The Secret Story

The Secret Story
Episode Tiga puluh delapan



Elsa masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Tubuh Eliana terbujur kaku. Sudah tak lagi bernafas. Kerongkongannya terasa tercekat pahit. Nanar kedua bola matanya. Merah, perih. Begitupun dengan Anna yang sudah beberapa hari terakhir ini sangat membantu dalam perawatan mamanya. Anna menangis tersedu sedan, namun ikhlas terpaut dalam hati Anna.


"Maafin Elsa, mah." Lirih Elsa.


"Elsa...?" Seru Sam, masuk ke dalam kamar mertuanya. Elsa berhambur ke pelukan Sam.


"Mama sudah nggak ada, Ad." Ucap Anna lirih. Ad merangkul pundak Anna. Elsa merasa sangat bersalah kepada Eliana. Janji yang pernah ia ucapkan kala itu tak dapat ia tepati. Karena ingatannya yang terbatas yang diakibatkan oleh obat-obatan keras yang di doktrin oleh orang tuanya Elsa.


"Kamu nggak salah, Sa. Kamu sudah memenuhi semua keinginan mama. Itulah sebabnya aku meminta kamu untuk datang kesini." Pungkas Sam sambil memeluk Elsa dengan sangat erat. Ia berusaha menenangkan perasaan Elsa.


"Coba saja kalau waktu itu kita pergi ke Kanada, Sam." Gumam Elsa masih dalam pelukan suaminya. Sam menempelkan kedua tangannya ke pipi Elsa.


"Hey, sayang look at me. Ini sudah takdir. Dengar, kau ingat janjiku. Ingat semuanya?" Elsa mengangguk. "Aku tidak meninggalkanmu. Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Apapun yang pernah kau katakan 17 tahun yang lalu, aku penuhi kali ini. Aku akan bersamamu sampai surga menjemput kita. Itu janji kita. Elsa, ini sudah digariskan oleh Tuhan. Kita tidak bisa menolak kehendaknya. Kamu masih punya aku, Anna dan Adrian." Tutur Sam. Elsa kembali memeluk suaminya. Tidak ada yang lebih baik selain Sam. Itu yang Elsa pikirkan saat ini.


Hanya Sam yang dapat menenangkan segala rasa. Hanya Sam yang sanggup bersabar dengan keras kepalanya Elsa. Hanya Sam yang selalu menggenggam tangan Elsa. Hanya Sam yang selalu bersikap lemah lembut terhadap Elsa. Hanya Sam pula yang dapat memenuhi semua keinginan Elsa. Elsa memeluk Sam, erat sekali. Hingga ingatan Elsa berjelajah ke masa dimana ia bertemu dengan Sam untuk pertama kali. Dan saat di kampus beberapa tahun yang lalu.


***


Elsa dan Sam saling berhadapan. Langkah mereka terhenti secara bersamaan. "Lu lagi..." Ketus Sam.


"Ciyeeee Elsa..." Goda Naira.


"Bisa minggir nggak sih." Sam berdecak. Begitu pun Elsa membalas.


"Ihhh kamu tuh yang mulai duluan. Dasar aneh." Ketus Elsa.


"Minggir nggak?" Sam meninggikan suaranya.


"Ehhh ladies first." Ucap Elsa.


"Bagi seorang Sam, enggak ada istilah ladies first. Ngalah dong. Gue kan senior." Ujar Sam.


"Ya ampun..." Elsa tepuk jidat.


"Terserah." Elsa mengalah memberi jalan ke arah samping kanan Sam. Tapi Sam menatapnya. Elsa balas menatapnya.


Begitu Sam pergi. Naira dan Naina saling merangkul lengan Elsa. "Kak Sam ganteng banget tahu." Puji Naina.


"Na, sadar, dia itu ganteng karena dia punya banyak duit. Coba kalau nggak punya duit, kurapan tuh cowok." Tukas Elsa.


"Sa, ihh nggak boleh gitu tahu. Gimana kalau ntar kamu beneran jatuh cinta sama dia. Terus jodoh gitu." Tegur Naira.


"Naira sayang. Cowok di dunia ini banyak kali. Emangnya cuma dia yang ganteng. Kalau aku sampai jatuh cinta ke dia. Eee... Itu kayaknya kutukan buat aku." Balas Elsa.


"Kutukan kutukan. Jangan ngomong sembarangan deh, Sa. Kalau beneran dia yang jadi jodoh kamu gimana? Udah-udah ahh. Yuk kita samperin Via sama Niken di kantin." Ajak Naina.


"Tahu tuh si Elsa." Cela Naira.


"Nah temen lu yang satu itu lagi mulai naksir sama cowok. Lihat tuh, giliran sama kak Hans, dia nggak apa-apa tuh dipegang-pegang. Emang bener deh nih si Niken." Naina menunjuk ke arah Via dan Niken.


"Via, Niken..." Niken dan Via menoleh bersamaan.


"Pacaran aja lu." Ketus Elsa kepada Niken.


"Enak aja. Hans sendiri yang nyemperin." Elak Niken.


"Iri deh aku sama kamu, Sa." Via buka suara, sambil menyeruput minumannya.


"Iri kenapa?" Elsa mengernyitkan dahinya. Via menyodorkan jus Alpukat ke arah Naira, jus Strawberry ke arah Elsa dan jus Jambu ke arah Naina.


"Kamu kan paling cantik diantara kita berlima. Kamu juga paling sering dilirik sama cowok-cowok ganteng." Ucap Via.


"Kalian cantik koq." Sebuah suara mengagetkan mereka berlima.


"Boleh aku pinjam Niken sebentar." Sambungnya.


"Boleh." Serempak mereka. Niken memandang satu-satu sahabatnya.


"Jus yang kalian minum. Aku yang bayar." Tukas Hans. Naina kegirangan mendengar kata gratis.


"Lama juga nggak apa-apa kak." Balas Naina. Niken melototi Naina.


Sementara Niken bersama Hans, Via, Naira, Naina dan Elsa saling pandang. Mereka bersuit siapa yang akan pesan makanannya. Akhirnya yang harus pesan makanan ke dapur kantin, Elsa. Elsa pesan beberapa makanan kesukaan sahabat-sahabatnya.


"Aku juga suka ikan nila bakar." Sebuah suara mengagetkan Elsa.


"Oh Tuhan. Ngapain kamu disini?" Ketus Elsa terkejut.


"Pesan makanan. Emangnya apa?" Balas Sam.


"Ngagetin aja." Gumam Elsa.


"Kamu cantik." Puji Sam.


"Huh?"


"Hah heh hoh." Elsa mengerutkan keningnya. Nih orang nyebelin banget sih. Batin Elsa.


"Apa? Baru lihat ya cowok ganteng, sispack kayak aku." Katanya narsis.


"Idih... Ge'er."


"Percaya deh, lama-lama lu bakalan jatuh cinta sama gue." Ucap Sam.


"Ya kali aku jatuh cinta sama cowok kayak kamu." Ketus Elsa.


"Taruhan?" Sam menatap Elsa sambil mengangkat kedua alisnya.


"Taruhan apaan?" Elsa mengerutkan kedua alisnya, menarik kedua bahunya ke belakang. Sam menarik kedua bahu Elsa. Menatap Elsa lamat-lamat.


"Hanya cukup 1 menit, aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku." Ucap Sam serius. Elsa menelan ludah. Kedua bola mata yang hitam legam itu. Tatapan yang tajam itu. Dan satu nafas yang sama membawa Elsa pada mesin waktu yang memutar semuanya kembali ke masa itu. Masa dimana ia bertemu dengan Sam yang berusia 17 tahun. Glekkk. Sebulir air mata jatuh tiba-tiba di pipi Elsa. Jantungnya berdebar-debar tak menentu. Perasaannya membuncah tak karuan. Antara rindu dan penawarnya. Antara sedih dan bahagia bersamanya.


"Neng Elsa...?" Suara bi Inah membuyarkan lamunan Elsa. Sam menurunkan kedua tangannya. Ia membasahi bibirnya yang kering. Elsa bergegas ke meja sahabat-sahabatnya.


"Lama banget sih, Sa." Gerutu Via.


"Tahu. Udah tahu kita kelaparan." Naina menambahkan.


"Elu aja kali, gue enggak." Timpal Naira.


"Ohh awas ya. Makanannya aku habisin." Elsa hampir tak menggubris sahabat-sahabatnya. Ia memikirkan kenapa ia harus menangis melihat tatapan Sam.


"Sa...? Kamu kenapa?" Via bertanya heran. Elsa membuyarkan lamunannya.


"Huh? Eng... Enggak apa-apa koq." Jawab Elsa dengan menggelengkan kepalanya.


Selepas istirahat Elsa, Naina, Naira, Via dan Niken kembali ke kelas untuk mengikuti mata kuliah Biopsikologi. Ketika itu Elsa kembali menemukan mawar warna putih di lokernya.


"Dari Indra lagi? Dia so sweet ya." Ucap Via. Elsa mengernyitkan dahinya. Benarkah ini dari Indra? Kenapa ya, sekarang dia ragu kalau Indra yang memberikan banyak kejutan kepadanya. Dulu sewaktu masih SMA, hampir setiap hari Elsa selalu menerima mawar putih. Dan setiap tanggal 15 Elsa selalu menerima cokelat dan cemilan manis. Dan kejutan lainnya yang selalu membuat Elsa terheran-heran.


Saat bersamaan pula, Elsa pernah memergoki Indra menyelipkan sesuatu di lokernya. Dan disanalah Elsa mengira bahwa semua pemberian itu berasal dari Indra.


***