The Secret Story

The Secret Story
Episode Dua puluh delapan



Benih cinta muncul di dalam hati seorang Sameer. Dia selalu sengaja menatap Elsa dengan sangat lama. Saat Elsa tidur, makan bahkan disaat gadis remaja itu menguap pun selalu terlihat cantik. Ini hari ke-4 Sam menculik Elsa. Sam sering membawa buku bacaan untuk Elsa. Atau membawa kaset dvd untuk Elsa menonton. Gadis remaja itu terlihat sangat bahagia ketika sedang menonton televisi. Suara tawa riangnya membuat Sam tidak berhenti tersenyum. Elsa meregangkan kedua tangannya. Mendapati Sam sedang memperhatikannya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Ucap Elsa bertanya sambil menguap. Sam menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa." Balas Sam.


"Aku cantik kan?" Elsa menyilakan kedua kakinya, sambil mengibas rambut panjangnya.


"Biasa saja." Ketus Sam.


"Kalau biasa saja, tidak mungkin kau melihatku seperti itu. Kau sudah jatuh cinta padaku kan? Benarkan? Ahhh sudah kuduga, tidak ada lelaki yang tidak terpesona dengan kecantikanku." Ujar Elsa dengan percaya diri. Sam menggelengkan kepalanya. Ia kagum dengan kepercayaan diri Elsa. Selain itu Elsa juga tipe perempuan yang tidak membosankan. Selalu ada hal yang menarik untuk dibahas bersama.


"Seperti apa tipe perempuan idealmu?" Tanya Elsa ketika ia sedang berbaring di balkon bersama Sam. Sam menyunggingkan bibirnya. Berpikir sejenak.


"Emmmm, yang menyenangkan dan kekanak-kanakan." Jawab Sam. 


"Hah...? Aneh banget. Kenapa nggak yang dewasa?" Tukas Elsa. Sam menggelengkan kepalanya.


"Tipe perempuan dewasa itu membosankan. Aku suka sama perempuan yang manja, kekanak-kanakan dan periang." Jelas Sam. Elsa menoleh, kedua mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain. Lalu Sam tersenyum.


"Oh Tuhan..." Elsa membulatkan kedua matanya.


"Kenapa?"


"Kau tahu tidak? Kenapa Tuhan menciptakanmu?" Sam menggelengkan kepalanya, "karena Tuhan menciptakanmu untukku. Dan untuk menjadi penjaga dan pelindungku." Lanjut Elsa. Sam tertawa mendengar kalimat gombal terlontar dibibir Elsa.


Elsa tersenyum ceria. Untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba Sam menyentuh pipi Elsa dengan lembut. Hening sesaat. Hanya mata mereka yang saling beradu. Sesekali Elsa menelan ludah. Atau sesekali Sam yang menelan ludah. Jakun yang ia miliki naik turun.


"Lalu...?" Elsa mengerjapkan kedua matanya. Ia menelan ludah. "Lalu bagaimana tipe lelaki idealmu?" Kini giliran Sam yang bertanya.


"Sepertimu." Balas Elsa dengan cepat.


"Kenapa kau selalu mengatakan bahwa aku akan jatuh cinta padamu? Apakah kau mencintaiku?" Tanya Sam diiringi dengan senyuman yang sangat lebar.


"Hemmmh... Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena kau tahu? Saat pertama aku melihatmu. Aku yakin kau adalah jodohku. Kau pelindungku, penjaga hatiku, dan Tuhan berbisik ke telingaku kalau kau dan aku memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Meskipun nanti kita berjauhan." Tutur Elsa. Sam tersenyum mendengarkan semua penuturan dari Elsa. Terkesima dengan ucapan Elsa. Dibalik kalimat itu, Elsa harap Sam mengerti dengan keadaannya yang saat ini.


"Dari mana kau tahu itu?" Sam menaruh tangannya disamping pipi Elsa. Dengan mengelusnya menggunakan telunjuknya.


"Dari semesta. Kau tahu, kalau angin, pohon dan seluruh alam yang ada dijagat dunia ini selalu berbisik kepadaku. Elsa, dia adalah lelaki yang dapat melindungimu dari segala bahaya." Balas Elsa. "Dan ohya, dia juga  akan memainkan piano. Membawa setangkai mawar merah setiap hari. Dia datang untuk menjadi malaikat pelindungmu. Dia akan melamarmu, dan kau akan menikah dengannya. Serta kalian akan tinggal bersama di sebuah rumah yang sangat mewah di luar negeri. Kelak kau akan memiliki dua atau tiga anak yang cantik dan tampan. Lelaki itu akan selalu mencintaimu sepanjang hidupnya. Karena kamu adalah teman hidup paling setia." Tutur Elsa dengan yakin. Sam hanya tersenyum mendengarnya.


"Oh ya? Bagaimana ini?" Sam terbangun. Ia menyilangkan kedua kakinya. Elsa mengernyitkan dahinya, lalu duduk merapatkan dirinya ke arah Sam.


"Kenapa?" Tanya Elsa.


"Aku tidak bisa bermain piano. Tapi aku bisa bernyanyi." Balas Sam.


"Oh ya...?"


"Lagu apa yang kau hapal?" Tanya Elsa.


"Beautiful in white dari Westlife." Jawab Sam.


"Kau bisa bernyanyi?"


"Emmm tentu saja." Sam berdeham sebentar, mengatur nafas dan nadanya untuk bernyanyi. Kemudian...


"So as long as I life I love you. Will heaven hold you. You look so beautiful in white. And from now to my very last breath. This day I'll cherish. You look so beautiful in white.  Tonight." Sam bernyanyi dengan sangat merdu.


"Nanti, aku akan bermain piano dengan nada lagu ini. Hingga suatu saat nanti, aku akan menyanyikan lagu ini sebagai lagu kebangsaan kebersamaan kita. Bagaimana?" Tukas Sam. Elsa menganggukkan kepalanya.


"Aku yakin kau akan menyukainya." Lanjut Sam.


"Hemmmmhh. Apapun yang kau nyanyikan. Aku akan selalu suka." Balas Elsa.


"Ayah dan ibumu sudah tiada. Kau mungkin akan sendirian. Akan kesepian. Dan akan mengalami yang namanya rindu. Sementara obat dari rasa rindu itu adalah bertemu." Lanjut Elsa. Seketika Sam terdiam, Elsa pun terdiam. Hanya suara angin yang menelisik lembut dan mesra. Menyibak rambut Elsa yang tergerai panjang. Sam menatap lembut perempuan yang disampingnya. 


"Heyyy, aku tidak sendirian." Elsa menoleh begitu Sam berucap. "Aku tidak akan kesepian. Karena rindu itu sifatnya alamiah, yang dirasakan seorang manusia terhadap manusia lainnya. Rindu itu akan selalu disampaikan angin pada waktu yang tepat. Jika aku rindu orangtuaku, aku akan menutup kedua mataku dan berdoa semoga mereka bahagia disana."  Balas Sam menghibur kekhawatiran Elsa. Elsa mendekati Sam, lalu memeluk lengannya. Sam dengan lembut menghapus air mata Elsa.


"Bagaimana jika aku menjadi bagian rindumu itu?" Ucap Elsa.


"Aku akan menyebut namamu sebanyak yang aku mau. Dan meminta Tuhan untuk mengembalikanmu kepadaku." Balas Sam. Lalu menyentuh lembut rambut Elsa.


"Kak Sam...?" Seru Elsa, ia mendongak. 


"Hemmmm..."


"Aku bosan di rumah terus. Bisakah kau mengajakku keluar sebentar saja." Pinta Elsa.


"Kemana saja, asalkan denganmu." Katanya. Sam teringat beberapa hari yang lalu ada malam pekan raya di kampung sebelah. Dan ia berniat mengajak Elsa ke sana. Sam melihat jam tangannya. Sudah pukul 10.00 malam. Tidak akan ada banyak orang yang memperhatikannya.


"Ayo...?" Sam mengulurkan tangan kanannya.


"Kemana?"


"Kau akan menyukainya nanti." Kata Sam. Elsa pun bersemangat dengan ajakannya itu. Sam mengajak Elsa ke malam pekan raya, menaiki wahana komedi putar. Korsel. Perahu darat, dan lain sebagainya. Lalu Sam mengajaknya ke time zone. Memainkan permainan yang Elsa sukai.


Elsa melihat sepasang suami istri sedang berbelanja baju. Ia sangat iri sekali. Andai saja waktu cepat berlalu. Ia ingin menikah dengan Sam, lelaki yang saat ini ia cintai. Dan berbelanja bersama. Mungkin akan terlihat romantis.


"Elsa...?" Seru Sam. Lamunan Elsa buyar. "Ada apa?"


"Lihat deh. Mereka tampak romantis." Balas Elsa. "Kapan ya, aku tumbuh dewasa." Pikirnya.


"Kenapa memangnya?"


"Aku, ingin menikah dengan orang yang aku cintai. Bukan karena perjodohan atau pun paksaan. Aku ingin melakukan hal-hal romantis bersama suamiku nanti." Jelasnya. Sam menghembuskan nafasnya.


"Kau terlalu banyak berpikir. Usiamu masih 15 tahun. Belum waktunya kau memikirkan hal itu. Nikmatin saja dulu masa remajamu." Balas Sam.


"Aku tidak yakin, masa remajaku akan kembali cerah."


"Kenapa?"


"Mengingat bahwa orangtuaku adalah pembunuh. Apakah masih bisa, bagiku, untuk hidup bahagia? Bersama mereka yang aku percaya sebagai orang baik. Aku hanya ingin menemui Anna dan mama ke Kanada. Seperti yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Namun tidak kusangka bahwa ini menjadi bagian tersulitku." Jelasnya.


"Elsa, kita disini bukan untuk bersedih. Aku mengajakmu keluar, untuk membuatmu bahagia. Jadi, ayo, kita buka sayap kita untuk terbang. Mengepak semua kebahagiaan. Dan tertawa bersama." Kata Sam.


"Emmm, kamu benar. Aku harus bahagia." Sam menarik lengan Elsa. Mengajaknya ke tempat museum. Lalu ke tempat hiburan yang lainnya. Dia terlihat sangat bahagia sekali. Lalu Sam mengajaknya melihat ke bukit, melihat ribuan bintang yang bersinar terang.


"Aku janji Elsa. Aku janji pada diriku sendiri, akan membuatmu bahagia selamanya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak akan pernah membuatmu sedih. Aku janji, aku janji akan selalu membuatmu tertawa dan bahagia. Sebab, tidak ada lelaki lain yang bisa menggantikanku dihatimu. Aku mencintaimu."


  


Elsa tersenyum dengan gembira. Ini adalah kali pertama jantungnya berdebar-debar saat menatap mata seorang lelaki. Kali pertama diperhatikan oleh lelaki. Kali pertama merasakan indahnya jatuh cinta. Merasa dunia hanya milik mereka berdua. Ia merasakan pelangi mejikuhibiniu sedang berselancar didalam hatinya. Merasa terbang ke luar angkasa bersama Sam. Semuanya serba kali pertama. Sehingga ia tak ingin kebahagiaannya sia-sia begitu saja. Ia juga tak ingin berpisah dengan lelaki yang ia cintai.


Sam memarkir motornya didepan lapangan sepak bola. Lalu menarik lengan Elsa. 


"Kita mau ngapain lagi disini? Ini kan sudah dini hari kak Sam." Kata Elsa.


"Ayo...?" Katanya. Sam menarik lengan Elsa. Mengajaknya berlari sekencang-kencangnya. Rambut Elsa bersemilir mengikuti arah angin. Ia merasakan kebebasan yang sangat dalam malam itu. 


"Aaaaaa...." Sam berteriak keras.


"Aaaaa......" Elsa pun ikut berteriak.


Lalu mereka berhenti berlari.


"Capek." Ketus Elsa sambil melirik Sam. Sam juga melirik Elsa.


"Sudah jam 2 pagi. Ayo kita pulang." Kata Elsa sambil melihat jam tangannya. Sam menarik lengan Elsa lalu memeluknya.


"Mungkin kita tidak akan bisa seperti ini lagi." Kata Sam. Lantas Elsa melepaskan pelukannya. Ia seakan merasakan bahwa Sam akan meninggalkannya.


"Kenapa?" Tanya Elsa. Kedua alisnya berkerut. Seakan ia tidak menyukai kalimat yang terucap dibibir Sam.


"Kau harus pulang Elsa. Orangtuamu pasti mengkhawatirkanmu." Jawab Sam. Elsa menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku tidak mau pulang. Aku ingin sama kak Sam." Balas Elsa.


"Aku tahu, aku mengerti perasaanmu. Sama halnya denganku, tapi bagaimanapun juga kau harus pulang." Ujar Sam.


"Kau tidak tahu bagaimana mereka? Mereka bukan orangtuaku. Ayahku sudah berpisah dengan mama sejak usiaku 5 tahun. Mereka tidak mencintaiku dengan tulus. Perempuan itu berpura-pura menjagaku. Dialah yang telah merebut ayah, merebut kekuasaan dan harta peninggalan kakekku. Kau harusnya berpihak kepadaku." Tutur Elsa. Sam menghembuskan nafasnya. 


"Elsa, aku tahu beban yang kau rasakan." Tukas Sam. Malam itu, Elsa menceritakan semua kisah hidupnya kepada Sam. Bahwa ia memiliki saudara kembar yang bernama Anna. "Ayah takut kalau mama akan merebut kembali harta waris yang sebenarnya itu milik aku dan Anna. Sehingga, ayah sengaja membawaku bersama wanita jahat itu. Anna berusaha untuk menegakkan keadilan untuk mama. Tapi, ia terancam akan dibunuh oleh ibu tiriku. Sehingga, aku bersekongkol dengan mama dan juga Anna. Aku menghabiskan tabunganku untuk membawa mereka pergi ke Kanada. Sehingga aku mempertaruhkan nyawaku untuk merebut kembali warisan keluarga mama. Namun aku terjebak dalam situasi seperti ini. Disaat bersamaan, aku melihat kedua orang tuamu dibunuh oleh om Sunil, atas perintah ayahku. Aku ingin kau menjagaku dan melindungiku sebagai saksi dari pembunuhan orang tuamu." Glekkk. Sam menelan ludah.


"Tapi..." Elsa berujar lagi. Sam menoleh, menatapnya lamat-lamat. "Tanpa kusadari, aku jatuh cinta kepadamu. Sungguh. Kamu adalah lelaki pertama yang memperlakukanku dengan baik." Lanjut Elsa. Sam menahan nafasnya sebentar. Ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening Elsa dengan lembut.


"Aku juga. Aku juga mencintaimu Elsa." Bisik Sam. Hati Elsa bergetar hebat. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Sam adalah lelaki baik yang memperlakukan Elsa dengan baik. Caranya tersenyum dan caranya menggenggam tangan Elsa, memberikan kehangatan yang sangat dalam.


"Elsa, jika ada nama yang lebih tinggi dari sekedar janji maka nama itu adalah namamu. Aku ingin membuatmu selalu bahagia. Tersenyum dan tertawa setiap hari. Dihidupku, baik hari ini, esok dan nanti, namamu akan selalu menyala di dalam hatiku. Aku mencintaimu kini dan nanti. Aku mencintaimu Elsa.... Aku mencintaimu." Balas Sam dengan menatap mata Elsa penuh keyakinan. Sebuah magnet mendorongnya untuk mengecup bibir Elsa yang mungil.


"Aku mencintaimu Elsa.... Aku mencintaimu... Aku sangat mencintaimu..." Sam berlari sambil berteriak bahwa ia mencintai Elsa.


***