The Secret Story

The Secret Story
Episode Delapan Belas



Elsa sibuk bersolek di depan meja riasnya. Meng-curli rambutnya dan mengoleskan lip cream dibibir mungilnya. Sementara Sam cemberut dengan kesal.


"Kau mau aku antar?" Sam menawarkan diri menjadi sopir pribadi. Tapi bukan pertama kalinya Elsa menolak untuk diantar oleh Sam.


"Tidak perlu Sam. Aku bisa naik taksi." Balas Elsa, masih bersiap-siap didepan cermin.


"Aku akan mengantarmu." Tukas Sam sambil mengambil mantel dan kunci mobil.


"Sam, kan aku sudah bilang, tidak perlu." Elsa menghembuskan nafasnya.


"Kau mau menghambur-hamburkan uang hanya untuk bertemu pria asing? Huh!" Sam sedikit emosi ketika Elsa terus menerus menolak tawarannya.


"Lucas itu temanku. Dia bukan pria asing, okey. Aku berteman dengannya sudah 2 tahun." Balas Elsa tak mau kalah.


"Aku sudah siap. Ayo aku antar." Elsa menghembuskan nafasnya lagi.


"Kau itu selalu menyebalkan. Kenapa sih setiap aku punya urusan pribadi, kau selalu ikut campur." Cercau Elsa.


"Kau itu istriku. Aku berhak ikut campur apa pun yang kau lakukan." Tegas Sam. Elsa memalingkan wajahnya.


"Okey. Terserah." Balasnya. Sesampainya di cafe, Sam duduk disembarang tempat sambil mengamati Elsa dan Lucas.


"Hey ada apa?" Tanya Elsa to the poin.


"Kau mau pesan apa?" Lucas menyodorkan menu makanan.


"Hemmm, aku akan pesan desert saja. Yang lain mana? Apa hanya kita berdua?"


"Yeah, hanya kita berdua saja." Balas Lucas gugup. Parfum yang menyengat ditubuhnya Lucas agak mengganggu kenyamanan Elsa. Ia tidak suka bau parfum yang keras. Tapi bagaimanapun Elsa bersikap baik terhadap Lucas. Elsa melempar senyum.


"Apa yang akan kau bicarakan?"


"Uhmmm, aku gugup." Katanya. Elsa mengernyitkan dahinya.


"Kenapa harus gugup? Ayolah, kau dan aku sudah terbiasa berbicara satu sama lain. Kita juga sudah lama berteman. Benarkan." Tukas Elsa. Lucas mengangguk.


"Elsa kau.... Cantik." Puji Lucas, ia menahan apa yang ingin ia katakan.


"Thank you. Ohh ayolah, tidak perlu gugup." Elsa mencoba mencairkan suasana. Tapi tetap saja, bagi seorang lelaki akan sangat gugup ketika akan menyatakan cinta pada perempuan yang ia cintai.


"Hhmmm, kau tahu, aku sangat mengagumimu. Kau luar biasa, kau cerdik, kau juga sangat pekerja keras, dan kau memiliki banyak kelebihan yang lainnya. Kau sangat menarik." Tutur Lucas. Ditempat sebelah Sam terus mengawasi. Ia tidak suka ada lelaki lain yang memuji kecantikan istrinya. Ia juga tidak suka kepada Lucas. Pria itu berhasil membuat Sam cemburu.


"Kenapa matanya tidak pernah lepas dari Elsa." Gerutu Sam kesal.


"Lucas." Elsa menggerakkan tangan Lucas yang gugup. "Katakan saja." Lanjut Elsa. Sam menahan emosinya. Elsa memegang tangan Lucas.


"Elsa, aku tahu mungkin ini terlalu cepat untukmu. Tapi, sejak kita berkenalan dua tahun yang lalu. Aku menyukaimu." Ucap Lucas. Elsa menarik tangannya. Ia terkejut dengan penyataan Lucas. "Jujur, aku memendam perasaanku padamu. Kau baik, kau juga cerdas. Aku menyukaimu, lebih dari sekedar teman biasa. Aku mencintaimu Elsa. Aku tidak bisa membohongi diriku kalau aku mencintaimu." Aku Lucas. Elsa terkejut dengan pengakuan Lucas, ia terdiam sejenak. Selama ini Elsa hanya menganggap Lucas sebagai teman biasa. Teman diskusi, teman hangout dan hanya teman biasa. Tapi Lucas menafsirkan dengan berbeda. Bagaimana ia akan menjawab pernyataan cinta Lucas. Elsa menahan nafas sebentar. Ia bingung bagaimana harus menjawabnya. Sementara di kursi lain, Sam sedang memperhatikannya.


"Ehmm, Lucas. Maafkan aku."


"Aku tahu, ini terlalu mendadak. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku hanya tidak bisa menahan diriku untuk menyatakan cinta kepadamu." Ujar Lucas.


"Tapi Lucas, aku sudah..." Belum juga Elsa menjelaskan. Sam berdiri dan memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Honey...." Sam bergegas menghampiri Elsa. Ia duduk disamping Elsa sambil menggenggam tangannya. "Kau disini rupanya. Aku sudah lama menunggumu." Kata Sam. Elsa melotot tak percaya. Tiba-tiba saja Sam merangkul pundak Elsa. Dihadapannya mata Lucas berpendar sedih. Ada tanya yang mungkin sudah terjawab oleh dirinya sendiri.


"Hhehe dia..." Elsa bingung menjawabnya. Ia tahu kejujurannya akan menyakiti hati Lucas.


"Aku suaminya." Jawab Sam.


Wajah Lucas tampak pucat ketika mendengar pengakuan lelaki yang duduk disamping Elsa.


"Kau tidak bercanda?"


"Ohhh tentu saja tidak. Aku suami sahnya Elsa. Kau tentu sudah pernah melihatku bukan? Aku suaminya." Balas Sam menegaskan.


"Lucas, maafkan aku. Aku tidak pernah mengatakan padamu kalau aku sudah menikah. Aku tahu ini pasti akan melukaimu. Aku minta maaf." Jelas Elsa.


"O-okey. Tentu saja kau akan menolakku. Never mind, Elsa. Kita masih berteman baik. Aku hanya ingin mengatakan itu saja." Kata Lucas sambil berlalu meninggalkan Elsa dan Sam di cafe tersebut. Elsa meninju dada Sam dengan pelan.


"Lucas..." Elsa hampir mengejar Lucas untuk menjelaskan sesuatu, tapi Sam menahannya.


"Kau gila?"


"Apanya yang gila? Aku tidak berbohong kepada Lucas. Kau memang istriku dan aku adalah suamimu." Balas Sam. Elsa sangat kesal lalu ia berjalan menjauh dari Sam. Dan Sam mengejarnya. Sesampainya dirumah mereka bertengkar hebat.


"Apa maumu?" Tanya Elsa sambil melotot.


"Aku tidak suka kau bersama lelaki lain."


"Kau tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain." Tukas Elsa.


"Aku mengatakan kebenaran kalau aku itu suamimu." Balas Sam.


"Iya aku tahu. Tapi kau harus bisa memilih kata-kata agar tidak menyinggung perasaannya Lucas."


"Lalu aku harus bicara apa hah? Kau juga tidak peduli dengan perasaanku." Sam memutar balikkan fakta.


"Memangnya kau mencintaiku?" Selidik Elsa. Sam menelan ludah. "Kau cemburu? Setiap kali ada lelaki yang mendekatiku, kau seolah-olah bersikap seperti suamiku. Tapi disaat aku sendiri, kau tidak pernah memperdulikanku." Sam terdiam. Tiba-tiba ponsel Elsa berdering, ada panggilan masuk dari Niken.


"Sam, bolehkah Niken menginap di rumah kita?" Tanya Elsa kepada suaminya.


"Apa kau peduli padaku?" Sam balik bertanya.


"Sam, aku bertanya serius."


"Aku juga serius." Sam menatap Elsa.


"Niken dan Hans akan datang kesini. Dia mau menginap di rumah kita. Aku tidak mau ada keributan diantara kita. Jadi bersikaplah dewasa." Kata Elsa.


"Elsa...?" Seru Sam. Elsa menoleh ke belakang, "aku, aku juga tidak ingin menghancurkan pernikahan kita. Aku juga berharap kita tidak hanya serasi sebagai atasan dan sekretaris. Aku ingin kau dan aku sama seperti pasangan yang lainnya." Ujar Sam.


"Apa maksudmu?" Ketus Elsa.


Sam mendekati Elsa, ia menggenggam tangan istrinya, untuk kali pertama. "Aku tahu penderitaanmu. Kali ini, kau boleh menangis dipundakku. Kau boleh memelukku, kau boleh marah atas apa yang kau rasakan selama ini. Aku tahu, aku terlalu kaku untuk bisa membuatmu nyaman berada didekatku. Karena ketika kau terjaga dalam tidurmu dan kau menangis sepanjang malam, itu membuatku terluka. Aku ingin kita bisa memperbaiki semuanya." Jelas Sam, ia membelai lembut rambut Elsa. Sehingga membuat Elsa tertegun mendengar pengakuannya. "Kau berhak bahagia, Elsa. Tapi aku tidak ingin kau bahagia bersama pria lain. Aku ingin kau bahagia bersamaku." Lanjut Sam. Elsa menatap wajah Sam, begitu juga dengan Sam. Pelan-pelan Sam mengecup kening Elsa. Sekujur tubuhnya terasa panas, detak jantungnya berdebar dengan cepat. Elsa berlalu meninggalkan Sam. Dan cepat-cepat menutup pintu kamarnya. Elsa menggigit bibirnya. Mungkinkah Sam membuka hatinya untukku? Pikir Elsa.


***