
TOK! TOK! TOK!
Pintu diketuk dengan cukup keras, membuat kedua insan yang sedang tertidur merasa terganggu.
"Ehm.. Siapa?" Tanya Isaa dengan mata yang masih terpejam.
"ISAA! BUKA PINTUNYA ATAU IBU BUKA PAKSA!" Teriak dari luar membuat gadis mungil itu bangun.
Isaa merasa ada sesuatu yang melingkar di perutnya, membuatnya menunduk dan betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati sebuah tangan memeluknya. Perlahan Isaa melirik kearah samping dan seketika ia melonjak kaget sambil berteriak. "AAAHH!!!"
Pintu kamar Isaa terbuka dengan paksa, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dan banyak penghuni kost-kostan disampingnya berkumpul di depan kamar Isaa akibat keributan yang ia buat.
"ASTAGHFIRULLAH ISAA! SIAPA LELAKI ITU?!" Tanya seorang wanita paruh baya yang nampak terkejut dengan pemandangan di hadapannya.
"Bu.. I-ini gak seperti yang ibu pikirkan," Jawab Isaa terbata-bata sambil menggelengkan kepala. Gadis itu mencoba mengingat kembali kejadian semalam dan siapa lelaki yang ia bawa. "Isaa gak ngapa-ngapain sama dia, bu.. Isaa cuman niat nolong dia aja, bu.. " Lanjutnya meyakinkan Ibu pemilik kamar kostan.
"Ibu gak habis pikir sama kamu, Isaa! Kamu tau kan peraturan yang ada di sini?!" Bentak Ibu kos mendapat anggukan lemah dari Isaa. "Kemasi barang-barang kamu, dan keluar dari kamar kost ini!" Pintahnya membuat Isaa terduduk lemas.
"Ta-tapi, Bu.. Isaa mau tinggal dimana? Cuman di sini tempat yang paling dekat dengan kampus dan hanya tempat ini yang kosong.. " Ucap Isaa memohon pada Ibu pemilik kost. "Bu.. Isaa mohon jangan keluarkan Isaa dari kamar kost.. Isa benar-benar tidak melakukan apapun, Bu.. Isaa hanya membantu merawat dia.. " Jelas Isaa menahan air matanya yang sudah menggenang.
"Membantu? Dengan membawanya ke kamar kamu? Siapa lelaki itu? Apa dia kakakmu? tapi setau Ibu kamu tidak memiliki kakak. Atau kalian punya hubungan yang sah dimata negara dan agama?" Tanya Ibu pemilik kost membuat Isaa membisu.
Isaa kalah telak, ia tak tahu harus bagaimana lagi. Nasibnya sudah di ujung tebing, tak ada yang bisa ia lakukan lagi.
"Sekarang kemasi barang-barang kamu dan keluar dari kamar kost ini! Maaf Ibu gak bisa terima kamu lagi!" Ucap wanita itu sebelum keluar dari kamar kost milik Isaa.
"Duhh.. kasian banget sih, itu bantuin atau karena ada hal lain," Sindir salah satu penghuni kamar kost pada Isaa.
"Sstt.. Rhi, jangan gitu. Mending kamu berangkat sana!" Ucap Hanna sambil mendorong Rhiana menjauh dari kamar kost milik Isaa.
"Saa, duduk dulu diatas, tenangin diri kamu.." Ucap Jihan membantu Isaa berdiri dan duduk di sofa.
"Kak, Isaa harus gimana? Isaa mau tinggal dimana? Hiks.. Isaa cuman punya kalian disini.. huhuhu.." Tangis Isaa pecah saat Jihan memeluk tubuhnya.
"Sstt.. udah jangan nangis, nanti temen kamu bangun.." Ucap Jihan menenangkan Isaa. "Kamu tenang aja ya, nanti aku bantu cariin tempat tinggal, dan aku percaya sama kamu kok."
"Kak.. huhuhu.. Isaa gak tau harus gimana.. Isaa takut Papa sama Mama Isaa tau, Isaa gak ngapa-ngapain.. hiks.." Ucap Isaa sambil sesegukan.
"Kamu minta nikah aja sama dia? Toh, daripada nanti timbul fitnah yang ngga-ngga.. Kamu tau kan, mulutnya si Rhiana itu lemes" Ucap Nania yang masuk sambil membawa nampan berisi minuman.
"Hust! Jangan asal ngusul kamu, Na! Anak orang kamu suruh asal nikah!" Ucap Jihan menyentil mulut Nania pelan.
"Awh! Mbak, Aku cuman ngusul loh.. lagian gak mungkin juga mereka nikah" Ucap Nania mengusap bibirnya.
"Udah jangan didengerin usulannya Nia, kamu minum dulu," Ucap Jihan memberikan segelas air putih pada Isaa.
"Tapi dulu juga pernah kejadian gini juga, mbak.. sampai disuruh nikah hari itu juga! Isaa termasuk yang selamat dari amukan Bu Dewi.." Ucap Nania membuka gosip mereka. "Soalnya, Bu Dewi termasuk orang yang taat aturan, di daerah Bu Dewi berlaku hukum pamali.." Lanjut Nania membuat Isaa menggidik ngeri. Gadis itu tahu apa yang sedang Nania maksud.
"Lalu?" Tanya Hanna yang sudah berada di samping Nania sambil tersenyum penuh simpulan.
"Hehehee.. Udah gosipnya?" Tanya Hanna diangguki Nania. "Sekarang balik ke kamarmu dan bereskan kamarmu yang sudah tidak berbentuk itu!" Pintah Hanna penuh penekanan.
Mendengar nada Hanna yang penuh penekanan itu membuat nyali Nania ciut, "Mbak Jihan, Isaa.. Hanna pamit dulu!" Pamit gadis itu langsung berlari keluar kamar Isaa.
"Duhh.. maafin sepupu ku ya, dia emang suka gitu kalo di rumah.. " Ucap Hanna pada Isaa.
"Iya, mbak.. Isaa paham kok.." Ucap Isaa kembali murung.
"Udah, Saa.. jangan sedih, lagian kamu tetep adik kita kok.. " Ucap Jihan menyemangati Isaa.
"Bener kata Jihan, Saa. Gak serumah bukannya gak saudara kan? Kita bisa tetap komunikasi kok!" Imbuh Hanna tersenyum pada Isaa.
"Iya.. Makasih kak buat semangat nya.." Ucap Isaa tersenyum kepada Jihan dan Hanna. "Kalian gak berangkat kerja? Ini udah siang loh.. " Ucap Isaa mengingatkan pada Jihan dan Hanna.
"Eh iya.. Aku ada rapat pukul sembilan!" Pekik Jihan melihat jam tangannya. "Aku pergi dulu ya! Kalau kamu butuh bantuan calling aja, mbak bantuin kok! " Ucap Jihan mengusap kepala Isaa lalu mencium pipinya sekilas. "Aku pamit dulu" Pamit Jihan keluar dari kamar kost.
"Iya mbak, Hati-hati!" Ucap Isaa dan Hanna bersamaan.
"Hanna gak kerja atau kuliah? " Tanya Isaa pada Hanna.
"Kalau aku pergi nanti kamu sama siapa? Aku nanti ijin aja.. " Ucap Hanna membuat Isaa merasa tak enak.
"Isaa bisa sendiri kok! Lagian kalau Hanna ngga masuk nanti siapa yang absenin Isaa?" Ucap Isaa dengan polos.
"Duhh.. Saa! Sempet-sempetnya kamu mikirin kuliah! Nasib kamu diujung tebing gini padahal!" Ucap Hanna tak habis pikir dengan temannya itu.
"Ya.. Gimana lagi, Han? Nasi udah jadi bubur, Isaa kesini juga buat kuliah sama nyari uang.. lagian toh Isaa baik-baik saja kan?" Jelas Isaa meyakinkan Hanna.
"Tapi, Saa.. Kalau aku tinggalin kalian berdua, aku khawatir sama kamu!" Ucap Hanna menatap Isaa.
Isaa tersenyum tipis, "Ngga apa, Han.. Aku bisa jaga diri, kamu berangkat aja ya? Sekalian pantau Rhiana, aku takut dia nyebarin yang nggak-engga.. " Ucap Isaa seratus persen meyakinkan Hanna.
Mendengar penjelasan dari Isaa membuat Hanna berpikir dua kali, yang gadis itu katakan tak ada salahnya juga. Ia tak bisa melepaskan Rhiana begitu saja.
Dengan berat hati, Hanna bangun dari tempatnya dan berpamitan pada Isaa. "Ya udah, aku ngalah. Tapi kalau kamu butuh bantuan, harus cepet telfon aku! Oke!" Ucap Hanna mendapat kekehan Isaa.
"Iya siap! Sekarang kamu siap-siap, dandan yang cantik.. ada jadwalnya pak doren" Ucap Isaa dengan membisikkan kalimat terakhir penuh godaan.
Secepat kilat, Hanna langsung lenyap dari hadapannya, gadis itu berlari keluar saat mendengar jadwal pembimbing hari ini.
Kini tinggal Isaa seorang, gadis itu membuka lemari pakaian miliknya, mengeluarkan koper berukuran sedang dan merapihkan semua barang-barang miliknya untuk ia masukkan kedalam koper.
Isaa menatap kamarnya dengan sendu, banyak kenangan yang ada dikamar itu selama tiga tahun. Sangat berat baginya untuk meninggalkan kamar tersebut.
"Sudah selesai beberesnya?" Tanya seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...