menyampaikan sesuatu kepadamu. Bahwa Anna akan menikah." Ujar Eliana.
"Anna? Dimana dia?" Anna muncul dibalik sebuah pintu dengan seseorang yang sangat Gunawan hafal. "Sameer?" Eliana mengernyitkan dahinya. Lelaki yang bersama Anna bukanlah Sameer.
"Aku bukan Sameer. Aku Adrian." Balas lelaki yang bernama Adrian. Seketika hati Gunawan runtuh. Pembalasan dendam yang sangat indah. Begitu gumamnya dalam hati. Dulu ia membunuh orang tua mereka. Sekarang, justru kedua anak kembar ini menikahi putri kembarnya. Setelah kedatangan Anna dan mantan istrinya, justru membuat Gunawan merasakan sesak yang amat dalam. Rasa bersalah yang tak pernah kunjung reda. Baik kepada Eliana, maupun kepada Anna dan Elsa.
"Maafkan ayah, ayah tidak bisa menghadiri acara pernikahanmu. Tapi ayah akan selalu merestui kalian. Anna, saat ini Elsa ada Canberra. Dia sudah menikah dengan Sameer saudaranya Adrian. Ayah harap, pertemukan sekali saja Elsa dengan ibumu. Ayah mohon. Dulu, saat ayah dan ibu tirimu mencari aset perusahaan. Elsa telah menjualnya kepada keluarganya Sameer dan Adrian. Dia telah menyelamatkanmu dan ibumu. Tapi, ayah telah berbuat jahat kepada Elsa. Kami memberikan obat dan mendoktrin ingatan Elsa untuk tidak mengingat semuanya. Ayah tidak tahu, apakah sekarang Elsa sudah pulih dari ingatannya atau tidak. Tapi, ayah rela menukarkan ingatan Elsa dengan nyawa ayah sendiri."
***