The Secret Story

The Secret Story
Episode Tiga Puluh Tujuh



Eliana merasa bahagia ketika ia bisa memeluk kembali kedua putrinya. Elsa dan Anna. Elsa menatap wajah pucat mamanya. Menurut penuturan Anna, mama sudah satu bulan terbaring di kasur. Makan, minum dan bahkan buang air besar dan kecil pun di atas kasur. Sudah separah itu mama sekarang. Sehingga Anna harus membayar perawat untuk membantu sehari-hari. Keinginan terakhir mama sudah terpenuhi yaitu bertemu dengan Elsa. Saat itu Elsa dan Sam memutuskan bahwa ia akan tinggal di Kanada selama beberapa hari atau bahkan minggu. Atau entah sampai kapan, untuk mengurus mamanya.


Elsa menyuapi mama makan. Sementara Anna menyiapkan makan siang untuk Sam dan Elsa.


"Sam...?" Seru Elsa begitu ia selesai menyuapi mama. Elsa menatap Ad saudara kembar Sam. Ad mengernyitkan dahinya.


"Dimana Sam...?" Tanya Elsa.


"Kau bisa membedakan kami?" Balas Ad.


"Emmm... Ya tentu saja, warna rambut kalian berbeda. Aku bisa membedakan mana suamiku dan calon suami adikku." Pungkas Elsa.


"Ahhh begitu. Sam ada diluar, dia sedang menjawab telepon." Jawab Ad sambil menunjuk ke teras. Elsa menganggukkan kepalanya.


"Sayang...?" Seru Elsa begitu ia mendapati Sam sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Sam tersenyum begitu melihat istrinya.


"Emmm, kalau begitu begini saja. Saya minta tim HRD tetap melakukan kegiatan, sesuai dengan timeline yang sudah dibuat. Jika memungkinkan, kami akan pulang untuk mengurus semuanya. Nanti sekretaris saya akan membalas surelnya." Tutur Sam sambil menyeruput ice kopi. Elsa duduk disebelahnya.


"Siapa?" Tanya Elsa saat Sam mengakhiri panggilan teleponnya. Sam memberikan ponselnya kepada Elsa. Baterai hpnya tinggal 15%, Sam meminta Elsa untuk men-charge hpnya.


"Mike." Jawab Sam, ia meletakkan gelas di atas meja. "Dia mengingatkan timeline achievement motivation training bersama tim HRD minggu depan. Ohya, mereka mengirim surel ke emailku. Kau buka ya dan sekalian balas." Lanjut Sam. Elsa menghembuskan nafasnya.


"Kenapa? Apa ada yang sampah?" Tanya Sam saat Elsa menghembuskan nafasnya.


"Enggak." Kilah Elsa dengan menggelengkan kepalanya. "Kamu tuh kalau ngasih perintah nggak muluk-muluk. Nggak tahu tempat dan waktu." Protes Elsa. Sam mendekat dan merangkul pundak istrinya.


"Terus aku harus gimana? Nggak ngasih tahu kondisi perusahaan? Iya?" Tukas Sam.


"Ya nggak gitu juga. Kita kan masih di Kanada. Mama juga lagi sakit." Ucap Elsa dengan melirik suaminya.


"Ya udah aku minta maaf. Tapi kamu bisa balas sebentar surelnya. Istriku kan cerdas. Istri siapa sih yang udah cantik, cerdas, hebat, multitalent banget lagi.. Kalau bukan..."


"Istrinya Sameer." Seru Sam dan Elsa secara bersamaan. Mereka tertawa bersama.


"Sam, Els... Yuk kita makan siang dulu. Anna sudah menunggu." Suara Adrian  membuyarkan kebahagiaan mereka berdua. Elsa dan Sameer mengangguk kompak.


***


"Bagaimana kalian bisa bertemu?" Elsa membuka pembicaraan disela-sela makan siang mereka. Ad dan Anna menoleh satu sama lain. Anna meneguk air mineral di sampingnya. Ad berdeham.


"Sama seperti kita bertemu dulu." Ucap Sam sekenanya sambil mengunyah makanannya. Elsa menoleh ke arah suaminya.


"Aku nggak nanya kamu, Sam. Aku nanya Anna dan Ad." Ketus Elsa.


Ad mengernyitkan dahinya sejenak. Ia teringat saat mereka berdua mengerjai Elsa saat itu. Tepat saat Elsa diculik oleh Sam. Elsa dapat dengan mudah mengenali Sam dan Ad. Padahal mereka berdua adalah kembar. Banyak sekali orang yang salah mengenali mereka berdua. Tapi hanya Elsa yang dapat mengenali dia dengan mudah.


"But wait. Sebelum aku menjawab. Aku ingin bertanya satu hal kepadamu." Ujar Ad.


"Apa?" Elsa menatap Ad. Anna dan Sam juga memandang mereka berdua.


"Sejak kapan kau bisa mengenali aku sebagai Adrian dan Sam sebagai Sameer...? Kita sudah lama tidak bertemu. Dan saat remaja kau juga mudah mengenali kami. Padahal kami kembar identik." Pungkas Ad yang sangat penasaran sejak dulu.


"Ann, apa kau bisa mengenali Adrian dan Sam dengan mudah?" Tanya Elsa.


"Emmm... Tentu saja." Ad menyipitkan matanya ke arah Anna.


Sam juga mengernyitkan dahinya.


"Aku juga bisa." Ketus Sam. "Anna berambut cokelat bergelombang. Dan Elsa berambut hitam panjang lurus." Lanjut Sam.


"Okey, begini saja aku dan Sam akan menguji kalian berdua. Setelah makan siang." Ucap Ad.


"Kenapa?" Ad dan Sam kompak bertanya.


"Ad, kalau kamu ingin tahu jawabannya. Kamu harusnya sudah tahu jawabannya dari Anna." Balas Elsa. Anna menyendok makanannya. Ad menoleh sebentar.


"Kita punya insting yang kuat." Sambung Anna. Ad tak percaya begitu saja. Ia hanya membuang nafas dengan kesal.


Setelah selesai makan siang. Sam dan Ad sengaja menukar pakaian mereka. Ingin tahu, apakah Anna dan Elsa bisa membedakan mereka atau tidak.


"Ohya aku lupa. Ad harus kembali ke kantor siang ini." Ucap Anna. "Ad..." Anna mengetuk pintu kamar. Ad dan Sam keluar dari kamar. Ad sengaja meninggalkan Sam di kamar bersama Anna. Tapi Anna menarik lengannya.


"Kau mau memfitnah aku dengan kakakmu sendiri? Buat apa kau memakai baju kakakmu?" Tukas Anna.


"Kau bisa membedakan kami?" Tanya Sam terperangah. Anna dengan santai menganggukkan kepalanya.


"Kan persis seperti Elsa." Lanjut Ad.


"Tunggu sebentar. Jangan dulu berangkat okey." Anna berlari ke kamarnya. Lalu memberikan parfum kepada Ad.  Parfum biasa Ad pakai ke acara mana pun. Anna tahu betul dari bau badan Ad yang berbeda dari Sam.  Anna kembali duduk di samping Elsa sambil menonton televisi.


"Hai...?" Sapa Ad dan Sam. Anna berbisik. Mereka berdua sengaja membuat Elsa dan Anna bingung.


"Sam kamu ngapain pakai baju Adrian. Ad, please aku tahu kamu penasaran." Pungkas Elsa.


"Aku enggak..." Balas Ad.


"Ini ide Ad, sayang." Tuding Sam.


"Lah, kau juga setuju." Ungkap Ad.


"Iya iya kalian sama aja." Sahut Anna.


"Perempuan tuh punya feeling yang kuat. Kita bisa membedakan mana orang yang kita cintai dan enggak. Indera penciuman kita juga kuat. Meskipun kalian memakai parfum yang sama tapi aku dan Anna tahu mana Sam dan Ad. Okay? Jelas." Jelas Elsa. Ad dan Sam menganggu kompak.


"Aku ikut Ad ke kantor ya sayang. Ada yang mau aku urus." Ucap Sam. Cuppp... Sam mengecup pipi Elsa.


Ad dan Anna langsung salah tingkah melihat pasangan suami istri yang konyol itu. Elsa tersipu malu.


***


Melihat Elsa dan Anna sedang bertukar cerita membuat hati Eliana sangat bahagia. Ia sudah lama menantikan tawa riang dari putrinya Anna. Setitik air mata jatuh di pipi Eliana. Jika Tuhan berkehendak memanggil jiwanya, ia sudah siap sekarang. Anna akan bahagia bersama Adrian. Begitu pun Elsa akan bahagia bersama Sam. Tugas ia sudah selesai. Eliana tidak akan berat hati meninggalkan Anna dan Elsa. Mereka sudah dewasa. Sudah memiliki tanggungjawab masing-masing.


"Tuhan, aku sudah hidup dengan segala ujian-Mu. Jika berkehendak, panggillah aku sekarang. Kasian Anna dan Elsa, jika terus menerus merawatku dengan susah payah. Aku tenang. Aku tak lagi mengkhawatirkan Anna dan Elsa. Permintaanku pun sudah Engkau kabulkan. Maka izinkan aku tenang bersama-Mu." Batin Eliana. Nanar kedua matanya, ia menitikkan setitik air mata yang jatuh tak terasa.


"Mah... Kita ganti dulu pampers mama ya." Ucap Anna saat membuka lebar-lebar pintu kamar Eliana. Namun Eliana tidak merespon. Matanya terpejam. Anna mengambil pampers ukuran L untuk mamanya. Anna duduk disamping tempat tidur.


"Mah, bangun dulu. Aku ganti pampers mama ya." Anna mengulangi kalimatnya. Ia memegang kaki Eliana. Dingin. Tidak seperti biasa. Deggg. Seketika jantung Anna hampir tak berdetak. Anna memastikan Eliana masih ada. Seluruh kakinya terbujur kaku dan dingin. Anna mengecek suhu tubuh mamanya. Mengecek detak nadi dan jantung mamanya.


"Elsa... Elsa... ELSA....." Anna berteriak memanggil kembarannya. Elsa bergegas menghampiri.


"Ada apa?" Tanya Elsa panik.


"Mama... Sudah tidak ada." Buliran air mata jatuh ke pipi Anna.


"Huh? Apa maksudmu mama sudah tidak ada?" Jantung Elsa terasa berhenti berdetak. Anna mengangguk yakin.


"Mama sudah dipanggil Tuhan." Balas Anna. Elsa melangkahkan kakinya pelan dan ragu. Mengecek detak nadi Eliana.


***