The Secret Story

The Secret Story
Episode Tiga puluh empat



Elsa merasakan seluruh tubuhnya terasa lemah dan tak berdaya. Ia berusaha berteriak, namun bibirnya kelu. Ia tidak bisa bersuara. Jantungnya selalu berdetak sangat cepat. Ia selalu merasakan kesedihan yang sangat dalam. Namun entah bagaimana memory-nya hilang begitu saja. Semua orang hanya membicarakan kebahagiaan dan penghargaan yang pernah Elsa raih. Ibu dan ayah lebih fokus memperhatikan Elsa. Mereka juga memberikan fasilitas yang bagus untuk Elsa, dari mulai mobil baru, tas, perhiasan dan perlengkapan lainnya untuk membahagiakan Elsa. Tiba-tiba kenangan pertemuan pertama dengan Sam muncul. Mereka terlambat, Niken dan Elsa dihukum oleh kakak seniornya yang tak lain adalah Sam. 


"Jongkok!" Perintah Sam. 


"Iya kak." Ucap Elsa pelan. 


"Sekarang skotjam sebanyak 30 kali!" Tukas Sam meninggikan suaranya.


"Hah? Nggak salah kak? Aku kan cewek." Bantah Elsa.


Sam mendekati Elsa, wajahnya tepat satu inci dari pandangan Elsa. "Kata siapa lu cowok? Lha body kayak gini emang lu cewek kan. Kenapa? Keberatan?" 


"Eee... kan capek kak. Ganti aja deh hukumannya yang lain." Tawar Elsa. 


"Ehh nih anak pake acara tawar menawar lagi." Timpal Sam. 


"Ehhh Niken... Ken... Niken. Kak sebentar ya, Niken tuh fobia sama cowok. Kasian dia kalau dikelilingi banyak cowok. Ntar fobianya kumat lagi." Elsa mengernyitkan dahinya, mengkhawatirkan Niken yang sedang di kerumuni laki-laki. 


"Ehhh.. enak aja. Lu tetep disini. Awas lu kalau kabur." 


"Aku nggak akan kabur. Aku cuma mau nolongin dulu Niken. Dia itu sahabat aku." Balas Elsa. 


"Bukan urusan gue." Ucap Sam dengan acuh. 


"Ihhh jahat banget sih jadi orang. Kakak kalau marah-marah terus nggak akan laku lho." Ketus Elsa sekenanya. Sam menodongkan penggaris ke dagunya Elsa. 


"Enak aja lu kata. Okey. Kalau gitu hukumannya, jalan jongkok sampai fakultas itu tuh. Terus lu bilang "Aku akan mencintai kak Sam dan akan menjadi istrinya." Jangan berhenti. Kalau berhenti ngulang lagi dari awal." Ujar Sam mengerjai juniornya. 


Elsa mengernyitkan dahinya, ia merasa keberatan dengan kalimat itu. "Ihhh..."


"Kalau nggak mau, gue ***** lu." Ancam Sam. 


"Ehhh iya iya. Galak amat sih." Umpat Elsa. Dengan cemberut dan dalam keadaan terpaksa, Elsa menuruti perintah kakak seniornya itu. Ia menarik nafas sebentar, lalu jongkok dan mulai bersuara, "Aku akan mencintai kak Sam dan akan menjadi istrinya. Aku akan mencintai kak Sam dan akan menjadi istrinya...." Terus sampai ia tiba di fakultas yang ditentukan oleh Sam. Semua orang memandanginya dan menertawakannya. Tiba-tiba suara jam beker berbunyi dengan sangat nyaring, dan berhasil membangunkan Elsa dari tidurnya. Elsa menggeliat malas, ia sudah tidak mendapati Sam di tempat tidurnya. Ia lantas mengucek matanya. Merapikan rambutnya.


"Sam...?" Seru Elsa.


"Good morning my princess..." Sapa Sam di bilik dapur.


"Kamu lagi apa?" Elsa menghampiri.


"Membuatkan sarapan untukmu. Kemarin kamu sudah lelah bekerja untukku. Sekarang giliran aku yang memanjakan istriku tercinta." Ucap Sam.


"Tumben." Ketus Elsa. Sam menyendok omelet yang baru saja matang dari atas wajan. Elsa mengunyah. "Mmmm... Enak." Puji Elsa.


"Enak?" Tanya Sam tak percaya.


"Kemarin kita telat ke kantor. Sekarang jangan sampai telat lagi. Dan kita harus segera menjawab tawaran dari Admeca Food itu lho. Mereka pasti menunggu jawaban kita. Aku rasa, tidak ada salahnya kita investasi ke perusahaan makanan yang baru saja berkembang." Ujar Elsa.


Sam melirik Elsa. Dia tidak tahu siapa pemilik Admeca Food itu. Sam ingin mewujudkan impian Elsa tempo dulu. Ia menghembuskan nafas sebentar.


Lalu memeluk Elsa dari belakang. "Sayang..." Bisik Sam.


"Hemm..."


"Aku setuju apa yang kamu usulkan itu. Untuk memastikan perusahaan mereka, bagaimana kalau kita ke Kanada saja. Sambil kita honeymoon." Usul Sam.


Elsa sambil mengunyah makanannya mengangguk setuju.


"Kemana?" Elsa menoleh.


"Kanada."


"Eee sebenarnya sih aku pengen banget honeymoon ke Paris. Sambil lihat menara eiffel gitu. Orang bilang, Paris adalah kota paling romantis." Tutur Elsa.


"Emmm... Iya. Aku tahu. Tapi, aku ingin kau mewujudkan satu impianku." Balas Sam. Elsa melepaskan pelukan Sam, ia berdiri tepat dihadapan suaminya.


"Apa? Apapun impianmu, aku akan selalu ada disana." Pungkas Elsa. Sam tersenyum lega.


"So, besok kita ke Kanada. Mewujudkan salah satu impianku." Elsa mengangguk.


"Enggg.. Ya. Besok kita ke sana."


Di kantor Sam mengirim email kepada Adrian. Bercerita kepada saudara kembarnya bahwa ia akan berangkat ke Kanada besok pagi dengan istrinya. Tak lama kemudian Adrian membalas email saudaranya.


Kami akan menunggu kehadiran kalian di sini. Dihari penting yang akan selalu menjadi kebahagiaanku dan Anna. Saudari kembar Elsa yang pernah kau sebut-sebut waktu dulu. Dia cantik. Sama seperti Elsa. Aku menyukainya karena dia sama sepertiku. Awalnya kami sering bertengkar. Tapi entah bagaimana, kami saling menyukai. Saling mencintai. Dan aku akan melamarnya. Kakek juga akan datang.


Adrian


Membaca balasan dari Adrian, Sam sangat terharu. Sebenarnya impian yang ia maksud adalah impian Elsa saat masih SMP. Impian untuk bertemu ibu kandungnya dan juga saudari kembarnya. Sam tahu banyak soal cerita Elsa selagi remaja. Sebab ia selalu ada didalam cerita Elsa.


***


"Kita hanya akan ke Ottawa saja?" Ucap Elsa kepada Sam. Sam menoleh.


"Emmm... Menurutmu bagaimana?" Balas Sam.


"Masa cuma ketemu sama klien doang sih. Katanya mau honeymoon." Elsa cemberut lalu menyilangkan kedua tangannya ke dada.


"Tenang dong sayang. Aku punya kejutan yang lain untuk kamu." Balas Sam.


"Apa?"


"Rahasia dong."


"Ihhh main rahasia-rahasiaan. Nyebelin ihhh." Gerutu Elsa.


Sam tersenyum memandangi Elsa yang cemberut. Ia mengusap pipi Elsa. Lalu mencubitnya.


"Dihhh ngambek."


"Tahu ah nyebelin." Elsa memalingkan wajahnya.


"Sayang, sini dulu. Elsa, lihat mataku dulu." Elsa menoleh. "Aku harap setelah kita ke kanada, kau akan bahagia. Dan aku berharap kau akan mengingat sesuatu di sana." Ujar Sam.


Elsa mengedipkan kedua matanya. Apa maksud Sam untuk mengingat sesuatu? Yang ia sadari saat ini, bahwa Sam pernah menjadi masa lalunya. Namun kenangan itu tak cukup sampai di sana. Elsa masih belum menyadari bahwa Sam adalah lelaki yang pernah menculiknya. Adalah lelaki yang pernah ia cintai saat ia masih remaja.


***


Airport Ottawa Macdonald-Cartier.


Elsa dan Sam tiba di Ottawa. Sam menggenggam tangan kanan Elsa. Mereka berjalan menuju penjemputan. Sebuah tangan melambai ke arah mereka. "Adrian dan calon istrinya. Mereka menjemput kita." Bisik Sam. Elsa tersenyum bahagia.


"Hallo Ad, long time no see..." Sapa Elsa. Adrian termenung sejenak.


"Dia sudah ingat?" Tanya Ad kepada Sam. Sam menggelengkan kepala sembari tersenyum.


"Mana calon istrimu?" Ujar Elsa.


"Ohhh itu dia. Sayang...?" Balas Ad. Raut wajah Elsa berubah seketika. Sebuah ingatan muncul seketika.


"Kamu harus ikut, Elsa..."


"No... I can't Ann... Please... Pergi saja sama mama ke Kanada. Its okay.. I'll be fine okay." Ucap Elsa.


"Elsa...? Kamu dalam bahaya. Please Elsa." Anna tidak melepaskan cengkeramannya.


Lagi-lagi Elsa menggelengkan kepala, dan berusaha melepaskan tangannya Anna. "Look, whatever happened. I'll be okay. Kamu dan mama, gotta leave soon. Don't worry, setelah semuanya selesai, aku akan mencarimu di Kanada. Aku akan bersama kalian. I swear." Ujar Elsa saat ia mencoba melindungi adik dan ibunya.


"Promise me, Elsa. You have to back, okay? For me." Berlinang air mata di wajah Anna.


"I promise." Balas Elsa. Anna memeluk Elsa dengan erat.


"Elsa... Anna... Ayo sayang. Ayo kita pergi bersama." Tukas Eliana.


"Cepat pergi Anna... Cepat bawa pergi mama dari sini." Elsa menghapus pipinya yang basah.


"Elsa ayo ikut bersama kita." Eliana menggenggam erat tanganku Elsa.


"Mama, please. Nanti aku akan menyusul kalian." Sebulir air mata jatuh ke pipi Elsa.


"Enggak Elsa." Anna menarik lengan mama. Sementara pesawat akan segera take off. "Anna... Kita tidak bisa membiarkan Elsa disini sendirian."


"Mah, dengarkan Elsa. Elsa akan baik-baik saja. Elsa janji, Elsa akan selalu sehat dan bahagia. Mama juga harus berjanji kepada Elsa bahwa mama akan sehat dan bahagia. Nanti Elsa akan menyusul mama jika semua urusan disini sudah selesai." Jelas Elsa. Eliana memeluk putrinya. Menciumi kedua pipi Elsa dengan berat.


"Kamu janji ya?" Elsa mengangguk meyakinkan Anna dan mama.


"Ya, Elsa janji." Anna dan Eliana pergi menjauh dari hadapan Elsa.


"Go away..." Terima Elsa. Nanar mata Elsa, kesedihan yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.


Sebuah wajah yang sangat mirip dengannya, kembali mengingatkan kenangan itu. Seketika mata Elsa basah. Dadanya bergetar, jantungnya berpacu dengan cepat. Sekujur tubuhnya tiba-tiba dingin. Elsa tak kuasa menahan perasaan yang sangat mengusik jiwanya.


"Anna...?" Lirih Elsa. Perempuan berambut panjang nan cokelat itu mengangguk.


"Elsa..." Kedua adik kakak itu berhambur berpelukan.


***