The Secret Story

The Secret Story
Episode Sembilan



"Dia akan menerima hukuman yang setimpal." Kata Sam. Seorang lelaki muda mengenakan seragam polisi intel mendatangi mobil Sam.


"Ini cek yang tadi bapak kasih." Kata lelaki itu.


"Okey. Terimakasih atas kerjasamanya." Balas Sam. Elsa melotot tak percaya. Rupanya yang tadi membeli dirinya dengan seharga 1 M adalah Sam.


"Kenapa?" Tanya Sam menyipitkan matanya.


"Huh? Ehh eng... Enggak apa-apa." Balas Elsa. Ia menelan ludah, lalu bertanya kepada Sam. "Kenapa Anda tahu aku disini?" Sam menarik sabuk pengaman lalu mengencangkannya ke tubuh Elsa.


"Kenapa kau tidak bercerita bahwa kau mengalami kesulitan? Jangan menutup diri seperti ini. Hidupmu, kau yang menentukan. Bukan orang lain." Balas Sam. Lalu menyodorkan cek sebesar 1 milyar kepada Elsa.


"Apa ini?" Elsa mengernyitkan dahinya ketika Sam memberi ia cek senilai 1 milyar.


"Ini hakmu."


"Anda ingin bermalam dengan saya? Cehhh, semua lelaki sama saja. Kalian sama-sama brengsek dan bajingan." Ketus Elsa.


"Saya punya alasan mengapa saya memberimu cek sebesar ini." Balas Sam.


"Apa?" Elsa menatap lamat-lamat, Sam terdiam sejenak. "Aku bukan pelacur yang bisa diajak bercumbu satu malam. Aku punya harga diri, meskipun aku tahu aku sudah dilecehkan. Anda melakukan hal itu kepadaku, sama saja Anda melecehkan saya." Lanjut Elsa.


"Tidak, aku tidak melecehkanmu. Uang ini adalah tanda sebagai..." Kalimatnya terhenti, Sam tidak tahu harus mengatakannya dari mana. Tapi ia tahu, ini jalan satu-satunya untuk meminta Elsa menjadi pendampingnya.


"Sebagai apa?" Tanya Elsa.


"Sebagai... Pendamping hidupku." Lanjut Sam akhirnya. Elsa terperanjat tak percaya.


"Apa maksud Anda? Anda ingin membeliku dan menjadikanku istri bayaran, dengan seharga 1 milyar. Kenapa harus aku? Apa Anda menganggapku seorang pelacur? Anda ingin memperbudakku, sehingga Anda melakukan hal seperti ini kepadaku." Tutur Elsa.


"Tidak, bukan begitu Elsa. Kau salah paham." Balas Sam.


"Lalu apa? Jelaskanlah." Pinta Elsa.


"Sekarang?" Elsa mengangguk.


"Okey. Kakekku dari Australia akan datang, dia akan menjodohkanku dengan seseorang yang tidak aku kenal. Aku sudah berbohong kepadanya kalau aku memacari sekretarisku. Dan kau tahu sekretarisku siapa? Yaitu kau. Dan kakek memintaku untuk segera menikah." Jelas Sam.


"Bohong." Ketus Elsa.


"Aku tidak bohong." Ujarnya. Lalu Sam menyodorkan ponselnya kepada Elsa. Sebagai bukti percakapan antara dirinya dengan kakeknya. Elsa menghembuskan nafas panjang, apa lagi ini? Kenapa harus begini? Kenapa hidupku seperti ini. Batin Elsa.


"Lalu kenapa kau harus berbohong kepada kakekmu?" Tanya Elsa.


"Karena... Emmm. Itu jalan buntu. Saat itu, hanya itu yang aku pikirkan." Jawabnya.


"Jadi, kau mau aku menjadi istri bayaranmu? Begitu?" Selidik Elsa.


"Emmm ya, kira-kira begitu. Kalau kau mau." Balas Sam. Elsa menatap cek sebesar 1M itu. Yang ada didalam pikirannya adalah. Hutang ayah. Kondisi ibu. Biaya adik-adiknya sekolah. Beli rumah untuk ibu. Itu sudah lebih dari cukup. Bahkan Elsa bisa berhenti bekerja di perusahaan Sam. Ia bisa pergi ke Australia untuk kuliah. Sesuai dengan impiannya. Namun entahlah? Bagaimana jadinya kalau ia tidak menerima uang itu? Hutang tetap harus dibayar. Ayah pasti akan lebih lama lagi di penjara. Ia tidak akan bisa mendapat remisi untuk hukuman ayahnya. Jangankan Sam, Elsa pun memiliki pikiran yang buntu.


...***...


Kematian Indra adalah akhir dari segalanya. Dia meregang nyawanya saat pemeriksaan dokter. Elsa menghembuskan nafasnya. Menatap raga yang tak bernyawa milik Indra. Elsa mengumpat puas. Lalu ia berbisik didepan mayat mantan kekasihnya.


"Kau yang meminta kematian. Bukan doaku. Dan Tuhan menjawab semuanya. Semua yang aku minta. Aku harap, para malaikat akan menyiksamu lebih ganas, lebih kasar dari pada kau kepadaku. Ini yang aku minta. Aku yakin di alam lain kau mampu mendengarku. Tapi sekarang, kau tidak bisa melakukan apapun kepadaku. Maafkan aku jika aku bahagia atas kematianmu." Kemudian Elsa berlalu meninggalkan mayat mantan kekasihnya.


Ia tersenyum sinis dengan kebebasannya sendiri. Ia akan menatap masa depan yang indah. Tanpa adalagi yang memeras dan menyiksanya.


***


Satu minggu setelah kematian Indra. Elsa mendapat kabar dari adiknya bahwa ayahnya mendapatkan remisi keringanan hukuman penjara. Hutang ayah telah lunas. Sementara kesehatan ibu semakin membaik. Uang spp Risa dan adiknya yang sudah menunggak 3 bulan sudah lunas. Elsa menatap selembar cek ditangannya. Lalu menelan ludah. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus mengembalikan uang itu? Ataukah justru harus menerima permintaan Sam untuk menjadi pendamping hidupnya? Elsa menghembuskan nafasnya.


Setelah hal buruk itu usai. Elsa dapat bernafas lega. Saat ia pulang ke rumah orang tuanya Risa dan Asya merengek meminta dibelikan baju dan sepatu. Akhirnya cek sebesar 1 milyar itu ia pakai untuk membeli kebutuhan kedua adiknya serta kebutuhan rumah untuk ibu dan neneknya. Hanya untuk kebutuhan keluarganya. Tidak lebih dari itu. Elsa telah memahami kehidupannya, saat ini ia tidak berpikir akan melanjutkan studinya, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar Risa dan Asya dapat melanjutkan sekolah. Ia menjadi lebih hemat untuk mengeluarkan uang.


Dan hari itu, tiba-tiba ibu membahas soal sebuah pernikahan dan perjodohan. Mereka meminta Elsa untuk menikah dengan seseorang yang tidak ia kenal. Ranti begitu semangat menceritakan calon suami Elsa nanti.


"Apa? Menikah?" Tanya Elsa tak percaya.


"Ayahmu sudah terlanjur janji, sudah terlanjur berhutang budi pada beliau. Ibu tidak bisa menolak keinginan beliau." Kata Ibu.


"Sejak kapan ibu membuat keputusan sendiri?" Tanya Elsa menatap tajam ibunya.


"Elsa..."


"Ibu sudah ketemu sama orangnya?" Selidik Elsa. Ranti mengerjapkan kedua matanya. Ia menghela nafas. Ia tahu bahwa putrinya tidak akan setuju dengan perjodohan ini. Namun ia tak punya pilihan. Lelaki tua itu mendesaknya. Bahkan akan membeli rumah yang mereka tinggali sekarang jika tidak mau menjodohkan putrinya dengan cucunya. Semua rahasia besar yang ia simpan bertahun-tahun lamanya telah terbongkar. Remisi hukuman ayahnya menjadi jaminan hukuman terbesar lainnya. Ranti sangat takut sekali. Begitu pun dengan neneknya Elsa yang telah bersujud memohon ampun dan maaf kepada lelaki tua itu. Tidak mungkin Ranti membeberkan semua rahasianya kepada Elsa. Itu akan memicu ingatan Elsa kembali. Menikahkan Elsa dengan cucu lelaki tua itu akan meringankan semuanya.


"Lambat laun Elsa akan tahu semuanya. Termasuk siapa orang tua kandungnya. Ingatan Elsa tidak sepenuhnya hilang. Dia akan mengingat semua kejahatan kalian. Menikahkan Elsa dengan cucunya lebih baik dari pada kau ikut terseret ke dalam bui." Begitu bujuk rayu nenek Elsa sehari sebelum Elsa pulang.


Ranti menggelengkan kepalanya. "Belum. Tapi ibu yakin, lelaki itu baik." Balas Ranti.


"Aku tidak bisa berjanji pada ibu." Tukas Elsa.


"Ibu mohon Elsa. Ini untuk masa depan dirimu. Dia menjamin kau akan hidup bahagia. Dia menjamin kau bisa mewujudkan semua cita-citamu. Kau akan sejahtera hidup bersama dia. Ibu mohon." Bujuk Ranti.


"Elsa butuh waktu sendiri dulu ya bu." Jawab Elsa. Kalau aku menerima lamaran mereka, bagaimana dengan pak Sam? Aku bahkan sudah janji kepadanya untuk mau menikah dengannya.


"Kalau kamu mau. Besok mereka akan datang ke rumah. Ibu bilang, mumpung besok hari minggu dan kamu libur kerja. Jadi mereka akan datang kesini." Tambah ibu.


"Bu, tolong beri aku kesempatan untuk berpikir. Menikah bukan perkara yang mudah." Balas Elsa keukeuh.


"Elsa, jangan salah paham. Ibu tahu, ibu terlalu memaksa kehendak ibu. Tapi semua ini demi kebaikanmu. Kau akan menemukan sesuatu yang selalu ingin kau tahu." Ujar Ranti. Setitik celah air mata membasahi matanya.


"Apapun keputusanku nanti, tidak akan merugikan ibu. Aku akan jamin itu." Balas Elsa.


Elsa mengunci pintu kamarnya, "kenapa hal ini harus datang secara bersamaan? Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ibuku. Apakah ibu sama dengan Indra? Yang berencana untuk menjual aku kepada orang lain. Kenapa rasanya, aku tidak memiliki ingatan yang indah tentang cinta keluarga. Yang selalu menghantui pikiranku adalah, gelap, hujan, darah, rumah sakit, teriakan, tangisan dan kesedihan yang sangat dalam. Aku bahkan tidak memiliki ingatan tentang masa kecilku. Siapa aku? Kemana aku harus melangkah disaat semua orang tidak menginginkanku. Kini uang 1 milyar yang diberikan oleh pak Sam sudah berkurang. Sudah aku pakai untuk kebutuhan keluargaku. Kalau aku kembalikan. Pasti akan melukai harga dirinya. Bagaimana ini?" Batin Elsa.


***