The Secret Story

The Secret Story
Bab Dua puluh satu



Berita pembunuhan presdir Harvest ditayangkan secara berulang kali. Jejak rekaman yang tersimpan di dalam memory Elsa terus menerus diputar berkali-kali. Elsa muak dengan ingatan pada kejadian malam pembunuhan itu. Namun perlahan-lahan berita tentang kematian presdir Harvest memudar ditelan masa. Tapi tidak dengan ingatan Elsa yang memudar. Ia justru merasa sangat depresi.


Malam itu, Elsa mengambil sweater berwarna jingga yang digantung di dinding kamarnya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Berjalan gontai di trotoar, didalam hatinya terselip untuk melakukan bunuh diri. Pikirannya sedang kacau. Ia ingin hidup untuk membela keadilan tapi ia sangat tertekan.


"Elsa, kau akan merasa lebih tenang jika minum obat ini." Begitu tukas ibu ketika Elsa meraung penuh emosi. Namun semenjak itu, ia merasakan halusinasi yang sangat hebat.


"Sa, tolong jangan diminum lagi obat pemberian ibumu." Kata Naira. Naina, Niken dan Via menoleh ke arah Naira. Meminta penjelasan yang pasti. "Jadi obat ini akan mengakibatkan Elsa berhalusinasi dan lambat laun akan mempengaruhi daya ingatannya Elsa. Perlahan-lahan ia akan melupakan banyak hal yang terjadi didalam hidupnya dan lebih parahnya dapat membunuh secara perlahan-lahan. Ini sudah teruji di laboratorium pamanku yang bekerja di Jepang." Jelas Naira.


Seketika ia tersentak mendengar semua penjelasan Naira. Hingga saat ini, Elsa merasa hidupnya penuh dengan tekanan batin. Elsa berjalan ke tengah jalanan beraspal. Beberapa mobil mengklakson dengan sangat keras. Tapi Elsa tidak peduli. Ia ingin sebuah mobil menghantam tubuhnya hingga tak bernyawa. Elsa memejamkan kedua matanya. Namun harapannya untuk bunuh diri tidak terwujud. Ada sebuah tangan yang meraih lengannya. Tubuhnya terseret, hingga ia terjatuh ke trotoar.


"Awwww..." Elsa merintih.


"Ouch...." Seorang lelaki ikut merintih kesakitan.


"Siapa kamu?" Kata Elsa dengan nada yang tinggi.


"Jangan tanya siapa aku. Ayo ikut aku." Balas lelaki itu. Elsa membulatkan kedua matanya. Menatap lelaki itu dengan penuh kekesalan. Rencana percobaan bunuh dirinya gagal.


Lelaki berhidung mancung itu menoleh, lalu menyeret Elsa dengan paksa. Elsa tidak sanggup melawan karena cengkraman lelaki itu sangat kuat. "Naik!" Perintahnya. Elsa menggelengkan kepalanya. Lelaki itu memakaikan helm ke kepalanya Elsa.


"Naik atau kau akan kubawa ke polisi." Ancamnya. Elsa mengernyitkan kedua alisnya.


"Apa hubungannya dengan polisi?" Tanya Elsa.


"Karena kau telah membunuh kedua orangtuaku." Jawab lelaki itu. Elsa menelan ludah.


"Naik!" Perintahnya lagi. Akhirnya Elsa menurut.


"Apa buktinya kalau aku membunuh orangtuamu? Aku tidak mengenalmu." Ujar Elsa begitu motor melaju dijalanan.


"Kau yang menabrak mobil orangtuaku." Seketika ingatan Elsa kembali pada kejadian tragis itu.


"Bukan aku." Sanggah Elsa.


"Lalu siapa? Hantu? Sudah jelas-jelas kau yang menabrak mobil orangtuaku. Seharusnya kau juga terlibat dan dipenjarakan. Seharusnya orangtuamu tidak mengizinkanmu untuk menyetir mobil sendirian." Jelas lelaki itu.


"Tapi bukan aku." Elsa terus mengelak. Namun lelaki itu tidak memperdulikannya. Dia menancap gas, spontan Elsa memeluk lelaki yang telah membawanya pergi itu.


***


Elsa memandangi rumah yang sangat indah. Sebuah rumah yang dipenuhi dengan desain arsitek yang unik. Tampak klasik namun modern. Dipenuhi dengan banyak ruangan rahasia. Dan Elsa dibawa ke lantai dua. Lebih tepatnya di kamar lelaki itu yang rapi dan dipenuhi dengan alat-alat musik. Ada sebuah ruangan yang sangat kecil dan unik. Dan ruangan itu adalah tempat tidur rahasia.


"Kau tidur di sana." Kata lelaki itu.


"Kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Elsa.


"Aku sedang menculikmu." Jawab lelaki itu.


"Menculikku?" Ketus Elsa tak percaya. "Lantas setelah menculikku kau akan meminta bayaran kepada kedua orangtuaku begitu? Atau kau akan membunuhku? Oh atau kau akan memperkosaku? Begitu? Aku tahu kenapa kau menculikku." Tutur Elsa. Lelaki itu berdiri berhadapan dengan Elsa.


"Kau tahu siapa aku?" Tanyanya.


"Tidak. Tapi aku tahu alasanmu membawaku kemari. Kau anaknya presdir Harvest. Perusahaan ternama yang telah menjajahi semua kaum wanita. Perusahaan yang sangat serakah. Kalian habiskan uang untuk menjajahi semua kaum wanita. Kalian gunakan semua karyawan kalian untuk bungkam terhadap masalah yang ada didepan kalian. Aku membencimu. Kau jadikan orangtuaku sama serakahnya seperti orangtuamu." Nanar mata Elsa. Merah padam, bahkan butiran air mata jatuh tak terasa.


"Jangan menuduh orangtuaku. Kau tahu apa soal perusahaan hah? Ayahmu yang menipu keluargaku. Keluargamu yang menghancurkan semua harapan perusahaan. Penggelapan dana. Investasi palsu. Dan penipuan kontrak kerja sama. Kami tidak menjajahi kaum perempuan. Kami hanya memberikan pertolongan lewat bantuan kemasyarakatan. Kau tidak tahu apa-apa." Elsa menelan ludah. "Dan sekarang, kau berhasil membuat aku menjadi anak yatim piatu, Elsa." Lanjutnya. 


"Bukan aku." Elsa menelan ludah. "Sungguh bukan aku yang membunuh mereka. Ingatan itu membuatku depresi. Emosiku tertahan. Aku tidak bisa bersaksi karena ancaman orang tuaku. Aku mohon. Demi menyelamatkan ibu kandungku dan saudaraku. Aku tidak bisa bersaksi untuk menjelaskan kepada hakim siapa pembunuh presdir Harvest dan ibumu. Aku mohon, maafkan aku." Elsa berlutut dihadapan lelaki itu. Dengan air mata yang mengalir deras dikedua pipinya.


"ELSA...?" Nada suara ayah sangat tinggi. 3 hari setelah Elsa pulang dari rumah sakit, pasca kecelakaan itu terjadi. Elsa yang saat itu sedang menelpon Anna pun segera mematikan sambungan seluler. Ayah membanting pintu kamar Elsa.


"Apa yang kau lihat?" Tanya ayah dengan nada yang sangat keras. Elsa menundukkan wajahnya dengan takut. "Kau pikir ayah tidak tahu? Bajingan licik. Katakan kepadaku apa yang kau lihat?" Namun Elsa tidak berani mengatakan kebenarannya kepada ayah. Bahwa ia mengetahui semua peristiwa yang terjadi malam itu. Om Sunil dan orang kepercayaan ayah telah membunuh banyak orang. Dan dalang dari semua pembunuhan itu adalah Gunawan, ayah kandung Elsa.


"Katakan dimana Anna dan ibumu berada? Kau sudah menghabiskan uang puluhan juta untuk melindungi mereka. Kalau kau menjadi saksi kematian Erik dan presdir Harvest. Maka aku tidak akan segan-segan untuk mencari keberadaan Anna dan ibumu. Aku akan membunuh mereka berdua." Ancam ayah. Sekujur tubuh Elsa penuh dengan elemen rasa takut. Berguncang hebat, dan bahkan Elsa tidak dapat tidur karena memikirkan keselamatan Anna dan ibu kandungnya. Sehingga Elsa memilih diam.


"Jangan ayah. Elsa mohon... Jangan cari Anna dan mama. Elsa mohon ayah. Elsa janji, Elsa akan tutup mulut. Elsa tidak akan bersaksi didalam persidangan itu. Elsa janji. Elsa janji ayah. Asal ayah tidak mencari mereka." Begitu janji Elsa. Tapi Gunawan mengingkarinya. Dia mengerahkan semua orang kepercayaannya untuk mencari Anna dan ibu kandungnya. Seluruh pelosok dunia. Elsa bergegas mengirim surel untuk Anna.


To : Anna


Subject : Pergi


Ann, keadaan disini sedang tidak baik. Ayah dan semua orang kepercayaannya akan mencari kamu dan mama. Aku mohon. Setelah baca surel ini, pergilah sejauh mungkin. Aku akan mengirim pasport dan visa yang baru, agar kalian dapat hidup dengan tenang. Tolong jaga mama. Aku tidak bisa pergi dari sini. Katakan kepada mama, bahwa aku akan baik-baik saja. Pergilah. Pergi sejauh mungkin. Dan jangan pernah kembali. Pergilah. Kelak nanti, Tuhan yang akan mempertemukan kita kembali. Aku akan berdoa untuk kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan kalian. Jaga mama untuk aku. Aku menyayangimu dan mama.


Elsa.


***


"Makan!" Perintah Sam dengan menyodorkan sebungkus nasi rames untuknya. Elsa langsung membuka bungkusan nasi, lalu memakannya dengan lahap. Ia lupa kapan terakhir kali ia makan nasi. Tiba-tiba air matanya berderai kembali dipelupuk matanya.


Kali ini Sam menatapnya dengan berbeda, "Apa kau sakit?" Tanya Sam, Elsa menggelengkan kepala. "Apa kau menangis karena lapar?" Dia menggelengkan kepala lagi. "Lalu kau kenapa?" Elsa tidak menjawab apapun. Sampai makanannya habis.


"Setelah ini, kau mandi." Kata Sam. Elsa menganggukkan kepalanya. Sam menyiapkan handuk dan baju untuk Elsa. Sam tidak berpikir sejauh ini. Bahwa perempuan yang ada dihadapannya saat ini sebenarnya memiliki tekanan yang sangat hebat. Ada begitu banyak pertanyaan didalam hatinya. Namun pertanyaan itu tak dapat ia tanyakan kepada ayahnya. Kini ayah berbeda. Bukan lagi ayah yang pernah ia kenal saat ia masih kecil dahulu.


"Makasih..." Lirih Elsa.


"Huh?" Sam mendongak.


"Makasih. Kau masih sekolah?" Tanya Elsa. Sameer menggelengkan kepalanya.


"Aku bukan anak SMP sepertimu." Jawab Sam.


"SMA?"


"Bukan." 


"Pengangguran?" Ketus Elsa.


"Hemmmh, aku sedang studi sarjana. Kau tahu tidak?" Balas Sam kesal.


"Ohh anak kuliahan."


"Banyak nanya." Ketus Sam. Elsa menghembuskan nafasnya.


"Tingkat berapa? Semester berapa?"


"Bisa diam nggak?"


"Kan kita bisa kenalan. Bentar lagi aku mau masuk SMA. Kak Sam tingkat berapa?"


"Tingkat pertama dan baru semester pertama. Puas?" Elsa tersenyum lebar. Sam terkesiap melihat senyum manis yang tersungging dibibir Elsa. Cantik. Dia sangat cantik.


***