The Secret Story

The Secret Story
Episode Empat belas



Elsa duduk di samping seorang lelaki yang akan menjadi suaminya. Pernikahan itu digelar dengan sangat meriah. Pernikahan yang sangat diharapkan oleh kebanyakan perempuan. Namun tidak bagi Elsa.


Sam mengucapkan janji suci dengan lantang, lalu diiringi dengan sambutan sah dari para saksi. Sam melirik sebentar wajah Elsa yang kini menjadi istrinya. Elsa tersenyum tipis. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sebagai seorang pengantin., "jujur, aku tak sanggup menanggung semua ini. Aku akan menjadi istri yang bahkan aku tidak tahu, apakah akan dicintai atau tidak. Aku tidak akan tahu, bagaimana takdir menelusuri jalanku. Setelah ini, apakah aku masih sanggup untuk bernafas atau tidak? Semakin aku memikirkannya, semakin sakit perasaanku. Apakah kelak aku akan dicintai? Atau apakah aku akan bisa mencintainya? Tolong kuatkan aku Tuhan."


***


"Elsa, ajak Sam makan dulu." Begitu kata ibu pada jam 9.00 malam setelah semua rangkaian acara pernikahan selesai. Sam sudah membersihkan diri sejak satu jam yang lalu, begitu pun dengan Elsa yang sudah berganti pakaian dan membersihkan wajah serta seluruh tubuhnya. Sam meluruskan tubuhnya diatas kasur. 


"Sam... Kita makan dulu." Seru Elsa. Sam terbangun lalu mengangguk dengan canggung. Ia mengikuti langkah kaki istrinya. Elsa tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Sam menabrak dirinya. 


"Kau itu...?" Kata Sam. Elsa membalikkan badannya. Lalu menyipitkan matanya.


"Aku lupa sesuatu." Balas Elsa.


"Apa?" Tanya Sam sambil melotot. Elsa bergegas pergi ke kamarnya disusul oleh Sam. 


"Kenapa kau mengikutiku?" Ketus Elsa. 


"Eee... aku. Aku cuma memastikan kau baik-baik saja." Jawab Sam sekenanya. 


Elsa memonyongkan bibirnya, "aneh." Ketusnya. 


*** 


"Nak Sam, jangan sungkan-sungkan ya." Tukas Ibu saat mereka duduk bersama di meja makan. Sam mengangguk. Sam melirik Elsa berkali-kali, perempuan yang telah menjadi istrinya itu tengah asyik makan dan bercengkrama dengan kedua adiknya. "Kalau kau tahu siapa keluargamu yang sebenarnya, apakah kau akan bisa tersenyum seperti ini, Elsa?"  Batin Sam. Setelah makan malam selesai dan waktu menunjukkan pukul 11 malam. Sam pamit pergi ke kamar pengantin, seluruh otot tubuhnya sangat lelah, begitupun dengan Elsa.


"Aku sudah bicara dengan orangtuamu." Sam membuka percakapan. Setelah mereka tiba di kamar. Elsa menoleh dan mengernyitkan dahinya.


"Huh?"


"Seminggu setelah kita menikah, aku akan membawamu ke Canberra." Lanjutnya.


"Untuk apa?" Elsa menahan nafasnya sebentar. Apa yang akan dia rencanakan sebenarnya?


"Kita akan tinggal disana."


"Bersama kakek?"


"Tidak. Kakek akan tinggal disini bersama tanteku. Rumah dan perusahaan di Canberra akan menjadi milikku. Jadi, kita akan tinggal disana." Jelas Sam.


"Ohh baiklah."


"Kau tidak keberatan?" Tanya Sam, Elsa menggelengkan kepala.


"Kau sudah menjadi suamiku. Kemana pun kau pergi, aku akan ikut bersamamu." Jawab Elsa. Sam tersenyum tipis.


"Terimakasih." Kata Sam. Elsa menganggukkan kepala dengan canggung. "Elsa.......?" Seru Sam. Elsa menoleh lagi. Glekkk. Elsa menelan ludah. Sam menatapnya lamat-lamat. Seluruh aliran darahnya mendadak panas dingin, wajah Sam mendekati wajah Elsa. Jantung Elsa berdegup lebih keras. Bulu kuduknya pun berdiri.


"Aaa-aku, aku sedang datang bulan." Tukas Elsa sambil menutup dada dan memejamkan matanya.


"Ambilkan aku minum." Kata Sam akhirnya. Elsa menghembuskan nafas lega. Ia pun bergegas pergi ke dapur.


Sam pun merasa aneh dengan dirinya. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Ia melempar selimut dan membuka baju. Ia mencoba menenangkan diri setelah Elsa keluar dari kamarnya. Entahlah apa yang akan ia lakukan jika ia tak segera tidur. Sebaiknya aku segera tidur. Begitu pikirnya. Elsa membawa secangkir air mineral, tapi ia melihat Sam sudah terlelap dalam tidur. Elsa menghela nafas panjang, lalu ia berbaring disamping Sam, dan terlelap dalam mimpi indahnya. Tetapi Elsa tidak pernah benar-benar mimpi indah. Sudah lama sekali, Elsa tidak pernah tidur nyenyak. Ia akan terbangun pada dini hari. Mimpinya selalu menakutkan. Ia sangat takut untuk menghadapi hari esok, apalagi ketika ia masih berhubungan dengan Indra. Elsa selalu mimpi buruk, dan untuk bisa tidur nyenyak, ia harus menenggak pil tidur.


"Jangan... Aku mohon jangan lakukan. Tolong... Tolong..." Sam mengucek kedua matanya, lalu ia terbangun ketika mendengar Elsa mengigau.


"Tidak... Aku mohon... Jangan... Jangan..." Sam menyentuh dahi Elsa, dingin, dan seluruh tubuhnya penuh dengan keringat dingin. Dengan ragu ia membangunkan istrinya.


"Elsa... Elsa..." Elsa terkesiap, lantas ia terbangun begitu saja. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Sam khawatir. Elsa menggelengkan kepala.


"Huh?" Elsa mengucek kedua matanya. "Emmm, tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya mimpi buruk." Ucapnya. 


"Serius kau tidak apa-apa?" Sam memastikan Elsa tidak apa-apa. 


"Hemm-mmmh, aku tidak apa-apa. Maaf sudah membuat kau terbangun. Kau bisa tidur lagi." Balas Elsa. Lalu ia membelakangi Sam. Sam mengangguk, namun ia mengernyitkan dahinya heran. Ada apa dengan Elsa..??


***


Setelah 1 minggu berlalu, sesuai dengan kesepakatan. Sam akan membawa Elsa ke Canberra. Hari itu semua keluarga ikut mengantar kepergian Sam dan Elsa. Rasanya berat sekali meninggalkan ayah dan ibu. Tapi, bagaimana pun juga aku harus mengikuti suamiku. Begitu batin Elsa.


"Elsa, kamu harus nurut sama Sam. Ingat, sekarang kamu seorang istri. Dan Sam adalah suamimu." Ujar ibu. Elsa mengangguk menurut.


"Sam, ibu nitip Elsa ya. Elsa ini sangat manja dan sering sekali mengeluh. Kamu harap maklum ya." Lanjut ibu kepada Sam, Sam pun menganggukkan kepala.


"Ibu tenang saja. Aku akan menjaga Elsa dan membawa Elsa ke ibu kandungnya." Jawab Sam sambil berbisik. Ranti membulatkan matanya. Ia menatap Sam dengan perasaan khawatir. Ranti menelan ludah. "Anda tidak bisa selamanya bersembunyi dibalik topeng. Dulu Elsa sudah mengetahui semuanya. Namun karena ada sebuah insiden, Elsa mengalami amnesia yang disengaja. Sehingga kerusakan didalam otaknya, membuat Elsa melupakan saya dan juga siapa dirinya sebenarnya. Bu Ranti, Anna akan datang. Anda harus bersiap-siap menghadapinya." Sam menyunggingkan bibirnya dengan sinis. Ranti menelan kepahitan yang sangat dalam. Ia melihat Elsa memeluk kedua adiknya. "Saya akan mewujudkan semua mimpi-mimpi Elsa. Saya akan berusaha membuat Elsa bahagia. Bahkan saya akan membuat Elsa jatuh cinta kepada saya. Dan meninggalkan keluarga Anda." Lanjut Sam.


"Kak Sam...?" Bisik Elsa tepat ditelinga Sam. Sam menoleh lalu tersenyum ramah.


"Apa?" Kata Sam. 


"Kayaknya kita udah harus boarding." Ucap Elsa. Sam menganggukkan kepalanya. Lalu ia menggenggam tangan Elsa. Meskipun ragu, Elsa balas menggenggam tangan Sam. Ia pamit dan menggapaikan tangannya ke keluarganya. Begitu pesawat take off, Elsa mencengkram kuat-kuat tangan Sam. 


"Kau tiak apa-apa?" Tanya Sam. 


"Ini kali pertama aku naik pesawat." Tukas Elsa, dengan memeluk lengan Sam karena takut. Sam tersenyum melihat wajah Elsa yang ketakutan. 


"Kalau pesawat jatuh, nanti kayak gini, syuuuuuttttt brukkkkkk." Gurau Sam sambil memperagakan dengan tangannya. 


"Hah? Serius? Terus kita mati dong." Kata Elsa. Sam menganggukkan kepalanya. 


"Emmm, iya kita mati. Jadi mayat. Masuk ke lautan. Terus nanti jadi hantu. Lalu aku akan menghantui di pesawat yang lain. Terbang." Balas Sam lalu ia tersenyum dan tertawa. Elsa memukul pelan lengan Sam. 


"Ihhhh dasar. Nyebelin." Ketus Elsa.


"Lagi pula nanyanya aneh-aneh."


"Yakan, aku takut kayak di film-film."


"Makanya jangan kebanyakan nonton film." Ketus Sam. Elsa cemberut bukan main. Sam menghembuskan nafasnya. "Hey..." Sam menyentuh pipi Elsa untuk pertama kalinya. Elsa menoleh terkejut. Ia merasa ada getaran yang hebat didalam dirinya saat Sam menyentuh wajahnya. "Kita, akan baik-baik saja. Percaya deh. Aku akan melindungi kamu." Lanjut Sam. 


"Emmm. Aku percaya." Balas Elsa. Sam menyodorkan lengannya lalu bahunya. 


"Kau bisa memeluk lenganku dan tidur dibahuku." Ujar Sam. Elsa menelan ludah. Ia tidak menyangka kalau Sam bisa sebaik itu. 


Pukul 1 kurang 5 menit pesawat landing di Canberra Air Port. Udara negeri Canberra sangat dingin, Elsa merapatkan mantelnya.


"Dingin sekali ternyata." Tukas Elsa. Sam meraih tangannya lalu memasukannya ke dalam saku mantelnya. Elsa mengerjapkan matanya, tak percaya bahwa Sam akan melakukan hal itu.


"Nanti juga kau akan terbiasa." Balasnya. Elsa menggigit bibirnya, lalu mengangguk.


"Welcome to Canberra, negeri asing yang akan aku singgahi. Bersama Sam dan aku disini. Suami sekaligus atasanku. Entah akan bagaimana kehidupanku disini. Aku merasa asing, bahkan untuk menyapa negeri ini pun aku malu. Naira, Naina, Niken dan Via, apa kabar kalian disana? Apakah Paris lebih indah dari ini? Ataukah Jerman yang lebih indah? Ataukah London? Atau Turki tempat Niken kuliah. Kalian sering bercerita kepadaku tentang kehidupan kuliah. Maaf, karena aku tak pernah membalasnya. Aku hanya dapat bercerita bahwa kehidupanku mulai membaik. Tapi nyatanya tidak. Aku memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai. Secara hukum dan agama, pernikahan kami memang sah. Tapi, kami tidak saling mencintai. Aku kagum pada kalian yang selalu percaya bahwa cinta sejati itu ada. Ehhh pada Naira, Naina dan Via saja, maaf. Bagi Niken tidak, tapi aku harap suatu saat nanti, Niken juga akan percaya pada cinta sejati. Kalian masih punya masa depan. Masih harus mencari cinta sejati kalian. Mencari belahan jiwa kalian. Tapi tidak denganku. Aku tidak percaya. Aku tidak tahu, setelah ini, apakah aku akan bertemu dengan pria yang mencintaiku dengan tulus? Ataukah justru aku tetap melangsungkan pernikahanku tanpa cinta? Berat memang, tapi aku tahu, aku harus menghadapinya. Good night..."


Elsa menghela nafas panjang. Ia memperhatikan sekeliling, sementara Sam sibuk menelpon.


"Elsa..." Seru Sam


"Huh? Yaaa... Ada apa?" Balas Elsa.


"Ayooo." Sam menggenggam tangan Elsa. Mereka menuju parkiran, dan Sam menggapaikan tangan sebelahnya, memberi tanda kepada sebuah mobil yang melaju kearah mereka.


"Ayo masuk." Ujar seseorang dari dalam mobil. Sam membuka pintu mobil, mempersilahkan Elsa masuk terlebih dahulu.


"Maaf kalau sudah membuat kalian menunggu lama." Katanya.


"It's okey." Balas Sam.


"Istri anda sangat cantik pak Sam." Pujinya.


"Ohya, Elsa kenalkan dia Randy, dia adalah sekretaris kakekku. Tapi sekarang jabatannya akan aku turunkan." Sam memperkenalkan lelaki itu kepada Sam.


"Oooh..."


"Tega sekali bukan bu Elsa." Tukas Randy. Elsa hanya tersenyum tipis.


Sepanjang perjalanan Sam dan Randy membicarakan tentang pertumbuhan perusahaan. Sementara Elsa sibuk dengan lamunannya sendiri sembari menguap berkali-kali. Setibanya dirumah, Elsa dikejutkan dengan sebuah rumah yang sangat indah, elegan dan terlihat mewah. Impian semua para wanita. Ada kolam renang di halaman belakang. Ia mengerjapkan mata berkali-kali.


"Ini rumah siapa?" Tanya Elsa.


"Rumahku." Jawab Sam. Elsa menggeleng tak percaya.


"Sungguh?" Sam mengangguk. Rumah dengan halaman yang luas. Memiliki taman yang sangat indah.


"Ini ruang tamu kita. Kau bisa mengganti sofanya jika kau mau." Lalu Sam menarik lengan Elsa, menunjukan beberapa tempat yang lainnya.


"Ini ruang tengah. Disana mushola." Sam menunjuk ke arah kanan. "Ini dapur. Mungkin terlihat kuno. Kau bisa mendekor ulang nanti. Dan disana ruang cuci sekaligus untuk menyetrika. Dan halaman belakang dengan kolam renang. Kau bisa berenang disana atau yoga. Ada beberapa alat olahraga disana." Ujar Sam.


"Dari mana kau tahu aku suka yoga?" Tanya Elsa.


"Aku tidak tahu." Ketus Sam. Ia masih menarik lengan Elsa untuk menaiki anak tangga. "Kamarmu disana." Tunjuk Sam.


"Kamarku?" Elsa menunjuk dirinya sendiri.


"Ya."


"Kita nggak satu kamar?"


"Enggak."


"Tapi, kita kan sudah menikah." Ujar Elsa.


"Lantas kalau kita sudah menikah kenapa?" Kata Sam.


"Setahuku, ketika perempuan dan laki-laki sudah menikah, mereka akan saling berbagi. Berbagi kamar dan semuanya." Balas Elsa.


"Aku..." Sam memandangi wajah Elsa. "Kita akan bahas hal ini nanti. Istirahatlah." Sam berlalu meninggalkan Elsa. Elsa membawa kopernya, lalu masuk ke kamarnya.


Elsa merapikan baju-bajunya ke dalam lemari. Ia juga mengganti seprai dan sarung bantal. Kemudian ia membersihkan diri sebelum tidur.


***