
"Bu, jadi ke pasar?" Tanya Risa ditengah-tengah obrolan mereka. Ibu mengangguk.
"Kan mau sama Elsa." Ketus Elsa.
"Ehhh, kan kak Elsa ada tamu khusus." Balas Risa.
"Ehh eng... Enggak koq. Sekalian ada yang mau Elsa beli."
"Mau saya antar?" Sam menawarkan diri.
"Enggak usah. Aku mau naik angkutan umum aza." Balas Elsa.
"Ihhh kak Elsa, enakan pake mobil atuh. Aa Sam teh kan mau nganterin, jangan malu-malu atuh." Goda Risa.
"Risa." Elsa melotot.
"Yuk." Ajak Sam. Akhirnya Elsa mengangguk. Elsa sedikit canggung dihadapan Sam. Lelaki yang ibu pilihkan itu adalah Sam. Dan waktu itu Sam pun ngotot ingin menikahinya, bahkan ia sampai mengancam bahwa ia akan menggagalkan pernikahan Elsa bila bukan dia mempelai lelakinya. Tapi seakan dunia menjawab semua kegelisahan Sam, namun buat Elsa sendiri, ini akan menjadi kehidupan yang berat. Elsa tidak pernah berpikir bahwa ia akan menikah secepat ini. Bahkan untuk menerima lamaran mereka pun sangat sulit. Sebab, Sam bukanlah tipe idealnya. Bukan pula lelaki yang ia cintai. Sebenarnya Elsa memiliki hak untuk menolak. Tapi ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya. Jika memang Tuhan mentakdirkan aku untuk berada dijalan seperti ini. Maka dengan lapang dada, akan aku terima. Batin Elsa.
"Kamu nggak bilang kalau rumah kamu disini?" Sam memulai percakapan.
"Kenapa? Ada yang mau Anda rencanakan?" Balas Elsa.
"Maaf." Tukas Sam. Elsa menoleh, ini kali pertama Sam meminta maaf kepadanya. Setelah sekian lama ia bekerja untuknya.
"Huh...?!"
"Maaf." Sam mengulangi kalimatnya.
Elsa tersenyum, Sam menoleh, "apa permintaan maafku diterima?" Kata Sam.
"Aku sudah melupakannya." Jawab Elsa. Sam pun tersenyum.
"Terimakasih."
"Huh...?!"
"Apa aku harus mengulanginya lagi agar bisa kau rekam?" Tukas Sam. Elsa tertawa.
"Bukan begitu. Aku sudah terbiasa dengan sikap Anda yang angkuh, cuek dan dingin. Kata maaf dan terimakasih itu, jarang sekali anda katakan, kecuali kepada rekan bisnis anda." Ujar Elsa. Sam menghembuskan nafasnya.
"Lalu, apakah kepribadianku dimatamu jelek?" Tanya Sam. Elsa menggelengkan kepala.
"Uhmmm sedikit." Jawab Elsa.
"Baiklah." Sam mengangguk setuju.
"Lalu mengapa akhirnya Anda memutuskan untuk menerima perjodohan ini?" Kini giliran Elsa yang bertanya.
"Sebab kau menolakku." Jawabnya.
"Maksud Anda?"
"Well, aku tidak tahu kalau perempuan yang dimaksud kakekku adalah kau. Aku pikir, aku menyerah saat kau pergi menolakku." Jelas Sam.
"Dan kau...? Mengapa kau menerima perjodohan ini? Ketika dilain sisi aku telah membayarmu lebih dari 1 milyar." Selidik Sam.
"Keduanya memiliki persamaan. Sama-sama bukan lelaki yang aku cintai. Kakek Anda telah banyak membantu keluarga saya. Ibu, ayah dan kedua adik saya. Dulu, kata ibu, kakek Dani dan kakek saya adalah sahabat. Dan mereka sudah berencana untuk menjodohkan anak mereka. Sayangnya, ibu dan anak kakek Anda berjenis kelamin yang sama. Sepeninggal kakek, nenek tidak pernah lagi berkomunikasi dengan kakek Dani. Saat mengetahui bahwa ibu punya anak perempuan, katanya ini adalah peluang untuk menjadi besan. Aku ingin menolak. Aku ingin menjawab tidak. Aku punya hak untuk memilih. Tapi, jika aku egois, aku akan menghancurkan keluargaku sendiri. Ibu, ayah, dan semuanya. Lalu aku memutuskan untuk menerima lamaran tersebut. Aku pikir, mungkin kelak kita akan saling mencintai. Tapi kalaupun tidak, setidaknya aku telah memilih keputusan yang tepat yaitu membahagiakan kedua orangtuaku." Jelas Elsa. Sam terdiam.
"Jika seandainya kau mengingat semua kejadian 12 tahun silam, apakah kau masih mau membahagiakan orang tua palsumu? Yang sebenarnya mereka bukanlah orang yang baik. Kau dan saudara kembarmu. Kau dan orang tuamu. Aku dengan saudara kembarku dan aku dengan orangtuaku. Apakah kau akan memaafkan mereka? Kau tidak tahu Elsa. Jika kau tidak membuka mata dan telingamu. Anna tidak akan bisa menemukanmu. Kau juga tidak akan bisa menemukan Anna dan orang tuamu. Aku mohon bangunlah dari mimpi burukmu. Maafkan aku, aku tak memenuhi semua janjiku kepadamu." Batin Sam.
Sesampainya di pasar, Sam berjalan beriringan dengan Elsa. Mata Sam tidak lepas memperhatikan wanita yang akan ia nikahi itu.
"Elsa...?" Seru Sam.
"Hemmm...?" Gumam Elsa.
"Apa yang kau inginkan setelah kita menikah?" Tanya Sam.
"Apapun yang Anda inginkan, akan saya lakukan. Asal Anda bahagia, saya akan bahagia. Sama seperti saya bekerja untuk Anda." Jawab Elsa. Sam menghembuskan nafas lagi.
"Apa kau tidak ingin meminta yang lain?" Sam kembali bertanya.
"Uhmmm..." Elsa memonyongkan bibirnya, "tetap jadikan saya sekretaris Anda. Agar saya bisa membantu keluarga saya." Ujar Elsa.
"Setelah menjadi istriku, uangku adalah uangmu juga." Balas Sam.
"Memang benar, tapi jika saya mau memberi uang untuk keluarga saya, saya harus izin dulu kepada Anda, karena uang itu dari Anda. Tapi jika saya tetap bekerja untuk Anda. Saya tidak perlu minta izin kepada Anda untuk memberi uang kepada keluarga saya." Jelas Elsa. Sam tersenyum tipis.
"Baiklah jika itu maumu. Elsa, bagaimana jika kelak kau bertemu dengan seorang pria yang membuatmu bahagia dan kau jatuh cinta kepadanya. Apakah kau akan mengakhiri pernikahan kita?" Tutur Sam, masih dengan berbagai pertanyaan yang lainnya.
Elsa menoleh, "bagaimana jika itu terjadi kepadamu? Apakah Anda ingin mengakhiri pernikahan kita? Disaat kita menemukan belahan jiwa kita masing-masing. Anda ingin pernikahan kita menjadi pernikahan dengan sebuah kontrak? Begitu?" Balas Elsa.
Sam menoleh, mata mereka bertemu. Menatap satu sama lain. Sangat dalam. Sam ingat saat kali pertama ia bertemu dengan Elsa. Bibir yang bergetar, mata sendu yang menyimpan ketakutan. Dan saat itu, waktu berhenti. Detak jantung berdegup lebih cepat. Irama cinta beriringan menyelip perlahan-lahan. Dunia terasa berputar, hanya milik mereka berdua.
Dalam ingatan Elsa justru berbeda. Ia melihat kabut putih berputar mengelilingi matanya. Seorang pemuda tersenyum penuh riang. Menyatakan cinta dengan berteriak menyeru namanya. Berlari dengan merentangkan kedua tangannya. Lalu suara letusan kembang api mengiringi kegembiraannya.
"Ini kali pertama aku melihat kembang api." Ujar Elsa.
"Oh ya?" Sam seakan tak percaya.
"Sebenarnya tidak. Ada rahasia yang selalu aku simpan sendirian. Kau mau tahu...?" Kata Elsa.
"Apa itu...?"
"Rahasia ini hanya kita yang tahu. Kau harus janji." Katanya. Sam mengangguk setuju.
Hening sesaat, setelah Elsa menceritakan kisah hidupnya. Sam berpikir hal yang sama dengan Elsa. Sam ingin mempertemukan. Sam tidak ingin melihat air mata jatuh di pipi Elsa.
"............. Aku janji."
Tiba-tiba Elsa tersentak. Ia pikir waktu telah berhenti. Ia merasa sangat pusing. Detak jantungnya berdebar sangat cepat. Elsa merasakan hal aneh didalam dirinya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sam. Rasanya suara itu tak pernah asing. Begitu pikir Elsa. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sudah ia lewati? Elsa menyadari ada sesuatu yang aneh didalam ingatannya.
...***...