The Secret Story

The Secret Story
Episode Enam Belas



Elsa menatap tiap dinding kampus dengan menggandeng lengan suaminya. Mengagumi setiap spot area yang sangat estetik. Hatinya bahkan tergetar penuh semangat. Melihat pemuda pemudi yang hilir mudik ke sana kemari. Elsa berharap ia akan kembali merasakan indahnya sebagai mahasiswa. Sam menoleh ke samping sebentar. Melihat wajah Elsa yang tersenyum penuh ceria. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Elsa. Namun ia tersenyum begitu Elsa mendapati dirinya sedang memperhatikan. 


"Kenapa?" Tanya Elsa dengan mengernyitkan dahinya. Sam menggelengkan kepala kaku. "Sam...? Kamu nggak bilang kalau kita mau ke kampus dulu. Aku kan bisa pakai pakaian yang lain. Nggak pake baju kerja kayak gini." Lanjut Elsa protes.


"Kamu tenang aja. Yuk ikut aku." Sam melepaskan gandengan Elsa. Ia justru menggenggam tangan Elsa dengan erat. Elsa menelan ludah. Ia mendongak ke arah Sam, Elsa menatap Sam dengan takjub. Ada sebuah rasa yang tak bisa ia pecahkan sendirian. Pelan-pelan Elsa membuka hatinya, Sam itu tampan, tinggi, hidungnya mancung, jakunnya yang sering naik turun itu membuat hati Elsa sangat meleleh. Elsa ikut masuk ke ruang rektor. Duduk disamping suaminya. 


Saat Sam berbicara dengan rektor kampus, Elsa hanya menatap tak percaya. Menyerahkan dokumen serta memberikan semua persyaratan untuk masuk kuliah pasca sarjana dalam fakultas Terapan Psikologi Human Resort Development & Knowledge Managemen. Elsa menandatangani sebuah surat pernyataan. Tak habis-habis Elsa menelan ludah tak percaya. Setelah selesai, Sam dan Elsa keluar dari ruangan tersebut. Elsa menahan lengan Sam sebentar. 


"Apa ini semua rencanamu?" Tanya Elsa dengan menyipitkan matanya. Sam menghembuskan nafas. Merapikan rambut Elsa dan mengusap kedua pipi Elsa dengan lembut. 


"Hemmm. Ini rencanaku. Aku tahu, kau sangat ingin kuliah pasca sarjana di luar negeri. Aku tahu, kau sangat cemburu dengan keberhasilan sahabat-sahabatmu. Jadi, aku ingin kamu mengejar semua impianmu. Kamu boleh bersenang-senang seperti apa yang kamu mau. Jangan jadikan pernikahan kita adalah beban. Jangan jadikan pernikahan kita adalah hambatan. Kau berhak bahagia atas dirimu sendiri. Kau berhak mengejar semua mimpi-mimpimu. Anggap saja, ini sebagai investasi aku ke kamu. Karena kalau kamu berkualitas, perusahaan dan aku akan semakin bagus kualitasnya. Okey?" Jawab Sam. Elsa menelan ludah. Sekali lagi, ia sangat terharu dengan semua perlakuan Sam.  


"Sam...?" Seru Elsa. Sam menatap Elsa lamat-lamat. 


"Ada apa?" 


"Terimakasih ya. Terimakasih banget kamu udah mau biayain aku kuliah." Balas Elsa. Ia sangat terharu dengan apa yang Sam lakukan untuk dirinya.


"Siapa bilang aku mau biayain kamu kuliah?" Sam mengernyitkan dahinya. 


"Lalu...? Aku biayain sendiri gitu." Sam tersenyum lebar saat Elsa menyipitkan kedua matanya. 


"Kita ngobrolnya sambil ngopi yuk. Kamu kan nggak buatin aku kopi tadi." Balas Sam. Elsa menganggukkan kepala, lagi-lagi Sam menggenggam tangan Elsa dengan erat. Elsa merasa nyaman dengan hangatnya tangan Sam yang selalu menggenggam tangannya. Kadang saat ia melepaskan tangan kanannya, Sam mengganti posisi dengan tangan kirinya. Sesuatu yang jarang sekali lelaki lain perhatikan. Kebutuhan psikologis yang sangat dibutuhkan oleh seorang wanita adalah perhatian kecil yang sering diulang-ulang.


Begitu duduk disebuah cafe dan memesan minuman serta makanan ringan, Sam menunjukkan sebuah flashdisk kepada Elsa. "Apa itu...?" Tanya Elsa. 


"Flashdisk." Jawab Sam pendek. Elsa mendesah pelan.


"Aku tahu. Tapi ada apa didalam flashdisk itu." Kata Elsa. 


"Pengajuan beasiswa S2 kamu. Aku mencuri didalam laptopmu." Balas Sam. Elsa hampir saja tersedak mendengar pengakuan Sam. Ia terbatuk. "Elsa, kamu bisa hati-hati nggak sih." Sam melotot. Lalu menepuk pundak Elsa dengan pelan dan memberikan segelas air mineral. Meminumkannya ke arah Elsa. Lagi-lagi Elsa terkesan dengan sikap Sam.


"Tunggu. Sejak kapan kau mencuri pengajuan beasiswa S2-ku?" Tanya Elsa mengernyitkan dahinya. 


"Saat kau menginap dirumahku dulu. Aku nggak sengaja, baca proposal kamu. Lalu aku copy, aku perbaiki sebentar. Dan hasilnya ini. Kau akan mendapatkan full beasiswa di sini. Dan perusahaan akan memberikan 50% biaya hidup untuk kuliah kamu." Jelas Sam. Mata Elsa berbinar tak percaya. 


"Bodoh. Kamu kerja keraslah. Kamu kan sekretaris aku. Kalau mau dapat bonus, dapat honor yang gede, dapat beasiswa juga, kamu harus lebih kerja keras untuk menstabilkan keuangan produksi perusahaan. Bisa?" Ujar Sam. 


"Yeeeh kalau gitu sama aja bohong." Ketus Elsa. Sam tersenyum melihat Elsa yang memonyongkan bibirnya. Lucu. Begitu batinnya.


"Satu hal lagi. Kamu makan makanan yang sehat. Naikan berat badan kamu semestinya. Kamu terlalu kurus untuk aku. Capek boleh, tapi nggak boleh kurus. Aku benci perempuan yang kurus." Balas Sam. Elsa cemberut. 


"Emang aku kurus banget ya?" Elsa mencondongkan punggungnya. Sam mengangguk yakin. 


"Makanya aku nggak selera sama kamu. Bukan tipe aku." Kata Sam terus terang. Elsa menaikan sebelah alisnya. Ia mengoleskan mayonaise ke kedua pipi Sam. "Elsa... apa-apaan sih." Ia sangat puas membuat atasannya itu melotot marah.


"Jadi, karena kamu udah terus terang banget sama aku. Hukuman kamu adalah ini." Tukas Elsa. 


"Elsa..." 


"Ya habis nyebelin banget. Kamu bisa nggak sih nggak ngomong kayak gitu sama istri kamu sendiri." Cercau Elsa kesal. 


Sam menunjuk Elsa dengan sendok. "Tinggi kamu 160, berat badan kamu 42 kg. Itu kurus banget Elsa. Lihat bokong kamu? Kalau kamu mau aku jatuh cinta sama kamu. Kamu harus menaikan berat badan kamu sampai 55 kg. Aku juga nggak suka sama yang dadanya rata." Kata Sam sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Elsa menutupi dadanya, kali ini Elsa benar-benar marah dan kesal kepada Sam. 


"Kau...? Kau pikir kau tampan huh?" Balas Elsa.


"Aku emang tampan. Badanku atletis. Aku perfect. Aku adalah tipe laki-laki idaman semua perempuan. Aku cerdas, aku seorang CEO, aku pandai masak, romantis, dan perhatian. Dan kau adalah orang yang beruntung memilikiku." Sam berujar seolah-olah ia paling sempurna. Elsa berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Sam dengan kesal, lalu memukul pundak Sam saking kesalnya. Sam terkekeh dengan kelakuan istrinya itu.


"Makanya kau harus lebih berisi biar ideal seperti Britney Spears." Tukas Sam.


"Kau memang keterlaluan ya Sam. Nyebelin ihh." Ketus Elsa.


"Aku menyebalkan kau bilang." Sam membalas dengan pukulan pelan. Elsa semakin geram, dan tanpa henti ia terus memukul Sam.


"Elsa... Sakit tau." Sam menangkap tangan Elsa. Lalu menarik kursi. Sam membelai lembut rambut Elsa. Perempuan itu luluh dan terdiam.


"Duduk disini." Perintah Sam. Lalu Sam mengambil piring dan minuman milik Elsa. Mereka duduk berdampingan. 


***