The Secret Story

The Secret Story
Episode Enam



Sayup-sayup terdengar ******* perempuan di dalam sebuah kontrakan. Elsa mengernyitkan dahinya. Menahan nafas sebentar, lalu pelan-pelan ia membuka pintu. Derit suara pintu terdengar, namun tak membuat dua orang yang bercumbu di atas kasur itu terganggu. Mata Elsa terbelalak kaget. Ia menutup mulutnya. Dua tubuh tanpa sehelai kain itu terlihat sangat menjijikan. Hampir saja Elsa jatuh tepat dihadapan mereka. Namun ia mundur dengan sangat hati-hati. Indra sudah kelewat batas. Elsa sudah muak dengan semua kelakuan mantan kekasihnya itu. Menjijikan. Batin Elsa. Ia hampir terisak. Apakah semua lelaki di dunia ini sama brengseknya? Rasa sakit itu bukan karena pengkhianatan. Namun lebih dari sekedar jijik dan muak melihat tingkah laku Indra yang seperti binatang. Elsa menyeka air matanya. Ia harus bergegas pergi. Kalau tidak, lelaki bajingan itu akan menyiksanya terus menerus. Namun tiba-tiba ponsel Elsa berdering. Tangannya gemetar, ia bergegas menerima panggilan telepon. Karena takut mengganggu kenikmatan mereka yang sedang bercinta.


"Kak...?" Seru adiknya diujung telepon sana.


"Iya dek." Balas Elsa dengan sangat pelan.


"Ibu kak. Ibu sakit. Tadi ibu dibawa ke rumah sakit. Kata dokter ibu mengalami usus buntu, dan harus segera di operasi." Kata Risa adiknya. Jantungnya terasa hampir copot saat mendengar kabar bahwa ibunya sedang sakit. Ia menahan nafas sejenak. Lalu mengelus dada sebagai isyarat kepada dirinya sendiri untuk bersabar.


"Ya udah kamu setujui saja, dek. Kakak coba cari pinjaman ya." Tukas Elsa akhirnya. Meskipun ia tak tahu harus mencari pinjaman kemana. Risa mengangguk.


"Iya kak. Kak?" Katanya.


"Huh?"


"Maafin Risa ya. Coba aja kalau Risa udah kerja. Mungkin bisa meringankan beban kakak." Ucap Risa.


"Nggak apa-apa. Udah kewajiban kakak koq. Kamu jagain ibu sama Asya ya."


"Iya kak." Telepon terputus. Tiba-tiba BRAKKK. Suara pintu terbuka, perempuan yang tadi bersetubuh dengan Indra keluar.


"Aku pulang ya sayang." Katanya. Indra menganggukkan kepala. Ia menyeringai menatap Elsa. Elsa terkejut bukan main. Tubuhnya gemetar. Ia tak tahu harus berbuat apa. Namun pelan-pelan ia masuk ke kamarnya. Dengan tak tahu malu Indra menyodorkan telapak tangannya.


"Minta uang." Katanya tak tahu malu. Elsa menghembuskan nafasnya.


"Aku nggak punya uang, Ndra." Balas Elsa pelan.


"Gila kamu. Aku butuh uang!" Bentaknya kasar.


"Aku tidak punya uang, Indra. Please... Aku lelah." Balasnya. Tiba-tiba Indra merebut tas Elsa, seperti biasa ia mengobrak-abrik seluruh isi tas milik Elsa. Mencari lembaran uang di dalamnya. Namun ia hanya menemukan 3 lembar uang seratus ribuan, 2 lembar uang 50ribuan, dan 2 lembar uang 20ribuan.


"Cuma segini?" Ketus Indra.


"Aku bilang aku nggak punya uang." Tukas Elsa sambil merebut tasnya. Indra mengambil seluruh uang milik Elsa. Tanpa tersisa satu rupiah pun.


"Jangan sekali-kali kau bohongi aku." Ancamnya.


"Kalau sudah selesai. Silahkan pergi." Usir Elsa.


"Kamu apaan sih. Ngusir aku? Nggak bisa. Kamu nggak bakalan bisa mengusir aku dari sini." Balas Indra.


"Kamu nyadar nggak sih? Kamu udah buat aku menderita Indra. Kamu udah buat aku terluka. Kamu kuras semua harta aku. Kamu sudah menjajah aku, Indra. Aku muak dengan sikapmu. Aku benci kamu Indra. Aku ingin hubungan kita selesai. Sudah cukup dari itu. Dan please jangan pernah lagi cari aku." Tutur Elsa dengan jujur. Namun pengakuannya itu membuat darah emosi Indra naik pitam.


"Ngomong apa lu? Bacot." Indra menjambak rambut Elsa.


"Awww..."


"Ngomong lu sekali lagi? Gue robek mulut lu." Katanya kasar.


"Awww... Sakit Indra. Lepasin."


"Putus atau enggaknya hubungan kita. Gue yang tentuin bukan elu." Balas Indra, lalu menyeret Elsa ke kamar mandi.  Memasukan kepala Elsa ke dalam bak mandi yang penuh air. Hingga Elsa tak mampu bernafas. Belum puas menenggelamkan wajah Elsa, Indra menutup seluruh tubuh Elsa dengan selimut. Menendang dan menginjaknya sampai ia puas.


Elsa meringis kesakitan. Ada gejolak amarah yang tak tertahankan didalam dada Elsa. Namun ia tak mampu membalasnya. Begitu Indra lengah. Elsa dengan sengaja memukul kepala Indra dari belakang dengan sapu injuk. Indra menoleh ke arahnya, lalu mengatur nafas. Merebut sapu itu lalu menyiksa Elsa habis-habisan. Elsa memejamkan kedua matanya. Sampai air matanya berlinang tak terasa. Untuk sesaat hening. Indra menghentikan aksi penyiksaan itu terhadap Elsa.


Dengan sekuat tenaga ia mengambil tas yang tidak jauh darinya. Matanya sangat awas terhadap gerakan Indra. Ia memasukkan beberapa baju ke dalam tas.


Sebuah bisikan setan menyelinap masuk ke dalam dinding hati Elsa. Ia melihat pisau dimeja. Ia ingin membunuh lelaki itu. Elsa sudah siap menusukkan pisau ke dalan dada Indra. Namun begitu ia mendekat, Indra menoleh dan menghindari niat jahat Elsa. Indra melemahkan otot tangan Elsa dan merebut pisau itu dari tangan Elsa. Matanya penuh amarah yang tak terkendali. Elsa mundur dengan takut. Ia melempar semua barang-barang yang ada didekatnya. Namun berhasil dihindari. Wajah iblis muncul dari dalam Indra. Ia berjalan pelan mendekati Elsa. Siap menusuk bagian tubuh mana saja dari diri Elsa. Nanar mata Elsa penuh dengan air mata. Nafas pendek dengan ketakutan. Dan seluruh tubuhnya terasa gemetar.


"Pergi... Pergi kamu bajingan." Suaranya bergetar takut. Namun suara ponsel milik Indra berhasil menyelamatkan hidupnya.


Disaat Indra lengah, Elsa membuka pintu kostan dengan pelan. Brukkk. Seluruh tenaganya sudah hampir habis. Elsa terjatuh, ia menoleh ke belakang. Melihat Indra yang siap menyeretnya lagi. Elsa bergegas bangun dan berlari. Meski berkali-kali ia harus terjatuh lagi.


Elsa berlari dengan sekuat tenaga, ia menemukan semak belukar yang sangat tinggi. Ia pun berjongkok dan bersembunyi di sana. Menahan tangisnya. Menahan rasa sakit yang ia derita selama ini. Berjam-jam, sampai Indra tidak bisa menemukannya. Sampai semuanya terasa aman baginya.


Waktu menunjukan pukul 4.40 WIB. Elsa masih memeluk lututnya dengan takut. Para pencakar langit telah berganti. Bulan hampir tenggelam. Semburat aurora terpancar tipis. Elsa berusaha berdiri dengan sekuat tenaga. Menopang tubuhnya dengan baik. Ia berjalan menyusuri jalanan beraspal. Sebuah ingatan memasuki ruang silabusnya. Ia ingin istirahat sejenak. Rasanya sangat lelah sekali. Kemudian ia melihat sebuah hotel, ia berdiri dan chek in salah satu kamar. "To...long... Sa...tu kha..mar u..n..tuk...ku..." Katanya lemah. Si resepionis segera memberikan sebuah kunci. Semua orang melihatnya aneh. Rambut yang acak-acakan. Tubuh yang kotor dan penuh luka. Namun Elsa tak peduli. Ia berhasil berjalan menuju kamar hotel. Lalu menarik pintu dan ambruk ke kasur selama berjam-jam.


***