The Secret Story

The Secret Story
Di bully (?)



Hari ini tak seperti hari kemarin, tak ada Hanna, tak ada Vina maupun Tania yang menemani nya untuk pergi ke kampus. Ya tak seperti biasa pula semua orang menatap nya aneh, membuat Isaa merasa tak nyaman, terutama cibiran orang yang menyinggung nya.


"Gue gak nyangka Isaa yang gue kira lugu itu bisa tidur bareng cowo, mana di kamar kost nya lagi," Ucap seorang perempuan kepada temannya sambil merapihkan make-up nya.


"Hah! Isaa FBI?"


"Iya lah, siapa lagi? Rame banget pembahasan soal kasus Isaa di forum," Jawab temannya.


"Lagian kenapa gak di klarifikasi aja sih? sesusah itu buat klarifikasi kah?"


"Tanya aja sama orang nya," Mereka bertiga membereskan barang-barang dan memasukkan kembali ke dalam tas masing-masing, selesai merumpi di toilet dan berfoto, ketiganya melangkah keluar toilet, namun beberapa langkah di depan pintu toilet mereka dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terdorong dan seorang gadis yang jatuh tersungkur di lantai. "AAA" Teriak mereka karena kaget.


"Lo-lo.. lo gapapa?" Tanya salah satu gadis itu dengan takut mencoba mendekati gadis yang terduduk di lantai.


"JANGAN ADA YANG BANTU!" Bentak seseorang dari luar membuat gadis tadi segera menjauh. Seorang lelaki masuk dan langsung menarik kerah baju perempuan itu hingga ia berdiri menatap nya. "gak usah munafik lo jadi cewe! biasa dibayar berapa sih sampe lo tolak uang lima puluh juta dari gue? kurang duit segitu buat lo?!"


Isaa menatap lekat lelaki itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, ada perasaan marah, benci, jijik, dan muak terhadap perilaku lelaki itu. "Jelas! Gue gak butuh duit lo itu dan lo gak akan bisa dapetin gue!" Ketus Isaa tanpa takut menatap lelaki dihadapannya.


Mendengar jawaban Isaa membuat emosi lelaki itu memuncak, ia melayangkan satu tamparan yang cukup keras hingga bibir Isaa pecah dan mengeluarkan darah. Jangankan merasakan, orang yang mendengar tamparan itupun bergidik ngeri dan berteriak histeris, sedangkan Isaa menahan rasa sakitnya.


"Dengan lo nampar gue malah bikin lo keliatan kayak baju*ng*n! Sifat lo yang kasar dan memaksa bikin gue muak tau gak! Jangan karena lo dari keluarga yang mapan dan terpandang lo bisa seenaknya!! Mau lo ngadu ke bokap lo, ngadu biar gue di keluarin dari kampus pun gue gak bakal takut dan tunduk di hadapan lo! karena lo tanpa status keluarga lo itu lo bukan apa-apa! sorry aja nih, lo itu bahkan lebih kecil dari debu!" Jelas Isaa dengan tegas ia meluapkan semua yang sudah ia tahan sendari lama. Isaa melepas cengkraman yang ada di kerah bajunya saat merasa cengkraman tangan itu mengendur. "Lo mau bikin perhitungan buat gue? Gue tunggu perhitungan dari lo! tapi inget, gue pasti bales tamparan lo ini!" Tekan Isaa dengan sengaja berjalan menyenggol lengan lelaki itu cukup kuat hingga membuatnya oleng.


Semua tercengang dan diam mendengar ucapan dari gadis itu, semua yang Isaa ucapkan adalah kebenaran, dan mereka semua merasa kagum kepada Isaa yang memberi tamparan sepedas itu kepada lelaki itu. Kini bukan Isaa yang menjadi bahan cibiran, melainkan sosok lelaki yang menampar Isaa lah yang menjadi bahan omongan warga kampus. Seseorang anak yang hanya mengandalkan status dari orang tuanya.


......................


"Sstt, pelan-pelan.." Ucap Isaa pada Jihan yang kini tengah mengurut lengannya yang membiru akibat pertengkaran di kampus.


"Kamu ya, sekali gerak bikin panik semua orang! Masih mending geraknya ilang karena kesasar, nah ini parah banget! Kemarin dikeluarin dari kost-kostan, sekarang kamu malah berantem!" Omel Jihan sambil mengurut lengan Isaa dengan gemas ia menekannya membuat gadis itu teriak kesakitan.


"ADUDUH MBAK, sakit... pelan..." Adu Isaa tak di hiraukan oleh Jihan.


"Mbak tuh gemes sama kamu! Rasanya pingin tak iket kamu di tiang biar kamu gak bisa kemana-mana!" Ucap Jihan masih mengomeli Isaa.


"Jangan dong, ntar aku dikira patung-"


"ISAA! LO KOK BISA GINI! SI ADRY ITU YA?!" Teriak Hanna yang baru saja datang setelah melihat vidio perkelahian Isaa di forum kampus. "Duh! kasian banget sih lo! Awas tuh orang! gue bejek-bejek kalo ketemu!"


"Astaghfirullah, ini lagi! kalo dateng salam dulu, baru ngomel" Tegur Jihan pada Hanna.


"Eh mbak Jihan, Assalamu'alaikum!" Ucap Hanna sambil tersenyum menatap Jihan.


"Kok kamu tau aku berantem sama tuh orang?" Tanya Isaa kepada Hanna.


"Semua orang bahkan udah tau Saa! Video lo berantem udah kesebar di forum kampus! bukan cuman itu, tapi bahkan rame di sosmed!" Jawab Hanna membuat Isaa terbelalak kaget mendengarnya. "GWS deh lo, berdoa deh semoga lo gak dikeluarin!" Lanjutnya membuat Isaa ternganga tan percaya


"Jangan gitu dong, jahat banget!" Tegur Isaa yang kini nyalinya menciut karena ia baru sadar resiko apa yang akan ia hadapi.


"Gak usah takut kalau kamu ngerasa gak salah ya tenang aja, toh disini kamu korbannya, kamu juga gak bales perbuatan dia, santai kali" Jelas Jihan meyakinkan Isaa agar nyalinya terkumpul kembali.


......................


Isaa duduk sambil menundukkan kepalanya, ia menggigit bibir bawahnya, rasa tegang, takut bercampur menjadi satu. Vidio perkelahian nya yang sudah tersebar ke sosial media membuat nya duduk di kantor dekan.


"Bagaimana luka kamu? Sudah di cek di rumah sakit?" Tanya lelaki paruh baya melihat Isaa dari ujung kepala sampai ujung kaki, kepalanya yang menunduk membuatnya tak dapat melihat jelas pipi Isaa yang masih membiru.


"Sudah lebih baik dari sebelumnya," Jawab Isaa singkat.


"Bagus, kalau begitu kamu sudah bisa mempertanggung jawabkan atas kekacauan ini bukan?" Tanya lelaki itu membuat Isaa bingung.


Gadis itu mengangkat kepalanya, terlihat jelas sebelah pipi Isaa yang membiru dan bekas luka pada sudut bibir Isaa. "Sudah, Bagaimanapun keputusan anda saya akan menerimanya dan mempertanggung jawabkannya," Jawab Gadis itu dengan berat hati harus menerima keputusan dekan dengan lapang dada.


"Kalau begitu buatlah video klarifikasi terkait masalah kamu dari awal hingga pertikaian kamu dengan Adry dan saya tidak mau ada korban lagi setelah ini," Ucap Dekan membuat Isaa tersadar akan sesuatu.


"Baik, namun sebelumnya apa cuman saya yangg.."


Belum selesai kalimat Isaa, lelaki paruh baya itu lebih dahulu memotong nya, "Kamu tenang saja, Adry juga akan membuat video klarifikasi dan ia di skors selama dua minggu, lebih berat dari kamu karena kamu adalah korban"


Isaa terdiam mendengar ucapan dari lelaki berumur tersebut, ia bingung tak tahu harus bilang apa lagi. "Kalau begitu saya pamit dulu, Mr.. Sekali lagi saya minta maaf.." Ucap Isaa berpisah pergi meninggalkan ruang rektor.


...----------------...


"Jadi lo mau buat kapan?" Tanya Hanna menatap Isaa yang ada dihadapan nya sambil menggoyang kan gelas minumnya.


"Abis ini," Jawab Isaa singkat lalu menyuap makanannya lagi.


"Abis ini lo kan ke caffee, emang bisa?" Tanya Hanna.


"Bisaa, paling mintol ke Ghina kalau gak Shava," Jawab Isaa.


"Yaudah, kalau ada apa-apa bilang gue ya? Awas kalo diem-diem bae!" Ucap Hanna mengingat Isaa.