The Secret Story

The Secret Story
Episode Sebelas



Di lain sisi, Pak Dani berusia 70 tahun melihat seorang perempuan muda cantik memakai kemeja berwarna cokelat muda dan rok hitam berjalan cepat sambil menangis. Persis sekali seperti yang pernah ia lihat disebuah foto beberapa hari yang lalu.


Pak Dani lalu membuka pintu ruangan cucunya. Ia melihat Sam sedang membantingkan arsipnya.


"Sam..." Seru Dani, lelaki tua yang sudah lanjut usia.


"Kakek." Seru Sam terkejut.


"Ada apa denganmu?" Tanya Dani. Emosi yang ia lihat saat ini, persis sekali seperti Sam saat masih muda.


"Aku harus pergi kek. Aku harus pergi menemui dia. Aku sudah janji akan datang." Begitu ujar Sam diusia 17 tahun.


"Sam dia gila. Orang tuanya membawa dia ke rumah sakit jiwa." Balas Dani. Sam menggelengkan kepalanya.


"Dia tidak gila. Dia tidak gila kek. Aku mohon bantu aku. Dia ingin menemui orang tua kandungnya. Minggu depan mereka akan pindah ke Chicago. Aku mohon kek." Sam berlutut memohon kepada kakeknya.


"Kau tahu Ad ada di penjara kan? Kakek hanya tidak mau kehilanganmu. Mereka bisa melukaimu. Bisa berbuat apapun untuk menyingkirkan semua perbuatan mereka. Kakek hanya ingin melindungimu. Tolong, patuhi kata-kata kakek. Setelah ini, kau dan Ad harus pergi. Untuk sementara. Lupakan perempuan itu. Bukan saatnya untuk balas dendam. Jika waktunya tiba. Maka kakek akan membantumu. Membalas semua perbuatan mereka atas kematian orang tuamu. Dan mendapatkan kembali perempuan yang kau cintai." Jelas Dani. Dengan luka yang sangat perih merajai dinding hatinya, Sam diam tak berdaya.


***


"Apa kau melukai perempuan yang baru saja pergi?" Tanya pak Dani.


"Maksud kakek, Elsa."


"Ya, mungkin dia bernama Elsa. Siapa dia?" Selidik pak Dani.


"Hhmmm dia sekretarisku." Jawab Sam.


"Apa yang sudah kau lakukan terhadap perempuan cantik tadi?" Pak Dani seolah ingin tahu apa yang sudah cucunya katakan sehingga dapat melukai hati seorang wanita.


"Ehmm itu, ada sedikit masalah, kek." Balas Sam.


"Kau sudah siap? Lusa kita akan bertemu dengan calon pengantinmu." Ujar pak Dani seolah tak peduli dengan pendapat cucunya. Pak Dani akan menjodohkan cucunya dengan seorang perempuan muda yang baik, ramah dan hangat, begitu kata orangtuanya. Singkat cerita, dulu selagi ia dan pak Deri bersahabat. Mereka pernah ingin menjodohkan anak-anak mereka. Sayangnya, mereka berpisah selama berpuluh-puluh tahun. Sehingga, Deri sahabat setianya sudah pergi meninggalkan dunia ini. Karena tidak ingin kehilangan kesempatan, akhirnya ia bertemu dengan anaknya pak Deri, dan merencanakan untuk menjodohkan cucunya dengan cucu pak Deri. Namun tak disangka anak dan menantu almarhum Deri adalah orang yang selama ini pak Dani benci. Karena mereka terlibat dalam kasus kematian anaknya. Itulah sebabnya Dani memberikan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk mereka. Dan membayar pengacara untuk mendapatkan remisi atas hukuman Gunawan. Ia sangat yakin bahwa mereka akan menyetujui kesepakatan itu.


Itulah mengapa Sam memberikan uang percuma kepada Elsa beserta mobil dan rumah untuknya. Ia tidak ingin ada perjodohan, apalagi dengan perempuan yang tidak ia kenal dan tidak ia cintai. Tapi kali ini, ia sudah melukai hati Elsa. Sam tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membatalkan perjodohan kakeknya. Tentu ia tidak bisa menolak lantaran selama ini ia tidak memiliki kekasih apalagi teman dekat.


"Sam...?" Seru Dani. Sam menoleh, "Inilah saatnya kau membalas semua perbuatan mereka." Lanjut Dani. Sam mengernyitkan dahinya.


"Apakah mereka...?"


"Ya... Mereka yang membunuh kedua orang tuamu." Sam menelan ludah. Itu artinya ada hubungannya dengan Elsa. Setitik air mata basah di sudut matanya.


"Baiklah." Jawab Sam akhirnya.


Pak Dani menepuk pundak cucunya, "kakek tahu kau tidak suka dengan perjodohan ini. Tapi ketahuilah, ini akan menjadi yang terbaik untukmu." Balas pak Dani. Sam mengangguk menurut. "Apakah kau akan membiarkan sekretarismu pergi meninggalkanmu? Kejarlah. Minta maaflah." Lanjutnya.


"Nak, minta maaf tidak akan membuatmu menjadi rendah diri. Sebaliknya, minta maaf akan membuatmu lebih berwibawa dihadapan orang lain." Pak Dani menasehati. Tapi Sam tidak bergerak sedikit pun dari tempat ia berdiri.


Pak Dani pun berlalu meninggalkan ruangan cucunya. Saat diluar kantor, ia melihat sekretaris Sam sedang duduk menunduk.


"Cuaca hari ini tidak begitu cerah ya." Ujar pak Dani. Elsa segera menghapus air matanya. Ia menoleh lalu mengangguk pelan. "Sameer mungkin terlalu keras kepada karyawannya, tapi saya tahu, kalau cucu saya itu hatinya baik dan lembut." Lanjut pak Dani.


"Ehhh bapak, kakeknya pak Sameer." Tukas Elsa. Pak Dani mengangguk.


"Tolong maafkan Sameer ya. Dia memang terlihat dingin dan kejam. Tapi ketahuilah dia sangat peduli." Balas Pak Dani. Elsa mengangguk.


"Maaf pak."


"Jangan panggil bapak, panggil saja kakek seperti yang lainnya."


"Yang lainnya?" Tanya Elsa sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya, seperti karyawan lainnya. Kalau kamu menangis lagi, nanti cantik kamu akan luntur nak... Siapa namamu?" Tuturnya.


"Elsa pak, ehh kakek." Balas Elsa.


"Ya nak Elsa. Sekarang apa perlu kita menghajar Sam, biar hatimu lebih lega. Kita tinju rahangnya, atau kita tonjok saja bagian perutnya." Kata pak Dani. Elsa dan pak Dani tertawa bersama-sama.


...*** ...


"Mungkin aku terlalu keras kepadanya. Benar kata kakek, mungkin aku telah melukai hati Elsa." Batin Sam. Ia keluar mencari Elsa, namun begitu ia keluar kantor, ia melihat Elsa dan kakeknya sedang tertawa bersama. Kau tak pernah tahu apa yang sudah aku lalui saat ini. Elsa, aku merindukanmu. Batin Sam.


Hari yang ditentukan oleh pak Dani pun tiba. Sam dan kakeknya sudah tiba di depan halaman rumah seseorang. Ada sedikit kebimbangan didalam hati Sam, entahlah, apakah ia akan bisa membalas dendam ataukah justru ia terlarut dalam kehidupan cintanya. Sam tidak ingin membuat wanita yang dicintainya menderita. Apalagi saat ini ia tidak tahu keberadaan keluarga Bramantyo. Janji yang pernah ia ucapkan pada gadis berusia 13 tahun di 12 tahun yang lalu. Beberapa kali Sam menghela nafas berat. Meskipun perempuan itu sekarang tak mengingatnya, namun Sam masih berharap perempuan yang pernah ia cintai itu dapat mengingat semua memory yang hilang di 12 tahun yang lalu. Sam memutar bola matanya, ia mencari seseorang. Rumah itu bahkan bukan milik mereka. Sam ingat setiap sudut rumah musuh yang sangat ia benci itu.


"Assalamualaikum..." Salam pak Dani. Lalu seorang wanita paruh baya membuka pintu. Ia menyambut dengan senyum merekah di wajahnya.


"Wa'alaikumsalam. Ehh pak Dani, ayo masuk." Balas wanita tersebut. Disusul dengan Ranti, wajah yang sama yang pernah menghantam dirinya dengan sebuah tongkat. Kobaran api kemarahan yang membelenggu dadanya selama bertahun-tahun hampir membuncah saat itu. Seluruh darahnya mendidih panas. Ia ingin segera membunuh wanita tua yang menjijikan itu. Sentuhan tangan kakeknya menenangkan sedikit demi sedikit perasaan Sam.


"Risa, panggilkan kakakmu." Kata sang ibu. Perempuan yang menyediakan minuman itu mengangguk.


"Ka, kakak... Tamunya udah datang. Teteh dipanggil ibu." Suara Risa terdengar nyaring. Lalu terdengar suara pintu terbuka. Perempuan itu duduk disamping ibunya. Sam yang sedari tadi menunduk, pelan-pelan menatap wajah perempuan itu.


"Elsa...?" Serunya. Elsa tersentak terkejut ketika mendapati sosok Sam ada dihadapannya.


"Rupanya dunia sempit ya nak Elsa." Tukas pak Dani. Elsa tersenyum tipis.


"Perjodohan ini tetap berlanjut koq, pak. Insya Allah, Elsa mau. Iya kan?" Ibu menyenggol lengan Elsa. Sambil melotot. Sementara Elsa mengangguk pelan.


***