The Secret Story

The Secret Story
Episode Dua puluh enam



Sam memeluk istrinya dari belakang. Menghembuskan nafas dengan berat. Mata dipejam dengan paksa, berusaha untuk melelapkan diri dalam mimpi.


"Sam...?" Lirihan suara Elsa membangunkannya. Elsa membalikkan badannya.


"Kenapa sayang? Kau belum tidur?" Tanya Sam. Elsa menggelengkan kepala. Lalu menaruh kepalanya dibahu suaminya.


"Apa kau mencintaiku?" Sam mengusap dahi Elsa dengan lembut. Menyelipkan rambut Elsa ke belakang telinga kanannya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Sam berbalik bertanya sambil merapikan anak rambut istrinya.


Elsa menghembuskan nafas sebentar.


"Waktu itu kau pernah bilang, kalau kau punya seseorang yang kau cintai. Bolehkah aku tahu siapa dia? Dimana dia tinggal? Siapa namanya? Apakah dia cantik? Apakah dia cerdas? Dan bagaimana karakternya? Apakah dia lebih baik dari pada aku?" Ujar Elsa.


Sam mengembangkan senyumnya, ia masih asyik mengusap lembut pipi istrinya.


"Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu? Kau cemburu?" Tukas Sam. Elsa mengembungkan kedua pipinya. Lalu menggelengkan kepala dengan pelan. Sebenarnya ada bulir air mata yang ingin ia jatuhkan ke pipinya. Namun ia berusaha untuk menahannya.


"Aku hanya ingin tahu saja." Jawab Elsa. Sam berdeham, masih mengusap pelan pipi Elsa. Sam mengubah posisinya, lebih dekat dua inci dari wajah Elsa.


"Dia cantik. Tapi kau lebih cantik. Dia cerdas. Tapi kau lebih cerdas. Kau tahu? Jika seorang lelaki mencintaimu, dia akan memperlakukanmu bak seorang ratu. Bahkan ia rela meninggalkan segala sesuatunya hanya untuk wanita yang dicintainya." Tukas Sam.


"Lalu apakah kau mencintaiku?" Desak Elsa. Kedua matanya memancarkan sebuah sinar elektrik yang membuat dirinya penasaran dengan semua hal Tentang Sam.


"Kau mau jawaban yang seperti apa?"


"Jawaban yang diinginkan seorang wanita." Jelas Elsa.


"Kau tahu, jawaban yang diinginkan seorang wanita itu apa...."


"Adalah jawaban yang bisa menjawab semua perasaannya yang diliputi dengan kegundahan. Apakah ia mencintaiku ataukah hanya mempermainkan perasaannya saja." Ujar Sam bersamaan dengan penuturan dari Elsa. Sehingga membuat Elsa mengernyitkan dahinya. Sam meniup lembut wajah Elsa.


"Dari mana kau tahu kalimat itu?" Tanya Elsa dengan sedikit nada yang tegas.


"Seseorang pernah berkata demikian kepadaku." Jawab Sam. "Sa...?" Lirih Sam.


"Hemmmmhhh..."


"Kalau kau ingin tahu siapa cinta pertamaku, kau harus menutup kedua matamu dulu." Tukas Sam. Elsa mengangguk lalu menurut. Ia memejamkan kedua matanya. Bernafas dengan tenang. "Kau harus tenang. Rileks. Aku mencintaimu meski harus menunggumu ratusan purnama. Dulu, aku pernah menculik seorang gadis remaja berusia 14 tahun. Dia tampak depresi. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Gadis itu berkata kepadaku kalau ia ingin bunuh diri. Ketika aku bertanya kenapa? Dia selalu bungkam dan menutupi semuanya. Kau tahu siapa dia...?" Jelas Sam. Seketika Elsa diingatkan oleh sesuatu yang sudah lama ia lupakan.


"Kenapa aku dibawa kesini?" Tanya seorang gadis remaja yang ada dalam ingatan Elsa.


"Kenapa? Kau mau teriak meminta tolong karena aku culik? Percuma aja. Nggak akan ada orang yang dengar." Ujar Sam.


"Tunggu tunggu. Kamu mau culik aku? Serius? Mau minta tebusan ke orangtuaku? Aku malah lebih suka diculik sama kamu dibandingkan harus pulang ke rumah." Balas Elsa.


"Kalau mau minta uang tebusan, aku saranin ya. Nggak usah deh. Tapi kalau kamu culik aku selamanya juga nggak apa-apa. Asalkan kamu harus cinta aku dulu. Biar kita bisa nikah, hidup bareng di satu rumah yang mewah. Punya bisnis bareng dan punya anak 4. Kembar laki-laki dan perempuan. Okey?" Ucap Elsa.


"Dasar cewek aneh." Ketus Sam acuh tak acuh. "Kamu tahu kan, apa maksud aku culik kamu?" Elsa menganggukkan kepala.


"Siap-siap aja mati kalau nggak mau ngaku." Ujar Sam.


"Sameer Pratama Barata, calon presdir Harvest masa depan. Seorang kakak yang mempunyai dendam. Kita punya nasib yang sama. Melindungi adik kembarannya dari kejahatan yang ada di muka bumi ini. Aku tahu semua rahasiamu." Ucap Elsa menatap wajah Sam lamat-lamat. Sam mendekat, membalas menatap wajah gadis remaja itu.


"Kau tahu apa? Huh?!" Tatapan Sam begitu tajam.


"Aku tahu banyak. Bahkan aku tahu kau akan jatuh cinta kepadaku." Balas Elsa. Mereka saling pandang. Ada magnetik yang menarik ke dalam hatinya masing-masing. Satu detik, dua detik, dan tiga detik. Cuppp. Elsa berjinjit mengecup pipinya Sam. Lalu ia tersenyum penuh kemenangan.


"Perempuan aneh." Tukas Sam dengan acuh.


"Kak Sam... Aku yakin kau akan jatuh cinta kepadaku." Kata Elsa dengan yakin.


"Jangan bergerak dan diamlah kau disitu!" Perintah Sam.


"Aku tahu kau punya kembaran namanya Adrian. Aku tahu siapa kakekmu. Aku juga tahu istri masa depanmu siapa? Kak Sam... Kak Sam... Percayalah. Kalau kau jatuh cinta kepadaku, aku berjanji akan menjadi saksi dalam persidangan pembunuhan orangtuamu." Tutur Elsa dengan berteriak karena Sam berlalu meninggalkannya dari kamar. Begitu ia mendengar bahwa Elsa akan menjadi saksi dalam persidangan kasus pembunuhan orangtuanya, Sam berhenti melangkah. Lalu ia membalikkan badannya, kembali ke kamar, dan tanpa disangka Sam mencium bibir Elsa.


"Kau sudah berjanji." Kata Sam sambil menahan kepala Elsa dengan kedua tangannya. Elsa tersenyum.


"Aku berjanji kalau kau mencintaiku bukan menciumku. Bahkan kalau kau mau menikmati tubuhku pun silahkan. Tapi bukan berarti aku bersedia menjadi saksi." Balas Elsa seakan ia bersedia melakukan apapun untuk mencari perhatian Sam. Kemudian Sam berlalu meninggalkan Elsa sendirian di dalam kamar yang sangat luas itu. Ada televisi yang dipasang di dinding.


"Aku hanya ingin kau melindungiku dari kejahatan orang tuaku. Kalau bisa, kirim aku ke Kanada untuk bertemu Anna dan mamaku." Begitu batin Elsa.


Seketika Elsa membuka matanya. Sebuah ingatan muncul di dalam pikirannya dan itu sangat nyata dan jelas. Bukan lagi bayangan yang samar. Elsa menatap Sam lamat-lamat. Menyentuh pipi Sam dengan hati-hati.


"Apakah itu aku?" Lirih Elsa. Sam menganggukkan kepala.


"Perempuan yang aku cintai." Balas Sam. Elsa mendekatkan bibirnya dibibir suaminya. Sebulir air mata jatuh tak terasa.


"Kenapa...?" Elsa mengernyitkan dahinya. Seakan bertanya-tanya kepada Sam, apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya.


"Aku pun sama. Kau yang harus mengingat semuanya. Semua yang terjadi antara kita dan sebelum bertemu denganku. Kau yang memiliki ingatan itu." Balas Sam.


Nanar air mata membasahi kedua pipinya. Seakan ingatan itu tersembunyi jauh sekali di dalam kisahnya. Sam menyeka air mata istrinya. Mengecup mesra kening Elsa, lalu turun ke pipi kanan dan kirinya.


"Aku mencintaimu Elsa. Tapi kau belum menepati janjimu." Sam menelan ludah. Lalu ******* bibir Elsa dengan lembut.


Tangan Sam meraba ke punggung mulus milik Elsa. Mereka menikmati indahnya cinta. Seakan-akan Sam telah menemui cinta pertamanya. Elsa yang baru mengingat sebagian kenangannya bersama Sam. Elsa terhanyut kembali dalam kenikmatannya. Bercumbu dengan perasaan cinta yang pernah hilang 14 tahun yang lalu. Elsa merasa ia menemukan sebagian dirinya yang dulu hilang.


***