The Secret Story

The Secret Story
Episode Dua puluh sembilan



"Bagaimana dengan Sam...?" Begitu tanya Ad kepada kakek. Begitu mengetahui bahwa cucunya menculik putrinya Gunawan. Kakek sangat cemas, itulah mengapa kakek meminta Ad untuk mengamankan diri ke Kanada. Kakek akan mengurus Sam seorang diri. Asalkan keluarga Gunawan tidak tahu kalau mereka memiliki anak kembar. Kakek tahu riwayat Gunawan seperti apa. Ia tidak ingin bertindak gegabah.


Kakek bergegas menghubungi Sam dan merencanakan skenario untuk mengembalikan Elsa kepada orangtuanya. Sam paham, bahwa untuk melindungi Elsa sebagai saksi ia harus berpura-pura untuk tidak mencintai gadis itu. Namun rencana yang telah dibuat gagal. Elsa keukeuh tidak ingin kembali ke rumah.


"Aku tidak mau pulang. Pokoknya titik aku tidak mau pulang." Ujar Elsa.


"Elsa... Ini untuk kebaikanmu. Untuk kebaikan kita." Balas Sam. Elsa menggelengkan kepala dengan diiringi buliran air mata yang jatuh ke kedua pipinya.


"Sam... Kau tidak tahu bahwa ayahku tahu kalau aku adalah saksi pembunuhan itu. Ayah mengancamku, kalau ia akan mencari Anna dan mamaku. Ayah akan membunuh orang yang aku cintai. Aku harus tutup mulut untuk kasus ini. Sementara aku juga tidak ingin kau menderita. Aku mohon Sam. Jangan biarkan aku pulang. Bawa aku pergi bersamamu." Jelas Elsa. Sam menelan ludah. Ia tahu penderitaan apa yang dirasakan oleh Elsa. Dan itu pasti akan sangat menyakitkan.


"Kau mencintaiku kan? Huh? Kau mencintaiku kan Sam? Kak Sam... Jawab aku." Tangis Elsa kian terisak.


"Sangat Elsa... Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau terluka. Tapi dengar, ini rencanaku. Rencana kita. Kau harus pulang." Balas Sam. Elsa menggelengkan kepala lagi.


"Enggak mau.... Aku nggak mau." Rengek Elsa.


"Elsa... Sayang, dengarkan aku. Dengar. Aku janji. Aku berjanji akan kembali dan menjemputmu. Aku janji. Aku akan menjemputmu, aku berjanji akan melindungi dan menjagamu. Dengar, saat kau pulang. Jangan ceritakan apapun tentang kita. Jangan ceritakan rencana kita. Kau harus ingat, kepulanganmu adalah untuk membawa seluruh bukti bahwa ayahmu adalah dalang dari pembunuhan orangtuaku. Dan dia adalah orang yang sama, yang membunuh para petinggi dan investor asing yang datang untuk Perusahaan Harvest. Setelah bukti itu sampai ke tanganku. Kau dan seluruh bukti itu akan aku lindungi. Percayalah padaku. Ini misi kita. Dan mereka tidak boleh tahu." Jelas Sam. Elsa menangis dipelukan Sam. Seburuk apapun ayah saat ini, dia tetap ayah kandungnya. Namun dibalik rasa cinta dan kasih yang tulus milik Elsa. Tidak menutup kemungkinan bagi Elsa membenci monster seperti ayah dan ibunya. Apalagi ibu tirinya itu juga telah mengambil seluruh harta milik ibu kandungnya.


"Janji. Kau harus berjanji kepadaku. Bahwa kau akan kembali kepadaku. Kau harus berjanji kepadaku, Sam." Tukas Elsa dengan menggigit bibir bawahnya.


Sam mengangguk pasti. "Aku janji. Aku akan menjemputmu. Aku akan kembali untukmu." Sam mengecup kening Elsa dengan sangat lama. Sebenarnya ia sangat takut kalau rencananya kali ini gagal.


Malam itu, Sam mengendarai motornya menuju rumahnya Elsa. Namun dalam perjalanan, Elsa meminta Sam menurunkannya dipinggir jalan.


"Kenapa?" Tanya Sam. Elsa menggelengkan kepalanya. "Elsa...? Kenapa? Ini tinggal sebentar lagi lhooo." Lanjut Sam. Buliran air mata jatuh di kedua pipi Elsa.


"Sam...?" Lirih Elsa serak parau. Terlihat ekspresi yang sangat khawatir dan penuh dengan ketakutan. Elsa mengerutkan kedua keningnya. Bibirnya bergetar.


"Gimana kalau aku tidak bisa keluar dari rumah?" Tukas Elsa.


"Enggak Elsa. Aku yang akan menjemputmu. Sesuai dengan rencana kita. Kamu percayakan sama aku?" Sam berusaha meyakinkan Elsa meskipun sebenarnya ia juga merasa khawatir.


"Bagaimana kalau rencana kita gagal?" Ucap Elsa lagi. Kali ini nada bicaranya semakin bergetar. Sam menyentuh kedua pipi Elsa dengan lembut.


"Enggak sayang. Aku percaya sama kamu. Dan kamu juga harus percaya sama aku ya." Balas Sam.


"Kalau nanti aku tidak bisa bersamamu gimana? Kalau nanti kita enggak ditakdirkan bersama gimana? Kalau nanti ayahku mengirimmu ke penjara gimana? Atau gimana kalau ibu tiriku mengirimku ke rumah sakit jiwa? Ibu punya sebuah obat untuk menghilangkan ingatan yang dikirim dari Jepang. Yang selalu ibu minumkan kepada ayahku. Gimana kalau ibuku meminumkannya kepadaku?" Tanya Elsa penuh khawatir. Sam mengernyitkan dahinya.


"Dari mana kau tahu?" Balas Sam.


"Waktu itu, aku pernah melihat ayah sangat lelah dan letih. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun saat ayah merasa lelah atau tidak bisa mengontrol diri, ibu selalu memberikan obat itu. Tidak sengaja segelintir obat itu jatuh. Lalu aku memeriksa obat itu ke klinik. Namun begitu sampai di klinik. Mereka tidak bisa mengecek obat tersebut. Akhirnya aku pergi ke rumah sakit di Jakarta dan hasilnya sangat mengejutkanku. Ternyata obat itu mengandung rasa kantuk yang berat dan memiliki zat aktif untuk memutuskan syaraf ingatan pada manusia." Jelas Elsa. Sam seolah-olah mengerti apa yang dimaksud Elsa.


"Jangan dimakan. Kalau ibumu memberimu obat itu jangan kau makan. Kau mengerti?" Perintah Sam. Elsa menganggukkan kepala.


***


Sam dan Elsa melanjutkan kembali perjalanan. Elsa memanjat ke balkon dengan dibantu oleh Sam. Elsa masuk ke kamarnya dan disusul oleh Sam. Elsa memberikan hasil laporan obat yang pernah ia periksa di laboratorium rumah sakit besar di Jakarta kepada Sam.


"Kalau aku bersamamu, aku yakin ibu dan ayah akan semakin curiga kepadamu. Jadi pergilah. Aku tidak apa-apa." Balas Elsa. Sam memeluk Elsa dengan sangat erat. Bulan sabit memancar samar-samar. Langit mendung gelap. Gerimis mulai mengguyur bumi. Sam menarik lengan Elsa. Ia mengecup lembut bibir Elsa. Namun semuanya terang benderang. Lampu neon dinyalakan oleh Gunawan. Sepasang suami istri itu bertepuk tangan. Lalu menyeringai dengan senyuman yang tidak ramah.


"Akhirnya kalian datang juga." Kata Gunawan.


"Elsa...?" Ranti menyeru. Degup jantung Elsa menyerang dan berdetak lebih cepat. Seketika keringat dingin berbintik muncul dikedua tangan dan tubuhnya. Elsa melangkah mundur takut. Sementara Sam menghadang dengan tubuhnya.


"Hebat sekali anak zaman sekarang. Sudah berani ciuman di rumah. Mau jadi apa kamu Elsa? Huh?" Ranti berkata penuh dengan emosi. Kedua matanya melotot penuh amarah.


"Ibu...? Ayah...?" Kata Elsa. Tak hanya Elsa yang terkejut, Sam juga merasakan seluruh tubuhnya gemetar penuh kecemasan. Gunawan melangkahkan kakinya lebar-lebar. Menarik kerah baju Sam dengan kasar. Menyeret Sam keluar.


"Enggak... Jangan. Ayah.... Ayah jangan sakiti Sam. Ayah jangan..." Elsa bergegas mengikuti arah langkah ayahnya. Di luar sudah banyak anak buah ayah yang siap untuk memukuli Sam.


"Kamu yang sudah menculik anak saya. Kamu mau apa hah? Kamu mau mencari bukti dan saksi? Jangan harap kamu dapatkan bukti itu." Kata Gunawan dengan kasar. Menampar bolak balik pipinya Sam. Elsa segera melerai. Merentangkan kedua tangannya untuk menahan sang ayah.


"Jangan sakiti Sam. Aku mohon ayah. Aku mencintainya. Aku tidak diculik. Kami saling mencintai." Ujar Elsa.


"Elsa, kau mau membela lelaki bajingan seperti dia? Hah? Dia tidak pantas untukmu." Balas ayah.


"Enggak. Enggak ayah. Aku dan Sam saling mencintai. Aku nggak diculik. Ayah jangan sakiti Sam." Tukas Elsa, matanya basah. Elsa memohon kepada Gunawan untuk tidak menyakiti Sam.


"Dia sudah menculikmu selama satu minggu. Dan ayah tahu kalau kau akan membela bocah sialan ini. Apa kau mau berakhir sama seperti orang tuamu?" Tukas Gunawan.


"Ayah...?" Seketika Ranti menampar keras pipi kirinya Elsa.


"Sadar Elsa. Dia sedang mempermainkanmu. Dia itu bukan lelaki yang baik." Ujar Ranti.


"Kalianlah yang monster. Ayah sangat jahat. Ibu juga. Aku benci kalian. Kalian monster." Teriak Elsa dengan keras. Sebuah rasa sakit dan kesal menyelinap ke sela-sela nafas jantung Gunawan dan Ranti. Segera Ranti menarik lengan Elsa, menamparnya tanpa kasian.


"Habiskan!" Perintah Gunawan kepada anak buahnya.


"Tidak......" Teriak Elsa. Hujan basah mengguyur kota yang gelap. Berlumur elegi yang tak berpurnama. Kedua lengan Elsa di tahan oleh bibi dan Ranti. Sementara Sam dihajar habis-habisan oleh anak buahnya Gunawan.


"Ini akibatnya karena telah menculik Elsa." Begitu seruan mereka. Punggung Sam habis dicambuk oleh kayu. Tubuhnya lemah dan lunglai. Sam tak dapat melawan. Asalkan Elsa tidak lagi ditampar dan dihajar habis-habisan oleh Ranti.


"Jangan... Jangan sakiti Sam. Aku mohon ayah. Hentikan ayah. Tolong... Tolong berhenti. Tidak... Jangan lakukan itu berhenti. Aku bilang hentikan. Aku mohon... Jangan... Saaaaammmmmmm... Berhenti. Aku mohon hentikan. Tolong..." Ratapan Elsa tak didengar oleh Gunawan. Tak digubris oleh ibunya. Sam tergeletak tak berdaya di jalan beraspal. Dengan darah yang berlumuran ditubuh dan basah hujan yang mengiringi kepedihannya.


Elsa berteriak histeris begitu suara pistol ditembakan ke atas langit. Melepaskan cengkraman Ranti dan bibi (pembantunya). Lalu merangkul dan memeluk tubuh Sam.


"Sam bangun... Aku mohon bangun. Jangan begini. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Sameer... Aku mohon buka matamu. Kakak sudah berjanji padaku bahwa kau tidak akan meninggalkanku. Aku mohon bangun. Bangun kak Sam... Bangun.... Bangun. Aku mohon bangun. Aku mencintaimu... Jangan tinggalkan aku. Bangun... Aku mohon bangun..."


Rintihan yang mengalir bersama air hujan menyerap pergi bersama arus. Elsa ditarik oleh Ranti. Diseret ke kamar dan dicambuk habis-habisan oleh ibu tirinya. Dengan mengumpat dan mengata-ngatai Elsa dengan nama-nama binatang yang tidak sopan dan kejam.


"Dasar anak tidak tahu diuntung. Anjing... Goblok..." Umpat Ranti. Elsa mengerang sakit di tubuhnya. Namun tak dipedulikan oleh siapa-siapa.


***