
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Tapi Elsa tidak berangkat kerja, ia merasa tubuhnya sangat lemas. Ia butuh istirahat sejenak. Sehari dua hari dan tiga hari, Elsa mengurung diri di hotel itu. Tidak berangkat kerja dan tidak memberitahu kepada siapapun. Tapi waktu itu Elsa sempat menelpon Niken untuk pinjam uang untuk pengobatan ibunya. Untunglah Niken bisa membantunya. Kini ia tidak tahu harus pergi kemana. Sore itu, Elsa keluar dari hotel. Sebenarnya ia tidak berencana untuk bunuh diri. Ia berusaha untuk mencari cara agar keluarganya bisa hidup dengan bahagia. Tapi jalan pikirannya buntu. Elsa mengalami kedilemaan yang sangat besar. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Indra. Sore itu, Elsa melihat sungai yang sangat dalam. Airnya mengalir begitu deras, jika ia loncat dan menjeburkan diri ke dalam air sungai itu, apakah nyawanya akan hilang bersama arus?
"Aku harus bagaimana? Hidupku... Kenapa menderita begini? Kenapa aku harus terjerat dengan si bajingan itu. Kalau aku mati, mungkinkah semuanya akan berakhir? Tidak akan ada lagi mimpi yang menyeramkan. Tidak akan ada lagi Indra yang menghantui hidupku. Tidak akan ada lagi yang harus aku tanggung. Bayangan itu. Rumah sakit. Seorang pemuda. Apalah aku tak mengerti. Aku ingin mati.... Aku ingin mati. Sudah tidak ada lagi yang aku harapkan. Jangankan menatap masa depan. Menatap hari esok saja aku tak tahu." Batin Elsa. Elsa naik pelan-pelan, entah apa yang ia pikirkan. Elsa merentangkan kedua tangannya, lalu memejamkan kedua matanya. Angin sore yang sangat tajam menelisik perih ke dalam sel-sel kulit miliknya. Siulan para burung, terdengar bersorak ramai. Rasanya sangat ringan sekali. Satu kali loncatan, tubuhnya akan menyatu bersama air yang deras. Namun tiba-tiba sebuah tangan hangat menariknya, menjatuhkan tubuhnya ke daratan bukan mendarat di air yang deras.
"Kau gila? Apa yang sedang kau pikirkan?" Seru seorang lelaki. Elsa membuka matanya pelan-pelan. Menguceknya. Ternyata itu Sameer.
"Kenapa bapak ada disini?" Tanya Elsa.
"Kau kemana saja? Aku mencarimu kemana-kemana." Jawabnya. Sam menarik lengan Elsa. Lalu menyuruh Elsa untuk naik ke mobilnya.
"Kemana saja kau selama ini?" Tanya Sam. Sambil menginjak pedal gas. Elsa diam seribu bahasa. Hanya air mata yang mengalir dan memberi semua jawaban yang tak pasti. Ia menangis dihadapan bosnya. Perasaannya siapa yang tahu? Jangankan Sam. Ia sendiri pun tak tahu mau bagaimana akhir hidupnya.
"Elsa? Kau dengar aku?"
"Yahh." Ia mengusap pipinya.
"Kau kemana saja? Sudah 3 hari kau menghilang." Tukas Sam. Elsa menoleh.
"Kenapa Anda selalu menghalangi niat saya?" Balas Elsa
"Huh?"
"Anda tahu kenapa saya bekerja di perusahaan Anda? Saya ingin melunasi hutang-hutang keluarga saya. Saya masih punya 2 adik yang masih sekolah. Saya harus membiayai ibu saya dan saya berusaha untuk membebaskan ayah saya dari penjara. Saya juga harus membiayai si bajingan yang selalu menguras semua uang saya. Saya bosan dengan kehidupan ini. Saya benci dengan hidup saya yang sekarang. Keinginan saya adalah kematian. Bukan penyiksaan seperti ini. Anda tahu bagaimana saya hidup? Saya menderita. Setiap pagi Anda selalu menyuruh ini dan itu. Tanpa bertanya bagaimana keadaan saya? Tanpa peduli saya sakit atau enggak. Saya harus on time ketika Anda butuh saya. Apakah Anda tahu? Anda adalah bos yang buruk. Saya dijajah bukan hanya disaat saya bekerja. Setelah pulang, saya harus menghadapi si bajingan yang memeras uang saya. Belum lagi pukulan-pukulannya, tamparannya yang mendarat tepat ditubuh saya. Saya ditekan keluarga. Ditekan ditempat kerja. Kemana saya harus lari? Huh? Kalau bukan bunuh diri. Anda pikir Anda pahlawan? Ccchhh. Omong kosong. Anda adalah iblis. Sama bajingannya seperti si Indra brengsek itu. Jadi please, aku mohon dengan sangat. Berhenti peduli kepadaku. Karena aku benci diriku sendiri." Tutur Elsa.
Mendengar semua penuturan Elsa, membuat Sam menginjak pedal rem. Mobil berhenti ke pinggir jalan.
Air mata Elsa mengalir tak berhenti. Suaranya sudah parau. Sam menundukkan kepalanya. Sangat bersimpati dengan cerita Elsa.
"Belum lagi dengan ingatan itu. Aku benci sekali. Siapa yang punya ingatan menyedihkan itu? Kenapa harus aku yang mengingatnya? Darah. Hujan. Teriakan. Hhhh, aku benci sekali. Aku benci..." Elsa memukul kepalanya. Ia benci ingatan yang menyakiti hatinya.
"Elsa... Elsa hentikan Elsa."
"Pergi... Aku benci semuanya. Aku benci diriku. Aku membencimu." Tangis Elsa tersedu sedan.
"Elsa... Dengarkan aku. Elsa..."
"Pergi...!!!" Elsa melepaskan sabuk pengamannya, dan berlalu menuju padatnya lalu lintas. Berjalan dengan terhuyung-huyung, menerobos begitu saja. Ia ingin sebuah mobil menabrak dirinya namun ia malah mendapati bunyi klakson yang menandakan agar ia bergegas ke pinggir.
Sam menarik lengan Elsa. Sementara itu Elsa berteriak histeris. Bayangan hitam beberapa tahun silam selalu menghantuinya.
"Pergi... Pergi... Pergi..." Ia berbicara seorang diri. Menyuruh ingatan itu pergi meninggalkannya.
"Elsa... Elsa sadar Elsa. Elsa..." Seru Sam.
"Elsa... Elsa... Sadarlah Elsa...!" Bentak Sam. Seketika ia terdiam menatap Sam. Kemudian ia berlari lagi entah kemana. Sam menghela nafas sebentar. Lalu berlari mengejar Elsa.
"Lepaskan. Biarkan aku mati. Biarkan saja aku matiiii." Ucap Elsa. Sam memeluk tubuh Elsa.
"Tidak. Kau tidak boleh mati. Kau harus hidup. Tetaplah hidup untukku. Jika kau merasa hidupmu tidak berarti untuk orang lain. Maka hiduplah untukku." Tukas Sam. Elsa merasa sangat lelah, ia terjatuh kepelukan Sam.
...***...
Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dibumi milik-Mu ini? Rasanya aku tak memiliki harapan untuk melanjutkan hidupku. Aku tak memiliki peran yang penting disini. Mungkin aku cuman simbol yang bisa diotak-atik oleh kehidupan orang lain. Lembaran hidupku kosong. Aku tak memiliki nyawa untuk menyelamatkan diri lagi. Aku tak pernah kuat menahan beban yang begitu berat. Ibu dan adikku mungkin tak tahu, tapi aku merasa aku tak pernah ditakdirkan untuk kembali bahagia. Aku tak memiliki cinta, tak memiliki impian dan cita-cita. Semua sudah sirna, sudah hilang bagaikan ditelan bumi. Tuhan, kalau engkau bersedia memanggilku saat ini. Aku sangat ikhlas. Aku tak memiliki orang yang aku cintai. Jadi regangkan jiwaku dari ragaku.
"Elsa..." Sebuah suara memanggil namanya. Elsa membuka kedua matanya pelan-pelan. Lelaki itu tersenyum manis kepadanya. Itu untuk kali pertama Elsa melihat senyumnya.
"Aku dimana?" Lirih Elsa.
"Dirumah sakit." Jawab Sam.
Elsa menghembuskan nafasnya. "Kenapa Anda selalu menolongku?" Tanya Elsa.
"Karena kau sekretarisku." Jawab Sam. Elsa mengedipkan kedua matanya dengan pelan.
"Kali ini kau harus menuruti perintahku." Tukas Sam. Elsa mengernyitkan dahinya.
"Perintah apa?" Tanya Elsa.
"Semua yang aku katakan adalah perintah. Setiap perintah memiliki bonus 200ribu rupiah. Bagaimana?" Jelas Sam. Elsa mengangguk.
"Kau harus dirawat. Masa pemulihanmu lebih penting. Jadi, kau harus menuruti semua kata dokter dan suster." Tukas Sam.
"Tapi aku tidak bisa bayar biaya rumah sakit." Gumam Elsa. Telinga Sam sangat sensitif dengan suara sepelan apapun.
"Biaya rumah sakit, ditanggung oleh perusahaan. Kau tidak perlu khawatir." Balas Sam.
4 hari berlalu. Masa pemulihan Elsa sudah selesai. Sam mengantarnya pulang ke kostannya. Elsa merasa khawatir karena takut Indra akan kembali ke kostannya. Matanya penuh awas.
"Tunggu. Jangan tinggalkan aku." Kata Elsa kepada Sam. Pelan-pelan Elsa masuk ke kostannya, lalu ia memeriksa ke seluruh ruangan. Indra tidak ada disana. Elsa merasa lega. Ia bisa berkemas untuk pindah kostan. Kemudian ia kembali menghampiri atasannya.
"Bapak pergi saja. Saya bisa sendiri." Ujar Elsa. Sam menganggukkan kepala. Elsa kembali ke kosannya, ia mengemasi semua barang-barangnya. Mengosongkan kostan dan segera membayar untuk bulan terakhir ini. Elsa segera meninggalkan tempat itu. Dan cek in terlebih dahulu ke hotel kemarin yang ia tinggali. Sebelum ia menemukan kontrakan baru.
***