The Secret Story

The Secret Story
Episode Tujuh Belas



"Sam...? Kau tunggu aku ya. Aku takut." Bisik Elsa ke telinga suaminya. Sam menganggukkan kepalanya. 


"Aku tunggu kamu di kantin ya." Kali ini Elsa yang menganggukkan kepala. 


Sore itu adalah kali pertama Elsa masuk kuliah. Masih kaku dan baru. Pengalamannya sewaktu kuliah sarjana dulu tidak seperti pasca sarjana saat ini. Apalagi di tempat asing yang baru saja ia singgahi bersama suaminya. Elsa memasuki kelas. Menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya. Itu dilakukan sebanyak tiga kali. Lalu ia menutup mata selama 5 detik dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Elsa masuk ke kelas.


Perkenalan mahasiswa baru pasca sarjana itu tidak seperti mahasiswa sarjana di Indonesia. Sangat berbeda. Tidak ada penyambutan dari dosen dan perkenalan secara resmi. Elsa mengikuti perkuliahan pertamanya. Tiba-tiba punggungnya dicolek seseorang. Elsa menoleh, seorang perempuan berambut pirang kecokelatan mengulurkan tangannya kepada Elsa. Dia tersenyum ramah, Elsa pun balas tersenyum sambil membalas uluran tangannya. Untung saja ia sudah fasih berbahasa Inggris. Kalau tidak mungkin ia akan menjadi mahasiswa paling bodoh diantara yang lainnya. 


"Hai... Aku Jesica." Ucapnya. Dua bola mata Jesica berwarna biru. Itu jelas asli, bukan softlens.


"Elsa." Begitu Elsa mengenalkan dirinya. Yang lain ikut berkenalan. Begitu seterusnya. Elsa merasa lega karena akhirnya ia bisa beradaptasi dengan baik di kampus barunya.


Begitu materi kuliah selesai. Elsa bergegas keluar. Matanya mencari Sam. Namun ia tidak menemukan Sam dimana-mana. "Dia kemana?" Keluhnya. Elsa mengingat sesuatu. Sam pasti ada di kantin. Begitu feelingnya. Ia pun menanyakan letak kantin pada seseorang yang lewat. Sesampainya di kantin, ia melihat Sam sedang menyeruput minumannya. Saat matanya tak sengaja bertemu dengan Sam, spontan Elsa menggapaikan tangannya, lalu tersenyum lega. Elsa menghampiri Sam dengan mempercepat langkahnya. 


"Sudah selesai?" Tanya Sam begitu Elsa duduk disampingnya. Elsa mengangguk. "Maaf aku tidak memberi petunjuk jalan kepadamu. Aku banyak pekerjaan." Lanjut Sam.


"Tidak apa-apa, tadi aku bertanya kepada salah satu pegawai kampus. Aku sudah selesai, yuk pulang." Balas Elsa sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah." Sam pun bergegas. Ia merapikan laptopnya.


"Tadi aku sudah mulai kuliah. Kau tahu tidak? Aku berkenalan dengan beberapa orang di kelas, aku berkenalan dengan Kate, Jesica, Amber, Pedro, Lucas dan Mia. Mereka ada yang sudah menikah juga ada yang masih lajang. Kami saling menukar nomor ponsel. Aku senang sekali...." Elsa bercerita dalam perjalanan pulangnya. "Sam...?" Seru Elsa.


"Hemmmm."


"Terimakasih ya."


"Untuk...?"


"Karena kamu sudah mendaftarkan aku kuliah di jurusan yang aku inginkan. Kau tahu, itu adalah impianku." Jawab Elsa, matanya berbinar dengan cerah menatap Sam. Ia takkan menyangka suaminya itu akan memberikan apa yang sudah ia impikan sejak dulu. 


"Iya sama-sama." Balas Sam.


"Kau mau makan apa? Biar nanti aku yang masak." Katanya.


"Apa saja yang kau bisa." Balas Sam lagi.


"Okay." Tampak sekali dari ekspresi Elsa, bahwa ia sangat bahagia. Sepulang dari kampus, Elsa menepati janjinya. Ia masak ikan dan sayur mayur. Tampaknya Sam juga sedang dalam keadaan bahagia. Memang sepantasnya sepasang suami istri saling memberi dukungan. Saling melengkapi, saling membantu, bahkan saling mencintai. Dalam hidup tidak ada kata yang bisa melengkapi sebuah hubungan jika tidak diawali dengan sebuah kata yang bernama saling. Dicintai tidak akan membuatkan kita menjadi seorang ratu sepenuhnya dan selamanya. Tapi mencintai tidak akan membuatkanmu menjadi seorang pengemis selamanya. 


"Kalau kelak kita berpisah, jangan pernah lupakan aku ya." Kata Elsa tiba-tiba.


"Hah? Berpisah?" Tanya Sam, tiba-tiba selera makannya berubah. Mood Sam berubah seketika.


"Iya. Aku tahu, kau tidak mencintaiku. Anggap saja kita kawin kontrak. Aku tahu, cepat atau lambat kau akan kembali menemukan belahan jiwamu." Jawab Elsa sekenanya. Ia menghembuskan nafasnya.


Rasanya kenapa begitu sakit, ketika Elsa berkata demikian. Entahlah, apakah Sam akan menemukan belahan jiwanya ataukah justru kehilangannya.


"Iya." Hanya itu yang bisa ia katakan.


"Kau juga. Kalau kau menemukan belahan jiwamu beri tahu aku." Lanjut Sam. Elsa mengangguk, namun dihatinya tidak berkata demikian. Elsa hanya tidak ingin memperlihatkan bahwa sebenarnya ia ingin mempertahankan pernikahannya. Elsa tidak pernah bermimpi bahwa pernikahannya akan menjadi pernikahan tanpa cinta. Tapi, ia berharap kelak Sam akan mencintainya dan ia pun mampu mencintainya dengan sepenuh hati.


***


"Aku tidak akan melepaskanmu. Elsa aku mencintaimu. Elsa.... Elsaaaaaaaa...." Tiba-tiba Elsa terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam, baru jam 2 malam. Ia mengelap keringatnya, lalu keluar dari kamarnya. Meneguk segelas air mineral, lalu duduk di meja makan.


"Mimpi itu lagi." Gumamnya. Kemunculan Indra didalam mimpinya sangat mengganggu. Padahal ia sudah terbebas dari jeratan mantan kekasihnya. Tapi trauma dan semua kejadian di masa lalu, membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Elsa terkejut ketika lampu dapur dinyalakan.


"Elsa...?" Seru Sam.


"Hey."


"Kenapa kau disini?"


"Aku terbangun." Balasnya. "Kau sendiri?"


"Aku kehausan."


"Mau aku ambilkan minum?" Elsa menawarkan, Sam pun mengangguk.


"Apa kau mimpi buruk?" Tanya Sam setelah meneguk air mineral yang baru saja Elsa berikan. Elsa mengangguk pelan.


"Aku tidak ingat kapan aku tidur nyenyak. Setiap malam, aku pasti terjaga." Jawab Elsa.


"Apa yang bisa aku bantu?" Sam menawarkan diri untuk membantu. Tapi Elsa membuang muka.


"Apa? Kau tidak akan bisa membantu apa-apa." Balas Elsa.


"Baiklah, kalau kau menolak." Sam beranjak pergi.


"Kembali ke kamar." Katanya.


"Kau itu suamiku atau rekan kerjaku sih? Aku merasa tidak memiliki peran penting dalam kehidupan rumah tangga ini." Biasanya Elsa hanya akan bicara seperlunya kepada Sam. Tapi entah mengapa, kali ini ia memerangi hatinya sendiri yang selalu kelihatan hati-hati. Kali ini Elsa ingin meluapkan semua perasaannya.


"Huh?" Sam berhenti melangkahkan kakinya, lalu menoleh.


"Kau, kau tahu tidak apa yang aku inginkan? Sebenarnya, aku ingin kau mencintaiku. Aku tidak ingin masa depan pernikahanku akan hancur dalam waktu yang singkat. Aku tidak ingin ada perjanjian atau persyaratan didalam pernikahan kita. Sekalipun itu kontraknya. Aku tidak ingin menghancurkan pernikahanku. Aku ingin, kau dan aku sama-sama saling mencintai dan belajar melupakan masa lalu. Aku tahu ini pasti sulit, karena pernikahan kita hanya didasari oleh perjodohan. Bukan rasa cinta yang timbul di hati kita masing-masing. Tapi setidaknya, kita harus belajar bagaimana cara mencintai, menghargai, memahami dan memberikan kenyamanan satu sama lain. Aku tidak ingin ada perpisahan. Jangan. Kalau bisa belahan jiwa kamu itu adalah aku." Jelas Elsa dengan tangis yang berpendar dimatanya.


"Maksudmu....?"


"Tapi takdir tidak bisa diubah. Aku hanya teringat pada sebuah suara, suara yang selalu menenangkan hatiku. Suara yang membuatku merasa nyaman. Yang tidak pernah berteriak keras, apalagi kasar kepadaku. Dan aku rindu dibelai olehmu. Aku punya seseorang yang aku cintai dimasa lalu. Dan aku merindukannya." Balasnya. Sam menelan ludah. Apa ingatannya sudah kembali? Hampir saja air mata Sam keluar dari permukaannya.


"Ahhh aku ini kenapa? Sudahlah aku mau tidur lagi. Awas..." Lalu Elsa pergi meninggalkan Sam sendirian di ruang makan.


Sepanjang malam Sam mendengar Elsa menangis sesunggukan. Sebenarnya apa yang dikatakan Elsa itu? Kalaulah benar ia mengingat peristiwa itu, ia pasti akan memeluknya. Tapi kenapa ingatannya seperti masih terhambat? Elsa... duh Elsa...


***


Pagi itu Elsa menyiapkan sarapan seperti biasa. Menyapa Sam seperti biasa. Tersenyum ramah dan berbicara seperlunya, seperti biasanya. Sam memandanginya penuh khawatir.


"Hari ini aku tidak punya jadwal kuliah. Jadi kita bisa menyelesaikan pekerjaan dengan tenang. Oh ya, aku mendapatkan email dari kakekmu mengenai pajak yang belum dibayar perusahaan. Nanti kita bahas di kantor. Masih banyak hal yang harus kau urus. Ini, aku sudah buatkan jus kesukaanmu. Untuk menambah imun, aku tambahkan lemon. Cobalah." Tutur Elsa sambil menyodorkan jus mangga kepada Sam.


"Kau..., tidak apa-apa?" Tanya Sam.


"Off course. Makanlah." Jawab Elsa.


Sam masih mengamati gerak gerik Elsa. Sambil melahap makanannya.


Dan setelah siang berganti malam. Elsa kembali merenung ditengah kegelapan. Ia menangis lagi, lalu memeluk tubuhnya yang kurus. Sam tidak mengerti apa yang terjadi kepada Elsa. Ia hanya bisa mengamati dari jauh.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan terus berganti dan tahun demi tahun mereka jalani seperti biasa. Berkat Elsa, semua aset perusahaan dapat dikembalikan. Jatuh bangunnya mereka untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari beberapa pihak perusahaan lain untuk bekerjasama. Kecerdasan Elsa membuahkan hasil, bahkan Sam pun mengakui bahwa Elsa sangat berpengaruh besar didalam perwujudan perusahaannya. 2 tahun sudah berlalu. Sam sangat puas dengan hasil kinerja Elsa.


"Elsa...?" Seru Kate saat di kampus. Elsa menoleh.


"Hai Kate. Ada apa?" Tanya Elsa.


"Hhmmm, Lucas menitipkan ini untukmu." Kata Kate. Elsa menerima secarik kertas yang diberikan oleh Kate dari Lucas. Mereka tahu bahwa Lucas menyukai Elsa. Sementara Elsa tidak memperdulikan perasaan Lucas. Karena baginya Lucas hanya seorang teman biasa.


"Kemana dia? Apa dia sudah pulang?" Tanya Elsa. Kate menggelengkan kepalanya, lalu ia bergegas pergi. Sementara Elsa membaca surat itu.


Hai Elsa, maukah kau menemaniku malam ini? Aku akan menunggumu di cafe tempat biasa kita hangout.


Lucas


Elsa tersenyum membaca surat itu. Lucas memang tidak bisa berbasa basi. Saat Elsa menghentikan taksi, tiba-tiba mobil Sam terparkir didepannya.


"Ayo..." Kata Sam. Elsa bergegas masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kau menjemputku?"


"Kau tidak suka?"


"Bukan begitu. Tadinya aku mau mampir ke butik untuk beli baju. Tapi ya sudahlah." Balas Elsa.


"Bukankah baru minggu kemarin kau beli baju." Kata Sam.


"Iya, malam ini Lucas mengajakku bertemu. Jadi aku pikir akan beli baju dulu."


"Lucas...? Untuk apa dia mengajakmu bertemu? Bukankah kalian sering bertemu di kampus?" Sam mengernyitkan dahinya. Curiga.


"Entahlah. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia katakan. Ehmmm, aku tidak tahu." Balas Elsa.


"Kau mau kencan?"


"Ini bukan kencan Sam."


"Jika seorang laki-laki mengajak perempuan bertemu. Itu artinya dia mengajak kencan." Ucap Sam.


"Sam, ini bukan kencan. Lucas hanya ingin bertemu saja. Mungkin dia mau ngomongin soal Tesis." Kata Elsa keukeuh.


"Kau menyukainya?" Tanya Sam curiga.


"Kenapa? Apa kau cemburu melihatku dengan Lucas?" Elsa berbalik bertanya.


"Tidak. Siapa bilang aku cemburu." Ketus Sam. Raut wajah Sam berubah seketika. Ia tidak suka jika ada pria lain yang mendekati Elsa.


***