
Mobil Lexus hitam dengan plat nomor B2004SE itu melaju di jalanan. Elsa diam seribu bahasa. Sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Ada beban yang berat di pundaknya. Dan sesekali Sam meliriknya. Ingin bertanya, namun enggan. Akhirnya keduanya memilih diam. Arah menuju kostan Elsa tinggal 5 menit lagi. Begitu sampai...
"Ini kostan kamu?" Elsa mengangguk. "Kenapa begitu jauh dengan lokasi kamu bekerja?" Lanjut Sam.
"Dulu dekat kampus." Jawab Elsa sekenanya. Sam menyunggingkan bibirnya. Elsa menghembuskan nafas dengan berat lagi. Itu yang ke 7 kalinya. Sam menghitung setiap hembusan yang berat itu. Elsa sudah melihat sosok Indra sedang berdiri didepan pagar sambil menghisap rokoknya.
"Siapa dia?" Tanya Sam.
"Pacar saya." Jawab Elsa pendek. Elsa sudah punya pacar? Batin Sam.
"Terimakasih ya pak." Lanjut Elsa sambil keluar dari mobilnya Sam. Pelan-pelan Elsa menghampiri Indra. Sam memutar setir, ia menginjak pedal gas dengan pelan. Penasaran dengan hubungan mereka.
"Diantar siapa?" Tanya Indra.
"Uhmmm diantar teman kerja." Jawab Elsa sekenanya.
"Mana tas kamu. Sini." Kata Indra sambil merebut tas milik Elsa.
"Aku belum gajian."
"Jangan bohong kamu." Indra mengambil uang dari dompet Elsa.
"Indra, aku nggak punya uang lagi. Itu buat uang saku aku. Besok aku gimana mau kerja." Ujar Elsa.
"Bodo amat." Katanya.
"Ndra... Aku mohon." Indra menampar Elsa kemudian ia berlalu pergi meninggalkannya. Begitu lagi dan lagi. Tiap kali bertemu, Indra pasti minta uang. Ada atau nggak ada, ia tidak peduli. Tidak pernah memikirkan nasib Elsa.
***
Suara ponsel Elsa terdengar nyaring. Elsa mencari ponselnya dalam keadaan mata terpejam. Lalu menerima panggilan yang entah dari siapa. Kemudian terdengar sebuah suara. "Elsa...?" Serunya diujung telepon.
"Emmmm... Siapa ini?" Balasnya.
"Sam..." Katanya. Elsa langsung mengucek matanya. Kemudian melirik jam dinding. Pukul 4.00 WIB.
"Ada apa pak?" Tanya Elsa.
"Tolong segera ke rumahku." Jawabnya.
"Sekarang pak?"
"Tahun depan. Ya iyalah sekarang. Aku tunggu sampai pukul 4.30. Ingat pesanku?" Ujar Sam.
"Ehhh... Emmm... Iya aku ingat. Memangnya ada apa pak?" Tanya Elsa dengan bingung.
"Aku tunggu kau 30 menit dari sekarang. Titik." Katanya. Elsa terperanjat kesal saat Sam hanya memberikan waktu 30 menit untuk dirinya mandi, dandan dan bersiap-siap. Elsa tak sempat memakai make up. Ia bawa peralatan make up ke rumah Sam. Agar sempat bermake-up sebelum berangkat ke kantor.
Elsa bergegas berangkat menuju rumah pimpinannya. "Pak Sam...? Aku sudah di depan. Buka pagarnya...? Pak Sam... Pak Sam...?" Teriak Elsa memanggil pimpinannya dengan keras. Dan ia juga memencet bel berkali-kali.
"BERISIK." Balas Sam dengan keras.
"Lho bukannya bapak sendiri yang meminta saya datang. Cepat buka pagarnya!" Perintah Elsa.
"Oho. Berani sekali kau memerintahku." Balas Sam sambil membuka pagar rumahnya.
"Pembantuku sudah tidak bekerja lagi, jadi aku minta kau untuk datang kesini." Ujar Sam.
"Huh?"
"Catat. Sapu dan pel dengan bersih. Cuci baju, cuci piring dan siapkan sarapan untukku." Perintah Sam. Elsa mendesah pelan.
"SEKARANG."
"Hah? Iya iya sebentar." Kata Elsa. Ia pun bergegas menyapu dan mengepel rumah Sam yang luas berhektar-hektar itu, kemudian mencuci baju, mencuci piring, merapikan baju-baju, menyiapkan sarapan, dan terakhir menyiapkan baju kerjanya. Hari itu, Sam punya jadwal meeting dengan klien dari Boston. Elsa juga menyetir mobil Lexus milik Sam, sementara lelaki itu sedang mempelajari berkas-berkasnya. Dan untuk pertama kalinya, hingga seterusnya Elsa akan dipekerjakan seperti itu.
"Elsa...?"
"Ya pak?"
"Besok kau datang ke rumahku jam 4 seperti biasa." Elsa menelan ludah.
"Tapi pak..."
"Kenapa? Kau tidak mau?" Elsa mengedipkan kedua matanya tak percaya.
"Emmm bukan begitu. Tapi..."
Elsa nyengir. Hari ini saja ia sudah sangat kelelahan mengepel rumah segitu besarnya. Apalagi kalau tiap hari. Elsa memikirkan hidupnya sendiri. Akan semakin sesak dadanya. Akan semakin banyak perjuangannya.
"Aku bayar kamu 20 juta." Kata Sam. Elsa menganga tak percaya. Itu lebih dari cukup. Ia juga bisa menabung untuk kuliah ke Australia. Sesuai dengan rencana awal. Mengajukan beasiswa S2. Dan bisa bekerja di rumah sakit sebagai psikolog.
"Mau tidak?"
"Mau pak. Iya saya mau." Balas Elsa dengan cepat.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktu terus berputar sesuai dengan rotasinya. Naira sudah berangkat ke Jerman, Naina berangkat ke Jepang, Niken berangkat ke Turki dan Via berangkat ke Perancis. Hanya tinggal Elsa yang masih berkutat dengan pekerjaannya menjadi sekretaris. Entah kapan ia akan mewujudkan impiannya seperti ke-4 sahabatnya. Elsa hanya mampu menerima nasibnya sendiri.
"Kerja aja yang bener. Udah bagus kamu dapat upah yang besar. Kamu lunasi hutang-hutang ayahmu dulu. Kamu sekolahkan dulu adik-adikmu. Jangan bermimpi bisa kuliah ke luar negeri. Apalagi menjadi psikolog. Sejak awal ibu tidak menerima kamu kuliah di fakultas itu. Lulus saja sudah bersyukur." Begitu kata Ranti ditelepon. Elsa menahan sesak didadanya. Memang sejak awal kuliah Ranti ibunya tidak pernah mendukung proses belajar Elsa. Entah kenapa ibu selalu berusaha untuk meminta Elsa melupakan impiannya.
Ia mencoret susunan masa depannya 5 dan 10 tahun ke depan. Ia tahu, sangat tidak mungkin baginya untuk mewujudkan impiannya itu. Terlebih lagi ibunya sudah mematahkan impiannya. Sakit hati memang. Namun apa yang bisa ia lakukan sekarang. Sudah tidak ada.
"Apa itu?" Tanya Sam yang tiba-tiba saja muncul dimeja kerja Elsa.
"Uhmmm bukan apa-apa." Jawab Elsa, lalu meremukkan kertas dan membuangnya ke tong sampah. "Ada yang bisa saya bantu, pak?" Kata Elsa.
"Ini berkas yang sudah saya tandatangani. Setelah itu kamu masuk ke ruangan saya ya." Balas Sam. Elsa mengangguk, lalu merapikan berkas-berkas penting diruang khusus. Kemudian ia masuk ke ruangan Sam.
"Hari ini kakekku akan datang. Tolong kamu masak masakan yang ada disini." Kata Sam sambil memberikan secarik kertas untuk Elsa. Elsa mengangguk. Sudah biasa bagi Elsa dimintai bekerja full sebagai asisten rumah tangga. Kadang-kadang jika sangat lelah, Elsa menginap di sana. Sebenarnya hal itu ada untungnya bagi Elsa. Ia bisa terhindar dari kekerasan Indra yang selama ini membuatnya menderita.
Sore itu setelah selesai bekerja, sesuai perintah bosnya, Elsa masak dan membersihkan seluruh rumah pimpinannya.
"Tugas saya sudah selesai pak." Kata Elsa.
"Yah.. Terimakasih." Balasnya.
"Kalau begitu saya pulang, pak." Elsa pamit. Tiba-tiba Sam menarik lengan Elsa.
"Awww..." Elsa mengaduh. Sam mengernyitkan dahinya dengan aneh. Ia pasti mengalami kekerasan lagi. Batin Sam.
"Kenapa?" Tanya Sam. Elsa menggelengkan kepala. Sam menahan dan membuka lengan baju Elsa. Ada memar di lengan kanannya. Lalu membuka lagi lengan baju kirinya. Memar lagi. Pantas saja Elsa mengaduh sakit. Sam menahan nafas dengan berat. Ia kesal dengan sikap Elsa yang selalu diam
"Kenapa ini?" Tanya Sam, matanya merah padam. Rahangnya mengeras. Elsa menggelengkan kepala. Ia berusaha melepaskan tangannya. "Saya tanya kenapa dengan tanganmu?" Sam mengulang pertanyaannya dengan tegas.
"Waktu itu saya terjatuh pak." Jawab Elsa sekenanya. Tentu Sam tidak begitu percaya. Bagaimana bisa ia terjatuh hingga memar seperti ini? Sam masih mengernyitkan dahinya.
"Kamu bohong Elsa." Ujar Sam. Mata Elsa berkaca-kaca. Ia takut dengan ekspresi Sam yang begitu menegangkan.
"Siapa yang sudah melakukan kekerasan ini terhadapmu?" Elsa menelan ludah takut. "Katakan Elsa?" Bentak Sam.
Elsa menggelengkan kepala.
"ELSA...?" Bentak Sam keras. Sebulir, dua bulir air mata jatuh tak terasa. Dadanya terasa sangat sakit sekali. Biasanya ia tak pernah menangis dihadapan orang lain kecuali dihadapan ke-4 sahabatnya.
"Apa kau akan diam saja? Apa kau tidak ingin melaporkan tindakan kejahatan ini? Huh? Elsa?" Remuk sudah hatinya. Luluh air matanya. Jatuh beriringan dengan isaknya.
"Elsa...?"
"Sudah." Isaknya. Elsa menundukkan kepalanya sembari berusaha melepaskan cengkraman pimpinannya.
"Aku sudah melaporkan berkali-kali pada polisi. Tapi mereka tidak pernah percaya. Tidak ada bukti. Tidak ada saksi. Aku harus apa? Aku bisa apa?" Balas Elsa sambil menangis terisak.
"Siapa yang melakukannya?" Tukas Sam. Elsa terdiam sejenak. "Elsa, siapa yang melakukannya?" Tanya Sam sekali lagi. Elsa menggelengkan kepalanya.
"Elsa...?" Elsa masih dalam kebisuannya. Ia takut untuk mengatakannya. Takut untuk berterus terang.
"Katakan Elsa?"
"Tidak bisa." Ketusnya.
"Katakan Elsa." Elsa mendongak menatap kedua mata Sam yang tajam. "Siapa?" Jantung Elsa berdegup lebih cepat. Rasanya seperti ada deburan ombak yang menghantam ke rongga-rongga hatinya.
"Elsa...?" Seru Sam. Namun ia hanya bisa menangis. "ELSA...?" Bentak Sam lagi.
"Indra. Kau tidak akan tahu Indra. Kalaupun tahu, kau mau apa?" Jawab Elsa. Lalu ia menangis tersedu sedan. Dilepaskannya tangan Elsa dari genggamannya. Indra. Pacarnya Elsa tempo hari lalu. Elsa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba Sam menarik lengan Elsa, lalu memeluknya. Jantung Elsa terasa dihujam puluhan samurai. Terselip rindu yang sangat berat. Bayangan menyedihkan itu memasuki ruang ingatannya lagi. Spontan Elsa melepaskan pelukan pimpinannya. Ia menghindar dan emosi tak terkendali. Ingatannya membawa Elsa kepada rintik hujan, genangan darah, jalanan beraspal, lalu ruangan yang gelap. Ranjang rumah sakit. Mobil berguling dan terbakar. Pelukan yang sangat erat nan rindu yang berat. Lagi-lagi Elsa memukul kepalanya dengan kedua tangannya.
"Benci. Aku benci ingatan ini. Tolong hapuskan ingatan ini. Aku mohon... Aku mohon." Tutur Elsa pada dirinya sendiri. Sebulir air mata tak terasa jatuh di pipi Sam. Melihat Elsa begitu histeris membuat hatinya meringis menyedihkan. Apa yang terjadi kepadamu? Sam berjalan perlahan. Mendekat lalu memeluk Elsa.
...***...