
"Dia tidak memikirkan kebahagiaan nya sendiri. Bagaimana bisa dia tumbuh menjadi sangat dewasa? Elsa, bagaimana jika setelah kita menikah nanti, kau malah membenciku? Bagaimana kalau ternyata aku bukan pria yang tepat untukmu? Bagaimana jika nanti kau bertemu dengan pria yang lebih baik dariku? Tuhan, ini tidak hanya rumit bagi Elsa. Tapi bagiku juga. Ada begitu banyak rahasia yang sebenarnya terjadi diantara aku dengannya. Kalau dia ingat, dia akan membenciku. Kalau dia tahu, dia tidak akan memaafkanku. Kakek tetap merahasiakan kisahnya dari keluarga Elsa. Begitupun dengan rahasia besar yang akan membuat Elsa patah hati berkali-kali. Aku begitu takut menghadapinya. Tapi, demi kakek, aku akan mencoba melangkah bersama Elsa." Batin Sam sambil memandangi sebuah foto.
"Sam...?" Seru kakeknya. Sam menoleh. "Apa yang kau pikirkan, nak?" Tanya Dani menghampiri.
Sam menggelengkan kepala. Lalu menghela nafas panjang. "Dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia hanya ingin orangtuanya bahagia. Apakah kita tega merenggut kebahagiaannya?" Tukas Sam.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" Dani mengernyitkan dahinya.
"Setelah kakek menceritakan rahasia besar mengenai keluarga Elsa, aku pikir, kita sudah terlalu jahat." Pikir Sam.
"Tidak..." Pak Dani menggelengkan kepala, "bukan kita yang jahat, tapi mereka. Kita hanya mengambil apa yang telah menjadi hak kita. Sam, maafkan kakek karena harus melibatkanmu." Jelas pak Dani.
"Sebelum akhirnya aku tahu tentang ini. Aku juga telah melakukan kesalahan di masa lalu kepada Elsa." Balas Sam. Pak Dani mengernyitkan dahinya. Sementara Sam memandang kakeknya dengan tajam. Sejujurnya, Sam tidak ingin melanjutkan perjodohan ini. Elsa akan sangat menderita jika mengetahui semua rahasianya. Tapi, disisi lain, Sam ingin menebus dosanya. Kata kakek, semuanya akan berakhir ketika kelak Elsa mengetahui segalanya. Maka lanjutkanlah sebagaimana mestinya.
...***...
Adalah besok hari dimana Elsa menikah. Masih dalam lamunannya, dalam perasaannya yang begitu dasar, Elsa berkata pada diri sendiri. Pernikahanku bukan harapanku. Aku tidak pernah menyangka pada akhirnya jalan hidupku harus begini. Aku tidak pernah berharap untuk menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai. Ini keputusanku, ini jalanku, bagaimana pun esok, tetap akan menjadi hari bersejarah untukku. Lamunannya buyar saat Ranti menyeru namanya, "Elsa...?" Pintu diketuk lalu dibuka oleh Ranti.
"Yaaahhh." Balasnya. Ibu duduk disamping Elsa, mengelus pundak Elsa. Menatap putrinya lamat-lamat, terbendung air mata diwajah ibu. Tapi ia menahannya, begitu pun dengan Elsa. Tampaknya ibu mengkhawatirkan putrinya. Pernikahan karena dijodohkan, tanpa cinta, bahkan mengenalnya pun tidak. Apakah ia akan bahagia? Apakah putrinya akan dicintai? Begitu perasaan sang ibu terhadap putrinya. Sebuah perasaan tulus terselip didalam hati Ranti. Ibumu, pasti akan bahagia.
"Kau bisa menolak jika kau tak mau nak." Lirih ibu. Elsa mengernyitkan dahinya. "Maafkan keegoisan ibu dan ayah. Tapi kau berhak bahagia, kau berhak menolak, Elsa." Lanjut ibunya.
Elsa menggelengkan kepala, "ini sudah menjadi keputusan Elsa, bu. Ibu tidak perlu khawatir. Kak Sameer itu dulunya pernah dekat sama Elsa. Jadi sedikit-dikit, Elsa tahu kepribadiannya. Toh dia juga atasan Elsa." Balas Elsa.
"Tapi bagaimana dengan Indra? Bukankah kau sudah lama pacaran dengan nak Indra?" Tanya ibu. Elsa menghembuskan nafasnya. Ia sudah melupakan lelaki bajingan itu. Ia muak mengingat dan mengungkit kejadian yang memalukan itu.
"Apa ibu tidak tahu kalau Indra sudah meninggal?" Kata Elsa.
"Kau bahagia?" Tanya Ibu sembari mengelus rambut Elsa. Elsa menatap ibunya lamat-lamat. Elsa paham perasaan itu. Elsa balas menyentuh punggung tangan ibunya.
"Apakah ibu bahagia?" Elsa balik bertanya. Ibu mengangguk pelan, lalu memeluk putri sulungnya. "Kalau ibu bahagia, Elsa juga bahagia. Sangat." Balas Elsa. Baginya, kebahagiaan ibu, ayah dan kedua adiknya adalah yang terpenting dan utama. Tidak ada lagi yang ia inginkan kecuali kebahagiaan mereka. Tak peduli ia harus menderita, asalkan kedua orangtuanya bahagia, ia akan ikut bahagia pula. Elsa tahu apa konsekuensinya bila menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya pun tidak ia cintai. Lambat laun, mungkin pernikahannya hanya sebuah status. Bahkan mungkin hal terburuknya adalah perceraian. Elsa memejamkan kedua matanya, setelah ibunya keluar dari kamarnya.
Ranti menangis sendirian di kamarnya. Mengunci pintu. Takut Risa dan Asya masuk ke dalam. 25 tahun yang lalu. Ketika Ranti masih haus akan harta dan merebut suami sahabatnya sendiri. Ketika Gunawan berhasil ia pikat dengan tubuhnya yang seksi. Merebut semua harta kekayaan milik Eliana. Sahabat karibnya sejak SMA. Perusahaan, rumah mewah, bahkan suami Eliana pun berhasil ia miliki dalam waktu bersamaan. Menendang Eliana keluar dengan kejam. Saat itu Eliana sedang mengandung. Belum cukup mengambil seluruh harta dan suaminya, Ranti dengan kejam memisahkan Eliana dengan kedua anaknya. Yang satu di kirim ke panti asuhan. Dan satu lagi diambil olehnya dan Gunawan yaitu Elsa. Saudara kembar itu harus terpisah dengan ibu kandungnya.
Ranti memperlakukan Elsa dengan kejam. Saat usia remaja, Elsa mengetahui bahwa ia mempunyai saudara kembar. Elsa juga telah menemukan keberadaan ibu kandungnya. Namun tragedi mengenaskan itu menimpa Elsa. Ranti sengaja membuat Elsa menderita, dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Meminta dokter ahli jiwa untuk menyuntikan cairan insulin ke dalam tubuh Elsa. Membeli obat represi hilang ingatan di Korea. Dan membuat Elsa menjadi hilang ingatan. Namun tanpa sadar, Ranti kehilangan satu persatu harta yang pernah ia curi dari Eliana. Hukum karma yang terjadi di dunia ini telah berlaku. Perusahaan yang dikelola perlahan menurun dan bangkrut. Para karyawan demo besar-besaran karena terlambat mendapatkan upah. Barang-barang habis dijual untuk melunasi hutang kepada para investor. Gunawan pun dijebloskan ke penjara. Adik yang pernah ia percayai membawa kabur seluruh uangnya. Tangan kanannya meninggal karena over dosis. Kesehatannya pun menurun. Saat ia dioperasi usus buntu. Dokter menemukan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Kanker otak telah menjalar ke seluruh syarafnya. Ia sudah kehabisan uang. Dan dengan kejam ia memperalat Elsa untuk menghasilkan uang lebih banyak. Padahal Elsa sudah sangat baik membantunya. Bohong bila ia tidak tahu kalau Indra sudah meninggal.
"Aku sudah bilang untuk berhenti memerasku. Kau sudah mendapatkannya dari Elsa." Ujar Ranti. Mengingat kembali masa dimana ia meminta Indra untuk menjual Elsa kepada duda kaya atau siapa saja yang mau membeli Elsa dengan harga yang sangat tinggi. Hasilnya akan dibagi dua dengan Indra.
"Heh elu yang duluan minta gue buat ngehancurin masa depan Elsa. Gue tahu lu takut kalau Elsa ingat sama masa lalunya dan dia ngelaporin elu ke polisi. Gue cuma minta hasil dari yang udah gue perbuat sama Elsa. Itu doang. Masa duit 2 juta aja elu nggak punya sih. Parah. Parah banget." Balas Indra.
"Okey okey. Aku akan minta kepada Elsa." Kata Ranti. Akhirnya ia membohongi Elsa dengan mengatakan bahwa adik-adiknya perlu biaya tambahan di sekolahnya. Tidak lama kemudian Elsa mentransfer sejumlah uang yang diinginkan ibunya.
"Gitu dong. Gue jadi penasaran gimana kalau Elsa tahu kalau ibunya ini yang meminta gue buat ngejual anaknya." Dengus Indra jahat. Ranti tersulut emosi.
"Kalau kamu sampai bilang. Maka kamu dan keluargamu aku bunuh." Kata Ranti. Indra menoleh ke arah Ranti. Lalu mendorong Ranti hingga terdesak ke dinding.
"Kalau lu sampai menyentuh orang tua gue. Maka yang gue bunuh duluan adalah elu." Balas Indra.
Dan kematian Indra merupakan penyelamat dirinya. Ranti mengelus dada. Ia sudah terlampau jahat. Sudah sangat jahat.
"Apa yang harus ibu lakukan...? Tolong maafkan ibu Elsa. Ibu mohon..." Rintihnya.
***