
Elsa membuka tirai di kamarnya. Melihat pemandangan langka yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini bukan di Indonesia. Bukan pula di Jakarta, nuansa angin Canberra menelisik mesra ke sela-sela kulitnya. Elsa menghirup udara pagi dengan senyuman. Ia sudah berpakaian rapi, sudah memakai riasan yang natural. Hari ini adalah hari pertama ia masuk kerja bersama suaminya. Elsa menghembuskan nafasnya. Berpikir sejenak, kira-kira bagaimana Sam akan memperkenalkannya? Elsa membuyarkan lamunannya.
"Pagi..." Sapa Elsa dengan senyum cerah diwajahnya.
"Ya..." Sam menjawab tanpa menoleh ke arah Elsa. Sam mencium parfum yang sangat harum yang menempel ditubuh Elsa. Perempuan itu menghampirinya.
"Sini, biar aku yang masak. Kamu duduk aza disana." Ujar Elsa mengambil pisau dari tangan suaminya. Sam menoleh, wajah Elsa tampak sangat canti berseri. Sam menelan ludah, buru-buru ia memalingkan wajahnya.
"Kamu tahu aku mau masak apa?" Kata Sam kikuk. Elsa menggigit bibirnya, lalu mendongak sebentar melihat bahan-bahan makanan, ia mengangguk dengan cepat. Sam memperhatikan wajah Elsa dengan lamat-lamat, kemudian ia menyentuh rambut Elsa dengan pelan dan berlalu meninggalkan Elsa di dapur.
Sesekali ia mendongak melihat Elsa yang sedang sibuk di dapur. Namun ia memilih menyibukan diri dengan arsip-arsipnya yang baru ia baca. Sam menghembuskan nafas dengan berat, baru saja ia baca hasil laporan perusahaannya yang sedang diujung kehancuran. Tidak ada investor, tidak ada kerja sama, karyawan banyak yang diphk gara-gara hutang yang belum lunas, serta harga pasar yang sangat rendah, turun drastis. "Pantas saja kakek meminta aku untuk pindah kesini, rupanya kacau balau." Umpat Sam. Akhirnya Sam memulai mengetik surat undangan dan bagian penting untuk pengajuan proposal, yang akan ia serahkan nanti kepada Elsa untuk dibuat proposal dengan jumlah yang banyak.
"Sam, sarapan sudah siap." Sahut Elsa. Sam masih berkutat didepan laptopnya, ia tidak mendengar sahutan istrinya. "Sam...?" Seru Elsa pelan menghampiri suaminya.
"Ya...?" Sam menoleh sebentar.
"Sarapan sudah siap. Yuk kita sarapan dulu." Ajak Elsa.
"Oh okey." Balas Sam lalu meletakan laptopnya di meja. Ia duduk di kursi untuk menyantap sarapan yang telah Elsa buatkan. Bagi Sam, ini sudah menjadi kebiasaannya di Indonesia. Karena hampir setiap hari ia meminta Elsa datang ke rumahnya untuk membuatkannya sarapan, merapikan kamar tidurnya, membersihkan lantai rumahnya, dan sebagainya. Elsa tak hanya sekretarisnya, melainkan tangan kanannya baik diluar kantor maupun didalam kantor. Semua dokumen Elsa yang urus, jadwal meeting dan sebagainya Elsa juga yang urus. Setiap urusan, baik yang besar maupun yang kecil bisa Elsa selesaikan. Baik urusan kantor maupun hal pribadinya Sam. Sambil makan, Sam memandangi ponselnya. Ia membaca dokumen di ponselnya yang baru saja ia copy dari laptop. Elsa meletakan gelas disamping kiri, dan meletakan tisu didepan piring suami sekaligus atasannya. Setelah Elsa selesai makan, seperti biasa ia akan membawa jas hitam milik Sam. Mengenakannya ditubuh bidangnya. Lalu mengenakan dasinya. Semua kebutuhan Sam terpenuhi.
"Hari ini kita mulai bekerja. Aku akan memperkenalkanmu sebagai sekretaris pribadiku. Jadi aku tidak akan menerima sekretaris lain kecuali kamu. Kalau sempat kita ke Canberra University ya. Oh ya, tadi aku kirim email ke emailmu. Nanti kamu cek. Buat proposal dalam waktu 2 hari. Perusahaan sedang kritis, jadi kita harus kerja cepat." Tutur Sam. Elsa mengangguk dengan cepat. Sam tidak akan pernah berbicara dua kali kalau soal urusan kantor. Jadi Elsa dengan cermat memahami semua perintah atasannya itu. "Pulangnya kita ke mall."
"Ke Mall? Ngapain?" Tanya Elsa mengernyitkan keningnya.
"Beli semua yang kau inginkan." Jawab Sam.
"Sungguh?" Wajah Elsa semakin merona saat ia tersenyum ceria. Sam menganggukkan kepala.
"Aku ingin istriku terlihat modis dan paling cantik diantara yang lain." Balas Sam. Elsa mengangguk setuju.
"Aku bahagia sekali. Terimakasih sayang. I love you..." Tukas Elsa.
"I love you too..." Sam membuyarkan lamunannya. Ia ingin sekali terlihat baik dihadapan Elsa yang kini sudah menjadi istrinya. Ia ingin sekali memuji Elsa dan juga mengatakan bahwa ia sangat mencintainya. Namun bibirnya kelu. Ia tak mampu mengatakan sepatah kata pun untuk memuji istrinya. Elsa masih memandangi Sam dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Beli bajuku, bajumu, dan perlengkapan yang lain." Jawab Sam akhirnya.
"Tapi kan bajuku masih banyak, Sam." Balas Elsa.
"Tidak boleh protes." Kata Sam sambil menunjuk ke arah Elsa. Elsa menelan ludah.
"Baik pak."
"Dikantor panggil saya bapak. Dirumah panggil seperti biasa." Katanya.
"Baiklah." Sam dan Elsa bergegas menuju kantor. Sesampainya di kantor, Elsa memandang ke segala arah, lebih besar dari pada kantor yang ada di Jakarta. Elsa menelan ludah. Ia berusaha menyamai langkah suaminya. Begitu sampai, Sam memperkenalkan diri pada karyawan kantor, ia tidak merasa asing dengan suasana kantor di Canberra, karena ia sudah beberapa kali datang untuk membantu kakeknya. Sam juga mengenalkan Elsa kepada karyawan lainnya. "Elsa ini adalah istriku, ia juga yang akan menjadi sekretaris-ku." Begitu ujar Sam. Elsa melongo begitu Sam memperkenalkannya sebagai istri sekaligus sekretarisnya, ia pun tersenyum ramah kepada semua karyawan disana. Sam meninggalkannya untuk bersosialisasi dengan yang lain.
"Hai, namaku Laura." Seorang perempuan menyodorkan tangannya. Elsa membalas.
"Namaku Naomi."
"Aku Ruth. Aku paling tua diantara yang lain." Tukas Ruth.
"Aku Pedro."
"Dan aku Matt." Mereka semua ramah. Elsa tidak merasa gugup dengan percakapan mereka yang menggunakan bahasa Inggris. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi Elsa, jauh sebelum ia bekerja untuk Sam. Ia sudah fasih berbahasa Inggris.
Elsa cukup cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia juga membaca berkas yang diberikan oleh Sam. Termasuk membuat proposal pengajuan kerjasama ke beberapa perusahaan. Serta mencari beberapa investor lainnya. Belum lagi membalas satu persatu pinjaman yang belum perusahaan lunasi. Serta membuat pengumuman penting untuk gaji dan tunjangan lainnya yang terkendala selama 2 bulan terakhir ini.
"Pekerjaan kita akan sangat padat dan berat. Kau bisa mengerjakan file yang tadi aku beri?" Tanya Sam. Elsa mengangguk tanpa menoleh kearah Sam.
"Aku akan print yang sudah selesai." Jawab Elsa.
"Yang mana?" Sam mengernyitkan dahinya. Ia terkejut ketika Elsa menjawab bahwa ia sudah selesai mengerjakan tugasnya.
"Sebentar." Elsa menunggu hasil print, tak lama setelah itu, ia memberikan laporannya kepada Sam.
"Wah, kau memang terhebat. Okey. Lanjutkan." Kata Sam akhirnya. Hari itu, Elsa dan Sam disibukkan dengan banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan dengan cepat. Sam sengaja tidak mencari sekretaris yang lain, karena selama ini Elsa sangat bisa ia andalkan dalam segala hal.
***
Waktu terus berputar, hingga mereka tak menyadari jam sudah menunjukkan pukul 8.00 malam. Sam dan Elsa baru menyadari ketika perut mereka sudah keroncongan. Sam dan Elsa saling melirik satu sama lain. Lalu mereka tersenyum.
"Kau lapar...?" Tanya Sam. Elsa mengangguk pelan, "Aku juga."
"Sudah jam 8 malam. Kita pulang saja. Besok kita kerjakan lagi. Atau aku bisa begadang untuk menyelesaikan berkas yang belum selesai dikerjakan." Jawab Elsa.
"Emmm, kita cari makan saja dulu. Besok kita bekerja lagi. Yuk...?" Kata Sam akhirnya. Elsa mengangguk setuju. Elsa merapikan semua berkas-berkas yang berserakan. Merapikan jas Sam dan merapikan kemejanya. Sam menyodorkan tangan kirinya. Elsa mendongak sebentar.
"Kenapa?" Tanya Sam. Elsa menggigit bibir bawahnya. Sam meraih tangan kanan Elsa, lalu menggenggamnya. Elsa mengernyitkan dahinya. Ia bingung dengan sikap Sam yang agak aneh.
Mobil mereka berhenti di sebuah restauran yang tampak mahal. Elsa sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya. "Ayo...? Kau kenapa?" Tanya Sam.
"Emmm, apa tidak apa-apa?" Balas Elsa.
"Kau sudah menjadi istriku. Apa aku tidak berhak mengajakmu ke restauran mahal seperti ini? Ayolah. Kau harus bersenang-senang." Balas Sam. Akhirnya Elsa melangkahkan kakinya, menyamai langkah suaminya. Bahkan Sam memendekkan langkahnya untuk menyamai langkah istrinya. Beberapa makanan yang dipesan sudah tiba dimeja mereka. Elsa merasa diistimewakan oleh Sam. Namun lagi-lagi ia menganggap mungkin Sam sedang menghargainya sebagai seorang istri, bukan karena ia mencintainya. Buktinya, Sam tidak mau tidur satu ranjang dengannya.
"Gimana makanannya? Enak?" Tanya Sam.
"Kau mau coba makanan yang aku pesan? Aaaa...?" Elsa menyendok makanannya lalu menyuapi Sam. Sam melahap makanan yang diberikan oleh Elsa. "Gimana? Enak?" Elsa bertanya balik. Sam berusaha membaca ekspresi Elsa yang sebenarnya makanan itu tampak luar biasa meleleh dimulutnya. Mata Elsa berbinar begitu Sam mengunyah bahkan menelan makanannya.
"Emmmm, teksturnya lembut, meleleh dilidah, dan rasanya mamamia lezatos." Balas Sam. Elsa tersenyum sumringah, itu yang Elsa maksud. Ia ingin Sam juga merasakan makanan yang ia pesan itu sangat enak di lidah. Dan berbekas di tenggorokannya.
"Kau mau coba makananku?" Sam menawarkan, Elsa mengangguk, Sam menyodorkan sesuap steak kepada istrinya, "Gimana?"
"Aku rasa, ini adalah steak terenak didunia. Tekstur dan rasanya membuatku melayang ke tujuh purnama." Balas Elsa. Sam tertawa mendengarkan jawaban dari Elsa.
"Mamamia lezatos..." Tukas mereka kompak. Elsa dan Sam tertawa bersama.
"Ayo habiskan makananmu." Elsa tiba-tiba teringat sesuatu yang sudah ia lupakan diwaktu yang sangat lama. Kata-kata itu, pernah ia temukan dibeberapa waktu yang lalu. "Sa...?"
"Ehh iya."
***
Sam mengajak Elsa ke mall, beli beberapa pakaian kerja dan baju untuk acara formal lainnya, baik untuk Sam maupun untuk Elsa. Setelah itu mereka pergi ke swalayan, membeli beberapa perlengkapan kamar mandi dan juga bahan makanan lainnya. Sesampainya dirumah, Sam membantu Elsa merapikan barang belanjaannya.
"Thank you..." Ucap Elsa.
"Untuk...?"
"Ini tidak memberatkanku."
"Biasanya, laki-laki tidak akan mau membantu istrinya merapikan barang belanjaannya." Tukas Elsa.
"Teori dari siapa itu?" Tanya Sam. Elsa mengangkat kedua bahunya.
"Itu bukan teori, tapi secara penelitian. Jarang ada lelaki yang mau membantu pekerjaan istrinya. Ibaratnya hanya ada 1 banding 20 kebanyakan lelaki." Jawab Elsa.
"Kalau kamu capek, bilang aja. Nanti aku yang bantu. Laki-laki dan perempuan yang sudah menikah, tinggal disatu atap yang sama harus saling membantu. Tidak ada stigma bahwa perempuan harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tidak ada stigma bahwa perempuan harus pandai memasak. Juga tidak ada stigma bahwa mengurus anak adalah tugas perempuan. Itu stigma kolot zaman dulu, yang dipatahkan oleh zaman modern sekarang. Dan aku bukan laki-laki yang dapat membiarkan istrinya kesusahan." Jelas Sam.
"Lalu kenapa dulu kau selalu membuatku susah?" Ucap Elsa, ia mencondongkan badannya lalu menahan dagunya sambil menatap Sam.
"Menyusahkan bagaimana?" Sam menoleh, lalu melemparkan pandangannya.
"Saat aku menjadi sekretarismu di Jakarta dulu."
"Itu lain cerita. Kau di kantor adalah sekretarisku. Kau di rumah adalah istriku." Tukas Sam.
"Jadi kalau di kantor kau bisa menyuruhku seenaknya begitu?" Simpul Elsa. Sam menganggukkan kepalanya dengan yakin. Elsa memonyongkan bibirnya lalu melempar tisu tepat ke arah wajah Sam. "Menyebalkan." Ketus Elsa sambil berlalu meninggalkan Sam sendirian di ruang makan. Sam tersenyum melihat wajah Elsa yang kesal terhadapnya.
"Sa...? Elsa...?" Sam memanggil lalu menarik lengan Elsa duduk di sofa ruang tengah.
"Memang ya lelaki itu ditakdirkan untuk menjadi manusia yang paling menyebalkan didunia." Ketus Elsa sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Apaan sih gitu aja ngambek." Ucap Sam. Sepele memang, tapi bagi Elsa tidak.
"Aku nggak marah. Cuma ngerasa nggak adil aja gitu." Elsa menyipitkan matanya. Sam mengetuk tab miliknya. Elsa menoleh ingin tahu. "Apa?"
"Jadwal beres-beres rumah." Kata Sam.
"Maksudmu...?"
"Aku buat jadwal untuk membersihkan semua spot area rumah kita. Dapur, ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi, dan semua kamar adalah tanggung jawabmu. Sementara, halaman belakang, carpot dan balkon adalah tanggung jawabku. Gimana?" Sam mengangkat kedua alisnya. Elsa memajukan bibirnya.
"Kenapa bagianku banyak sekali. Sementara kau hanya spot area yang jarang ditempati. Nggak adil ah." Elsa protes.
"Nggak adil gimana? Adil dong. Kamu mau cuci mobil? Atau kamu bersihin kolam renang gimana?" Balas Sam.
"Ya tapi nggak gitu juga, Sam. Kamu curang ahh. Nggak bisa, kita ulang lagi. Punyaku banyak banget. Kamu cuma sedikit." Tukas Elsa.
"Cuci baju dan cuci piring aku yang tanggung jawab. Kau bagian masak saja. Gimana? Adil?" Kata Sam.
"Cuci baju, cuci piring dan masak kamu yang tanggung jawab." Elsa melarat.
"Okey deal." Balas Sam. Tapi ia mengernyitkan dahinya. "Ehhh koq jadi aku yang masak." Elsa langsung menandatangani perjanjian diatas tab milik Sam.
"Pokoknya sudah deal." Sam menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Kalau kayak gini, enak dikamu nggak enak di aku dong." Protes Sam.
"Katanya mau jadi suami yang mematahkan stigma kolot." Cibir Elsa.
"Hehhhh okay kalau begitu. Aku yang masak." Elsa tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa kau tersenyum?" Tukas Sam saat melirik Elsa yang tersenyum riang dan semangat.
"Eng... nggak apa-apa. Aku teringat saat kita pertama bertemu. Kau ingat?" Balas Elsa. Sam menatap wajah Elsa.
"Kapan?" Tanya Sam.
"Waktu itu aku dan ke-4 sahabatku terlambat datang ke kampus. Lalu kami dihukum. Waktu itu kau minum teh botol, lalu meneriakiku dengan sebutan si bebek kumuh. Kau memintaku mengumpulkan tutup teh botol, sambil berkata, 'aku kekasih kak Sam dan akan menjadi istrinya.' Ehhh, tak disangka kita bertemu lagi, kau jadi atasanku dan sekarang malah jadi suamiku. Hidup memang rumit ya. Tak terduga. Aku tidak tahu apakah kau itu jodohku atau bukan. Menjadi istri yang tidak dicintai oleh suaminya membuat statusku menjadi dilema." Jelas Elsa, kemudian ia menatap Sam. Ia tidak tahu kalau sedari tadi Sam memandanginya. Bukan. Saat dikampus, itu adalah pertemuan ketiga kita, Elsa. Kita pernah bertemu sebelumnya. Sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Apa kau punya wanita yang kau cintai?" Selidik Elsa. Sam mengangguk dengan yakin. Namun hal itu membuat hati Elsa patah berkeping-keping.
"Siapa dia? Apa aku boleh tahu?" Tanya Elsa, ia tersenyum, seakan tak merasakan bahwa hatinya sedang patah.
Sam menghembuskan nafasnya, "kami bertemu secara tidak sengaja. Dia masih remaja dan sedang belajar menyetir. Mobil kedua orangtuaku dan mobil perempuan itu bertabrakan sehingga membuat kedua orangtuaku meninggal ditempat. Sementara perempuan itu tidak terluka sesenti pun. Tubuhnya gemetar, dia berteriak dan mengambil ponsel ibuku. Suaranya parau, dan dia mengatakan bahwa ada kecelakaan mobil. Malam itu aku menemuinya. Dia sangat cantik, dia penuh dengan ketakutan. Lalu dia bilang, dia tidak sengaja. Dia takut dipenjara. Aku tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya. Lalu kedua orangtuanya datang. Mereka membawa gadis itu pergi. Satu minggu kemudian, aku menculiknya. Aku berniat balas dendam. Aku ingin membunuhnya, tapi aku tidak bisa melakukannya." Sam menghembuskan nafasnya. Elsa menyimak, ia ingin tahu bagaimana kelanjutannya.
"Kenapa? Apa kau jatuh cinta?" Tanya Elsa, Sam mengangguk.
"Saat aku akan membawanya kembali kepada kedua orangtuanya, dia menolak. Dia lebih suka aku menculiknya. Dia juga bilang, dia jatuh cinta padaku." Jawab Sam. Mata Elsa bulat penasaran dengan kelanjutan cerita Sam.
"Lalu bagaimana?" Tanya Elsa.
"Apanya yang bagaimana?" Balas Sam.
"Kalian pacaran?" Sam menggelengkan kepalanya.
"Cukup tahu saja kalau dia mencintaiku dan aku juga mencintainya." Jelas Sam dengan singkat.
"Kenapa kalian tidak pacaran?" Tanya Elsa penasaran.
"Saat itu situasinya sedang sulit Elsa."
"Kenapa begitu?"
"Aku menculiknya, dan saat aku berniat untuk mengembalikan dia kepada kedua orangtuanya. Dalam perjalanan kami bertengkar, kedua orangtua gadis itu datang bersama beberapa preman. Menghajarku dan menjebloskanku ke penjara." Lanjut Sam.
"Lalu...?"
"Lalu apa? Kami sudah tidak bertemu lagi. Semuanya sudah selesai." Balas Sam.
"Cuma gitu doang? Ahh nggak asyik." Kata Elsa.
"Lalu mau bagaimana?" Sam menatap Elsa lamat-lamat.
"Ya gimana gitu, kalian ketemu lagi atau gimanalah gitu."
"Kalau aku ketemu dia. Aku nggak mungkin menikahimu." Tukas Sam. Elsa menelan ludah. Penjelasan yang sangat pahit sekali ditelan.
"Kau tahu dimana dia sekarang?" Tanya Elsa. Sam menggelengkan kepalanya. "Sayang sekali ya..."
Dia ada disini, duduk bersamaku. Sedang berbicara kepadaku. Dia disini, telah menjadi istriku. Maafkan aku Elsa. Maafkan sekali lagi.
***