
Pertemuan itu membuka kembali ingatan yang sudah lama hilang. Elsa menangis tersedu sedan. Memeluk Anna dengan sangat erat. Efek dari obat dengan ingredient benzodiazepin itu bekerja sangat hebat. Serta telah berhasil membuat Elsa tidak mengingat secuil kenangan bersama Sam dan orang-orang terdekatnya. Tapi Tuhan tidak tidur. Tuhan memberikan obat paling baik dan istimewa untuk Elsa, ia adalah kasih dan cinta.
"Kau sangat kurus Elsa." Ucap Anna. Elsa mengecup kening adiknya. Tak disangka semuanya telah berubah. Anna tampak seperti orang luar. Rambut cokelat bergelombang panjang. Putih, bersih dan terawat, semerbak wangi ditubuh Anna pun menempel di hidung Elsa.
"Aku bahagia karena telah melihatmu sehat dan bahagia." Balas Elsa.
"Apa yang sudah terjadi kepadamu? Mengapa kau begitu kurus? Se... Seharusnya waktu itu aku tidak pergi meninggalkanmu. Ma... Maaf... Maafkan aku Elsa." Ujar Anna terbata-bata. Elsa mengusap wajah Anna. Menyeka air mata yang basah di kedua pipi Anna.
"Its okay Anna. I'm fine..." Sementara Anna masih diliputi rasa salah yang mendalam.
"Kau bilang memory Elsa hilang." Bisik Ad kepada Sam. Menanyakan kebenaran yang ia dapat dari saudara kandungnya itu.
"Ya, sebagian memory Elsa hilang. Tapi ikatan batin akan menguatkan seseorang menemukan kembali ingatannya yang hilang." Balas Sam.
"Mama pasti senang dapat melihatmu lagi." Tukas Anna yang tak dapat melepaskan pelukannya dari Elsa.
"Mari... Aku akan mengajak kalian menemui bu Eliana." Ad menambahkan. Elsa dan Sam mengangguk setuju.
***
"Kau ingat siapa dia?" Sam berbisik ke telinga istrinya dengan menunjuk Anna. Elsa mengangguk pelan. Sam merangkul pundak Elsa dengan lembut dan mesra.
"Dia Anna. Kembaranku." Balas Elsa pendek.
"Apa yang kau ingat?" Selidik Sam dengan hati-hati.
"Emmm... Aku tidak tahu kapan terjadi ingatan itu. Tapi entah bagaimana, aku merasa bahwa aku pernah melakukan sesuatu untuk mereka. Yang aku ingat, di Bandara Seokarno-Hatta, aku meminta Anna dan mama untuk pergi dari Indonesia. Aku menyiapkan pasport dan visa untuk keberangkatan Anna dan mama ke Kanada. Tapi, aku tidak ingat alasan mengapa aku meminta mereka pergi." Jawab Elsa dengan jujur.
Sam memeluk Elsa dengan lembut. Menghela nafas. "Are you okay?" Elsa menghembuskan nafas dengan berat, sehingga membuat Sam merasa khawatir.
"Kamu khawatir?" Elsa mendongak, menatap wajah suaminya. Sam menggaruk alisnya dengan pelan. Mengerjapkan kedua matanya.
"Eee, ya tentu saja aku khawatir. Aku kan suamimu." Sam tampak gugur.
Hati Elsa terasa bermekaran. Hangat dan tersentuh dengan semua sikap Sam terhadapnya. Elsa merasa beruntung memiliki suami seperti Sam. Entah apa yang terjadi di masa lalu, tapi sampai kapanpun Sam tetap akan menjadi lelaki satu-satunya yang mengisi kekosongan hati Elsa.
"Selama kamu ada disampingku aku tidak apa-apa." Ucap Elsa sembari memberikan senyuman bahagianya.
Elsa melangkahkan kaki pelan-pelan begitu tiba di sebuah apartemen.
"Kami tinggal disini. Saat tiba di Kanada, kamu mengirim uang sebanyak 5000 dolar. Kau bilang, itu untuk keperluan kami disini. Mama memutuskan untuk bekerja. Mama membuat roti dan makanan ringan lainnya untuk dijual. Tapi saat itu, kami kesulitan dalam penjualan. Aku hampir tidak bisa sekolah karena biaya sekolah cukup mahal. Tapi setiap satu minggu sekali kau selalu mengirim uang kepada kami. Uang itu, kami kumpulkan untuk membuat sebuah kedai. Tapi entah bagaimana tiba-tiba kami hilang kontak denganmu. Aku tidak bisa menghubungimu begitupun kau tidak memberi kami kabar lagi. Mama sangat khawatir. Tapi 2 tahun kemudian ada seseorang datang ke sini. Seorang kakek tua yang mengabarkan kalau kau baik-baik saja dan semua aset telah dijual kepada mereka, dia memberi kami banyak uang sehingga aku dapat kuliah dengan jurusan yang aku inginkan. Lama tidak mendapat kabar darimu. Aku berusaha memutuskan akan mencarimu di Indonesia. Aku pulang sendiri ke Indonesia selama beberapa bulan. Aku bertemu dengan Adrian. Sebenarnya Aku dan Adrian bertemu di Kanada. Dia selalu mengatakan bahwa aku mirip seseorang yang dia kenal. Awalnya aku tidak pernah respek. Lambat laun dia menceritakan sesuatu kepadaku. Dan membuatku merasa menyesal karena telah meninggalkanmu sendirian. Aku juga tidak tahu kalau kau sudah menikah. Mama selalu ingin bertemu denganmu. Mama bilang, biarpun hanya bisa sekali bertemu lagi denganmu, setidaknya mama tahu kalau kau baik-baik saja. Aku punya toko roti. Dan bekerja sama dengan perusahaan IFood milik Adrian. Aku dikabarkan oleh Adrian kalau ternyata istri dari kakaknya adalah kamu Elsa. Betapa bahagianya aku saat mendengar semua itu. Dan mendengar kau akan datang ke sini itu adalah kebahagiaan terindah untukku dan mama. Kami selalu menunggumu. Kau sudah berjanji bahwa setelah urusanmu selesai di sana, kau akan mengunjungi kami dan menetap disini. Mama selalu menunggumu. Mama tidak pernah berhenti berharap. Aku harap kau akan memaklumi keadaan mama." Jelas Anna sebelum mereka masuk ke sebuah kamar. Anna membuka pintu kamar pelan-pelan.
Eliana terbaring di sebuah ranjang. Ia sudah terbangun sejak 2 jamur yang lalu. Namun pandangannya kosong. Ia hanya menatap ilalang di luar jendela. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Sepulang dari Indonesia, tiba-tiba ia jatuh dari kamar mandi. Begitu dilarikan ke rumah sakit. Ia sudah tidak dapat menggerakkan kaki dan tangannya. Dokter mengatakan bahwa Eliana mengalami stroke, sehingga ia hanya bisa duduk. Dan melakukan semua aktivitas di atas kasur. Eliana menelan ludah. Hatinya bergemuruh, gelisah. Entah apa yang dipikirkan wanita baya berusia 57 tahun itu. Anna menatapnya dengan iba.
"Mah...?" Seru Anna berdiri dibibir pintu. Sementara Elsa berdiri disamping Anna.
"Mama..." Seru Elsa. Suara Elsa membuat Eliana menoleh. Suara yang selalu ia rindukan selama belasan tahun ini. Kedua matanya terasa hangat. Tergenang air mata dikedua mata ibu dua anak itu. Ia melihat Elsa mengenakan mantel berwarna cokelat. Rambutnya tergerai lurus. Poninya yang hitam berjejer rapi didahinya. Buliran air mata jatuh beriringan dengan bibirnya yang bergetar.
"Mama..." Elsa berhambur memeluk ibu kandungnya. Seketika itu, seluruh ingatan Elsa tiba-tiba runtuh. Ia memejamkan kedua matanya. Memeluk erat-erat tubuh Eliana.
***
"Elsaaaa...." Suara teriakan Sam mengalihkan pandangan semua orang. Elsa terkulai dipelukan Sam. Ketika peluru menusuk punggungnya. Elsa menatap Sam dengan nanar. Kemudian tubuhnya lemah tak berdaya.
"Elsa... Bangun Elsa... Elsa aku mohon.... Enggak. Nggak mungkin.... Jangan tinggalkan aku. Aku mohon bangun..." Sam mengguncang tubuh Elsa. Namun Elsa tidak bergerak, ia tidak merespon suara Sam. Seluruh anak buah Gunawan tercengang ketika tembakan mereka salah sasaran. Gunawan marah sejadi-jadinya.
"ELSA...?" Seru Gunawan dengan keras. Tanpa berpikir panjang, Sam membopong Elsa dan berlari dengan sekencang-kencangnya menuju rumah sakit. Dengan keadaan kacau hatinya, kacau pikirannya, dan air mata yang basah dikedua pipi Sam. Semuanya terasa kalut, panik, cemas dan semua rasa bercampur aduk di dalam hatinya Sam.
"Bertahanlah. Aku mohon bertahan untukku. Aku janji, aku janji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mohon, bertahanlah untukku, Elsa." Sam berdoa di dalam hatinya.
Elsa dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Dengan harap-harap cemas, Sam menunggu Elsa siuman. Begitu pun Gunawan yang baru saja tiba di rumah sakit. 12 jam setelah peluru berhasil diambil, Elsa menggumamkan nama Sam.
"Sammm.... Sammm.... Sameer..." Lirihnya hampir tak terdengar.
Dokter jaga pun bergegas keluar memanggil nama yang disebut oleh pasien.
"Keluarga dari pasien bernama Elsa?" Seru dokter. Gunawan segera bergegas.
"Saya dokter." Ucap Gunawan.
"Apa ada saudara yang bernama Sam atau Sameer. Pasien ingin bertemu dengan saudara Sam." Tukas dokter.
"Saya dokter." Sam beranjak dari tempat duduknya. Ia bergegas masuk ke ruangan yang ditunjuk dokter.
"Siapa tahu dapat memulihkan pasien." Pungkas dokter. Sam menganggukkan kepalanya. Sam meraih tangan Elsa dengan erat.
"Sssaammmm...?" Lirih Elsa.
"Ini aku, Sa. Aku disini." Ucap Sam.
Sebulir air mata jatuh di pipi Elsa.
"Ma...af...kan... A...ya..h...ku..." Kata Elsa pelan dan terputus-putus. Tak terasa Sam pun menangis. Menggenggam tangan Elsa, memeluknya, menciumi punggung tangan Elsa. Ia pun menggelengkan kepalanya.
"Sa, kamu harus sehat. Aku ingin kamu selalu bahagia dan sehat bugar. Aku janji, aku janji pada diriku sendiri, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada untukmu. Aku janji. Aku janji Elsa. Biarpun aku harus dikutuk, aku hanya ingin kutukan itu untuk tetap mencintaimu sampai mati. Sampai kita kembali dipertemukan di surga. Aku tidak akan mencintai wanita mana pun kecuali kamu." Tutur Sam.
Hati Elsa tersentuh dengan penuturan dari Sam. Elsa menelan ludah.
"Akhu... Mencintaimu, sampai surga mem...per...te..mu..kan ki...tha... lagi..." Sam mengangguk setuju. Ia mencium dahi Elsa dengan tulus. Mengelus rambut Elsa dan sekali lagi mencium dahi Elsa dengan haru biru.
***