The Secret Story

The Secret Story
Episode Tiga puluh dua



Suster Marina menepati janjinya. Tanpa sepatah katapun suster Marina telah mengerti arti dari tatapan dan anggukan Elsa.


"Terimakasih banyak." Begitu ucapan suster Marina sambil berlalu meninggalkan Elsa. Kini Elsa termenung di atas ranjang perawatan. Sesekali ia menghembuskan nafasnya. Ia mendongak sebentar, memperhatikan cairan infusan yang mengalir ke tubuhnya. Efek samping dari obat anti depresan itu dapat mengakibatkan sebagian memory-nya hilang.


Krekkk. Suara pintu dibuka oleh seorang dokter. Elsa sudah menyiapkan dirinya. Sebanyak apapun cairan itu disuntikkan. Elsa akan pasrah.


"Pagi dok. Aku harap kali ini dokter menyuntikan cairan anti depresan lebih banyak kepadaku. Biar, aku bisa dengan cepat melupakan kejadian yang membuatku tersiksa." Tutur Elsa.


"Cairan anti depresan?" Elsa menoleh ke arah lelaki yang mengenakan jas putih. Ia tahu betul dengan suara itu. Lelaki yang Elsa pikir adalah dokter yang sering merawatnya itu membuka masker.


"Sameer?" Deg... Jantung Elsa berdegup sangat kencang. Matanya berkaca-kaca tak percaya. Refleks Elsa berdiri dan berhambur memeluk Sam. Lelaki itu membalas memeluk Elsa dengan penuh tanda kerinduan. Sam mencium kening dan kedua pipi Elsa.


"Kenapa lama sekali? Aku kangen sama kamu." Tukas Elsa dalam dekapan kekasihnya.


"Aku juga sangat merindukanmu Elsa." Sam melepaskan pelukannya sebentar. "Apa maksudmu dengan cairan depresan?" Tanya Sam dengan mengernyitkan kedua alisnya.


Glekkk. Elsa menelan ludah.


"Ibuku..." Elsa menundukkan pandangannya. Menahan nafas sebentar.


"Elsa...? Apa yang terjadi?" Sam menatap Elsa lamat-lamat. Ia sangat yakin bahwa ada yang sedang tidak beres dengan kondisi Elsa saat ini.


"Sam...?" Sebulir air bening jatuh di pipi Elsa.


"Katakan padaku apa yang terjadi?" Sam meninggikan suaranya. Air mata berjatuhan di pipi Elsa. Ini adalah kali pertama Sam meninggikan suaranya di depan Elsa.


"Mereka menyuntikkan cairan depresan kepadaku dengan alasan bahwa aku pasien penderita paranoia. Dan efek samping dari kelebihan cairan itu dapat mengakibatkan aku mengalami hilang ingatan. Aku akan melupakanmu...." Suara Elsa tercekat. Ia menatap nanar wajah Sam. "Aku... Tidak akan bisa mengingatmu lagi." Elsa meremas kemeja putih milik Sam. Menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya. Dada Sam bergemuruh tak karuan. Ada rasa sakit yang tak bisa dideskripsikan oleh apapun. Tak bisa dilisankan oleh diksi ataupun suara. Sebening air jatuh dari mata milik Sam. "Aku ingin pergi Sam. Aku ingin pergi.... Bawa aku pergi bersamamu. Aku mohon.... Aku sudah bilang kepadamu, kau tidak mengenal ayah dan ibuku. Mereka bukan orang baik. Aku mohon... Aku mohon Sam. Bawa aku pergi." Tangis Elsa memberikan luka yang sangat perih dihati Sam.


"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini didalam suratmu? Apa Naira dan sahabat-sahabatmu tidak tahu kondisimu saat ini? Huh? Atau kau hanya menyembunyikan semua ini dariku? Elsa? Katakan dengan jujur kepadaku?" Sam menatap lamat-lamat wajah Elsa yang lusuh. Elsa menggelengkan kepalanya.


"Sam... Mereka tidak tahu kondisiku. Kalau mereka tahu. Aku tidak akan bisa tidur. Orangtuaku pasti tidak akan diam. Aku tidak mau mereka dalam bahaya. Dan aku juga tidak ingin kau dalam bahaya." Jelas Elsa.


"Tapi kamu telah membahayakan dirimu sendiri." Ujar Sam.


"Aku tahu. Di dunia ini, jika harus ada yang berkorban untuk menyelamatkan kehidupan itu adalah aku. Jika suatu hari nanti aku tidak mengenalimu lagi. Aku mohon, kembalikan lagi ingatanku untuk mencintaimu dan kembali bersamamu. Jika di dunia ini hanya aku yang tidak mengenalimu. Kau bisa memaksaku untuk menikahimu." Papar Elsa terus terang dengan segala isi hatinya.


"Enggak Elsa. Kau tidak boleh berkorban untukku. Aku yang akan bertanggungjawab atas hidupmu. Aku. Aku yang akan berkorban untukmu. Kau tidak boleh bicara seperti itu. Nggak Elsa. Kau hanya milikku. Aku janji. Hanya aku satu-satunya lelaki yang bisa menikahimu. Hanya aku yang dapat membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku. Aku mohon. Bertahanlah untukku." Sanggah Sam, seolah menolak perkataan Elsa yang mengatakan bahwa ia akan melindungi Sam.


"Maafkan aku. Maafkan aku Elsa. Maafkan aku karena terlambat menemuimu." Peluh Sam dengan memeluk kekasihnya.


"Bawa aku pergi Sam." Bujuk Elsa dengan harap. Sam mengangguk setuju. Ia mengusap kedua pipi Elsa yang basah. Lalu ia mengecup kening Elsa dengan lembut. Membuka jarum suntik infusan, Sam membantu Elsa mengenakan sebuah jas putih. Mengikat rambut Elsa dengan rapi dan membantu merias wajah Elsa agar tampak segar. Sam menggenggam erat tangan Elsa, melewati pintu belakang rumah sakit. Sam dan Elsa berhasil keluar dari rumah sakit. Sam dengan cepat mengemudikan motornya. Kecepatan yang tidak biasa. Mereka menembus kota Jakarta dan membeli dua buah tiket pesawat menuju kota Denpasar.


Sementara di rumah sakit jiwa, suster yang menjaga dan merawat Elsa berteriak sekeras-kerasnya. Ia segera melapor ke dokter Tian bahwa Elsa kabur dari rumah sakit jiwa. Seluruh penghuni rumah sakit geger karena kehilangan Elsa. Ranti dan Gunawan pun bergegas mencari Elsa. Cctv rumah sakit jiwa tidak memperlihatkan tanda-tanda Elsa hilang dari bangsal. Ranti menduga bahwa hilangnya Elsa pasti ada hubungannya dengan Sam. Dan itu terbukti ketika Gunawan dan Ranti berkunjung ke penjara.


Denpasar.


Sam dan Elsa telah sampai di Denpasar. Mereka berdua memilih untuk tinggal di satu hotel yang sama. Sam berjanji akan membawa Elsa ke Kanada untuk bertemu dengan ibu kandungnya. Namun untuk membuat pasport dan visa, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Selama proses pembuatan visa dan pasport, Elsa dan Sam menghabiskan waktu bersama. Tak sadar bahwa mereka sedang diburu oleh polisi dan seluruh anak buah ayahnya Elsa. Mereka hanya memikirkan waktu yang akan mereka habiskan.


"Sam aku sangat bahagia sekali." Ujar Elsa saat mereka berada dibibir pantai. Elsa menginjak pasir pantai yang kasar. Ia merasakan air yang beriringan membasahi mata kakinya. Namun bergandeng tangan dengan Sam adalah hal terindah yang pernah ia alami selama ini. Seulas senyum dikedua sudut bibir Sam melengkung manis. Elsa juga tersenyum, menyiratkan kabahagiaannya.


"Aku juga." Begitu jawab Sam dengan mengacak-acak rambut Elsa secara perlahan.


"Iiihh Sam. Rambutku jadi berantakan." Protes Elsa.


"Tapi kamu suka kan." Tebak Sam. Elsa kembali tersenyum.


"Mau es krim..?" Elsa mengangguk. Sam menarik lengan Elsa, menghampiri tukang es krim yang jaraknya tidak jauh dari mereka. 


"Sa...?" Seru Sam lembut. Elsa menoleh. "Maafin aku ya." Lanjutnya. Elsa mengernyitkan dahinya. 


"Maaf kenapa?" Sam menggelengkan kepalanya, lalu ia meremas punggung tangan Elsa. "Sam... Mungkin apa yang aku katakan saat ini seperti dongeng, tapi, aku ingin suatu hari nanti kita akan selalu menggenggam satu sama lain. Karena kamu adalah alasan kenapa aku masih hidup. Hanya kamu, satu-satunya harapanku untuk bisa bertemu kembali dengan ibu kandungku dan Anna saudara kembarku. Hanya kamu Sam." Ujar Elsa. Sam menelan ludah. Itulah yang saat ini aku pikirkan Elsa. Bagaimana kalau aku tidak bisa menemukan Anna dan ibu kandungmu? Tapi, aku janji akan selalu melindungimu bagaimana pun caranya. Meski nyawa taruhannya. Aku akan selalu bersamamu. Menemanimu hingga dewasa. Batin Sam. 


Sam merangkul pundak Elsa, mencium kening Elsa dengan lembut. "Kamu harus sehat, kuat, dan bahagia. Bagaimanapun kamu hidup, kamu harus kuat. Meski aku tidak selalu berada disampingmu, tapi aku akan selalu ada dihatimu, menguatkan dirimu dan mencintaimu hingga nanti." Jelas Sam dengan menyentuh pipi Elsa dengan lembut. 


"Pulang yuk?" Ajak Elsa. Sam mengangguk. Tak elak bagaikan sepasang muda-mudi yang dilanda asmara, Sam tak pernah melepaskan genggamannya meski hanya sedetik. Dimanapun dan kapanpun keduanya sangat lengket bagaikan perangko. 


"Kita bisa ke Kanada kan?" Tanya Elsa sembari tidur diatas paha Sam. Sam mengangguk dengan yakin. "Bagaimana kalau tiba-tiba kita ketahuan?" Elsa menggigit bibirnya dengan ragu. Lalu bangun dan duduk sejajar dengan Sam. 


"Hey, sayang... kenapa bicara seperti itu? Kita sudah membuat pasport dan visa. Tinggal selangkah lagi." Balas Sam. Elsa menghembuskan nafasnya dan mengembungkan pipinya. 


"Aku hanya..." Cuppp... tiba-tiba Sam mencium bibir Elsa dengan cepat. Deggg. Elsa terkejut ketika Sam langsung nyosor begitu saja. Lalu Sam meneguk air mineral digelasnya. Bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Elsa masih terkejut dengan sebuah bibir yang menempel dibibirnya. Itu adalah kali pertama untuk Elsa. 


"Sam...?" Elsa memukul lengan Sam dengan keras. Tapi itu tidak ada apa-apanya bagi Sam. 


"Apaan sih." Cela Sam. 


"Kenapa kamu cium aku? Kamu tahu nggak aku mau kasih first kiss aku ini buat suami aku nanti." Tukas Elsa. 


"Kan calon suami kamu aku." Ledek Sam. Elsa memukul lengan Sam lagi dan lagi. "Elsa, percaya tidak kalau yang akan menjadi calon suamimu adalah aku?" Kata Sam. Elsa menggelengkan kepalanya. "Oh ya udah kalau begitu kamu pergi ke Kanada sendirian saja." Sam merajuk. 


"Ehh, koq gitu sih. Iya iya Sam aku percaya. Sameer...? Sam yang ganteng. Lelaki yang aku cintai. Kamu adalah cinta pertamaku dan cinta terakhirku. Aku percaya. Jangan gitu dong. Masa gitu aja merajuk sih." Bujuk Elsa. 


"Tahu ah." Cibir Sam. Elsa berusaha membujuk Sam dengan susah payah. Lalu entah ada dorongan apa, ia menempelkan bibirnya ke bibir Sam. Sam terkejut begitu Elsa menciumnya. Elsa menggigit bibir bawahnya. Kemudian Sam menarik lengan Elsa dan ******* bibir bawah Elsa dengan lembut. 


***