
"Sam...? Aku masih kepikiran dengan perkataan professor Amanda deh." Ucap Elsa disela-sela makan malamnya bersama Sam. Seketika Sam berhenti mengunyah. Ia menatap Elsa dengan lembut. Menghembuskan nafas dengan pelan. Sam berusaha menerka apa yang akan diucapkan oleh Elsa selanjutnya.
"Ucapan yang mana?" Selidik Sam dengan menyipitkan kedua matanya.
"Hemmm.. Yang beliau bilang kalau beliau pernah lihat kita di Kanada? Aneh kan? Kita kan belum pernah ke Kanada. Apa mungkin professor Amanda salah orang gitu." Jelas Elsa. Sam menahan nafasnya, lalu menyendok makanannya.
"Bisa jadi." Jawab Sam pendek.
"Sam...? Kamu percaya nggak kalau di dunia ini kita punya 7 kembaran?" Kata Elsa.
Sam menggenggam tangan Elsa. Menatapnya lamat-lamat. "Sa...? Habiskan dulu makanan kamu nanti keburu dingin." Balas Sam. Elsa mengangguk.
Cerita ini sampai kapan akan dirahasiakan, Sameer? Batin Sam pada dirinya sendiri. Ia menghembuskan nafasnya. Malam itu, Sam mengendap-endap pergi ke ruangan rahasia. Tempat dimana semua foto dan lukisan seorang perempuan dipajang dengan sangat rapi. Sam duduk di sebuah sofa. Mengingat semua peristiwa beberapa waktu silam. Menutup kedua mata sambil memutar kembali kenangan yang sangat dan teramat sakit bagi dirinya. Sebelum papa dan mama pergi untuk selamanya.
"Sam...?" Seru Ad dengan sumringah. Ia mengenakan jam tangan di tangan kiri kembarannya. "Pakai ini. Sebelum gue berangkat ke Kanada bareng mama." Lanjut Ad. Sam hanya terdiam sambil melihat jam tangan melingkar di tangan kirinya.
"Biar apa ini?" Tanya Sam.
"Biar cewek yang kita suka nggak ke tuker mana yang namanya Sameer dan mana yang namanya Adrian." Gelak Ad.
"Gimana kalau ternyata cewek yang kita suka punya wajah yang sama?" Ujar Sam. Adrian memperlihatkan sederet gigi putihnya.
"Berarti dia harus punya kembaran. Biar nggak ketuker. Hhehe..." Balas Ad diiringi dengan tawa kecil dibibirnya.
"Ad...?" Seru Sam. Adrian menoleh, "tawaran papa mengenai perusahaan yang di Australia biar kamu saja. Aku nggak minat." Lanjut Sam. Adrian menggelengkan kepalanya.
"Enggak Sam. Gue nggak pernah ngerti. Lu kan tahu sendiri gue sukanya apa? Lagian gue mau kerja sesuai dengan bidang gue sendiri. Dan lu, gue yakin lu bisa jadi penerus papa." Jelas Ad.
"Papa kan punya dua perusahaan. Gimana gue bisa mengelola ini semua kalau nggak ada lu." Tukas Sam.
"Gue yakin, lu pasti punya solusi yang terbaik." Balas Ad.
Senyum merekah yang ada dibibir Ad seketika berubah ketika mama dan papa meninggal karena sebuah kecelakaan. Namun yang lebih terkejut hasil otopsi mengatakan bahwa kedua orang tuanya Sam dan Ad bukan meninggal karena kecelakaan namun karena pembunuhan. Pada saat itu Sam dan Ad berencana untuk membalas dendam. Namun tanpa diduga Sam menculik Elsa seorang diri tanpa bantuan Ad.
"Ad...?" Malam itu hujan sangat deras. Kakek tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Petir menyambar silih menggelegar. "Adrian... Sameer...?" Seru kakek dengan nada suara bergetar.
"Kakek? Kenapa malam-malam kesini?" Tanya Ad khawatir.
"Dimana kakakmu?" Kakek celingukan mencari Sam.
"Aku tidak tahu."
"Ad... Segera pergi dari sini. Kita sedang tidak aman." Ujar kakek.
"Kenapa?" Ad dengan bingung bertanya kembali kepada kakeknya.
"Dimana kakakmu? Kalian harus segera pergi dari sini. Dari Indonesia. Pergi sejauh mungkin sampai orang lain tidak bisa menemukanmu." Balas kakek tanpa menjelaskan secara detil.
"Sam... Dia ada di rumah yang dulu kita tempati." Balas Ad.
"Cepat hubungi dia."
"Anaknya Gunawan diculik dan dia menuduh kita yang melakukan penculikan. Mereka sedang mencari kalian. Kalau kalian menjadi salah satu tersangka perusahaan akan kehilangan nilai jual. Inflasi akan turun drastis. Perusahaan kita akan terkena blokir dari investor yang lain." Jelas kakek secara terperinci.
"Maksud kakek? Perusahaan akan bangkrut?" Kakek mengangguk. "Dimana kakakmu? Hubungi dia." Nada suara kakek meninggi.
"Kek, apakah sudah terlambat atau belum?" Tanya Adrian.
"Apanya yang terlambat?"
"Sam, dia yang menculik seorang gadis remaja. Dan menyekapnya di rumah kita yang dulu." Balas Ad. Ekspresi kakek berubah secara drastis. Matanya hampir saja keluar. Seluruh urat-urat diwajahnya menegang.
"Ad, kakek sudah menyiapkan semua perlengkapanmu di Air Port. Sekarang cepat berangkat ke Air Port. Bergegas pergi dari Indonesia. Di sana sudah ada om Bagas yang sedang menunggumu." Tutur kakek.
"Bagaimana dengan Sam?" Tanya Ad khawatir.
"Kakek akan mengurusnya. Cepat sekarang pergi dengan sopir." Ad menatap wajah kakeknya. Khawatir akan terjadi sesuatu dengan kakek dan juga Sam kakaknya.
"Sam juga pasti akan menyuruhmu untuk pergi. Dia juga pasti ingin menyelamatkanmu. Maka cepatlah pergi sekarang sebelum semuanya terlambat. Pergi Ad...!" Perintah kakek. Ad menelan ludah. Kakek menempelkan ponselnya di telinga kanan.
"Pastikan Adrian selamat sampai di Kanada. Aku tidak mau cucuku bahaya. Setidaknya Adrian tidak terluka sedikit pun. Sam? Dia yang menculik Elsa. Iya aku tahu. Eliana dan Anna kembaran Elsa sudah aman. Akan aku pastikan keduanya selamat. Aku titip Adrian. Kupercayakan dia padamu." Sayup-sayup angin menelisik perih ke dalam dada remaja berusia 18 tahun itu. Itu artinya Sam sedang dalam bahaya. Sebulir air mata jatuh tak terasa. Ingin rasanya bertanya pada kakek, apa yang akan terjadi pada Sam jika ia pergi? Lalu apa hubungannya dengan perempuan bernama Elsa itu? Separah apa bahaya yang akan mereka hadapi nanti? Ad menangis, hatinya terasa ditinju oleh ratusan bola api. Membayangkan nasib Sam ke depannya bagaimana? Dan perempuan itu, sebenarnya dia siapa?
***
Apakah sudah saatnya untuk mengatakan cerita yang sesungguhnya kepada Elsa? Namun bagaimana hati Elsa jika mengetahui semua kebenaran yang selama ini aku sembunyikan? Kalau ternyata selama ini aku-lah yang telah menjebloskan ayahnya ke penjara. Aku-lah yang sudah menarik uang yang telah disalahgunakan oleh ayahnya Elsa. Namun jika Elsa masih tidak mengingat masa lalunya, resikonya adalah dia akan menggugatku. Aku tahu betul bagaimana karakter Elsa. Kanada? Setahuku, Adrian jatuh cinta pada Anna. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Dari cerita Adrian, Anna menjalin cinta dengan seorang lelaki lain. Nasib saudara kembar yang sama. Maafkan aku, Ad. Tapi sepertinya kita harus bertemu. Untuk mengingatkan kembali memori Elsa yang hilang.
Sam memencet tombol angka, menghubungkan saluran telepon ke negara Kanada. "Hai Ad...? Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik. Bagaimana denganmu?" Adrian balik bertanya.
"Menurutmu? Bagaimana keadaan Anna?" Sam menelan ludah dengan khawatir.
"Sam..?"
"Yahhh..."
"Aku rasa, kita harus mempertemukan mereka. Bu Eliana sedang sakit. Dia ingin bertemu dengan Elsa." Ujar Adrian kali ini Adrian yang menelan ludah.
"Aku rasa juga begitu. Elsa... Dia sudah mulai mencurigai banyak hal." Balas Sam.
"Kau...? Kau tidak apa-apa?" Tanya Ad khawatir dengan keadaan kembarannya. Sam menghembuskan nafas dengan berat.
"Bagaimana aku akan mengatakan baik-baik saja jika Elsa masih belum bisa mengingatku. Aku khawatir dia akan membenciku setelah mengetahui kebenaran bahwa aku yang sudah menjebloskan ayahnya ke dalam penjara karena kejahatannya di masa lalu yang telah membunuh kedua orang tua kita. Dalang dari semua kejahatan yang ada di muka bumi ini adalah pak Gunawan. Dan aku menggunakan Elsa sebagai saksi. Namun hingga saat ini ingatan Elsa benar-benar berhenti. Aku takut, Elsa justru membenciku dan mengakhiri pernikahan ini." Tutur Sam.
"Tapi aku yakin dia juga pasti mencintaimu." Balas Ad. Sam menghembuskan nafasnya.
"Bagaimana dengan Anna...?" Tanya Sam. Diujung telepon sana Ad menghembuskan nafas. Suara batuk Elsa mengejutkan Sam. Ia bergegas menutup sambungan seluler dan kembali ke kamar tidur. Mengusap dahi Elsa dengan lembut, lalu mengecupnya.
***