
Elsa menatap lelaki yang ada dihadapannya. Ia masih sama seperti kemarin, acuh tak acuh. Namun kali ini, lelaki itu menatapnya kembali. Bola mata yang sama, rahang yang sama, gaya rambut yang sama, dan semua struktur tubuh yang sama. Tapi semenjak satu jam yang lalu, Elsa terus memperhatikan.
"Kau sudah berjanji akan menjadi saksi. Aku akan mengingat itu." Ujarnya.
Elsa meneguk segelas air mineral dihadapannya. "Lalu, kau ingat apa syaratnya?" Tanya Elsa tanpa menatap wajah lelaki yang ada dihadapannya itu.
"Tentu saja. Memangnya kau pikir aku bodoh." Balasnya. Elsa telah selesai makan. Ia tidak bergerak di atas kasurnya. Hanya menggeser posisi duduknya saja. Lalu ia menatap lekat mata lelaki itu.
"Uhmmm, aku tahu kau tidak bodoh. Tapi aku juga tidak bodoh." Tukas Elsa. Ia mengatur waktu satu menit. Dan lelaki itu tidak bergerak sedikit pun. Elsa merapikan tempat makannya. Ia sengaja menyimpan tempat makan di atas meja belajar. Tapi tak ada respon pada lelaki itu.
"Kau tidak marah?" Tanya Elsa. Lelaki itu menggaruk kepalanya.
"Apa?" Jawabnya. Elsa menghembuskan nafasnya dengan kecewa. Celingak celinguk ke arah pintu.
"Kau mencari seseorang?" Tanya lelaki yang ada dihadapannya.
"Hemmmhhh... Sudah 30 menit kau berpura-pura menjadi seseorang yang menculikku." Ucap Elsa. Lelaki yang mirip dengan Sam menelan ludah.
"Apa maksudmu? Aku memang menculikmu untuk tahu kebenaran tentang pembunuhan orang tuaku." Balasnya.
"Iya aku tahu. Aku tidak perlu menjelaskan kepadamu berulang kali kan. Kecuali kalau kamu memang orang lain." Ujar Elsa. Sebenarnya ia tahu kalau dihadapannya itu bukan Sameer. Tapi kembarannya yang bernama Adrian. Sikapnya jauh berbeda dengan Sam.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan menjadi saksi di pengadilan kalau kau jatuh cinta kepadaku. Itu yang aku katakan kemarin. Kau ingat?" Elsa mengingatkan. Glekkk. Ad menelan ludah. Tentu saja dia tidak ingat. Karena bukan dia yang kemarin bersama Elsa.
Elsa berdiri di kasur, lalu meloncat-loncat sambil memainkan roknya. Tapi Ad tidak berkata sepatah kata apapun. Dia hanya menatap Elsa tanpa ekspresi. "Kau tahu. Aku punya saudara kembar. Namanya Anna. Sifat dia sangat berbeda sekali denganku. Dia suka menggambar, dia punya mimpi menjadi seorang designer. Lalu aku bilang, kalau kau ingin menjadi seseorang. Pergilah sampai ke ujung dunia. Dan kau akan menemukan impianmu di sana. Bukankah saudaramu juga pernah berkata demikian, Adrian." Tutur Elsa. Kemudian ia berhenti meloncat-loncat dari tempat tidurnya.
"Si,siapa Adrian...? Aku Sameer." Katanya.
"Oh ya...? Kau Sameer?" Ad mengangguk meyakinkan. Tiba-tiba Elsa membuka satu persatu kancing kemejanya. "Kau mau apa?" Ad menunjuk kepada Elsa.
"Aku mau menunjukkan sesuatu yang menggairahkan untukmu. Meskipun aku masih berusia 14 tahun. Tapi kau harus tahu, tubuhku cukup indah untukmu." Tukas Elsa dengan pelangi membuka kancing kemejanya.
"Kau sudah gila?"
"ELSA...?" Seru Sam tiba-tiba berteriak. Ad segera membalikkan badannya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sam sambil tergopoh-gopoh mendekatinya. Dada mulus milik Elsa terbuka begitu saja. Sam menjitak kepala Elsa dengan keras. Lalu mengkancingkan kembali kemeja Elsa yang terbuka. Merapikan kasur yang sudah diacak-acak oleh Elsa. Dan menurunkan piring bekas makan Elsa di meja belajar. Sam paling tidak suka berantakan.
***
Sebenarnya Ad dan Sam sudah merencanakan untuk menjebak Elsa agar ia bersedia untuk menjadi saksi dalam persidangan pembunuhan orang tuanya tanpa syarat apapun. Sayangnya jebakannya itu tidak berhasil. Ibarat senjata makan tuan, Elsa justru menjebak kembali dua lelaki yang kembar itu.
"Jadi gimana?" Tukas Ad kecewa.
"Bukankah aku sudah bilang, aku akan menjadi saksi kalau kakakmu mencintaiku." Balas Elsa. Ad merasa kesal dengan syarat yang tidak berguna itu.
"Kau tahu Sam, kakek sudah mengatakan sejak awal kalau aku dan kau harus pergi dari sini." Ujar Ad, sembari melihat Sam dan Elsa secara bergantian. "Urusi dulu perempuan ini. Setelah itu kau hubungi aku. Okey? Aku mau pergi dulu." Lanjut Ad sembari menepuk pundak kakaknya. Ad berlalu meninggalkan mereka.
Sam menatap Elsa dengan tajam.
"Kau sangat menyusahkanku saja." Ketus Sam. Elsa tahu kalau Sam tidak menyukai semua kebiasaan buruknya. Seperti meletakkan piring di atas meja belajarnya. Melompat-lompat di kasur. Sam akan memberikan perintah kepada Elsa untuk tidak memberantaki area kamarnya.
"Lalu kenapa kau membuka baju dihadapannya?" Tanya Sam.
"Kalian menjebakku. Jadi, aku pikir, senang saja menjebak kalian berdua." Jawab Elsa.
"Bagaimana kalau dia menyukaimu? Atau melecehkanmu? Huh?" Tutur Sam.
"Dia adikmu. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Balas Elsa membalas menatap Sam dengan tajam.
"Meskipun dia adikku. Dia juga lelaki. Punya mata, juga punya nafsu." Jelas Sam.
"Kau juga punya nafsu. Kenapa kau tidak menyukaimu? Huh? Kau tidak mencintaiku? Harusnya kau sudah jatuh cinta kepadaku. Aku punya tubuh yang indah." Balas Elsa tak mau kalah.
"Kau masih bocah SMP."
"Memangnya kenapa kalau masih SMP. Kau tidak mau lihat bagaimana indahnya tubuh aku? Huh?" Elsa mendekatkan dirinya ke arah Sam. Duduk dipaha lelaki tampan itu. Berusaha menggodanya.
"Aku tidak tertarik pada bocah SMP." Tukasnya. Elsa mendekatkan wajahnya.
"Serius? Lihat aku. Lihat aku dulu kak Sam. Kau tidak tertarik kepadaku? Kau akan menyesal jika tidak tertarik kepadaku. Karena aku memiliki banyak sekali rahasia yang tidak kau tahu. Bukan hanya pembunuhan orangtuamu. Tapi juga rahasia yang tidak akan pernah orang lain tahu." Jelas Elsa.
"Rahasia apa?" Tatap Sam.
"Salah satunya adalah rahasia agar kau tidak bisa berpaling ke wanita lain." Ujar Elsa. Sam mendorong Elsa ke sofa. Sehingga tubuh mungil Elsa terjatuh ke dalam sofa yang empuk itu.
"Jangan harap aku akan jatuh cinta kepadamu." Balas Sam.
"Kalau begitu percuma dong kau menculikku. Lagi pula, aku juga tidak mau pulang koq. Aku betah disini." Kata Elsa dengan girang dan polos.
"Besok aku akan mengantarmu pulang." Sam meraih ponselnya. Elsa menggelengkan kepala dengan cepat.
"Tidak mau. Aku betah disini." Ucapnya.
"Aku menyesal sudah menculikmu. Kau itu menyusahkan. Makannya banyak." Ketus Sam.
"Aku bahagia sekali disini. Kenapa? Karena aku bisa menonton televisi sepuasnya. Bisa main game. Tidak belajar. Aku bisa ngobrol dengan kak Sam yang tampan. Aku bisa makan ice cream, bisa makan enak, aku juga diperhatikan. Pokoknya aku senang disini bersama kak Sameer yang ganteng." Tutur Elsa dengan ekspresi yang begitu bahagia.
"Pokoknya besok aku akan memulangkanmu." Ancam Sam.
"Kak Sam, kau tahu mengapa aku tidak ingin pulang?"
"Kenapa?"
"Karena aku jatuh cinta kepadamu. Kau itu idaman semua para perempuan. Dan aku perempuan yang paling beruntung yang telah kau culik." Jelas Elsa.
"Ccch, aneh." Ketus Sam. Elsa memberikan senyuman bahagia saat itu. Sehingga tidak menutupi perasaan seseorang bernama Sameer untuk tidak ikut tersenyum melihat tingkahnya.
***